Rabu, 19 Desember 2012

Periodisasi Sejarah Agama Hindu (Zaman Agama Budha)




AGAMA HINDU
Periodisasi Sejarah Agama Hindu
(Zaman Agama Budha)

Makalah
Disusun Untuk Memenuhi Tugas pada Mata Kuliah Hinduisme


Oleh:
 Arip Nurahman
(1111032100025)
http://exiaprasetya.files.wordpress.com/2010/05/vyku3m.jpg?w=300&h=250
JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
Jakarta

2012
A.   Pendahuluan
Dalam membicarakan sejarah agama Hindu, perlu mengetahui sejarah yang panjang dari gejala-gejala keagamaan yang telah terlebur di dalam agama Hindu. Secara garis besar perkembangan agama Hindu dapat dibedakan menjadi tiga tahap. Tahap pertama sering disebut dengan zaman weda, yang dimulai dengan masuknya bangsa Arya di Punjab hingga munculnya agama Budha, pada masa ini dikenal adanya tiga periode agama yang penting (tiga agama besar). Ketiga agama ini adalah ketika bangsa Arya masih berada di daerah Punjab (1500 – 1000 SM). Agama dalam periode pertama lebih dikenal sebagai agama Weda Kuno atau agama Weda Samhita. Periode kedua di tandai oleh munculnya agama Brahmana (1000 – 750 SM). Periode ketiga ditandai oleh munculnya pemikiran-pemikiran kefilsafatan ketika bangsa Arya menjadi pusat peradaban sekitar sungai Gangga (750 – 500 SM), agama Weda periode ini dikenal dengan agama Upanished.
 Tahap kedua sering disebut dengan zaman Budha, Zaman Budha dimulai ketika putra Raja Sudhodana yang bernama “ Sidharta”, menafsirkan Weda dari sudut logika dan mengembangkan sistem Yoga dan Semadhi sebagai jalan untuk menghubungkan diri dengan Tuhan. Agama Hindu dari India Selatan menyebar sampai keluar India dengan berbagai cara.
tahap ketiga adalah apa yang dikenal sebagai zaman agama Hindu, berlangsung sejak 300 M hingga sekarang.[1]










B.   Pembahasan
Zaman agama Buddha mempunyai corak yang sangat lain dari agama Weda. Zaman Agama Buddha ini diperkirakan berlangsung antara 500 SM – 300 SM.
Zaman Budha dimulai ketika putra Raja Sudhodana yang bernama “ Sidharta”, menafsirkan Weda dari sudut logika dan mengembangkan sistem Yoga dan Semadhi sebagai jalan untuk menghubungkan diri dengan Tuhan. Agama Hindu dari India Selatan menyebar sampai keluar India dengan berbagai cara. Terutama melalui perdagangan bebas internasional.
Perlu diketahui bahwa peradaban pada masa ini telah dapat disejajarkan dengan peradaban-peradaban seperti Yunani, Mesir, dan Eropa yang telah maju. Pengetahuan tentang Sejarah kerajaan ini dapat menambah pengetahuan kita tentang sejarah dunia, selain itu dapat dikomparasikan dengan kerajaan-kerajaan nasional yang juga berpengaruh pada dunia kala itu.

Pemerintahan Magadha
Raja-raja Magadha yang terkenal ialah Sisunaga (642 SM), Bimbisara (582 SM), dan Ajatasatru, nama lain Kunika (554 SM). Bimbisara memperluas kerajaan Magadha dan menaklukan kerajaan-kerajaan di sekelilingnya. Di masa pemerintahan Ajatasatru agama Buddha dan Jaina mulailah bersaing untuk merebut kedudukan yang terpenting. Menurut berita di masa itu Devadatta seorang keponakan Buddha melawan agama Buddha dan mendirikan cabang agama baru yang mempunyai pengikut hingga abad ke-7, tarikh Masehi. Ajasatru memperluas kerajaan Magadha dan memindahkan ibukotanya ke Pataliputra, di tepi sungai Gangga.[2]
Beberapa tahun kemudian di waktu pemerintahan Udaya, cucu Ajatasaru (kurang lebih 516 SM) Darios dari Persia menaklukan daerah di Sindh dan Punjab, di hulu sungai Indus. Dalam berita-berita itu tertulis bahwa raja Persia mempunyai prajurit-prajurit bangsa India yang turut berjuang di tanah Yunani.
Sejak abad ke-5 SM, sejarah kerajaan Magadha tidak begitu jelas lagi. Yang agak dapat dipercayai adalah kisah ini. Salah seorang keturunan Bimbasara yang tidak begitu besar kuasanya dibunuh dan diganti menterinya yang bernama Mahapadma Nanda dari golongan Sudra. Raja itulah asal keturunan 9 orang raja yang berturut-turut memerintah Magadha sampai tahun 322 SM. Pada tahun itu Nanda yang penghabisan dibunuh oleh oleh Chandragupta Maurya. Menurut dugaan ia adalah seorang keturunan Nanda juga akan tetapi kawin dengan perempuan kasta rendah. Dengan Chandragupta mulailah riwayat kejadian-kejadian di India jelas dan dapat ditentukan. Diwaktu pemerintahan raja itu, Magadha berhasil merebut kuasa yang seluas-luasnya. Akan tetapi dua tahun sebelum ia diangkat menjadi raja terjadilah peristiwa yang besar akibatnya bagi seluruh India, yaitu penyerbuan Iskandar Zulkarnain ke India utara.[3]

Penyerbuan Iskandar Zulkarnain ke India
Iskandar Zulkarnain adalah seorang raja dan panglima besar Yunani yang mahsyur dalam sejarah Barat purbakala. Ayahnya memerintah dalam negeri kecil, yaitu Makedonia, bagian dari tanah Yunani. Waktu masih muda ia mendapat pendidikan yang luas, bukan dalam keprajuritan saja tapi dalam ilmu filsafat dan pemerintahan juga. Ayahnya mempunyai cita-cita untuk mempersatukan kerajaan-kerajaan kecil di Yunani dan memperluas kerajaannya sampai ke daerah Asia, akan tetapi sebelum ia dapat menjalankannya, ia dibunuh oleh seorang penjahat.[4]
Putra mahkota Iskandar juga yang pada ketika itu baru berumur 24 tahun menjadi raja di negeri Makedonia sebagai penggantinya. Iskandar mengadakan persediaan untuk meneruskan niat ayahnya itu.  Di tahun 334 SM balatentaranya menyebrang selat Hellesponts yang memisahkan Eropa dengan Asia. Dengan cepat seperti halilintar ia menaklukan Asia Muka (Turki sekarang), Syria, Palestina, Mesir, Persia, dan Baktria, sehingga di tahun 327 SM jadi sudah tujuh tahun sudah meninggalkan negerinya, balatentaranya tiba di batas India, negeri yang mengandung banyak rahasia kekayaan dan hasil-hasil kebudayaan yang luhur. Bagi seorang pahlawan yang muda, remaja nafsunya tidak dapat tertahankan lagi untuk memasuki dan memerangi India yang sudah begitu dekat di hadapannya.
Setelah didirikannya benteng-benteng pertahanan di tapal India dan Baktria. Maka tahun 327 SM turunlah ia ke lembah India melalui pegunungan Hindu – Kush dan jurang-jurang yang dalam.
Menurut berita, Iskandar mula-mula tidak mendapatkan perlawanan dalam negeri-negeri yang didudukinya. Di antara negeri yang terkenal itu ialah negeri Takkashila. Peninggalan kota itu sekarang masih nampak di dekat kota Rawalpindi. Ia menyebrangi hulu sungai India dan terus memasuki Punjab atau negeri lima sungai. Akan tetapi ketika melalui sungai Jhilam (dalam bahasa Yunani: Hydaspes) Iskandar mengalami perlawanan hebat yang belum pernah dialaminya dalam tujuh tahun, sejak ia menyerbu ke Asia. Tatkala Iskandar sampai di tepi sungai Jhilam, raja negeri Poros sudah siap sedia menantikan kedatangannya dengan tentara terdiri dari 30.000 serdadu berjalan, 4000 serdadu berkuda, 300 kereta perang yang ditarik empat ekor kuda, 200 gajah perang, semua membawa senjata yang lengka.
Iskandar lebih dari tiga bulan terhambat dan terpaksa mengadakan persediaan untuk melawan, balatentara yang kuat itu. Akhirnya dapatlah ia menyerang pasukan gajah raja Poros itu dulu, sehingga terjadi kekacauan di antara binatang-binatang itu. Mereka menginjak serta membantingkan baik musuh maupun pasukan raja sendiri dengan belalainya sampai mati. Sesudah itu barulah pasukan berkuda mengepung dan menghalaukan balatentara Poros itu ke pinggir sungai Jhilam yang dalam itu. Tidak lama kemudian raja Poros terpaksa menyerah, setelah ia mendapat luka-luka yang parah. Iskandar menghormati musuhnya dan memerdekakan tawanan semuanya, mereka berjanji akan berkerja sama dengan orang Yunani.[5]

Tiba di tepi sungai bias, balatentara Iskandar mogok dan mengatakan tidak bersedia berperang lagi, melainkan hendak pulang ke Yunani yang tujuh tahun mereka tinggalkan. Dengan bijaksana Iskandar memenuhi kemauan tentaranya dan mengumumkan supaya perang di India diselesaikan pada tempat itu saja. Sebelum balik ke Yunani, Iskandar mendirikan dua belas candi sebagai tanda peringatan dan tanda perasaan berterima kasih kepada dewa-dewa kebangsaan. Peristiwa itu terjadi pada tahun 326 SM.

Iskandar menganggap negeri-negeri itu semuanya masuk bagian-bagian kerajaannya dan ia berharap akan lekas kembali ke India. Sebagai wakilnya untuk memerintah negeri-negeri yang takluk itu diangkatnya Poros, musuh lama itu. Akan tetapi kedatangan ajalnya kedatangan ajalnya tidak dapat dielakkan dan dengan wafatnya tidak lama kemudian, India terlepas dari kerajaan Yunani.

Meskipun penjajahan politik lenyap dari India tidak berarti peristiwa itu tidak ada akibatnya. Karena sejak itu terjadilah hubungan yang erat antara India dengan negeri Barat. Perhubungan lalu lintas yang melalui jurang Khaibar sudah terbuka juga pertalian dengan kota-kota di pantai Persia. Hasil dan bahan-bahan dari india mulai mengalir ke negeri Barat dan sejak zaman itu terjadilah perhubungan antara Timur dan Barat.

Zaman Kerajaan Maurya
Kerajaan Maurya merupakan salah satu kerajaan yang memegang peranan penting dalam sejarah Asia Selatan. Penemuan dan peninggalannya adalah penemuan penting yang dapat menjelaskan bagaimana peradaban masyarakat India jaman dahulu.
Kekaisaran Maurya diperintah oleh Dinasti Maurya yang didirikan oleh Candragupta di Pataliputra (sekarang disebut Patna) di Magadha, India timur laut. Pada 322 SM, Chandragupta naik tahta hasil dari kudeta yang dipimpinnya dari dinasti Nanda. Pada masa pemerintahan Chandragupta merupakan persinggungan antara India dengan bangsa asing, tepatnya kekaisaran Macedonia yang dipimpin oleh Alexander Agung. Peristiwa ini berlangsung 2 tahun sebelum Chandragupta naik tahta. Kedatangan Macedonia selain dengan maksud politis, juga dengan maksud menyebarkan kebudayaan barat ke timur. Pasca ekspansi bangsa barat adalah kemunculan budaya hellenisme, yakni perpaduan antara budaya timur dengan budaya barat.
Chandragupta naik tahta beberapa saat pasca kematian Alexander Agung. Ia berhasil menguasai daerah yang sebelumnya dikuasai oleh Macedonia, dan bahkan berhasil menjalin hubungan dengan musuh Alexander Agung, Seloucos Nicator (penguasa Yunani di Asia Barat) yang kemudian banyak membantu Chandragupta dalam menuliskan sejarah India.
Menurut kitab Wisnu Purana, jumlah raja-raja Dinasti Maurya ada sepuluh dan memerintah selama 137 tahun:
1.      Candragupta
2.      Bindusara
3.      Asoka-wardhana
4.      Suyasas
5.      Dasaratha
6.      Sanggata
7.      Salisuka
8.      Somasarman
9.      Sasadharman
10.  Brihadratha
Chandragupta mengambil alih kekuasaan di Maghada pada 321 SM. Dalam waktu 10 tahun, ia telah menginvasi sebagian besar India utara. Ia seorang negarawan yang baik, dan India menjadi makmur di bawah pengaruhnya. Putranya, Bindusara (293-268 SM), memperluas kerajaan hingga jauh ke bagian selatan India.
Cucu Chandragupta, Asoka (268-233 SM), merupakan penguasa terbesar Maurya. Ia memperluas kerajaan, yang dihuni oleh penduduk dengan lebih dari 60 keyakinan dan bahasa yang berbeda. Tahun 261 SM, pasukan Maurya menghancurkan penduduk Kalingga dalam sebuah peperangan yang banyak mengucurkan darah dan memakan korban sebanyak 200.000 jiwa. Menyaksikan kengerian serta penderitaan tersebut, Asoka merasa sangat terguncang dan ia memutuskan bahwa tidak ada kemenangan militer yang harus dibayar semahal itu. Ia berpindah agama, dari seorang Hindu menjadi pengikut Buddha, dan menanggalkan kekuasaan militer sebagai sebuah kebijakan nasional. Ia melarang persembahan korban hewan maupun manusia dan mempertahankan angkatan daratnya semata-mata sebagai sarana pertahanan. Asoka juga menerapkan hukum moral Buddha mengenai sikap baik dan menjauhi kekerasan serta memberikan perdamaian, kebudayaan, kehormatan, dan kemakmuran bagi rakyatnya.
Raja Asoka dengan resmi telah mengikuti ajaran Buddha, akan tetapi rakyat pada umumnya masih setia kepada ajaran Hindu, yang sudah berakar teguh dalam masyarakat sejak zaman purba. Para Brahmana masih memberikan pengaruh yang besar kepada rakyat. Dalam keadaan demikian, Raja Asoka mengeluarkan amanat supaya di antara agama - agama dan aliran - aliran haruslah ada ikatan persaudaraan dan perdamaian, setiap agama bebas untuk melakukan kebaktian dan mendapatkan perlindungan yang sama dari raja.[6]
Di bidang keagamaan dikatakan masyarakat beragama Hindu memuja Heracles, Dionysus, maupun Zeus Ombrios. Pusat pemujaan Heracles adalah Mathura,dari sini kita dapat menduga bahwa Heracles itu Kreshna, yang lebih dikenal sebagai sais kerata perang Arjuna, dan yang sekaligus menjadi Raja di Yadava, dan tempat kelahirannya di Mathura. Sedangkan yang dimaksud dengan Dionysus boleh jadi ialah Dewa Siwa, dan Zeus ialah Dewa Indra. Dapat disimpulkan dari bidang keagamaan bahwa masyarakat pada masa Chandragupta banyak memuja Dewa, dan Dewa yang di puja adalah Dewa local.[7]
 

Zaman Andhra, Parthi dan Kushan (185 SM-225 M)
Kerajaan Andhra didiami oleh Bangsa Dravida letaknya di Teluk Benggala, diantara sungai Godavari dan Krihsna. Sewaktu pemerintahan Ashoka kerjaan itu ditaklukkan dan diharuskan membayar upeti, namun kemudian kerajaan itu bertambah kuat sehingga seorang diantara mereka menduduki Kerajaan Maurya.
Selama raja Andhra memerintah Agama Brahma dan Budha mendapat penghargaan yang sama. Dalam masyarakat negeri Andhra terdapat empat golongan ;
1. Raja dan Kepala Daerah
2. Pegawai Negeri
3. Pekerja yang terdidik
4. Pekerja tangan
Kerajaan Andhra terkenal makmur sebab mempunyai perhubungan laut dengan luar negeri. Sampai sekarang belum diketahui bagaimana lenyapnya kerajaan itu. Sisa kerajaan Iskandar masih terdapat di Persia, yaitu Kerajaan Baktria. Penduduknya kebanyakan adalah penggembala ternak. Namun akhirya kerajaan tersebut ditaklukkan oleh Bangsa Parthi yang terus merebut Daerah Sungai Indus di India Barat. Di zaman inilah terjadi perpindahan Bangsa Asia tengah ke India. Raja yang terkenal dari Bangsa Parthi adalah Gondophares yang menurut berita raja inilah yang membawa Agama Kristen ke India.
India Utara menderita kerusakan disebabkan masuknya Bangsa Yue-Chi dari Tiongkok tengah. Setelah mengetahui kelemahan raja-raja Andhra, Bangsa Yue-chi ingin merebut India dengan menaklukkan daerah Gandhara dan Punjab. Dan kerajaan diganti dengan nama Kerajaan Kushan, diambil dari nama suku Bangsa Yue-Chi.
Raja Kushan yang termasyur bernama Kanishka, namanya disebut dalam kitab Budha di India, Tibet, dan Mongolia karena ia terkenal sebagai pembela Agama Budha. Pada waktu itu kerajaan Kushan menguasai India Utara, Lembah Gangga dan Indus jadi, belum seluruh kekuasaan Ashoka.
Dalam sejarah agama Budha terberita permusyawaratan besar diadakan diantara pemimpin agama Budha atas perintah Kanishka untuk menyelesaikan bermacam-macam perselisihan yang timbul dalam agama dan menyelidiki kitab-kitab mengenai ilmu agama dan filsafat agar dapat disatukan. Semua keputusan yang diambil ditulis pada tembaga dan disimpan dalam stupa dekat kota Srinagar.
Raja Kanishka memajukan kerajaan Kushan dengan memajukan budaya dalam sejarah India dinamakan masa Ghandara. Di negeri itu terdapat barang-barang kuno. Barang-barang itu kebanyakan terdiri dari lukisan pada dinding batu yang dipahat.
Diantara keturunan Kanishka ialah Vasudeva (182-220). Sewaktu pemerintahannya sudah tampak tanda-tanda keruntuhan. Mula-mula adanya penyakit Pest yang menular dari Babylon ke sebelah barat sampai Eropa hingga ke India yang mendatangkan maut berjuta-juta orang. Kejadian kedua kuasa Kerajaan Persia yang dipimpin Ardhasir makin mengencang. Kemudian kerajaan Kushan pecah belah dan lenyap dari sejarah. Dengan runtuhnya kerajaan Kushan dan Andhra sampai pada zaman Gupta. [8]


Kerajaan Gupta
Zaman keemasan pada pemerintahan Raja Asoka. Agama Budha dijadikan dasar pemerintahan. Di segala penjuru kerajaan didirikan tiang-tiang batu bertahtakan ajaran agama Budha. Di pucuk tiang tersebut terdapat patung singa sebagai kebesaran kerajaan Maurya. Setelah Raja Asoka meninggal, kerajaan terpecah menjadi bagian-bagian kecil. Pada abad IV muncul seorang raja yaitu Candragupta I yang membangun Kerajaan Gupta. dengan pusatnya di Lembah Sungai Gangga. Pada masa pemerintahan Raja Candragupta I, agama Hindu dijadikan agama negara, namun agama Buddha masih tetap dapat berkembang.[9]
Masa kejayaan Kerajaan Gupta terjadi pada masa pemerintahan Samudragupta. Pada masa pemerintahannya Lembah Sungai Gangga dan Lembah Sungai Indus berhasil dikuasainya dan Kota Ayodhia ditetapkan sebagai ibukota kerajaan.
Pengganti Raja Samudragupta adalah Candragupta II, yang dikenal sebagai Wikramaditiya. Ia juga bergama Hindu, namun tidak memandang rendah dan mempersulit perkembangan agama Budha. Bahkan pada masa pemerintahannya berdiri perguruan tinggi agama Buddha di Nalanda. Di bawah pemerintahan Candragupta II kehidupan rakyat semakin makmur dan sejahtera.. Kesusastraan mengalami masa gemilang. Pujangga yang terkenal pada masa ini adalah pujangga Kalidasa dengan karangannya berjudul "Syakuntala". Perkembangan seni patung mencapai kemajuan yang juga pesat. Hal ini terlihat dari pahatan-pahatan dan patung-patung terkenal menghiasi kuil-kuil di Syanta.[10]
Dalam-perkembangannya Kerajaan Gupta mengalami kemunduran setelah meninggalnya Raja Candragupta II. India mengalami masa kegelapan selama kurang lebih dua abad.[11]
Agama Hindu mengalami sebuah pasang surut dengan munculnya agama-agama baru di India yakni Budha, Jain dan Sikh. Namun berkat peranan Dinasti Gupta, agama Hindu kembali mendapat tempat pada masyarakat India sampai saat ini. Di Zaman Gupta yakni pada masa Pemerintahan Samudragupta dan Candragupta II. Ayah dan anak ini merupakan dua di antara pemimpin-pemimpin hebat bangsa Gupta. Dinasti tersebut menguasai hampir seluruh India Utara dari 320 sampai 497 M, meski pengaruh mereka tersebar lebih luas dan bertahan lebih lama.

Kerajaan Harsha
Dalam sejarah India sebelum zaman Islam terdapat pemerintahan Harsha, raja Hindu. Dua buah sumber keterangan dapat disebutkan yaitu kitab yang ditulis oleh Hiuen Tsang tatkala ia mengunjungi India di tahun 630-644 ketika raja Harsha pada puncak kuasanya dan kitab Harsha-carita yang menjelaskan peristiwa yang terjadi selama pemerintahan Raja Harsha yang ditulis pujangga keraton bernama Bana.
Di tahun 604 ayahnya mengirim saudaranya yang sulung Rajavardhana dengan tentara yang kuat untuk memerangi bangsa Huna di sebelah utara. Tidak berapa lama ayahnya wafat dan diganti oleh putra mahkota, meskipun ada sebagian pembesar yang lebih suka pada Harsha tetapi ia menolak.
Raja yang baru terpaksa meninggalkan kota tempatnya untuk membalas perbuatan yang membunuh iparnya dan menganiaya adik perempuannya. Raja Malwa yang dicari itu dapat dikalahkan tetapi tidak lama kemudian raja sendiri dibunuh oleh beberapa penjahat.
Selama satu tahun pemerintahan kacau karena Harsha menolak permintaan rakyat mengganti saudaranya. Dan pada tahun 606 ia menerima permohonan itu akan tetapi sebagai pemangku. Pekerjaan pertamanya ia mencari adik perempuannya ke pegunungan.
Putri itu yang mempunyai kebijaksanaan dan watak yang luar biasa diangkat sebagai penasihat raja. Enam tahun kemudian Harsha dipilih menjadi raja bernama Maharajadhiraja Sri Harsha. Untuk memperkuat kerajaannya dengan memperluas daerah kekuasaan dari India utara sampai ke Teluk Benggala dan merubah nama kerajaan menjadi Kanauj.
Kesusastraan di zaman itu menarik minat raja sendiri dengan menulis syair-syair yang sampai sekarang masih terkenal. Seperti Kanishka dan Chandragupta II juga mengadakan permusyawaratan yang luhur dengan pemimpin agama Budha. Hal itu dituliskan oleh Hiuen Tsang saat perjalanannya di ibukota Kanauj di tahun 643.
Di tahun 647 raja Harsha wafat setelah memerintah 46 tahun. India tidak akan melupakan namanya, sebab ialah raja yang membawa keamanan dan kemakmuran serta membangkitkan India kembali dari penindasan bangsa Huna.[12]

C.   Agama Budha dan Jain (Reaksi Terhadap Hinduisme)
Reaksi Agama Budha Terhadap Hinduisme
Dalam alur sejarah agama-agama zaman agama Budha dimulai semenjak tahun 500 SM-300 M. Secara historis agama tersebut mempunyai kaitan erat dengan agama yang mendahuluinya dan yang datang sesudahnya yaitu Agama Hindu.[13]
Agama Budha tumbuh di India tepatnya bagian Timur Laut. Agama Budha muncul sebagai reaksi terhadap dominasi golongan Brahmana atas ajaran dan ritual keagamaan dalam masyarakat India. Selain itu adanya larangan bagi orang awam untuk mempelajari kitab suci. Bahkan sebelumnya kaum ksatria dan raja harus tunduk kepada Brahmana. Sidharta memandang bahwa sistem kasta dapat memecah belah masyarakat bahkan sistem kasta dianggap membedakan derajat dan martabat manusia berdasarkan kelahiran.[14]
Menurut agama Budha kesempurnaan (Nirwana) dapat dicapai setiap orang tanpa harus melalui bantuan pendeta/ kaum Brahmana. Setiap orang mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk mencapai kesempurnaan tersebut asalkan ia mampu mengendalikan dirinya sehingga terbebas dari samsara. Sidharta Gautama dikenal sebagai Budha atau seseorang yang telah mendapat pencerahan. Meskipun ada pandangan dalam Hinduisme yang menganggap Buddha sebagai seorang awatara, kadangkala ajarannya bertolak belakang dengan agama Hindu dan dianggap sebagai suatu bentuk ateisme karena mengajarkan bahwa dunia tidak diciptakan oleh Tuhan Sang Pencipta. Meskipun agama Buddha meyakini adanya para dewa, namun para dewa tersebut bukanlah makhluk mahakuasa, tidak menciptakan alam semesta. Meskipun ajaran Buddha menyatakan adanya Brahma, namun Brahma tersebut berbeda dengan Brahma dalam agama Hindu yang menciptakan alam semesta. Brahma dalam agama Buddha tidak hanya satu; mereka hanyalah suatu golongan dewa, seperti yang dijelaskan dalam Brahmajala Sutta. Ajaran Buddha juga mengakui adanya Sakra, atau pemimpin para dewa, sama seperti Indra (alias Sakra) dalam ajaran Hindu, namun karakteristik dan mitos keduanya berbeda.[15]

Reaksi Agama Jain Terhadap Hinduisme
Jain adalah sebuah agama dharma. Jain bermakna penaklukan. Agama Jain bermakna agama penaklukan. Dimaksudkan penaklukan kodrat-kodrat syahwati di dalam tata hidup manusiawi. Agama Jain itu dibangun oleh Nataputta Vardhamana  hidup pada 559-527 SM yang beroleh panggilan Mahavira yang berarti pahlawan besar.
Agama Jain lahir lebih dahulu daripada agama Buddha.  Agama Buddha punya pengikut lebih luas di luar India, namun agama Jain terbatas hanya di India saja. Kedua agama tersebut merupakan reaksi terhadap perikeadaan di dalam agama Hindu mengenai perkembangan ajarannya pada masa lampau.[16]
Agama Jain sendiri lahir berdasarkan reaksi dari ketiak setujuannya terhadap ajaran-ajaran agama Hindu, maka pada saat itu terjadi pemberontakan besar terhadap agama Hindu yang dipimpin oleh Mahavira. Mahavira lahir pada tahun 599 SM. Nama mahavira sendiri bukan nama asli, dia nama aslinya adalah “vhardamana”. Dia dipanggil mahavira itu sendiri setelah ada kejadian dimana pada suatu ketika ada seekor gajah yang terlepas dari kandangnya kemudian merusak apa-apa yang menghalangi jalannya dia, tidak ada satu-pun orang yang bisa menangkap dan menjinakan hewan itu. Dan ketika sedang bermain, vhardamana melihat gajah tersebut dan dia langsung menangkapnya dan menjinakannya padahal usiannya baru 7 tahun. Akhirnya rakyat kerajaan Moghadah amat memujikan keberanian pangeran muda itu, sejak itu-pun dia dipanggil Mahavira (perwira perkasa).[17]
Awal mula dari kemunculan agama jain ialah ketika mahavira menyaksikan prilaku kasta brahmana  ( Brahmin ) yang banyak melakukan penyelewengan-penyelewengan sehingga membuat muak pangeran muda tersebut. Apalagi ketika ia menyaksikan kematian kedua orang tuanya dalam keadaan lapar padahal mereka hidup dalam kemewahan, itu dilakukan kedua orang tuanya Karena dalam ajaran hindu mengatakan kematian dalam keadaan lapar  merupakan suatu kematian yang suci (holy death). Setelah kedua orang tuanya meninggal itulah dia berkata kepada saudaranya : “ saudara, untuk berkabung atas kemangkatan ibu-bapak kita, saya berkehendak mengangkat sumpah bahwa dua belas tahun lamanya saya akan mengabaikan tubuh menahankan bencana apapun yang datang dari kodrat-kodrat gaib maupun manusia atau-pun hewan “.
 Mahavira melakukan perjalanan mengembara sebagai seorang kafir, dan bersumpah “dalam masa 12 tahun terhitung mulai dari saat ini saya tidak akan mengucapkan sepatah katapun“. Dari sumpah itu dia mendapatkan banyak pelajaran, diantaranya dia itu lebih baik dari ucapan. Mahavira juga tidak membenarkan membunuh apa-apa yang bernyawa. Kemudian ajaran-ajarannya banyak didukung oleh kalangan raja-raja karena salah satu ajarannya adalah tidak boleh menyakiti benda-benda yang mempunyai ruh tetapi telah mewajibkan rakyat agar taat dan setia kepada orang yang memerintah, barang siapa yang melanggar atau menentang akan disembelih kepalannya. Apalagi seruannya mengandung sesuatu yang membayangkan isi hati mereka dalam menentang golongan brahmana. Penyebaran hasil pemikirannya disebar melalui padato-pidato dan ceramah-ceramah diberbagai kota di india. Dari perjalanannya itu kemudian pengikut jain lebih kurang satu juta orang dan semuanya berada di india seperti agama hindu, pada keseluruhannya taraf sosial dan pendidikan mereka bersifat tinggi.[18]
            Mahavira mengajarkan beberapa hal diantaranya mengenai :
1.      Kebebasan
Kebebasan terpendam dalam diri manusia itu sendiri,  kebebasan terbagi menjadi dua :
§ Kebebasan dari karma : sebab akibat dari tindakan manusia itu sendiri
§ Kebebasan dari samsara : hidup berulang kali ke dunia yang semuanya itu merupakan derita.
2.      Cinta dan Benci
Cinta dan benci mesti dihindari karena kedua-duanya merupakan hasrat yang menjadi pangkal segala derita di dalam hidup manusiawi
Inti Ajaran Mahavira disebut juga Ahimsa. Yang terdiri dari dua suku kata yaitu {a-}bermakna tidak dan {himsa} bermakna kekerasan, ahimsa berazaskan tanpa kekerasan.
Inti ajaran Mahavira lainnya adalah kalwat dan bertapa, hidup sebagai seorang fakir-pengembara yang mau menyingkiri hasrat duniawi.
Mahavira menyimpulkan ajarannya pada tiga ratna jiwa  yaitu :
1.      Pengetahuan yang benar
2.      Kepercayaan yang benar
3.      Tindakan yang benar
Tindakan yang benar itu mestilah berazaskan lima sumpah terbesar:
1.      Jangan membunuh sesuatu yang hidup
2.      Jangan mencuri
3.      Jangan berdusta
4.      Jangan hidup bejat
5.      Jangan menghasratkan apapun[19]


D.    PENUTUP
Secara garis besar perkembangan agama Hindu dapat dibedakan menjadi tiga tahap. Tahap pertama sering disebut dengan zaman weda. Tahap kedua sering disebut dengan zaman Budha, tahap ketiga adalah apa yang dikenal sebagai zaman agama Hindu, berlangsung sejak 300 M hingga sekarang.
Kerajaan Maurya merupakan salah satu kerajaan yang memegang peranan penting dalam sejarah Asia Selatan. Asoka (268-233 SM), merupakan penguasa terbesar Maurya. Ia memperluas kerajaan, yang dihuni oleh penduduk dengan lebih dari 60 keyakinan dan bahasa yang berbeda. Raja Asoka dengan resmi telah mengikuti ajaran Buddha, akan tetapi rakyat pada umumnya masih setia kepada ajaran Hindu, yang sudah berakar teguh dalam masyarakat sejak zaman purba.
Kerajaan setelah maurya adalah Kerajaan Gupta. Pendiri Kerajaan Gupta adalah Raja Candragupta I dengan pusatnya di Lembah Sungai Gangga. Pada masa pemerintahan Raja Candragupta I, agama Hindu dijadikan agama negara, namun agama Buddha masih tetap dapat berkembang.
Agama Budha tumbuh di India tepatnya bagian Timur Laut. Agama Budha muncul sebagai reaksi terhadap domonisi golongan Brahmana atas ajaran dan ritual keagamaan dalam masyarakat India.
Agama Jain lahir lebih dahulu daripada agama Buddha.  Agama Buddha punya pengikut lebih luas di luar India, namun agama Jain terbatas hanya di India saja. Kedua agama tersebut merupakan reaksi terhadap perikeadaan di dalam agama Hindu mengenai perkembangan ajarannya pada masa lampau. Agama Jain sendiri lahir berdasarkan reaksi dari ketiak setujuannya terhadap ajaran-ajaran agama Hindu.





E.   DAFTA R PUSTAKA
- Ali, Mukti  (Pengantar). Agama-Agama Dunia. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press.  1988.
- Manaf, Mudjahid Abdul. Sejarah Agama-Agama. Jakarta:PT Raja Grafindo Persada. 1994.
-Mulia, INDIA: Sejarah Politik dan Pergerakan Kebangsaan. (Jakarta: Balai Pustaka, Cet. 1, 1959)
- http://ardiceper.blogspot.com/2012/05/agama-sikh-dan-jain.html
- http://id.wikipedia.org/wiki/Jainisme
-  http://kumpulan-tugas-sekolahku.blogspot.com/2012/07/raja asoka.html
- http://newsrzone.blogspot.com/2011/03/peradaban-kuno-di-asia.html
-http://sejarah-interaktif.blogspot.com/2011/11/lahir-dan-berkembangnya-hindu-budha-di.html





[1]. Mukti Ali (Pengantar). Agama-Agama Dunia. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press. 1988.
[2].Mulia, INDIA: Sejarah Politik dan Pergerakan Kebangsaan. (Jakarta: Balai Pustaka, Cet. 1, 1959). h. 20.
[3]. Ibid.
[4]. Mulia, INDIA: Sejarah Politik dan Pergerakan Kebangsaan. (Jakarta: Balai Pustaka, Cet. 1, 1959). h. 22
[5]. Mulia, INDIA: Sejarah Politik dan Pergerakan Kebangsaan. (Jakarta: Balai Pustaka, Cet. 1, 1959). h. 22-23.
[6] . Mukti Ali (Pengantar). Agama-Agama Dunia. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press. 1988.                              
[7].http://kumpulan-tugas-sekolahku.blogspot.com/2012/07/raja asoka.html
[8].http://kumpulan-tugas-sekolahku.blogspot.com/2012/07/raja-asoka.html
[9] Mukti AliPengantar). Agama-Agama Dunia. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press. 1988.
[10] http://newsrzone.blogspot.com/2011/03/peradaban-kuno-di-asia.html
[11]. http://newsrzone.blogspot.com/2011/03/peradaban-kuno-di-asia.html
[12].http://kumpulan-tugas-sekolahku.blogspot.com/2012/07/raja-asoka.html

             [13]. Mudjahid Abdul Manaf. Sejarah Agama-Agama.Jakarta:PT Raja Grafindo Persada.1994.
[14] http://sejarah-interaktif.blogspot.com/2011/11/lahir-dan-berkembangnya-hindu-budha-di.html
[15] http://sejarah-interaktif.blogspot.com/2011/11/lahir-dan-berkembangnya-hindu-budha-      di.htm
[16] http://id.wikipedia.org/wiki/Jainisme
[17] http://ardiceper.blogspot.com/2012/05/agama-sikh-dan-jain.html
[18] http://ardiceper.blogspot.com/2012/05/agama-sikh-dan-jain.html
[19].http://ardiceper.blogspot.com/2012/05/agama-sikh-dan-jain.html

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts