Rabu, 19 Desember 2012

Filsafat Yoga dan Waisesika

A.    Pendahuluan
Kata Yoga berasal dari akar kata “yuj” yang artinya menghubungkan dan Yoga itu sendiri merupaka pengendalian aktivitas pikiran dan merupakan penyatuan roh pribadi dengan roh tertinggi. Pendiri dari sitem Yoga adalah Hiranyagarbha dan Yoga yang didirikan oleh Maharsi Patanjali merupakan cabang atau tambahan dari filsafat Samkhya, yang memiiki daya tarik tersendiri bagi para murid yang memiliki tempramen mistis dan perenungan. Dikatakan bahwa Yoga bersifat lebih orthodox dari pada filsafat Samkhya, karena Yoga secara langsung mengakui keberadaan Isvara, sehingga sistem filsafat dari Patanjali ini merupakan Sa-Isvara.
Samkhya, karena adanya Isvara atau Purusa istimewa (khusus) didalamnya, yang tidak tersentuh oleh kemalangan, penderitaan, kerja, keinginan, dsb. Patanjali mendirikan sistem filsafat ini dengan latar belakang metafisika dari Samkhya dan menerima 25 prinsip atau tattva dari Samkhya. Yoga menerima pandangan metafisika dari disiplin Samkhya, tetapi lebih menekankan pada sisi praktisnya guna realisasi dari penyatuan mutlak Purusa atau sang Diri.
Roh pribadi dalam sistem Yoga memiliki kemerdaan yang lebih besar dan dapat mencapai pembebasan dengan bantuan Tuhan. Kalau sistem Samkhya menetapkan bahwa pengetahuan merupakan cara untuk mencapai pembebasan, maka dalam sistem Yoga menganggap bahwa konsentrasi, meditasi dan Samadhi akan membawa kepada Kaivalya atau terkandung dalam kesan-kesan dari keaneka ragaman fungsi mental dan konsentrasi dari energi mental pada Purusa yang mencerahi dirinya.
Menurut Patanjali, Tuhan merupakan Purusa Istimewa atau Roh Khusus yang tak terpengaruh oleh kemalangan, karma, hasil yang diperoleh dan cara memperolehnya. Pada-Nya merupakan batas tertinggi dari benih ke-Maha Tahuan, yang tak terkondisikan oleh waktu, yang selamanya bebas dan merupakan Guru bagi para bijak jaman dahulu.
yoga-sutra” dari maharsi Patanjali muncul sebagai acuan yang tertua dari aliran filsafat Yoga, yang memiliki 4 bab; di mana pada bab I, yaitu Samadhi, pada bab II, yaitu Sadhana Pada menjelaskan tentang cara pencapaian tujuan tersebut; pada bab III, yaitu Vibhuti Pada, memberikan uraian tentang daya-daya supra alami atau Siddhi yang dapat dicapai melalui pelaksanaan Yoga dan bab IV, yaitu Kalvalya Pada menggambarkan sifat dari pembebasan tersebut.
Yoga maharsi Patanjali merupakan Astanga-Yoga atau Yoga dengan delapan anggota, yang mengandung disiplin pikiran dan tenaga fisik. Hatha Yoga membahas tentang cara-cara mengendalikan badan dan pengaturan pernafasan, yang memuncak pada Raja-Yoga, melalui sadhana yang progresif dalam Hatha Yoga; sehingga Hatta-Yoga merupakan tangga untuk mendaki menuju tahapan Raja-Yoga. Bila gerakan nafas dihentikan dengan cara Kumbhaka, pikiran menjadi tak tertopang dan pemurnian badan melalui sat-Karma (6 kegiatan pemurnian badan), yaitu Dhauti (pembersihan perut), Basti (bentuk alami pembersihan usus), Neti (pembersihan lubang hidung), Trataka (penatapan tanpa kedip terhadap sesuatu obyek), Nauli (pengadukan isi perut) dan Kapalabhati (pelepasan lendir melalui semacam Pranayama tertentu), serta pengendalian pernafasan merupakan tujuan langsung dari Hatha-Yoga. Badan akan diberi kesehatan, kemudaan, kekuatan dan kemantapan dengan melaksanakan Asana, Bandha dan Mudra.
Yoga merupakan satu cara disiplin yang ketat terhadap diet makan, tidur, pergaulan, kebiasaan, berkata, berpikir dan hal ini harus dilakukan di bawah pengawasan yang cermat dari seorang Yogin yang ahli dan mencerahi Jiva. Yoga merupakan suatu usaha sistematis untuk mengendalikan pikiran dan mencapai kesempurnaan. Yoga juga meningkatkan daya konsentrasi, mengendalikan tingkah laku dan pengembaraan pikiran, serta membantu untuk mencapai keadaan supra sadar atau Nirvikalpa Samadhi. Tujuan Yoga adalah untuk mengajarkan roh pribadi agar dapat mencapai penyatuan yang sempurna dengan Roh Tertinggi, yang dipengaruhi oleh Vrtti atau gejolak pemikiran dari pikiran, sehingga keadaanya menjadi jernih seperti kristal, yang tak terwarnai oleh hubungan pikiran dengan obyek-obyek duniawi.
Seperti telah dikemukakan sebelumnya bahwa Raja-Yoga dikenal dengan nama astanga-yoga, atau Yoga dengan delapan anggota, yaitu: (i) Yama (larangan); (ii) Niyama (ketaatan); (iii) Asana (sikap badan); (iv) Pranayama (pengaturan nafas); (v) Pratyahara (penarikan indra dari obyek); (vi) Dharana (konsentrasi); (vii) Dhyana (meditasi), dan (vii) Samadhi (keadaan supra sadar). Kelima yang pertama membentuk anggota luar (bahir-anga) dari Yoga sedangkan tiga yang terakhir membentuk anggota dalam (antar-anga).
Pelaksanaan yama dan niyama membentuk disiplin etika, yang  mempersiapkan para siswa Yoga untuk
melaksanakan Yoga yang sesungguhnya. Siswa Yoga hendaknya melaksanakan: (i) Ahimsa atau tanpa kekerasan, yaitu jangan melukai makhluk lain baik dalam pikiran, perbuatan atau pun perkataan. Perlakukanlah pihak lain seperti engkau ingin diperlakukan sendiri; (ii) Satya, atau kebenaran dalam pikiran, perkataan dan perbuatan; (iii) Asteya atau pantang mencuri atau menginginkan milik orang lain; (iv) Brahmacarya atau pembujangan dalam pikiran, perkataan dan perbuatan; (v) Aparigraha atau pantang kemewahan yang melebihi apa yang diperlukan ke-lima pantangan atau larangan ini merupakan mahavrata atau sumpah luar biasa yang harus dipatuhi, tanpa alasan pengelakan berdasarkan Jati (kedudukan pribadi), desa (tempat kediaman), kala (usia dan waktu) dan samaya (keadaan).
Menurut aliran Raja-Yoga dari Patanjali, terdapat lima tingkatan mental yang disebut sebagai: Ksipta, Mudha, Viksipta, Ekagra dan Niruddha. Tingkatan Ksipta adalah di mana pikiran mengembara diantara berbagai obyek duniawi dan dijenuhi dengan sifat-sifat Rajas. Tingkatan Mudha, pikiran ada dalam keadaan tertidur dan tak berdaya akibat sifat Tamas. Tingkatan Viksipta adalah di mana sifat Sattva melampaui dan pikiran menjadi goyang antara meditasi dan obyek dan secara perlahan-lahan pikiran berkumpul dan bergabung. Bila sifat Sattva meningkat, kita akan memiliki kegembiraan pikiran, pemusatan pikiran, penaklukan indra dan kelayakan untuk perwujudan Atman. Tingkatan Ekagra, pikiran terpusatkan dan terjadi meditasi yang mendalam, dan sifat Sattva terbatas dari sifat Rajas dan Tamas. Tingkatan Niruddha, pikiran di bawah pengendalian yang sempurna dan semua Vrtti meninggalkan suatu samkara atau kesan-kesan yang mendalam dan dapat mewujudkan dirinya sebagai keadaan sadar bila ada kesempatan. Apabila semua vrtti dihentikan, pikiran berada dalam keadaan seimbang (Samapatti).
Menurut Patanjali, avidya (kebodohan), asmita (keakuan), raga-dvesa (suka dan beci, keinginan dan anti pati) dan abhinivesa merupakan (ketergantungan pada kehidupan duniawi) merupakan 5 klesa besar atau mala petaka sang menyerang pikiran. Ada keringanan dengan melaksanakan Yoga secara terus menerus, tetapi tidak menghilangkannya sama sekali.
Pelaksanaan Kriya-Yoga dapat memurnikan pikiran, melunakkan 5 klesa di atas dan membawa pada keadaan Samadhi. Mengusahakan persahabatan (maitri) terhadap sesama, kasih sayang (karuna) terhadap yang lebih rendah, kebahagiaan (mudita) terhadap yang lebih tinggi, dan ketidak acuhan (upeksa) terhadap orang-orang kejam, menghasilkan ketenangan pikiran (citra prasada).[1]

B.     Tuhan dalam Ajaran Yoga

Berbeda dengan samkya, yoga mengakui adanya tuhan. Adanya tuhan dipandang lebih bernilai praktis daripada  bersifat teori dan merupakan tujuan akhir Samadhi yoga. Dengan demikian maka yoga, bersifat teori dan praktek dalam hubungan Tuhan. Menurut ajaran yoga Tuhan itu adalah rokh tertinggi yang mengatasi rokh  perseorangan dan bebas dari segala cacat. Ia adalah ada sempurna kekal abadi, berada dimana-mana maha kuasa dan maha tahu. Tuhan adalah rokh yang abadi tak tersentuh oleh duka cita. Ia adalah penguasa tertinggi dunia ini, yang mempunyai pengetahuan tak terbatas, kekuatan tak terbatas yang membedakan ia dari pribadi-peribadi yang lain.
            Bakti kepada Tuhan tidak hanya peraktek yoga, tetapi juga merupakan sarana pemusatan dan Samadhi yoga. Tuhan akan memberikan kurnia yang mulia kepada seorang yang bakti kepada-Nya brupa kesucian dan penerangan batin. Tuhan melenyapkan semua rintangan jalan orang-orang yan bakti kepada-Nya, seperti dukacita dan menempatkannya dalam suasana yang menyenangkan. Namun sementara rakhmat Tuhan dapat bekerja dengan  menagumkan pada diri kita, maka kita harus siap menerimanya dengan jalan cinta kasih, murah hati, jujur, suci dan sabar.[2]


C.    Filsafat Waisesika: 7 unsur alam
            waisesika yang merupakan salah satu aliran filsafat India yang tergolong kedalam Sad Darsana agaknya lebih tua dibandingkan  dengan filsafat Nyaya-Waisiseka sebagai filsafat muncul pada abad ke 4 SM, dengan tokohnya ialah Kanada (ulaka).
Buah karyanya adalah Waisesika Sutra  yang merupan sumber dari ajaran Waisiseka.
Abad kesebelas masehi dalam perkembangannya berfungsi dengan Nyaya sehingga banyak para filosof menyebutnya Nyaya Waisesika.
            Secara umum Waisesika membicarakan soal dharma yaitu apa yang memberikan kesejahtraan di dunia ini dan yang dapat memberikan kelepasan
            Ajarannya yang terpenting  ialah tentang katagori (unsure) yang menjadikan segala sesuatu yang ada di alam ini.[3]
            Menurut Waisesika ada tujuh katagori (padharta), yaitu: substansi (drawya), kwalitas (guna), aktivitas (karma), sifat umum (samanya), sifat perorangan (wisesa), pelekatan (samawaya),dan ketidakadaan (abhawa).[4]
Ad. 1. Substansi (drawya)
            Substansi adalah zat yang ada dengan sendirinya dan bebas dari pengaruh unsur-unsur lain. Namun unsure lain tidak dapat ada tanpa substansi. Substansi (drawya) dapat menjadi sebab yang melekat pada apa yang dijadikannya. Atau drawya dapat menjadi tidak ada pada apa yang dihasilkannya.
Contoh: tanah sebagai substansi telah terdapat pada periuk yang terjadi dari tanah.
            Jadi tanah itu selalu dan telah ada pada apa yang dihasilkannya,sedangkan periuk itu tidak dapat terjadi tanpa substansi (tanah).
Ada Sembilan subsatansi yang dinyatakan oleh Waisesika yaitu: bumi (tanah), api (panas), air (zat cair), udara (hawa), akasa (ether), waktu (kala), ruang (tempat), akal (manas), pribadi (jiwa(atma).
            Semua substansi di atas, riel, tetap dan kekal, namun hanya hawa, waktu, dan akasa bersifattak terbatas. Kombinasi dari Sembilan substansi itulah membentuk alam semesta beserta isinya menjadikan hukum-hukumnya yang berlaku terhadap semua yang ada di alam ini baik bersifat physik maupun yang bersifat rokhaniah.
            Adapun yang termasuk  substansi badani (physik) ialah: bumi,air, api, udara, ruang, waktu dan akasa. Sedang yang tergolong substansi rokhaniah terdiri dari akal (manas/ pikiran) dan pribadi (jiwa/atman). Kedua substansi rokhaniah ini bersifat kekal dan pada setiap makhluk (manusia) hanya terdapat satu jiwa  dan satu manas. Demikianlah ppribadi (jiwa) itu bersifat individu dan menjadi sumber kesadaran setiap mahklik yang senantiasa berhubungan dengan kegiatan badani (physik). Setiap pribadi (atma) memiliki mmanas tersendiri yang dipakai sebagai alat untuk mengenal dan mengalami segala sesuatu melalui alat  physic termasuk juga dipakai sebagai alat untuk mencapai kebebasan.
            Oleh karena iti setiap mahkluk  (manusia) dijiwai oleh pribadi (jiwat/atma) maka pandangan waisesika terhadap jiwa adalah riil dan pluralis itu bener-bener ada dan tak terbatas jumlahnya.
Ad. 2. Kwalitas ( guna)
            Guna ialah keadaan atau sifat dari suatu substansi. Guna sesungguhnya nyata dan terpisah dari benda (substansi) namun tidak dapat dipisahkan secara mutlak dari substansi yang diberi sifat. Pada substansi terdapat lima kwalitas kebendaan yaitu: bau , rasa, warna, raba, dan rasa. Sedangkan kwalitas rokhaniah terdiri dari 24 kwalitas yakni:
Kesenangan, kesedihan, keinginan, dharma,adharma, warna, rasa, bau, sentuhan, bunyi, bilangan,  besar, perbedaan, hubungan, kejauhan, kedekatan, tak berhubungan, kecairan, kepekaan, pengetahuan, perjuangan, kecenderungan, kesegaran, kebahasiaan.
            Hubungan kwalitas dengan substansi sangat erat dan tidak mungkin dipisahkan karena keduanya senantiasa mewujudkan satu kesatuan.
Contoh: merah adalah suatu warna (sifat) yang berbeda dan terpisah  dengan substansi, tetapi sulit dapat terjadi warna merah yang tidak melekat pada suatu benda. Atau tidak ada merah tanpa ada suatu benda (substansi) yang diwarnai oleh warna merah. Tetapi benda dapat ada dan terlihat tanpa warna merah. Ketergantungan seperti itu disebut pelekatan/samawanya).
Ad.3. aktifitas ( karma)
            Tidak semua substansi (zat) dapat bergerak. Hanya substansi yang bersifat terbatas saja  dapat bergerak atau mengubah tempatnya. Sedangkan substansi yang tak terbatas (atma,hawa dan akasa) tidak dapat bergerak karena telah memenuhi seala yang ada.
            Gerakan-gerakan dari benda-benda di ala mini bukan bersumber dari dirinya sendiri, melainkan ada sesuatu yang berkesadaan yang menjadi sumber gerakan itu. Benda-benda hanya dapat menerima gerakan dari sesuatu yang berkesadaran. Bila terlihat kenyataan yang terjadi di ala mini seperti adanya hembusan angin, peredaran bumi dan planet –planet, maka tenu ada sumber  penggerak yang adikodrati. Sumber yang adikodrati itulah Tuhan.
            Karena Tuhan sebagai sumber gerakan ala mini makaTuhan Maha mengetahui segala gerak dan perilaku benda-benda di ala mini termasuk mengetahui bnenar perilaku (karma) manusia.
            Atas dasar itu jelaslah Waisesika meyakini adanyaTuhan  secara anumana. Diyakini Tuhan adalah maha tahu, menjadi sumber kesadaran yang tertinggi dan waisesika meyakini bahwa Tuhan menciptakan ala mini dengan jalan mengatur komposisi atom-atom yang ada.
Ad.4. samanya.
            Sifat umum (samanya) ialah sifat terdapat pada sekelompok atom yang sudah tentu berbeda-beda dengan sifat atom yang lain, seperti sifat kelompok atom air akan berbeda dengan kelompok atom bumi maupun dengan sufat atom manas , dan sebgainya. Cirri-ciri inilah yang disebut samanya. Samanya menyebabkan adanya kelompok-kelompok  substansi yang berbeda-beda dialam ini. Namun di samping sifat umum , maka setiap benda termasuk atom-atom  memiliki sifat perorangan yang kekal, yang membedakan satu atom dengan atom yang lain.

Ad.5. wisesa
            Sifat perorangan (individu) ada banyak dan beraneka ragam  karena setiap benda atau orang memiliki  sifat tersendiri dan berbeda antara benda yang satu dengan yan lain. Karena setiap benda (substansi) memiliki wiswsa maka wisesa ini bersifat kekal.

Ad. 6. Samawaya.
            Pelekatan juga bersifat kekal dan hanya ada satu yang disebut samawaya. Pelekatan dikatakan kekal karena pelakatan itu tentu terjadi pada benda-benda yakni pelakatan antara benda (zat)  dengan kualitasnya seperti : api-panas, kapur-putih, tinta-hitam,es-dingin, dan sebagainya.
Api, air, dan tanah terjadi dari substansi yang atomnya bersifat kekal, maka tentu kwalitasnyapun kekal termasuk hubungan yang tak terpisahkan (samawaya/pelekatan) keadaannya kekal pula. Namun sifat kelekatan itu hanyalah satu walaupun terdapat pada bermacam-macam substansi.

Ad. 7. Abhawa.
            Abhawa dikatakan katagori yang bersifat negatif kerena abhawa menyatakan ketidak-adaan  yaitu ketidak adaan dari sesuatu. Jadi abhawapun ternyata menyebabkan terjadinya sesuatu yakni ketidak-adaan. Ketidak-adaan disini bukanlah mutlak (absolut) melainkan ketidak adaan yang bersifat khusus dan berlaku pada ruang waktu tertentu dan terbatas.
Contoh: di dalam ruangan tidak ada almari. Jadi yang diamati dalam ruangan itu  ialah adanya abhawa khusus untuk almari itu tidaklah mutlak untuk semua waktu dan ruang. Demikian pula halnya dengan benda lain, seperti bunga itu tidak kuning, udara itu tidak berwarna.
Abhawa dibedakan atas 2 (dua) yaitu :
a.       Samsargabhawa adalah ketidak-adaan suatu benda karena memang belum pernah dibuat, seperti periuk tidak ada karena belum dibuat dari tanah liat oleh pembuatnya. Dalam hal ini termasuk pula tidak-adanya sesuatu pada suatu benda (bunga tidak berwarna kuning).
b.      Anyonyabhawa adalah ketidak adaan dari suatu benda karena rusak (hancur) seperti tidak adanya mangkok atau rumah karena sudah pecah atau habis terbakar.

D.Kesimpulan
 Yoga mengakui adanya tuhan. Adanya tuhan dipandang lebih bernilai praktis daripada  bersifat teori dan merupakan tujuan akhir Samadhi yoga. Dengan demikian maka yoga, bersifat teori dan praktek dalam hubungan Tuhan. Menurut ajaran yoga Tuhan itu adalah rokh tertinggi yang mengatasi rokh  perseorangan dan bebas dari segala cacat. Ia adalah ada sempurna kekal abadi, berada dimana-mana maha kuasa dan maha tahu. Tuhan adalah rokh yang abadi tak tersentuh oleh duka cita. Ia adalah penguasa tertinggi dunia ini, yang mempunyai pengetahuan tak terbatas, kekuatan tak terbatas yang membedakan ia dari pribadi-peribadi yang lain.
            Secara umum Waisesika membicarakan soal dharma yaitu apa yang memberikan kesejahtraan di dunia ini dan yang dapat memberikan kelepasan
            Ajarannya yang terpenting  ialah tentang katagori (unsure) yang menjadikan segala sesuatu yang ada di alam ini.
            Menurut Waisesika ada tujuh katagori (padharta), yaitu: substansi (drawya), kwalitas (guna), aktivitas (karma), sifat umum (samanya), sifat perorangan (wisesa), pelekatan (samawaya),dan ketidakadaan (abhawa).



·         [1] Maswinara, I Wayan. Sistem Filsafat Hindu. Surabaya: Paramita,1999Top of Form

[2] Adiputra, I Gede Rudha, dkk. Tattwa Darsana. h.65
[3] Adiputra, I Gede Rudha, dkk. Tattwa Darsana. h.30
[4] Hadiwijono, Harun, Sari filsafat india, (Jakarta pusat: BPK Gunung mulya,h.62

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts