Rabu, 19 Desember 2012

sumber pokok (kitab suci, kitab brahmana, ittihasa)


A.    Pendahuluan
Kitab-kitab suci Hindu secara luas dalam dikelompokkan dalam 2 golongan. Pertama adalah Sruti (“itu yang didengar”) dan yang lain adalah Smriti (“itu yang diingat”). Kedua kelompok kitab-kitab suci ini dianggap “wahyu Tuhan” sama seperti semua kitab-kitab Injil dianggap mendapat inspirasi Tuhan.
B.     Kitab Suci
Kitab suci Hindu ditulis dalam kurun waktu berabad-abad dan menggunakan berbagai bentuk tulisan. Kitab-kitab suci itu meliputi teks-teks filsafat yang sulit dimengerti sampai dengan legenda-legenda dan cerita-cerita kepahlawanan.[1]
Kitab Hinduisme dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu kitab-kitab shruti dan kitab-kitab Smriti, adapun kpenjelasan kitab-kitab tersebut adalah:
1.      Shruti
Shruti (yang didengar) di naggap sebagai yang suci yang berada di dalam asal usul segala sesuatu. Kitab-kitab Shruti berisi pujian-pujian kuno dari kitab Veda, yang ditulis pada akhir milenium kedua BCE dalam bahasa sansekerta, bahasa India kuno. Rig Veda, kitab yang paling kuno dan paling suci, adalah kitab yang berisi 1.028 puisi yang merefleksikan kehidupan pengembaraan bangsa aria yang berperang, yang bergembira karena terbitnya matahari setiap pagi dan yang merefleksikan heningnya malam sunyi.
Kitab-kitab Upanishad adalah bagian terakhir dari kitab-kitab Veda. Judul kitab itu mengacu pada murid yang duduk di laki-laki guru untuk mendapatkan kebijakan kitab-kitab Upanishad memuat 120 percakapan antara guru dan muridnya serta berisi semua ajaran Hindu yang paling penting-yaitu mengenai Brahman dan atman.[2]

C.     Smriti
Kitab-kitab Smiriti (yang diingat) adalah kitab-kitab suci tentang asal-usul manusia. Kitab suci itu berisi cerita rakyat yang cerita rakyat yang diceritakan oleh penutur-penutur terlatih. Ramayana, kitab yang memuat 48.000 baris puisi, memceritakan kisah rama dan shinta serta merpakan sumber ajaran dan nasihat spiritual yang besar bagi orang Hindu. Yakni setiap tradisi (ucapan, perbuatan, tulisan). Yang mengandung ajaran seseorang rishi (orang suci) atau ajaran seseorang acharya (guru) ataupun ajaran avatar (interaksi-ilahi) seumpama Krishna dan lainnya didalam himpunan Smiriti itu termasuk Brahmanas,panishads, mahabhara, Bhagavadgita, Ramayana, Purana, dll.
            yang termasuk golongan kedua itu pada masa belakangan memalui wewenang-resmi dinyatakan kitab-suci guna mengahmbat sesuatu tantangan ataupun keraguan-raguan. Dengan begitu kedudukan Smiriti itu disamakan dengan kedudukan Sruti.[3]
Kitab itu dipanggil dengan Brahma-sutras, yakni benang sulam melalui himpunan Brahmanas. Kitab-kitab berisikan komentar itu disusun oleh para acharyas pada abad-abad menjelang dan sesudah tahun masehi.
Disamping itu lahir kesusasteraan yang mengambil themanya dari keyakinan agamawi ataupun sesuatu ajaran agamawi mengenai masalah kehidupan dan kemasyarakatan, dan kitab-kitab golongan itu dipanggilkan dengan Brahmana-shastras. Termasuk dalam golongan Brama-shastras itu ialah kitab-kitab mengenai berbagai cabang ilmu pengetahuan seumpamanya astronomi, ketabiban, logika, matematika, bahasa, dan lainnya.baikpun Brahama-sustras maupun Brahama-shastras itu termasuk kedalam himpunan kitab suci.
  
D.    Kitab Brahmana dan Aranyaka
Berbeda dari naskah atau kitab Samhita, kitab brahmana disusun oleh para pendeta Brahmana sekitar abad ka-8 S.M kitab tersebut bukanlah puji-pujian kepada para dewa, tetapi merupakan kitab yang berisi keterangan-keterangan dari para tentang korban dan sasaji. Uraian-uraian didalamnya banyak yang membosankan dan sungkar dipahami padahal pikiran dasarnya justru sangat sederhana. Keterangan-keterangan tersebut disertai dengan mitos dan legende tentang manusia dan dewa dengan memberikan ilustrasi ritus-ritus korban. Pada bagian akhir kitab terdapat tambahan yang disebut kitab Aranyaka yang berisi tentang renungan sekitar masalah korban sehingga dianggap sakti. Karena itu mempelajarinya harus ditempat-tempat yang jauh dari tempat tinggal manusia, yaitu ditengah-tengah hutan.  Selain kitab brahmana masih ada lagi kitab lain yang pada intinya menguraikan masalah korban, cara melakukannya, mantra-mantra yang harus diucapkan dan cara pengucapannya. Kitab-kitab tersebut denga kitab Wedanga yang merupakan hasil pemikiran para resi. Peraturan-peraturan yang di ajarkan didalam harus dipatuhi dan ditaati supaya korban tidak kehilangan daya kekuatan.
Isi kitab Wedanga dapat dianggap sebagai permulaan ilmu pengetahuan di India tentang fonetika paramasatra, etimologi, teori sanjak, ilmu perbandingan dan aturan-aturan pergaulan dalam masyarakat. Kitab paramasastra yang sangat terkenal adalah karya panini. Seorang pujangga yang hidup sekitar abad 5 S.M.
Kitab yang berisi pedoman tentang berbagai masalah kepercayaan tersebut Sutra, bahasanya padat, kalimatnya singkat termasuk Sutra Vadanga adalah kalpa Sutra atau Srauta-Sutra yang berisi tentang upacara korban besar dan Grhya-sutra, tentang orban kecil. Dharma-Sutra berisi hukum-hukum Hindu.
Dharma-Sastra termasuk kesusastraan Brahmana dan merupakan kitab undang-undang yang mengatur berbagai segi kehidupan manusia. Isinya bercampur dengan kitab lainnya, yaitu tentang pengetahuan dan dongeng-dongeng. Yang sangat terkenal adalah Manawa-Dharma-sastra yang menurut mitologi terkarang oleh manu(manusia pertama), kitab ini berpengaruh terhadap umat Hindu dewasa ini baik di India maupun di Indonesia. Kepercayaan-kepercayaan yang termuat dalam kitab wedanga dikenal dengan agama Brahmana.
Tingakatan pemikiran pada Brahmana (pemikiran Weda) merupakan tafsiran yang berupa prosa, sangat terinci dan isinya berupa kidung-kidung korban atau beberapa upacara lain. Brahmanas berarti “pertautan dengan brahman” tafsiran-tafsiran ini biasanya terdiri dari ajaran-ajaran yang memerintahkan untuk mengamalkan perbutan yang jelek. Semuanya tadi dinyatakan dengan Arthavada yang mengambil bentuk puji-pujian terhadap kebaikan (biasanya disebut Stuti) dan celaan atau kecaman terhadap yang buruk (disebut Ninda).[4]
Dalam kitab brahman terdapat mitos dan legende kuno yang ditulis Purakalpa, Orakerti. Tulisan weda pada brahmana memperlihatkan adanya perkembangan cerita dan mitos tentang dewa-dewa, juga tenang kosmologi yang digambarkan dalam kidung-kidung, kitab Brahmana bercorak interpretasi esoterik dan simotik . masing-masing dewa da ritusnya tidak dapat dilepaskan dari tiga hal, yaitu adhiyajna (korban) dan adhayatman (yang bersifat mistis dan filosofis).[5]
Dalam agama brahmana pemujaan terhadap matahari sangat ditekankan, kalau siwa dan beberapa kidungnya banyak tercantum dalam Yajurweda, maka kitab Aranyaka (bagian akhir kitab brahmana) berisi rangkaian doa yang panjang yang ditunjukan terhadap matahari, yang disebut Suryanamaskara.
-          Perubahan pada agama Brahmana
Dalam kitab yang sebelumnya, terutama pada Samhita dan mantra, selik beluk korban terhadap dewa belum duketahui. Penjelasan mengenai cara dan peraturan penyelengaraan korban baru ada dalam kitab brahmana, disertai tafsiran-tafsiran yang dilengkapi dalam kitab Wedanga, sejalan dengan itu maka pandangan terhadap penting tidaknya suatu dewa juga mengalami perubahan ,  beberapa dewa bahkan kemudian tidak memegang peranan penting lagi. Dewa waruna sebagai pengawas tata tertib kosmos berubah turun martabatnya menjadi dewa laut. Dewa-dewa yang kemudian muncul dalam agama adalah dewa Brahma dan Siwa. Yang dianggap jauh dari manusia dewa Mitra juga tidak pernah disebut-sebut lagi, Wisnu dalam perkembangan yang kemudian menjadi Prajapati. Dewa rudra menjadi sangat penting dan disebut dengan Siwa-Ruda[6]
-          Isi kitab brahmana terdiri atas dua bagian. Bagian pertama memberi uraian tentang peraturan-peraturan untuk persembahan, yang memberikan tafsiran tentang peraturan-peraturan didalam Weda. Yang kedua adalah  sejenis kitab. Kitab hukum atau dharmasastra. Sebernarnya kitab itu ialah kumpulan patoka-patokan bagi seluruh kehidupan menurut patoka-patokan itu seluruh kehidupan harus di selenggarakan. Kitab-kitab itu membicarakan segala hal hingga dewasa ini kitab hukum manu. Yakni manusia pertama menurut dongengan, ialah Manawadharmasastra masih di akui. Bahkan kitab-kitab hukum Bali dan Jawa Kuno didasarka pada kitab tersebut oleh hukum-hukum dan patokan-patokan itu diatur dan di pertajamlah perbedaan antara berbagai golongan yang merupakan penduduk India yang sangat tercampur dan bermacam-macam. Selain kasta-kasta yang dahulu telah disebut, terjadilah sekarang sejumlah kasta tercampur karena perkawinan tercampur. Tetapi orang tidak dapat naik kasta karena perkawinan, kalau turun kasta dapat, di luar kasta-kasta para paria, termasuk pula kedalam segala orang asing. Ketiga kasta yang tertinggi (brahmana, ksatria, waisya) boleh memakai kalung kasta dan membaca Weda dan mereka dipandang sebagai keturunan bangsa arya karena termasuk kedalam salah satu kasta (upananyana), seolah-olah berarti suatu kelahiran yang kedua, maka anggota-anggota ketiga kasta yang tertinggi disebut para dwiya artinya orang yang lahir dua kali.[7]
-          Ketiga bnyak di jumpai dalam kitab brahmana banyak keterangan tentang keadaan tertentu di dalam hidyp manusia atau du dalam alam dengan pertolongan mitologi.[8]
E.     Kitab ittihasa dan Puran
Belakangan ini ada perbincangan yang mempersoalkan apakah itihasa itu  kitab suci Hindu ataukah tidak, Ada banyak kitab Ittihasa, namun dua yang terkenal adalah Ramayana dan Mahabharata. Kitab suci dalam ulasan ini adalah kitab suci sebagai pegangan sebuah agama. Jadi, kalau kita berbicara di depan umum, apakah kitab suci agama Hindu itu? Jawabnya adalah Weda. Apakah Itihasa bukan kitab suci? Bukan! Apakah lontar bukan kitab suci? Bukan!
Kitab suci Hindu, sebagaimana kitab suci agama lainnya, adalah wahyu Tuhan. Dalam Hindu ini disebut Sruti. Weda adalah Sruti yang wahyunya diterima oleh tujuh resi agung. Weda terdiri dari empat (catur) yaitu Reg Weda, Yajur Weda, Sama Weda dan Atharwa Weda. Kemudian menyusul kitab Brahmana, Aranyaka dan Upanisad yang dikelompokkan ke dalam Weda sehingga disebut Catur Weda Samhita. Selanjutnya ada kitab-kitab Sutra, Dharmasastra, Itihasa, Purana dan kitab-kitab Darsana digolongkan sebagai Susastra Hindu. Ada buku baru dari Prof. Made Titib yang mengulas masalah ini secara menarik, judulnya “Itihasa Ramayana dan Mahabharata (Viracarita).”
Weda dan Susastra Hindu itu dikelompokkan dengan menarik oleh Vatsyayasa dalam bukunya Nyayasutrabhasya. Garis besarnya begini: Weda adalah pedoman umum dan acuan dalam ritual (yadnya). Itihasa dan Purana menguraikan “sejarah dunia” dan tentang umat manusia. Weda adalah sumber utama dari wahyu Tuhan, sumber segala dharma dan hukum Hindu.
Itihasa dan Purana menguraikan ajaran dalam Weda dengan kisah-kisah menarik sehingga mudah untuk diterima umat. Karena begitu sulitnya mempelajari Weda, apalagi di masa lalu sarana untuk itu terbatas, maka para Rsi membuat kisah-kisah Itihasa, tujuannya tiada lain untuk menyebarkan isi Weda itu sendiri. Di zaman emas Kerajaan Majapahit di mana Hindu berkembang bagus, dalam kitab Sarasamuccaya dimuat sloka yang terjemahannya begini: “Veda itu hendaknya dipelajari dengan sempurna melalui jalan Itihasa dan Purana sebab Weda akan takut pada orang-orang yang sedikit pengetahuannya.” Maksudnya adalah mulailah mengenal Itihasa dan Purana lebih dahulu, kemudian setelah pengetahuan menjadi bertambah, baru ke Weda. Sampai saat ini pun, meski kitab Weda sudah diterjemahkan dan dijual di toko buku, masih sulit mempelajarinya jika tidak didampingi seorang guru atau nabe.
 Itihasa dan Purana memang ajaran suci, tetapi bukan kitab suci. Pertama, karena itu bukan wahyu Tuhan. Kedua, karena bentuk Itihasa adalah kisah, tentu ada kisah buruk dan kisah baik, yang buruk jangan dicontoh, yang baik dijadikan contoh. Ibarat seorang guru yang mengajar budi pekerti untuk anak usia Sekolah Dasar, pembelajaran lewat dongeng sangat dianjurkan. Weda sebagai wahyu Tuhan tentu tak memberi contoh yang buruk. Kitab suci semuanya mengajarkan dharma.
 F.      Penutup
Demikian lah makalah ini saya buat, makalah ini untuk memenuhi persyaratn perkuliahan , dan mohon di koreksi apabila ada kesalahan dalam penulisannya.
 DAFTAR PUSTAKA
-          Arifin,M.M, menguak Misteri Ajaran Agama-agama Besar, PT. Golden Trayon Press, Jakarta 1986
-          Honing, A.G.Jr, ilmu agama,PT. BPK. Gunung Mulia, Jakarta 1997
-          Joesoep, Sou’yb,agama-agama besar didunia, PT. Totalido, Jakarta, 1996
-           Mukti, Ali Agama-agama Dunia, PT. Hanindita, Yogyakarta
-          Putu, setia, suara kaum muda Hindu, PT. Mandiri,Jakarta, 1993
-          Penulis Wakil Ketua Sabha Walaka PHDI Pusa


[1] Honing, A.G.Jr, ilmu agama,PT. BPK. Gunung Mulia, Jakarta 1997
[2] Arifin,M.M, menguak Misteri Ajaran Agama-agama Besar, PT. Golden Trayon Press, Jakarta 1986,
[3] Arifin,M.M, menguak Misteri Ajaran Agama-agama Besar, PT. Golden Trayon Press, Jakarta 1986,

[4] Joesoep, Sou’yb,agama-agama besar didunia, PT. Totalido, Jakarta, 1996
[5] Joesoep, Sou’yb,agama-agama besar didunia, PT. Totalido, Jakarta, 1996

[6] Putu, setia, suara kaum muda Hindu, PT. Mandiri,Jakarta, 1993
[7] Mukti, Ali Agama-agama Dunia, PT. Hanindita, Yogyakarta,
[8] Mukti, Ali Agama-agama Dunia, PT. Hanindita, Yogyakarta,

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts