Rabu, 19 Desember 2012

Sekte-sekte dalam Agama Hindu

Sebagai  yang terdapat dalam agama-agama besar lainnya, maka dalam agama-agama hindu juga terdapat aliran-aliran atau sekte-sekte yang masing-masing mempunyai konsepsi tersendiri dalam menanggapi beberapa segi ajaran agama yang dipandang lebih penting dari pada ajaran pokoknya. Pada umumnya sekte-sekte dalam hinduisme ini meletakkan dasarnya dalam masalah metode mencapai kelepasan dari samsara serta masalah filsafat atau teologinya. Kita menyadari bahwa semua orang ingin mendapatkan jalan yang semudah-mudahnya untuk mencapai tujuan (cita-cita) dengan hasil semaksimal mungkin. Demikian juga halnya dengan usaha sekte-sekte ini dalam mencapai tujuan hidupnya.
Agam hindu setelah mengalami perkembangannya lebih lanjut sejak 50 SM, timbullah pelbagai macam penafsiran atas kitab wedha dalam bentuk pemikiran-pemikiran filsafat sebagaimana kitab-kitab Brahman, Upanishad, Puarana (suatu kitab yang menerangkan pelbagai sekte dalam hinduisme terdiri dari 18 buah kitab), kitab Sutra dan Sastra dan Araniyaka, Baghavat gita (nyanyian dewa) dan lain sebagainya.
Pada garis besarnya kitab-kitab hindu tersebut berisi tentang masalah-masalah sebagai berikut :
  1. Cerita tentang penciptaan dunia
  2. Cerita tentang pembagian periode-periode zaman (Manvantarani)
  3. Genealogi yaitu silsilah raja-raja dan riwayatnya
  4. Cerita yang mengandung masalah eskatologi (hal-hal yang berhubungan dengan hidup dalam alam akhirat)
  5. Cerita tentanng kekuasaan dewa-dewa dan perbuatan-perbuatannya terhadap manusia yang menggambarkan bagaimana hubungan timbal- balik antara manusia dengan dewa.
Dengan timbulnya kesusastraan kitab-kitab suci yang kesemuaannya mengambil sumber dari cerita-cerita kitab wedha yang kemudian diolah dan ditafsirkan oleh para pendeta denga latar belakang fikiran atau perasaanya, maka akhirnya timbullah pelbagai corak tarikah untuk mencapai cita-cita hidup mereka dalam usaha melepaskan diri dari samsara.
Latar belakang kepercayaan hinduistis yang masing-masing mereka tonjolkan dalam tarikah-tarikah tersebut membawa akibat kepada mereka untuk mengadakan pemilihan terhadap objek kedewataan yang menjadi titik akhir tujuan pemujaannya.
Sekte Bhakti
Sekitar tahun 500 SM muncul beberapa kecenderungan yang kemudian dikenal sebagai sekte Bhakti, yang menekankan pengertian “pemujaan”, pelayanan atau kebaktian yang mencakup pengertian kepercayaan, taat dan berserah diri kepada dewa. Pemujaan dan kebaktian kepada dewa itu dinyatakan dalam puja yang perwujudannya terkadang dinyatakan dengan persembahan berbagai macam buah-buahan dan bunga-bungaan kepada para dewa disertai dengan penyelenggaraan upacara mengitari kuil-kuil tertentu. Puja dan Bhakti tersebut dilakukan dengan khidmat dan sikap badan tertentu, seperti sikap merebahkan dan meniarapkan diri didekat patung yang terdapat dalam kuil atau tempat-tempat yang suci lainnya sambil mengucapkan beberapa doa.
Uraian tentang Bhakti terdapat dalam kitab Narada Bhakti Sutra dan Shandilya Sutra. Kitab ini banyak membicarakan wawasan keagamaan pada sekte Bhakti yang terdapat di India. Menurut sutra-sutra tadi, Bhakti bukan merupakan suatu pengetahuan dan juga bukan merupakan perbuatan ritus, juga bukannya system keagamaan, tetapi merupakan kasih sayang, ketaatan, kepatuhan dan penyerahan diri. Bhakti adalah pasrah setulus-tulusnya (prapatti) bukan kepada suatu objek yang bersifat duniawi tetapi hanya pada dewa dengan segenap avatara atau inkarnasinya.
Bhakti ada dua macam, yaitu ;
-           Bhakti yang digolongkan sebagai kurang sempurna atau lebih bersifat rendah saja, yaitu kalau motivasinya menyangkut masalah duniawi. Misalnya, motivasi yang berhubungan dengan persoalan sakit, bahaya, atau keinginan-keinginanyang sifatnya pribadi seperti keinginan untuk mendapatkan anak laki-laki, ingin sukses dan sebagainya.
-          Bhakti yang sempurna, yaitu bila puja dan Bhakti tersebut dilakukan melulu karena tujuan mencapai dewa dan dengan hati yang tulus dan mengesampingkan segala bentuk kepentingan. Bhakti yang lebih itnggi dan sempurna ini bukan merupakan usaha yang bersifat manusiawi semata, tetapi merupakan anugerah dan rahmat yang benar-benar murni.

Krishna Bhakti
Krishna sering disebut dalam kitab Mahabharata (suatu epik yang disusun sekitar 400 SM-400 M). Dalam kitab ini Krishna muncul sebagai pahlawan yang kemudian terangkat dalam pemujaan sebagai dewa yang maha tinggi dan menjadi “Tuhan” yang menyelamatkan manusia. Dalam hal ini Krishna sering dianggap sama denga Brahma dalam kitab Upanishad. Tetapi arti ketuhanan Krishna lebih meresap dalam Bhagavadgita.
Kitab Bhagavadgita memuat uraian tentang suatu peperangan yang tekanannya adalah pada ajaran tentang amal perbuatan atau “karmayoga”. Puncaknya terdapat pada ketaatan Arjuna yang menerima ajaran Krishna berupa pandangan wejangan-wejangan yang mistis. Semua hal yang berhubungan dengan Bhakti sangat diutamakan. Kunci kepercayaan mengenai Bhakti adalah kepada “Tuhan” semata. Pandangan demikian ditujukan pada orang yang memuja dan melakukan Bhakti, mengabdi dan pasrah hanya kepada dewa, dan mereka inilah orang-orang yang mendapatkan anugerah serta rahmat dari Krishna. Intrepetasi karma yang sangat menekankan pada usaha sendiri sangat erat dengan ajaran diatas. Sekalipun Bhagavadgita mengajarkan bahwa perbuatan pasti terjadi dan bahwa karma adalah hasil atau akibat dari perbuatan, namun disini tampak bahwa dalam ajaran Bhakti orang yang memuja dan melakukan Bhakti pada Krishna tidak akan mengalami kelahiran kembali.
Cerita-cerita mengenai Krishna banyak berkembang sekitar abad ke-4 M yaitu ketika tersusunnya Mahabharata, Harivangsa, dan Bhagavad Puruna. Konon Krishna dilahirkan dalam suatu keluarga bangsawan, dan sejak kecil sudah memperlihatkan hal-hal yang luar biasa. Ia menjalin kisah asmara dengan seorang gadis gembala bernama Radha. Keduanya sering dilukiskan bersama-sama dan seringkali digunakan sebagai suatu kiasan hubungan antara jiwa dan Tuhan.
Di daerah Tamil di India selatan kebaktian Krishna untuk pertama kalinya menjadi terkenal tepatnya pada awal abad ke- 8 M atau mungkin lebih awal lagi, pembaharuan rohani yang besar sudah dimulai oleh orang-orang yang menamakan diri sebagai Alvar orang yang mempunyai pengetahuan intuitif tentang Tuhan”. Orang-orang ini rupanya muncul dari suatu bagian penduduk Dravida yang tetap tak terjamah oleh panteisme Upanishad. Pendekatan mereka terhadap Tuhan begitu personal dan kebhaktian mereka kepadanya begitu emosional. Bagi mereka pembagian kasta tidak masuk hitungan, karena kesepuluh orang yang dianggap suci sebagian adalah kaum sudra, sebagian lagi orang luar kasta dan satu orang wanita. Bahasa yang digunakannya pun bukanlah sansekerta melainkan Tamil. Hal ini membedakan mereka dengan dari sekte-sekte non vedis lainnya seperti misalnya kaum smarta yang menitik beratkan pada kitab-kitab smriti dalam bahasa sansekerta. Gerakan kaum alvar ini barangkali dimulai diluar lingkup Brahmana, tetapi seperti halnya semua gerakan dikemudian hari yang mencoba menghapuskan kasta, pada akhirnya menyerap system kasta kedalam dirinya.
Diantara para alvar hanya Namm’alvar yang meninggalkan sesuatu seperti tulisan-tulisan sistematis mengenai apa-apa yang mereka percayai, ia juga menyangkal bahwa tujuan tertinggi manusia adalah pembebasan, karena baginya yoga tanpa cinta tidaklah mempunyai arti, jikapun ada tak lebih dari sekedar pengalaman akan keberadaan dalam hakikatnya sendiri, yakni dalam kesendiriannya sebagai satu diantara banyak makhluk Tuhan.
Puisi-puisi alvar yang konon katanya diperuntukan dalam pengantarn kepergian orang-orang Budha dan Jaina yang ateis dari India Selatan.
Kisah Krishna banyak disyairkan  oleh para alvar (para penyair yang biasanya mengungkapkan kehidupan keagamaan atau rasa ketuhanan). Sedemikian mendalamnya mereka tenggelam dalam perasaan ketuhanan dapat dilihat dalam ungkapan-ungkapan mereka tentang kehidupan Krishna dan Radha. Bhakti banyak dilukiskan sebagai tipe orang yang cinta terhadap Tuhan, sebagai cinta kasih orang tua terhadap anaknya. Para alvar tersebut sering mengungkapkan ketaatan dan kepatuhan terhadap Tuhan dalam istilh sakhnya (cinta kasih sayang), dasya (pemujaan dan pengabdian seorang hamba terhadap Tuhannya), vatsalya (kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya), juga madhurya (cinta kasih seorang wanita terhadap pria pujaannya). Para alvar itu banyak yang menempati hati pada acarya yang tampak jelas pengaruhnya dalam pemikiran daar filosofis tentang Bhakti dan ketuhanan. Diantaranya adalah Acarya Ramanuja.

Rama Bhakti
Di Indonesia dikenal adanya dua epik yang sangat termasyhur, yaitu Mahabarata dan Ramayana. Epik Ramayana tersusun sempurna kira-kira abad ke-4 SM, dan berisi tujuh bab sekalipun bab pertama dan bab terakhir merupakan tambahan saja. Rama dikemukakan sebagai pahlawan agung dan masih tetap manusia. Banyak dewa agama weda disebut dalam epik tersebut. Wisnu, juga Siwa menempati kedudukan yang penting, seperti halnya Krishna, rama adalah inkarnasi wisnu
            Tokoh sekte ini adalah Ramananda yang hidup disekitar abad 15 M, ia memuja Rama dan Sita,  ia tidak menganggap penting persoalan kasta dalam kaitannya dengan ajaran agama Bhakti. Para penganut ini umumnya berpendapat bahwa seseorang dapat mencapai kelepasan melalui pemujaan terhadap dewa atau Tuhan tanpa memperdulikan masalah kasta. Paham ini disebut Ramanandi, dan sering juga disebut Ramawat. Sekte ini percaya kepada tuhan yang disebut Rama, dan menurut mereka Bhakti adalah cinta kasih terhadap tuhan secara sempurna dan bahwa semua manusia adalah bersaudara. Ramananda tidak sepakat dengan gurunya dalam hal peraturan-peraturan yang ketat mengenai pertarakan dan juga dalam hal larangan makan bersama-sama dengan orang-orang dari kasta yang berbeda. Pemujaan terhadap Rama dilepaskan dari hal yang bersifat esoteris yang diperoleh dari pemujaan terhadap Krishna. Pengikutnya tersebar luas kesegenap penjuru India.
            Salah seorang tokoh dalam aliran Ramananda ialah Kabir yang juga menolak kasta dan praktek upacara-upacara dan perayaan-perayaan lain dengan berpendapat bahwa Rama adalah spirit dan jiwa, ia berkesimpulan bahwa Rama tidak dapat dipuja dalam bentuk-bentuk patung tetapi cukup hanya melalui doa-doa saja. Lebih jauh lagi ia berpendapat bahwa Tuhan bukan hanya milik orang hindu atau islam saja. Kabir tekenal dalam sikapnya yang mementingkan masyarakat sikh yang berusaha untuk menerapkan ajaran pokok agama hindu dan akidah islam, serta sangat gigih berusaha menghilangkan perbedaan-perbedaan dan ketegangan-ketegangan antar keduanya. Ia dilahirkan sebagai seorang muslim dan kendati pada awal hidupnya dia meninggalkan kepercayaan muslimnya, ia tetap memegang teguh monoteisme muslim yang keras dan sangat membenci system kasta. Oleh karena itu agak aneh bahwa ia terbiasa menggunakan “Ram” (Rama) untuk menyebut Tuhan meskipun dalam kenyataannya ia juga sanagt membenci politeisme hindu. Hal ini kiranya menunjukan bahwa pendewaan Rama sudah begitu jauh berlaku, sehingga namanya telah menjadi suatu sinonim untuk “Tuhan”. Bagi Kabir, Rama bukan lagi pahlawan mitologis dalam Ramayana. Rupanya merupakan perhatian Kabir untuk membangun suatu agama yang tidak dikekang baik oleh dogma, kitab suci, ataupun system social. Agamanya baginya sebagai urusan pribadi , sesuatu hubungan antara seorang manusia, Tuhan juga gurunya. “ Hendaklah engkau mengendarai refleksikmu sendiri ; taruhlah kakimu pada sanggurdi pikiranmu yang tenang”. Kata Kabir, merekalah pengendara-pengendara yang baik yakni yang bias menjauhkan diri dari Veda dan Qur’an”. Kendati demikian usaha-usaha Kabir untuk mencipta suatu jembatan antara kedua agama itu gagal dan para pengikutnya kini terpecah belah antara mereka yang menamakan diri sebagai muslim dan mereka yang menamakan diri Hindu.
“Aku telah berpisah dari hindu dan muslim, tulisnya. Tak akan ku memuja dengan orang hindu tidak juga sebagaimana orang muslim pergi ke Mekah. Aku hanya akan mengabdi kepadaNya, lain tidak tak akan ku berdoa kepada berhala ataupun mengucapka doa muslim. Akan ku taruh hatiku pada kaki Sang Mahatinggi, sebab kita bukan lagi hindu ataupun muslim”.
Seorang penyair yang juga terpengaruh oleh pemujaan terhadap Rama adalah Tulsi Das (1532-1923). Berbeda dari sebagian pembaharu bhkti lainnya, ia seorang konservatif dan kadang malahan reaksioner terutama sikapnya terhadap wanita. Sekalipun ia menulis lebih dari 20 karya resmi, namun yang sangat terkenal dan besar pengaruhnya ialah Ramacharitmanas yang disusun dalam bahasa hindu. Isinya menekankan pada pemujaan terhadap Rama. Ajaran Bhakti Tulsi Das sangat berpengaruh dalam pengembangan pemikiran tentang ketuhanan di India.

Sekte wisnu (vaisnava)
            Sekte wisnu merupakan suatu aliran yang menekankan peemujaan terhadap Wisnu, istrinya dan avataranya. Pemujaan ini biasanya mengutamakan tafsiran teistik pada Wedanta, diantaranya oleh Visnusvamin (abad ke-13),
            Sekte wisnu atau vaicnava  mementingkan ekstase kasih sayang terhadap Krishna dan radha. Para pengikutnya sering digolongkan pada vainawa yang kemudian masih terbagi lagi menjadi dua aliran, yaiu tenkalai dan vadakalai yang perbedaannya terletak pada persoalan anugerah dan rahmat tuhan. Kitab yang sangat terkenal pada sekte ini adalah Bhagavadgita Purana dan Gitagovinda. Tokohnya yang terkenal adalah ramanuja seorang brahmana asal India selatan. Ia beruasha untuk mempersatukana agama Wisnu. Ia menuliskan tafsir wedanta-sutra, yang disebutnya dengan sri bhasya. Ramanuja menyusun marga-marga menjadi Karma marga(jalan pekerjaan), Jnana marga(jalan budi yang lurus), dan Bhakti marga(jalan penyerahan diri kepada tuhan). Sumber lain menambahkan yoga marga(jalan pengheningan cipta dan bertapa).

            Dalam selanjutnya aliran ini berkembang  menjadi beberapa sekte dan yang penting diantaranya Pancharatra, Waikhanas dan Karmahina. Sampai sekarang aliran yang mempunyai banyak penganut di India adalah aliran sri dengan tokohnya ramanuja, aliran brahma dengan tokohny Madvacarya, aliran Rudra dengan tokohnya Visnuvamy, dan sanak dengan tokohnya Nimbaska.
Seperti dikemukakan dalam literatur, sekitar abad ke-4 ada dua dewa yang sangat terkenal yaitu wisnu dan Siwa pada masa purana sekitar 300-1200, wisnu sangat tinggi kedudukannya dan sangat luas pengaruhnya karena ajaran avataranya yang dikembangkan saat itu. Dalam purana, wisnu dinyatakan mempunyai beberapa avatara secara tradisional), akan tetapi kalau diperhatikan benar-benar barangkali saja ada lebih dari duapuluh avatara. Kesepuluh avatara tersebut ialah :
  1. Matsyavatara
“Berupa ikan besar untuk menolong manusia pada saat banjir besar melanda dunia yang akan menenggelamkannya”.
  1. Kumavatara
“sebagai kura-kura untuk menolong dewa-dewa pada waktu mengaduk samudra guna mendapatkan air amerta (air hidup) yakni yang bilamana diminum, orang akan mengalami hidup kekal abadi”.
  1. Varahavatara
Sebagai babi rusa yang menolong manusia dari raksasa jahat Hiranyaka yang menyeret manusia dengan menggit bumi yang pada saat itu akan dibawa ke patala (neraka dibawah bumi) oleh musuh-musuh manusia.
  1. Narasimhavatara
Sebagai singa yang berbadan manusia, yang membunuh Hiranyakasipu seorang Daitya yang tidak bisa dibunuh oleh siapapun dan yang melarang orang menyembah Wisnu serta menyiksa para pemuja.
  1. Vamanavatara
Sebagai orang cebol yang dapat mengalahkan cucu raksasa yang bernama Narashinka, cucu raksasa tersebut bernama Bali (Daitya Bali), dan merebut kembali kahyangan yang dikuasainya sehingga para dewa dapat menempatinya sebagai semula.
  1. Parasuramavatara
Sebagai kesatria yang bersenjatakan parasu (kampak) membunuh beberapa kesatria yang menghina ayahnya, sebagai atas balasan penghinaan tersebut.
  1. Ramavatara
Sebagai kesatria anak Dasarata yang dibuang ke hutan belantara dimana ia kehilangan istrinya Shinta, karena perbuatan Dasamuka (Rahwana) yang  berwatak rakus dan yang menganiaya umat manusia. Akhirnya Rama dapat membunuh Rahwana serta dapat merebut kembali istrinya (cerita tentang Ramatersebut terdapat dalamkitab Ramayana).
  1. Krishnavatara
Sebagai Krishna yang kemudian membunuh Kamsha, raja Mathura kemenakan Krishna dan melepaskan umat manusia dari kejahatan-kejahatannya.
  1. Buddhavatara
Sebagai Budha Gautama yang yang bertuga melemahkan musuh-musuh para dewa yang menyebarkan ilmu palsu
10.  Kalkinavatara
Sebagai penjelmaan Wishnu yang akan dating ketika kejahatan sudah sangat memuncak pada akhir jaman Kaliyuga dan umat manusia sudah tak mau lagi kembali kepada jaman kebaikan. Setelah itu dunia akan mulai dengan jaman Kertayuga dengan manusia-manusia yang baru.
Oleh para ahli pikir India, aliran wisnu diberi dasar kefilsafatan sehingga mendapat tempat dikalangan para cendekiawan India.
Wisnu banyak disebut dalam rigweda. Legendanya terdapat dalam Shataphata brahmana[5]. Dalam cerita-cerita klasik dan ikonografi purana, wisnu dilukiskan berbaring diatas air pada lingkaran gulungan ular kobra yang berkepala seribu yang melindunginya sebagai tudung diatas kepala dan dari pusarnya tumbuh setangkai bunga teratai yang diatasnya ada brahma sang pencipta dunia. Wisnu disini adalah sebagai sang pencipta narayana dalam tubuhnya dan dewa-dewa lainnya terserap kedalam dirinya sebagai avatara-avatara semata.
            Seorang tokoh yang terkanal adalah Mahdva yang pada sekitar abad ke-13 membawa teologi aliran wisnu kedalam dualisme bebas. Wisnu sebagai jiwa dan sangat berbeda dengan alam. Jiwa ini punya sebutan sebagai cit (sadar) dan materi atau alam dinamakan sebagai acit (tidak sadar). Alam materi sangat bergantung  dan tunduk kepada tuhan dan tuhan akan menyelamatkan orang-orang yang disenanginya yang hanya merekalah yang tulus dan suci saja. Dan jiwa takkan binasa melainkan dapat berpindah-pindah dari jasad tanpa akhir.
            Tuhan dan jiwa bagi Madhva sangatlah jelas berbeda. Ia sangat mempertahankan keabsolutan Upanishad. Setiap jiwa pada dasarnya sangatlah berbeda dari jiwa-jiwa yang lainnya, berbeda dari Tuhan yang berfiat abadi yang berbeda pula dari dunia yang selalu diciptakan pada awal setiap siklus waktu. Madhva menekankan pada keunikan setiap jiwa masing-masing orang. Ia berpendapat bahwa ada beberapa kelompok keselamatan maupun kecelakaan yang merupakan rangkaian keistimewaan jiwa. Ajaran karma memberi kesempatan kepada jiwa yang buruk dengan melalui hukuman dalam waktu yang relative lama agar dapat meningkatkan kehidupan yan lebih baik.
            Dalam aliran wisnu masih terdapat dewa lain yang juga dipuja, seperti brahma sang pencipta dan istrinya saraswati yang banyak dipuja oleh para seniman musik dan sastrawan serta para siswa yang mengharapkan kelulusan. Dewa surya (dewa matahari) juga banyak dipuja dikalangan maga Brahman. Anak Siwa yag berkepala gajah yaitu Ganesha juga anak yang lain yaitu Skandha (Kartikeya, Subrhamanya) banyak dipuja di Tamilnad. Istri wisnu sendiri Lakshmi juga dipuja dan disembah sebagai dewi keberuntungan.
 

Sekte Siwa (saiva)
            Sekte ini lebih tua dari sekte wisnu. Disini Siwa dianggap sebagai dewa tertinggi, sementara brahma dan wisnu dianggap sebagai penjelamaan dari Siwa. Istri Siwa atau saktinya Uma dan parvati. Siwa dipuja sebagai dewa tertinggi dengan nama mahadeva atau mahesvara, dengan saktinya mahadevi dan mahesvari. Siwa juga disembah sebagai guru oleh para resi dan para yogin (pertapa). Karena itu ia disebut sebagai Maha guru atau mahayogi, sebagai penghancur atau pengrusak ia mendapat sebutan Mahakala dan saktinya Kali atau Durga. Dan bentuk yang sangat menakutkan Bhairava dengan saktinya Candika (yang maha bengis, ganas).
            Dewi Ibu yang dipanggil sebagai Uma dan Kali atau menurut aspeknya yang medatangkan keuntungan sudah lama terkenal dengan keburukannya karena dikuilnya di Calcutta berlawanan dengan hokum ahimsa , binatang-binatang terus saja disembelih  dalam jumlah yang sangat besar sebagai korban, juga hingga saat ini. Secara ikonografis ia dilukiskan menari diatas tubuh Tuhannya yang meniarap berhiaskan tengkorak dia menari dengan lidah menjulur keluar, baah dengan darah. Orang akan berpikir bahwa figur seperti ini tentu saja lebih mengantar pada gambaran tentang kengerian daripada pemujaan yang penuh cinta, tetapi kenyataannya yidak saja Ramprasad melainkan Rama Krishna Paramahamsa. Eksakte yang berlaku dalam pemujaan Krishna hamper-hampir tak sebanding dengan yang berlaku untuk istri Siwa yang mengerikan ini, karena dalam kecantikannya ia sangat menakutkan tetapi kemanisannya justru terletak pada kengeriannya itu. Satu kutipan kiranya cukup untuk memperlihatkan bagaimana kali si pembunuh universal dari semua makhluk yang pernah lahir, toh dapat memberikan inspirasi untuk devosi membara dalam semangat India.
Senantiasa engkau menari dalam peperangan, oh Ibu. Tiada kecantikan sebagaimana kecantikanmu, seperti ketika dengan rambutmu tergerai disekitarmu, menari senantiasa, seorang prajurit telanjang di dada Siva.
Kepala anak-anak mu yang masih segar terbunuh setiap harinya, tergantung sebagai karangan keliling lehermu. Betapa pinggangmu terhias dengan tangan-tangan manusia ! anak-anak kecil menjadi anting-antingmu. Sempurnalah bibirmu indah, gigimu mungil seperti melati yang berkembang penuh. Wajahmu bercahaya seperti bunga teratai dan hebatlah senyuman lestarinya. Bentukmu indah seperti mendung; bernoda darah kaki-kakimu. Kata Prasad: Pikiranku seperti dia yang menari, mataku tak lagi mampu menyaksikan keindahan sedemikian.
            Para penganut Siwa juga mengakui Bhakti sebagai cara memuja dan menyembah Siwa. Keberhasilan ini adalah berkat penyebaran ajaran sejumlah orang suci yang menyatakan yang menyatakan bahwa keselamatan hanya diperolah lewat penyerahan diri yang total kepada Siwa. Pada akhir abad ke-11 M lagu-lagu pujian dari para suci ini telah dikumpulkan bersama dan diberi judul Devaram. Kumpulan ini bersama denagn Tiruvacakam atau “ucapan suci” dari Manikka Vasagar dan tulisan-tulisan tambahan lainnya dikenal sebagai Veda dari Tamil.lagu-lagu Saivite berbeda dari saingan mereka Vaishnavite karena adanya perasaan yang yang tak pantas yang luar biasa yang dirasakan oleh si pemuja dihadapan sang Maha Suci. Kendati demikian, yang membedakan para suci kaum Saivite dari Tamil dengan hamper semua peribadatan bhakti lainnya adalah perasaan mereka yang begitu peka terhadap kesalahan pribadi, manusia sebagaimana adanya dari Tuhan, jahat dan rusak secara mengerikan. Dia hamba dari anava-nya dan egoismenya
Jahat, jahat semata bangsaku, sifat-sifatku semata jahat
Kebesaranku hanya dalam dosa, jahatlah bahkan kebaikanku.
Jahat kedirianku yang terdalam, tolol karena menolak kemurnian,
Bukanlah binatang aku ini, namun cara-cara kebinatangan tak dapat ku ingkari.
Dengan kata-kata keras, dapatlah aku menyatakan kepada orang-orang apa yang harus mereka benci.
Namun tak pernah aku mampu memberikan hadia-hadiah hanya meminta untuk itu saya tahu.
Ah, betapa bobrok saya ini, kemana aku bakal dilahirkan?
            Sekte ini juga terpecah menjadi beberapa aliran yang mendasarkan pandangannya pada kefilsafatan, seperti Pasupata (memuja Siwa pasupati, sebagai Pati dari kawanan makhluk Pasu yaitu umat manusia), Kalamuka (berusaha melepaskan diri dari ikatan keduniawian dengan mandi abu dan makan minim dengan tengkorak manusia), Lingayat (mempunyai cirri menggunakan kalung dalam bentuk telingan), dan Kalapika (minum anggur dan makan daging serta melakukan perbuatan seksual untuk melukiskan persekutuan kekal antara Siva dengan saktinya atau daya penciptaanya).
Filsafat Saiva siddantha mendasarkan diri pada Svetasvara Upanishad maupun pada tulisan-tulisan para suci dari Tamil. Kendati demikian, para penulis Saiva Siddantha menaruh kepentingan yang sangat besar pada ajaran rahmat yang dengan bebas diberikan dan ketidakmungkinannya kemajuan rohani tanpa cinta.[6]
Tokoh aliran Siwa yang terkenal ialah Meykanda yang mengajarkan konsep Pati (Tuhan ) sebagai yang maha kekal berada tanpa sebab dan mahakuasa, Pasu (jiwa) juga bersifat kekal yang terkukngkung dala mala (semacam karat) yan terdiri dari tiga Pasa yaitu Anava, Karma dan Maya sehingga jiwa selalu berada dalam samsara, dan Pasa (ikatan, persatuan).
            Lebih lanjut ia berpendapat bahwa Siwa mempunyai kesadaran dan berwatak laki-laki dan istrinya atau saktinya juga berkesadaran dan berwatak wanita yang dikenal dengan nama durga. Sakti adalah sisi Siwa yang aktif dan merangsang untuk aktif, oleh adanya sakti ini maka Siwa memerintah dunia materi yang sebenarnya adalah maya yang didalamnya tinggal para Pasu yang nasibnya dikuasai oleh karman. Melalui sakti Siwa yang mendorong untuk aktif, sehingga berlakulah apa yang ada didunia ini. Demikianlah jiwa ada dalam samsara karena karman, mala, maya dan dunia materi yang semuanya berasal dari roda sakti, oleh karena itu hanya Siwa saja yang memungkinkan jiwa individu dapat melepaskan diri dari karma dan mala sehingga dapat mencapai moksa dan menjadi sehakekat dengan Siwa. Meykanda juga menyusun empat-pada, yaitu Jnana-pada (bagian dari pengetahuan), Yogya-pada (bagian dari latihan-latihan rohani), Kriya-pada (bagian daripelantikanbiarawan, pembuatkuil dan pembuat patung dewa), dan Carya-pada (bagian dari tata tertib).
            Dalam sekte Siwa ditemukan adanya Siwa-Narayana yang bersama-sama denga para alvar dalam aliran wisnu yang menciptakan kidung puja yang kemudian berbentuk devaram (konon terdiri dari dua belas kitab). Diantaranya yang disebut Tirumurni yang hampir sama dengan srutinya golongan Siwa-siddhanta. Sekte yang tersebut akhir menyebarkan ajaran ketuhanan yang sangat besar di India selatan, diantara usahanya yang sangat menonjol adalah penyusunan sistem ketuhanan pada saiva tamil, yaitu Siva-Jnana-Bodham[7] dari Meykanda yang terkenal sangat realistis dan teistis dalam gaya pemikirannya.
            Aliran yang mengutamakan Siwa sebagai  maha guru lebih menekankan bahwa Siwa adalah guru yang anugerah dan rahmatnya akan ada bilamana  orang tunduk  dan berserah sepenuhnya kepada ajaran-ajaran guru manusia. Karma dan maya bukan dosa dan bukan kejahatan akan tetapi merupakan jalan dan cara yang digunakan oleh Siwa untuk membersihkan dan menyucikan jiwa dari ketidaktahuan. Tiga macam jalan yaitu, mengabdi, memuja dan meditasi sangat diutamakan.
            Cabang aliran Kashmir yang muncul pada sekitar abad kesembilan, agak sedikit berbeda. Pada aliran ini Siwa hanya merupakan suatu bentuk filsafat advaita yang merupakan realitas alam yang merupakan emanasinya. Tokoh aliran ini Kashmir ini ialah Sankara yang terkenal dengan ajarannya yang disebut monisme absolute (advaita Vedanta).
Ciri-ciri yang mencolok dari semua sekte bhakti adalah penyerahan diri kepada Tuhan yang personal dan ini cenderung menjadi sanagt emosional. Bhakti dipertentangkan dengan Jnana, devosi dengan pengetahuan. Yang pertama ditinggikan melebihi yang lain, akan tetapi kecenderungan panteistis yang senantiasa kembali dalam hinduisme tidak mudah dihindari dan bercokol dengan kuat juga dalam gerakan bhakti. Orang senantiasa menyadari adanya perasaan tak enak ; seolah bhakti merupakan cara yang gampang menuju ekstase, dan karenanya jalan pengetahuan yang dalam praktek berarti pencapaian moksha dengan disiplin yang keras pastilah lebih tinggi dan lebih otentik.
            Ramprasad Sen menandai akhir dari suatu masa-masa bhakti. Selama masa itu Hinduisme telah mengalami suatu perubahan yang mendalam; bukan ritualisme, bukan pula pencapaian moksha, ketenangan yang sesuai dengan watak bangsa hasratakan pengalaman religious ini. Mistisme yang di India sering diidentikkan dengan agam membelokkan arah pandangan India dari pusat yang ada didalam jiwa ke Tuhan yang ada diluar. Tuhan adalah pencipta sang jiwa dan dengan ini seluruh dimensi baru telah ditambahkan kepada kehidupan rohani. Inilah pengalaman batin itu, secara lahiriah pembaharu bhakti mengamati kehidupan masyarakat hindu dan mendapatkan strukturnya tidak baik. System kasta mungkin pernah menjadi sarana yang berguna kini menampakan ketidakadilan dan membuat perpecahan yang tak tertahankan antara manusia dengan manusia, sehingga dalam persaudaraan mereka sendiri menghapuskannya, karena masih percaya bahwa Tuhan masih mempunyai cinta yang sama untuk semua makhluknya.
  

Daftar Pustaka
1. Drs. Mujahid Abdul Manaf, Sejarah Agama-Agama, Raja Grafindo Persada, Jakarta 1996
2. Mukti Ali, Agama-Agama Dunia, IAIN Sunan Kalijaga Press, 1988
3. R.C Zaehner, Kebijaksanaan dari Timur, Penerbit P.T Gramedia 1992
4. Dr.A.G. Honig, Ilmu Agama, Gunung Mulia, 1997
5. Prof.Dr.Ahmad Shallaby, Agama-Agama Besar Di India, Bumi Aksara, 1998
6. Dr.M.Ghallab, Falsafat Timur, Saeful Medan 1950


0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts