Rabu, 19 Desember 2012

Periodesasi Sejarah Agama Hindu (Brahmana)



Pendahuluan
Agama Hindu adalah agama yang mempunyai usia terpanjang merupakan agama yang pertama dikenal oleh manusia. Perkembangan agama Hindu di India, pada hakekatnya dapat dibagi menjadi 4 fase, yakni Jaman Weda, zaman Brahmana, zaman Upanisad dan zaman Budha.
Zaman Weda dimulai pada waktu bangsa Arya berada di Punjab di Lembah Sungai Sindhu, sekitar 2500 s.d 1500 tahun sebelum Masehi, setelah mendesak bangsa Dravida kesebelah Selatan sampai ke dataran tinggi Dekkan. Bangsa Arya telah memiliki peradaban tinggi, mereka menyembah Dewa-dewa seperti Agni, Varuna, Vayu, Indra, Siwa dan sebagainya. Walaupun Dewa-dewa itu banyak, namun semuanya adalah manifestasi dan perwujudan Tuhan Yang Maha Tunggal. Tuhan yang Tunggal dan Maha Kuasa dipandang sebagai pengatur tertib alam semesta, yang disebut "Rta". Pada zaman ini, masyarakat dibagi atas kaum Brahmana, Ksatriya, Vaisya dan Sudra.
Pada zaman Brahmana, kekuasaan kaum Brahmana amat besar pada kehidupan keagamaan, kaum brahmanalah yang mengantarkan persembahan orang kepada para Dewa pada waktu itu. Zaman Brahmana ini ditandai pula mulai tersusunnya "Tata Cara Upacara" beragama yang teratur. Kitab Brahmana, adalah kitab yang menguraikan tentang saji dan upacaranya. Penyusunan tentang Tata Cara Upacara agama berdasarkan wahyu-wahyu Tuhan yang termuat di dalam ayat-ayat Kitab Suci Weda.
Sedangkan pada zaman Upanisad, yang dipentingkan tidak hanya terbatas pada Upacara dan Saji saja, akan tetapi lebih meningkat pada pengetahuan bathin yang lebih tinggi, yang dapat membuka tabir rahasia alam gaib. Zaman Upanisad ini adalah jaman pengembangan dan penyusunan falsafah agama, yaitu zaman orang berfilsafat atas dasar Weda. Pada zaman ini muncullah ajaran filsafat yang tinggi-tinggi, yang kemudian dikembangkan pula pada ajaran Darsana, Itihasa dan Purana. Sejak jaman Purana, pemujaan Tuhan sebagai Tri Murti menjadi umum.



2. Zaman Brahmana
            Agama Brahmana bersumber kepada kitab Brahmana, yaitu bagian kitab Weda yang kedua. Kitab ini ditulis oleh para imam atau Brahmana dalam bentuk prosa. Isinya memberi keterangan tentang korban. Hal ini disebabkan karena zaman ini adalah suatu zaman yang memusatkan keaktifan rohaninya kepada korban.
            Pada zaman Brahmana ini memang timbul perubahan-perubahan suasana. Ciri-ciri zaman ini adalah:
1.      Korban mendapat tekanan yang berat
2.      Para Imam (Brahmana) menjadi golongan yang paling berkuasa.
3.      Perkembangan  kasta  dan kasta
4.      Dewa-dewa berubah perangainya
5.      Timbulnya kitab sutra[1]

1.      Masalah Korban
Pada zaman weda purba korban masih menjadi alat untuk mempengaruhi para dewa, agar mereka berkenan menolong manusia. Namun pada zaman itu juga sudah tampak gejala-gejala magi, yaitu bahwa korban dipandang sebagai alat untuk memaksa para Dewa menolong manusia. Jadi sebenarnya korban itu sendiri sudah dipandang sebagai memiliki daya magis, yang lebih kuasa dari pada para Dewa.[2]
Tujuan utama upacara korban dalam agama weda ini adalah terjaminnya tata tertib kosmos. Pelasanaan korban dipimpin oleh pendeta yang membujuk dan merayu  para dewa untuk mengabulkan permohonan manusia. Dua macam  upacara korban simbolik yang terpenting adalah: pertama korban manusia (purusa), sebagaimana tercantum dalam kidung kosmogonik dalam kitab Rigweda, yang menyebutkan bahwa yang maha tinggi telah menjalani korban untuk penciptaan, dan kedua adalah korban sarwaweda          dimana manusia mengakui kemahakuasaan Tuhan secara universal sehingga kemudian dewa melimpahkan segala miliknya kepada seluruh  manusia. Untuk keperluan sehari-hari korban dilakukan oleh kepala keluarga yang diselenggarakan di api keluarga.
        Korban besar diuraikan dalam srauta-sutra. Di antara korban besar yang terpenting ialah korban kuda (aswameda). Korban aswameda dimulai dengan menyajikan makanan kepada para brahmana. Menurut ketentuan, korban ini diikuti dengan membagi-bagikan sejumlah besar lembu dan beberapa keeping uang mas.
        Korban kecil banyak di uraikan dalam Gringhya-sutra. Korban ini hanya memerlukan kelengkapan yang sederhana, cukup dengan api suci yang ditaruh di setiap rumahtangga. Korban kecil lainnya adalah naimittika yang biasanya dilakukan sehubungan dengan siklus kehidupan. Korban ini sering diselenggarakan pada waktu akan menerima tamu penting, waktu anak masih berada dalam kandungan, saat kelahiran, pemberian nama dan pada siklus-siklus kehidupan manusia lainnya.
        Upacara korban tersebut sebenarrnya bukan lagi merupakan upacara agama yang sebenarnya. Korban disini bukan lagi berpusat pada dewa akan tetapi pada manusia dan hubungan antara manusia dengan dewa sudah merupakan hubungan yang bersifat magis saja. Dalam perkembangan selanjutnya, ajaran korban dalam agama Brahmana ini sangat dikecam oleh ajaran Upanishad.
Demikian besar fungsi korban sehingga korban menjadi alat untuk memperoleh kekuasaan atas dunia sekarang dan akhirat, atas yang tampak dan yang tak tampak, atas yang bernyawa dan yang tak bernyawa. Barang siapapun yang berhasil memperoleh daya itu, ialah  Tuhan dunia.[3] Bahkan dikatakan bahwa penciptaan Dunia itu hasil dari adanya korban yang dilakukan oleh dewa yang tertinggi, yaitu Prajapati atau Brahma. Bahkan lebih dari itu korban dilepaskan dari Dewa-dewa, dijadikan suatu daya yang berdiri sendiri, yang senantiasa berada dimana-mana yang dapat dipergunakan sebagai jembatn manusia menuju kebahagiaan.[4]

2.      Kasta
Perbedaan susunan masyarakat Hindu dari masyarakat lain di dunia ini karena adanya golongan-golongan yang eksklusif dan berdiri sendiri dalam masyarakat mereka, golongan-golongan ini disebut kasta. Tiap kasta mempunyai kedudukan sosial yang sangat tajam batas-batasnya, batas-batas mana diasaskan pada Hinduisme. Hanyalah asal kelahiran yang menentukan kedudukan sesuatu golongan dan seseorang dalam masyarakat Hindu, yang tidak dapat diubah oleh prestasi apapun dalam hidup seseorang. Perbedaan besar antara mesyarakat Hindu dengan golongan-golongan bangsa-bangsa lain ialah: bahwa perbedaan derajat yang ditimbulkan asal kelahiran ini dapat berubah ole adanya prestasi seseorang dalam hidupnya, sedang masyarakat Hindu percaya bahwa pembedaan derajat itu berakar dalam prinsip-prinsip yang tidak dapat diubah sama sekali.
Golongan kasta yang utama adalah :
1.    Brahmana, yang terdiri dari golongan pendeta dan ulama-ulama.
2.    Ksatrya terdiri dari perwira balatentara, dan pegawai negeri.
3.    Waisya, yaitu kaum buruh, tani, dan saudagar.
4.    Sudra, yaitu hamba sahaya dan orang-orang yang mengerjakan pekerjaan yang hina.
Perlu diketahui bahwa anggota-anggota keempat kasta tadi, tidak sudi terhadap satu sama lainnya. Mereka tidak diizinkan berhubungan antara yang satu dengan yang lain dengan begitu saja, misalnya dalam perkawinan antara orang-orang dari kasta yang berlainan.
Di bawah katagori yang keempat tadi, masih ada golongan ke-lima yaitu golongan Paria yang biasa disebut dengan outcast. Golongan ini hampir tidak dapat dinamakan suatu suatu kasta dan malah tidak boleh didekati. Anggota-anggota kasta yang empat tadi tidak boleh berhubungan langsung dengan anggota-angngota golongan ini[5]

3.      Asrama
Asrama adalah tingkatan hidup. Dalam Agama Brahmana disebutkan adanya empat tingkatan hidup yang harus diakui oleh setiap orang penganut agama tersebut.
Hidup manusia dibagi menjadi empat Asrama atau tingkatan  hidup, yaitu:
Ø  Brahmacarya, yaitu tahap menjadi murid, seorang anak akan meninggalkan rumah orangtuanya dan menetap sebagai siswa (sisya) dikediaman seorang guru untuk mempelajari isi kitab veda dan pengetahuan keagamaan lainnya.
Ø  Grhastha, tahap menjadi kepala keluarga, setelah anak tersebut menuntut ilmu anak tersebut segera pulang dan kawin.
Ø  Wanaprastha, atau tahap menjadi penghuni hutan (pertapa), tingkatan ini adalah tingkatan yang harus ditempuh apabila seseorang sudah mencapai usia lanjut.
Ø  Sannyasa, atau tahap hidup penyangkalan, yaitu tingkat pertapa yang telah lepas dari kehidupan dunia
4.      Dewa-dewa
Agama Hindu pada pokoknya tidak mempercayai adanya Tuhan dalam arti kata yang sebenarnya, seperti dalam pengertian kita umat Islam. Unsur-unsur kepercayaan kekuatan gaib, tidak tegas malah menurut filsafat wedanta, semua benda ini hanyalah khayal belaka, pada hakekatnya semua itu Tuhan.
Kekuasaan gaib yang tidak berwujud ini tidak dapat digambarkan dalam pikiran, karena dorongan untuk mengenal kekuasaan yang tak kelihatan ini, maka orang Hindu mewujudkannya dengan TRIMURTI yang terdiri dari sang Brahmana, Wisynu dan Syiwa. Brahma ialah pencipta alam semesta, wisnu adalah dewa pelindung dan siwa adalah dewa pembinasa. Pada dasarnya ketiganya adalah wujud dari satu ke Tuhanan.
a.      Brahmana
Dewa Brahma mempunyai empat buah kepala yang melihat ke segala penjuru. Ini adalah satu tanda yang menyatakan kebijaksanaannya. Ialah pencipta segala sesuatu dan isterinya Saraswati adalah Dewi Kesenian. Dewa Brahma sekarang tidak lagi dipandang sebagai dewa yang terutama. Di seluruh India hanya ada sebuah candi Brahma yaitu di Pusykar.
Dewa Wisynu makin lama makin banya pemujanya karena ia diwujudkan  sebagai dewa yang penyayang yang bertangan empat. Di tempat tidurnya berbaring seekor ular bernama Ananta, yang mempunyai seribu kepala. Ia hanya tertidur bila mendengar doa-doa dewa yang lain, mereka memerlukan seorang juru pemisah dan penolong, untuk menjaga seluruh alam, karena kadang-kadang terancam oleh kekuasaan-kekuasaan jahat.
b.      Wisynu
Menurut kepercayaan Hindu, Wisynu menjelma sepuluh kali untuk menolong dunia ini. Sembilan dari penjelmaan telah berlaku, akan tetapi penjelmaan yang kesepuluh masih akan tiba.


Kesepuluh penjelmaan (avatara) itu ialah sebagai:
a.       Ikan
b.      Kura-kura
c.       Babi
d.      Singa berkepala manusia
e.       Korcaci (orang kate)
f.       Parasuratna (seorang Brahmana)
g.      Rama
h.      Krisyna
i.        Buddha Gautama
j.        Kalki
Semua penjelmaan ini gunanya untuk menolong dunia dan manusia.
c.       Syiwa
Dewa Syiwa diwujudkan sebagai seorang pengemis kayangan dan sebagai seorang pelancong yang suka bergaul dengan hantu dan orang halus yang selalu berkeliaran di tempat-tempat pembakaran mayat di gurun pasir. Ia tak mempunyai istana, sebab ia diam bersama istri-istrinya di Durga di atas gunung Kailasa di pegunungan Himalaya. Menurut orang Hindu hal ini adalah akibat dari pada sumpah dewa Brahma karena Syiwa telah memancung salah sebuah kepala Brahma ketika timbul pertengkaran antara keduanya tentang kekuasaan.
Ia menjadi Dewa dari orang-orang pertama dan mereka yang telah menguasai hukum-hukum alam. Binatang kendaraannya Nandi pun dipuja orang. Istrinya mempunyai beberapa nama: Pati, Durga, Kali, Sakti, Uma, dan sebagainya. Anak mereka ada dua orang yaitu Ganesya dan Kartikaya.
Dari kedua anak Syiwa ini, Ganesyalah yang lebih dihormati orang. Ia adalah dewa kecerdasan dan kesabaran. Ia berkepala gajah dan berbadan manusia. Hal inipun adalah akibat sumpah dari Dewa Brahma. Kartikaya, anak bungsu adalah Dewa peperangan
Ibadat dan pemujaan tidaklah hanya dihadapkan kepada mahadewa Brahma, Wisynu dan Syiwa tetapi lebih dahulu langsung kepada tenaga dan daya alam yang dianggap sebagai dewa, yang langsung mempengaruhi kehidupan manusia. Tenaga dan kekuatan alam inilah yang sebenarnya dipuja. Nama dari masing-masing dewa itu adalah daya alam itu sendiri. Diantara dewa-dewa itu ialah:

1.      Surya (Dewa Matahari)
2.      Agni (Dewa Api Suci)
3.      Wayu (Dewa Angin)
4.      Candra (Dewa Bulan)
5.      Waruna (Dewa Alam/Angkasa)
6.      Marut (Dewa Badai/Topan)
7.      Paryania (Dewa Hujan)
8.      Acwin (Dewa Kembar atau Dewa Kesehatan)
9.      Usa (Dewa Fajar)
10.  Indra (Dewa Perang)
11.  Westra (Dewa Jahat)
Diantara semua dewa-dewa itu yang terutama sekali dan paling banyak mendapat puji-pujian ialah dewa Indra dan Agni. Dewa indra dipandang juga sebagai dewa rahmat yang membawa kebahagian. Dewa indra juga mendapat julukan dengan sebutan “puramdara” yaitu dewa penggempur benteng. Hal ini mengingatkan mereka ketika bangsa Arya mula-mula dating kelembah Sindhu dengan peperangan, bertemu dengan bangsa Dravida yag bertahan dalam Sembilan puluh benteng, akhirnya bangsa dravida dapat dikalahkan. Bagi bangsa arya kemenangan ini sebagai pertolongan dari dewa indra.
Dewa Indra adalah dewa yang terus menerus berperang menggempur dewa wertra, yaitu dewa jahat yang selalu menahan air hujan dalam gumpalan-gumpalan awan. Dewa pertolongan Indra memaksa wertra akhirnya hujan turun ke bumi.
Dalam memuja Dewa Indra, biasa dipersembahkan saji yang berisi soma, yaitu semacam minuman dari getah tumbuh-tumbuhan candu yang biasa memabukkan. Maksud saji ini agar Dewa Indra terus berperang dalam keadaan mabok dan tak peduli, sehingga Wertra dapat dikalahkannya.
Dewa kedua yang dianggap mulia dan lebih banyak dapat pujaan ialah dewa api (agni), karena agni sebagai sahabat bagi manusia dalam hidupnya. Di dalam setiap rumah sudah tentu dibutuhkan api untuk memasak, untuk penerangan dan pemanas. Pada setiap upacara pemujaan, api tidak boleh ketinggalan, api menjadi syarat utama.
Pada waktu upacara pemujaan dewa yang disembah dimohon agar turun, duduk di atas selembar tikar kuca (tikar rumput) yang dibentangkan, lalu barang-barang sajian dimasukkan ke dalam api, sebagai khayalan bahwa sajian ini dimasukkan ke dalam mulut dewa.
Selain kepada Dewa Indra dan Agni ada juga dilakukan pemujaan, menurut kebutuhan masing-masing yang memuja. Dan bagi tiap-tiap keluarga dan rumah tangga, kepala keluargalah yang berkewajiban melakukan saji dalam pemujaan menurut apa yang dibutuhkan oleh keluarganya.
Hanya pada ketika memuji dan memuja suatu dewa dalam memohon kebutuhan dan hajat, si pemuja hendaklah meletakkan suatu kepercayaan dalam hatinya, bahwa tidak ada suatu dewa yang lain selain dewa yang disembahnya itu.[6]


             Sutra-sutra
Pada zaman ini mulailah timbul kitab-kitab sutra, yaitu kitab-kitab pedoman yang berisi petunjuk-petunjuk tentang banyak hal, dan yang ditulis dalam kalimat-kalimat yang pendek. Kitab-kitab ini tidak tergolong Weda, melainkan termasuk kitab-kitab yang disebut Wedangga, atau anggota Weda. Isinya membicarakan hal ilmu bahasa, upacara, tata bahasa, ilmu pengetahuan tentang soal dan arti kata, dan lain sebagainya.

5.      Kaum Pendeta
Brahmana adalah salah satu golongan karya atau warna dalam Agama Hindu. Mereka adalah golongan cendekiawan yang mampu menguasai ajaran, pengetahuan, adat, adab hingga keagamaan. Di zaman dahulu, golongan ini umumnya adalah kaum pendeta, agamawan atau Brahmin. Kaum Brahmana tidak suka kekerasan yang disimbolisasi dengan tidak memakan dari makhluk berdarah (bernyawa). Sehingga seorang Brahmana sering menjadi seorang vegetarian. Brahmana adalah golongan karya yang memiliki  kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan baik pengetahuan suci maupun pengetahuan ilmiah secara umum.[7]

3. Zaman Upanishad
            Hidup keaagmaan pada zaman ini bersumber kepada bagian Weda, yaitu kitab-kitab Aranyaka dan Upanishad. Kitab-kitab Aranyaka disusun oleh para pertapa yang berada didalam hutan (aranya). Isinya pada umumnya membicarakan teman-teman dan hal-hal yang juga dibicarakan didalam kitab-kitab Upanishad. Kedudukunnya ada diantara kitab-kitab Brahmana dan Upanishad.[8]



a)      Brahman
a.      Pengertian Brahman sebenarnya sudah dikenal pada zaman Agama Weda samhita. Mula-mula Brahman adalah ilmu atau ucapan yang suci, suatu nyanyian atau mantra, sebagai pernyataan yang konkrit dari hikmat rohani. Tetapi kemudian Brahman adalah doa, atau daya yang beradadidalam doa. Pada dirinya sendiri doa itu dipandang sebagai sudah memiliki kasekte, sudah mengandung sari dari hal-hal yang disebut didalam doa tadi.
Di dalam Agama Upanishad, Brahman dianggap sebagai yang menyebabkan segala gerakan dan perubahan Brahman menjadi semacam “jiwa alam semesta”[9]
b)      Atman
           Di dalam Weda samhita atman diartikan: nafas, jiwa dan pribadi. Di dalam kitab-kitab brahmana dinyatakan bahwa atman adalah pusat segala fungsi jasmani dan rohani manusia. Di dalam Upanishad disebutkan, bahwa pengihatan, pendengaran dan sebagainya satu persatu meninggalkan tubuh untuk mengetahui siapa dari fungsi-fungsi hidup itu yang terpenting. Akhirnya diketahui bahwa yang terpenting adalah nafas, atman. Dengan ini dijelaskan bahwa atman adalah hakikat manusia yang sebenarnya.

c)      Karma
selanjutnya Upanishad  mengajarkan bahwa segala sesuatu tunduk dan takluk terhadap karma, baik manusia, binatang maupun tumbuh-tumbuhan. Karma  meliputi kehidupan dahulu, sekarang dan yang akan datang. Alasan mengapa semua benda yang hidup terus menerus dilahirkan kembali adalah karma, hukum sebab akibat. Orang hindu percaya bahwa karma yang menumpuk dalam kehidupan sebelumnya pindah ke masa kini dan sangat menentukan wujud kelahiran jiwa kembali.[10]
d)      Reinkarnasi
Reinkarnasi disebut juga samsara, dalam Upanishad juga mengajarkan tentang samsara, yaitu bahwa kehidupan bukan saja akan berakhir dengan kematian, tetapi kematian pun akan berakhir dengan kematian, tetapi kematianpun akan berakhir dengan kehidupan. Artinya yang hidup akan mati dan yang mati akan hidup lagi, demikian seterusnya.tinggi rendahnya kehidupan yang kemudian tergantung pada karman. Perbuatan baik yang lebih banyak daripada perbuatan buruk akan mengakibatkan karman yang baik sehingga kehidupan baru itupun akan lebih baikdaripada kehidupan yang sebelumnya.
Samsara adalah perputaran kelahiran kembali atau disebut juga Reinkarnasi. Hanya manusia yang telah mencapai atman yang mulia dan yang tahu akan maya saja yang dapat mengatasi hukum karma dan mencapai moksa. Orang semacam ini akan terlepas dari keterikatan dengan proses ulang kelahiran kembali atau samsara. Untuk dapat lepas dari samsara ia harus menghancurkan dan menumpas keinginan-keinginannya, yaitu dengan mengetahui bahwa atman adalah Brahman sehingga dapat sampai pada pengetahuan yang sejati (jnana). Barang siapa mencapai tingkatan ini ia akan mencapai moksa, yaitu kelepasan, dan sadar bahwa segala sesuatu adalah satu. Ia akan mencapai kesatuan dengan Brahman, dan berhak disebut sebagai jiwanmukta.[11]

e)      Moksa
Dalam agama Hindu kita percaya adanya panca Sradaya yaitu lima keyakinan yang terdiri dari: Brahman, Atman, karma pala, reinkarnasi dan moksa. Moksa berasal dari kata sansekerta dari akar kata “MUC” yang artinya bebas atau membebaskan. Moksa dapat juga disebut dengan mukti artinya mencapai kebebasan jiwatman atau kebahagiaan rohani yang langgeng.
            Jadi moksa adalah suatu kepercayaan  adanya kebebasan yaitu bersatunya antara atman dengan Brahman. Kalau orang sudah mengalami moksa dia akan bebas dari ikatan keduniawian, bebas dari hukum karma dan bebas dari penjelmaan kembali (reinkarnasi).[12]





























Daftar pustaka

·         Mukti Ali, Agama-agama Di Dunia, IAIN sunan kalijaga press, Yogyakarta:1988
·         Arifin M. Ed, Menguak Misteri Ajaran Agama-agama Besar, Golden Trayon Press, Jakarta: 2002.
·         Abdul Manaf Mudjadid, sejarah Agama-agama, Rajawali press, Jakarta:  1996.
·         Michael keene, Agama-agama Dunia, Kanisius, Yogyakarta: 2006.
·         Harun hadiwijono, Agama Hindu dan budha, BPK Gunung mulia, Jakarta: 1987.
·         C.J. Bleeker, Pertemuan Agama-agama Dunia, sumur Bandung: 1964
·         Moh. Rifai, Perbandingan Agama-agama, Semarang : Wicaksono 1984 hal 79-80


[1] Harun hadiwijono, Agama Hindu dan budha, BPK Gunung mulia, Jakarta, 1987, hlm. 18
[2] Abdul Manaf Mudjadid, sejarah Agama-agama, Jakarta, 1996, hlm. 11
[3] C.J. Bleeker, Pertemuan Agama-agama Dunia, sumur Bandung, 1964, hlm. 7
[4] Abdul Manaf Mudjadid, sejarah Agama-agama, Jakarta, 1996, hlm. 12
[5] Moh. Rifai, Perbandingan Agama-agama. Semarang : Wicaksono 1984 hal 79-80
[8] Harun hadiwijono, Agama Hindu dan budha, BPK Gunung mulia, Jakarta, 1987, hlm. 20
[9]Abdul Manaf Mudjadid, sejarah Agama-agama, Jakarta, 1996, hlm. 17
[10] Michael keene, Agama-agama Dunia, Kanisius, 2006, hlm. 19
[11] Mukti Ali, Agama-agama Di Dunia, IAIN sunan kalijaga press, 1988. Hlm. 75

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts