Rabu, 28 November 2012

Agama Sikh dan Guru Nanak




A.    Pendahuluan
Ciri utama masa ini menunjukkan fakta bahwa Islam memberikan sebuah konteks mendasar bagi perkembangan Hinduisme sebagai teks. Pendukung Alberuni, Mahmud Ghazni memimpin tujuh belas serangan yang gemilang ke India dan mematahkan perlawanan orang-orang Hindu dengan mudah. Dia lebih tertarik untuk menghancurkan kota-kota dari pada membangun kerajaan. Pada tahun 1192, penguasa utama Rajput di utara di kalahkan dan di bunuh oleh Muhammad Ghuri, pada tahun 1200, dinasti budak (selave dynasty) telah mendirikan aturan muslim di India utara dan berakhir sampai 1858.
Hinduisme berkembang dengan baik sampai kedatangan Islam ke India, dalam mengakomodasikan, jika bukan menyerap semua tantangan dalam bentuk agresi dari luar dan perpecahan dari dalam. Islam memberikan pengaruh ganda bagi Hinduisme. Di satu pihak, Islam menganjurkan perpindahan agama; di pihak lain, Islam mendorong kecenderungan yang lebih egaliter dan monoteistik bagi kaum Hindu. Kemudian muncul tokoh-tokoh yang berusaha untuk menjembatani jurang pemisah antara keduanya. Sebagai contoh adalah Kabir (abad ke-15), Guru Nanak (1469-1538), Dadu (1544-1603).[1]
B.     Mengenal Sosok Nanak
Guru Nanak (Nanik), penemu ajaran (agama) Sikh lahir pada tanggal 15 April 1469 di sebuah gubuk sederhana di Talwandi, di distrik Lahore (saat ini masuk wilayah Pakistan). Pada era tersebut India masih dalam cengkraman penjajah Muslim yang disebut kaum Pathans, di mana nuansa agama bagi masyarakat setempat khususnya bagi yang beragama Hindu sangatlah menyedihkan. Apalagi ritual-ritual lebih ditekankan oleh kaum brahmana daripada pendalaman hakiki spiritual. Pada masa-masa yang amat suram ini Guru Nanak dilahirkan di kawasan tersebut.
Semenjak kecil Nanak telah membuat para guru, tetangga, orang tua dan teman-temannya takjub karena pengetahuan spiritualnya yang amat menakjubkan. Setiap hari setelah kembali dari sekolah, Nanak muda ini oleh ayahnya diminta untuk menggembalakan sapi-sapi mereka. Pada saat sapi-sapi memakan rumput, maka Nanak akan terlihat bermeditasi secara mendalam di bawah pepohonan yang rindang. Orang tuanya ingin mencegahnya agar tidak terlalu jauh masuk ke dalam dunia spiritual dengan memberikannya berbagai rintangan, namun ia senantiasa diselamatkan oleh “tangan-tangan yang ajaib”. Suatu saat ayahnya memberikan 20 rupees kepadanya dan meminta Nanak untuk membelanjakannya demi “tujuan yang baik dan bermanfaat”. Tanpa ragu-ragu ia pun membelikan santapan bagi para sadhus (kaum resi, suci), ia merasa amat berbahagia dapat memenuhi permintaan ayahnya tersebut.
Hal-hal ini membuat orang-orang di sekitarnya yakin, bahwa Nanak dilahirkan  demitujuan-tujuan yang mulia dan suci. Beberapa tahun kemudian ia mulai menyebarkan ajaran-ajaran kasih Ilahi kepada sesamanya. Ia pun ditentang dan diancam oleh pejabat-pejabat Negara, Kaisar, bahkan para mullah (kyai-kyai Islam); namun dalam setiap diskusi dan pertemuan Nanak akan tampil memukau dan menakjubkan bagi para penentang-penentangnya. Lama kelamaan sebagian besar pengkritik dan penentangnya yang muslim ini malahan menjadi pengikutnya. Ia pun memukau kaumnya sendiri (Hindu pada saat itu) dan mereka pun berbondong-bondong menjadi muridnya, karena ajaran-ajarannya menentang berbagai ritual-ritual usang dan sistim kasta. Dalam perjalanan-perjalanan selanjutnya Guru Nanak dan kedua murid-muridnya Bala (Hindu) dan Mardana (Muslim) berkelana ke seluruh India, ke Mecca dan Medina, Persia, Kabul (Afganistan) dan sebagainya, secara niskala dan meninggalkan bukti-bukti kehadirannya di sana yang sampai kini masih dapat ditemukan di lokasi-lokasi tersebut. Kemana pun Guru Nanak berkunjung, beliau senantiasa menyebarkan ajaran-ajaran agung nan universal yang amat dikagumi oleh kaum Muslim dan Hindu. Tema-tema  utama ajaran-ajaran beliau seperti yang disarikan  di bawah ini:
Tuhan itu satu adanya. Tuhan yang Kasih dan Kesatuan. Tuhan yang sama dan satu ini hadir  dalam setiap pemujaan, tempat suci berbagai agama, bahkan di mana-mana tanpa batas.
Setiap manusia adalah sama di hadirat Tuhan YME. Mereka lahir dan mati secara sama. Adalah kewajiban setiap manusia apa pun latar belakangnya untuk berdharma bhakti bagi sesamanya.
Pada usianya yang keempat puluh beliau dinobatkan sebagai Sad Guru (Adi Guru) oleh para pengikut-pengikutnya. Para pengikutnya disebut Sikh. Beliau menulis ajaran-ajarannya dalam bentuk-bentuk puisi yang teramat indah dan penuh makna-makna spiritual dan psikologis, inspirasi-inspirasi suci beliau dapatkan  dari hasil komunikasi beliau dengan Yang Maha Pencipta. Koleksi ajaran-ajarannya ini disebut Japji Sahib, dibukukan menjadi buku suci kaum Sikh yang disebut Guru Granth Sahib. Kitab suci ini adalah satu-satunya Guru Pedoman yang dipuja dan dihormati kaum Sikh. Kaum ini tidak memuja arca-arca dan tidak memerlukan ritual-ritual yang rumit. Kuil mereka disebut Guru Dwara, amat mirip dengan mesjid dan di tengah-tengahnya diletakkan kitab suci ini. Semua pengunjung akan bersujud di depan kitab suci, kemudian para wanita akan bersila di sebelah kiri, dan pria-prianya di sebelah kanan. Di tengah keduanya hadir karpet merah memanjang sebagai batas pemisah sekaligus untuk bersujud.
Seorang penyair Nannihal Singh Layal secara indah bersenandung tentang Sang Guru ini:
“ Murni adalah kehadirannya, Kemurnian adalah ajaran-ajarannya”.
“Kasih adalah kehadirannya, maka hanya kasih yang senantiasa diajarkannya”.
“Kesederhanaan adalah wujudnya, maka kesederhanaan adalah wacana-wacana ajaran-ajarannya”
Utusan Ilahi nan damai dan adil adalah kehadirannya, inkarnasi utama dan kesama-rataan adalah jalan dan petunjuk-petunjuknya, penuh dengan iman dan bakti.
Nanak menyabdakan: “Tuhan YME adalah yang terutama di atas segala-segalanya, Ialah Tuhan semuanya.“
Walaupun ajaran Sikh bersifat monotheistik, hanya berkeyakinan satu Tuhan, namun ajaran ini tetap berlandas dan bernafaskan Hindu Kuno dan menghormati tokoh-tokoh Rama, Krisna, dan para dewa-dewi yang hadir di Guru Granth Sahib. Tuhan YME disebut bersifat teramat suci, mulia, maha dalam segala-galanya, absolut (hakiki), hadir di mana saja, abadi, Maha Pencipta, asal muasal dari segala ciptaan. Tanpa status dan atribut, tanpa benci dan bersifat sama rata ke setiap ciptaan. Kaum Sikh berperilaku vegetarian di dalam Guru Dwara, namun banyak juga yang menyantap yang berjiwa di luar itu. Sebagian vegetarian dan melakukan puasa-puasa tertentu, dan dhyana (meditasi). Daging sapi adalah pantangan utama mereka, namun susu sapi adalah menu utama yang amat disucikan sama dengan kaum Hindu. Baik di India maupun di Indonesia Agama Sikh terdaftar sebagai bagian dari agama Hindu.
Ada faham dalam agama Sikh, yaitu hidup ini tidak bersifat dosa pada awal mulanya, dan hadir dari eksistensi yang murni dan akan selamanya murni.  Bagi ajaran Sikh  tidak ada kasta rendah maupun tinggi, tidak ada manusia pendosa  maupun suci. 
“Tuhan hanyalah satu (Eka, Ekoankar), namun bentuk-bentukNya tak terbatas, (Satnam, Kartha-purkh, dsb). Ia adalah Sang Pencipta, Ia juga yang bermanifestasi dalam wujud-wujud manusia, jauh dari kematian dan lepas dari kelahiran yang berulang-ulang”.
“Hanya satu YME, Sang Pencipta, Penyebab dari semuanya. Ia telah menciptakan semesta raya dan isinya  melalui KehendakNya yang senantiasa aktif. Barang siapa sadar akan misteri agung dari yang satu namun banyak ini, akan menyatu dengan-Nya”.
“Ia yang Maha Hakiki ini hadir tanpa kata-kata tanpa wujud dan tanpa nama. Sewaktu bermanifestasi Ia disebut Sabda (Sabd), Sabda adalah asal muasal seluruh ciptaan. Sabda adalah Omkara (Ekoankar), simbolnya Om dalam aksara Sind/Punjabi Kuno”
“Barangsiapa berpasrah total kepadaNya, maka ia akan mencapai tujuan, tidak ada jalan lain, Manusia mendapatkan kehendakNya melalui hubungan dengan Sabda Suci. Asal mula penciptaan dan pralaya (kiamat)  berasal dari Sabda. Demikian juga nantinya penciptaan dan daur – ulangnya akan berawal dan berakhir dengan Sabda”.
“Tidak ada seorang pun yang dapat menjabarkanNya melalui logika duniawi ini, walaupun orang tersebut mencobanya selama ratusan tahun”.
“Rasa cukup tidak akan pernah terpuaskan walaupun dengan menghabiskan seluruh kekayaan dunia materi ini”.
“Seseorang tidak akan mencapai Tuhan melalui nalar pemikirannya (logika manusia)”.
“Bagaimanakah caranya agar seseorang dapat memahami Kebenaran dan menembus awan Kebodohan? Ada jalannya wahai Nanak, yaitu dengan menyelaraskan kehendak orang tersebut dengan KehendakNya, yang sebenarnya sudah direkayasa olehNya juga (dari awal penciptaan ini)”
“Semua di dunia ini adalah wujud-wujud manifestasi-manifestasi kehendakNya, namun Kehendaknya ini tidak dapat dijabarkan  oleh siapa pun juga. Melalui Kehendak-Nya maka materi dipercepat  menuju ke arah kehidupan”.
“Melalui KehendakNya keagungan dapat tercapai, melalui KeagunganNya juga ada yang dilahirkan pada posisi yang tinggi dan ada juga pada posisi yang rendah”.
“Melalui KehendakNya, suka dan duka direkayasa, melalui KehendakNya juga yang suci mendapatkan keselamatan”.
“Melalui KehendakNya mereka-mereka yang batil berkelana terus dalam kelahiran-kelahiran yang tidak terhentikan. Kesemuanya ini hadir dalam KehendakNya, tiada satu pun yang dapat eksis tanpa kehendakNya”.
“Wahai Nanak, seseorang yang telah selaras nadanya dengan KehendakNya, terbebas secara tuntas dari berbagai ego-egonya”.
“Ada yang melantunkan kidung- kidung keagunganNya, sesuai dengan KehendakNya, ada yang berkidung akan Kedashyatan-Nya, dan merasakan kedashyatan ini sebagai tanda-tanda yang berasal dariNya. Ada juga yang menyenandungkan kidung-kidung yang menggambarkan-Nya sebagai Yang Maha Tanpa Batas”.
“Ada yang bernyanyi bahwasanya, Ia mampu merubah debu menjadi kehidupan dan kehidupan kembali menjadi debu (tanah). Ia pun Sang Pencipta (Brahma), Shiwa (Sang Penghancur), dan Wisnu (Sang Pengayom) dan Pemberi kehidupan ini”.[2]

C.     Terbentuknya agama sikh
Guru Nanak (1469-1539), pendiri agama Sikh, berada dalam tradisi spiritual yang sama seperti Kabir. Ia juga mungkin seorang muslim, meskipun tradisi Hindu dan Sikh sama-sama memandangnya sebagai seorang Hindu. Seperti Kabir, ia mencari jalan untuk mengatasi perbedaan antara Islam dan HInduisme dengan mempersatukan para penganut Hindu dan Muslim atas dasar kebenaran-kebanaran spiritual utama yang menjadi milik bersama kedua agama ini. Ia juga mengutuk penyembahan berhala dan politeisme Hindu dengan berpegang teguh pada kehendak dan niat Allah yang mahakuasa dan mahatahu saja. Namun pendiriannya yang teguh ini tentang keunikan dan kemutlakan Allah didasarkan bukan pada tendensi Islam untuk mengeksklusifkan apa yan bukan menjadi kodrat dari Allah sendiri, melainkan lebih pada tendensi India kuno yang merangkum segala sesuatu dalam  satu kesatuan yang lebih besar sambil mengakui dengan cara itu unsure-unsur yang berlawanan sebagai unsur-unsur yang berhubungan dan saling melengkapi.
Jalan hidup sikhisme adalah untuk mencapai keselamatan melalui persatuan dengan Allah; pribadi Allah yang hidup dihadirkan melalui cinta. Persatuan dengan Allah adalah tujuan terakhir. Hidup tidak punya arti bila berpisah dengan Allah. Sebagaimana guru Nanak berkata, “betapa ngeri perpisahan itu ketika berpisah dari Allah, dan betapa membahagiakan persatuan itu ketika bersatu dengan Dia.”.
Pemisahan diri dari Allah menyebabkan penderitaan yang dialami sebagai kondisi biasa manusia, meskipun manusia dan dunia diciptakan Allah, tetapi kelemahan dan kesombongan manusia yang berakar dalam egosentrisme justru mengantar manusia kepada kelekatannya pada kenikmatan  dan kepentingan dunia ini. Menurut Sikhisme, kelekatan itu memisahkan kita dari Allah dengan membawa akibat pada semua bentuk penderitaan manusia, termasuk lingkaran kekal kematian dan kelahiran kembali.
Dialah Allah yang menciptakan semua eksistensi; Ia esa tanpa yang kedua, tak berbentuk dan bersifat kekal. Dialah Allah yang menopang semua bentuk eksistensi dan tinggal dalam semua eksistensi itu. Melalui kehendak-Nya kita ditopang. Melalui rahmat dan ciptaan-Nya, Allah mewahyukan dirinya kepada kita, wahyu ilahi ini menyadarkan kita akan keterpisahan kita dengan-Nya dan merangsang jawaban kita ynag dapat membawa keselamatan melalui persatuan kita dengan Dia dalam cinta, demikian Guru Nanak.
Hanya ketika suara Allah terdengar dalam hati manusia dan hati manusai menjawabnya, maka keselamatan lalu menjdi mugkin. Tidak ada gunanya menyembah gambaran Allah dan asketisme, juga yoga dan tindakan-tindakan ritual. Hanya melalui cinta akan pribadi Allah dapat tercapai kebahagiaan dalam persatuan dengan-Nya. Sebagi guru Ilahi, Allah justru mengirimkan pesan –Nya secara langsung kedalam hati manusia yang mau mendengar-Nya. Dalam pesan guru Nanak dan guru-guru yang lain, sebagai mana yang tercatat dalam kitab suci yang disebut Adi Granth (Guru Granth Sahib), pesan Allah, sang Guru yang asli, harus didengar. 
Masa pertengahan (1000-1800 M)
Guru Nanak (1469-1538) menulis teks suci kaum Sikh (Granth Sahib), yang berisi kidung-kidung yang di tulis oleh guru-guru mereka serta orang-orang religious lainnya, baik Hindu maupun Muslim. Memang ada interaksi antara Islam mistis dan HInduisme namun ajaran utama Hinduisme menarik diri dalam kerang pelindung; dan secara mendasar berada dalam cengkraman keputusan poitik, sehingga berbalik kea rah penghiburan spiritual pada tuhan. Hal ini terlihat dengan berkembangnya gaya hidup sebagai pertapa atau pengunduran diri dar kehidupan duniawi. Kehidupan sannyasinmenjadi semacam pelarian diri, seperti yang di lihat dengan jelas oleh guru Nanak. Pada sekitar abad ke-16, keekstreman Hinduisme terlihat jelas dalam karya-karya puisi devosional dengan kualitas sensasional, yang gerakannya di wakili oleh Surdas, Tulsidas, Mirabay, dan lain-lain.
Gerakan caitanya pada abad ke-15, yang menekankan pembacaan Weda secara umum, merupakan sebuah usaha untuk menghindarkan Hinduisme agar tiak menjadi agmaa rumah dan perapian saja. Geraka devosional ini menekankan kekuatan penyelmatan dalam nama Tuhan – terutama Krishna dan Rama, sehingga berpuncak pada pernyataan paradox bahwa nama tuhan adalah lebih besar dari Tuhan sendiri. Gerakan devosional (bhakti) ini di katakana berasal dari India selatan, diman para devote wishnu dan shiwa sudah mencapai puncaknya pada abad ke-9. Sekarang kita akan pindah ke wilayah India selatan.
Islam masuk ke wilayah India selatan dengan di singkirkannya Deogiri oleh Malik Kafur pada 1307. Namun reaksi kaum Hindu di selatan cukup menarik dan berbeda. Sejarah mencatat bahwa ketika lairan utama Vedanta yang di wakili oleh Shankara (abad ke-9) ramanuja (abad ke-12) dan madhva adalah lebih bersifat teistik, namun masih tetap mengikuti konsep filsafat Vedanta dan bukan hanya bersifat devosional saja. Wilayah selatan menunjukan kekuatan serta vitalitas lebih besar, bukan hnaya secara religious, namun juga secara politis. Hal ini disebabkan adanya kerajaan Vijayanagar yang berkuasa dari abad ke-14 samapai abad ke-17.
Gerakan devosional (bhakti) di Maharasta (wilayah barat India) mengambil dua bentuk, yakni: vharakary dan dharakhary. bentuk dharakary bentuk dharakary lebih bersifat aktif dan devosional, dimana salah satu tokohnya dalah Ramdas yang menjadi guru Shivaji (1627-1680). Dibawah kepemimpinan Shivaji inilah kerajaan Marathas menjadi sebuh kekuatan polotik yang kuat da menggantikan kekutan Muslim di selatan. Bentuk Varakari melahirkan nama-nama besar penyair-santo (abad ke-17). Gerakan bhakti menyebar keseluruh wilayah India serta menghasilkan penyair-santo seperti sankaradheva di Assam dan Purandaradasa di Karnataka (abad ke-16).
Pada masa ini, dua gerakan politik berbaris Hindu yang cukup berhasil adalah kerajaan Vhijayanaga di selatan dan kerajaan Marathas di bagian barat India (terlepas dari kaum Sikh di Punjab). Dimasa kerajaan vhijayanagar, terjadi kebangkitan kembali studi atas Weda dan komentar Hindu atas Weda yang ditulis oleh sayana. Kemudian juga shivaji (1627-1680) dinibatkan sebagai tokoh ahli di bidang ritual Weda dan menyatakan dirinya sebagai pelindung Weda. Puisi-puisi devosional saat itu berpusat pada Rama dan Krishna, yang merupakan inkarnasi Wishnu.
Cirri paling menonjol pada masa Muslim (1200-1757) ini adalah berkembangnya agama wishnu (vaishnavism). Dua nama besar dari selatan adalah vallabha (1479-1531) dari India selatan dan caitannya (1486-1533) dari wilayah Bengal. Keduanya mengajarkan jalan devosi yang berpusat pada Krishna dan radha. Vaishnavisme popular ini disebarkan diwilayah maharastra oleh namadeva (abad ke-14) dan tukaram (abad ke-17); sedangkan di utara, vaishnavisme berkembang dalam bentuk peneyembanhan trehdap Rama. Tokoh-tokoh terkenla dari India utara adalah Ramananda (abad ke-14), Dadu (1544-1603) dan Tulsidas (1532-1623).[3]

D.    Penutup
Nanak lebih keras lagi dari pada Kabir, pemberitaannya dapat disingkat dengan kata-kata: “tidak ada orang Hindu atau orang Islam”, keduanya adalah palsu. Ia menentang penyembahan kepada berhala, dan mengajarkan bahwa hanya ada satu Tuhan, yang menghuk dosa di dalam neraka. Kelepasan terdiri dari persekutuan dengan Tuhan di dalam kasih.

Daftar Pustaka
                Ali, Matius. Filsafat India (Sanggar Luxsor, 2010)
            Hanafie, Ahmad, Pengantar Filsafat Umum, (Jakarta : PT Bulan Bintang, 1996)
            Koller, John M. Asian Philosophies, (Flores : LEDALERO, 2010) 



[1]  Matius Ali. Filsafat India (Sanggar Luxsor, 2010) Cet 1, h.23
[2]  Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Umum, (Jakarta : PT Bulan Bintang, 1996),h.58
[3]  John M. Koller, Asian Philosophies, (Flores : LEDALERO, 2010) cet 1, h.234

Gerakan Keagamaan dalam Agama Hindu yang dipengaruhi oleh Agama Kristen



A.   Pendahuluan

India adalah negeri yang serba ganda : ganda dalam suku bangsa, ganda dalam budaya, dan ganda dalam soal kepercayaan dan agama. Karena dalam keserbagandaan ini maka mempelajari agama Hindu terasa mengalami kesulitan.Subjeknya sangat luas dan mencakup suatu kesejarahan yang sangat luas dan mencakup suatu kesejarahan  yang sangat panjang,apalagi agama tersebut memiliki ajaran yang tak terbatas. Akan tetapi dengan usaha penelusuran, dan mencoba memandangnya secara hati-hati, dalam kesempatan ini akan diusahakan melihatnya dalam suatu bentuk yang dirasa utuh. Kalu ada benarnya ungkapan yang mengatakan bahwa mempelajari Agama Hindu itu ibarat seorang buta yang mencoba menggambarkan gajah,maka usaha ini kiranya dapat digambarkan seperti seorang yang tidak buta dan memiliki keahlian tentang ular sehingga ketika mencoba membahas belalai gajah ia akan merasa lebih menghayatinya daripada ketika membahas bagian-bagian lainnya.
Mendefinisikan agama Hindu pun juga sulit. Barangkali apa yang dikatakan oleh Thomas R. Trautman ada benarnya sekalipun juga dirasa ada kekurngannya. Dikemukannya bahwa Repubelik India sendiri membatasi pengertian seorang penganut Hindu dengan “an India” yang menurut dia mestinya harus ditambah dengan orang Pakistan, Nepal, Ceylon, yang bukan penganut agama Islam, Kristen, Persia, dan Yahudi. Ada lahi yang membatasi agama Hindu adalah agama yang para penganutnya menyembah dan memuja dewa-dewa Wisnu, Siwa, Sakti,avatara-avatara (penjelmaan)-nya,anak-anaknya dan sebagainya.
Agama Hindu timbul dari dua arus utama yang membentuknya, yaitu agama (bangsa) Dravida dan agama (bangsa) Arya.Dalam perkembangannya di India lalu ada usaha-usaha yang mempesonakan untuk memasukkan berbagai macam kepercayaan yang ada, filsafatnya, dan praktek-praktek keagamannya dalam suatu system yang sekarang ini disebut dengan agama Hindu. Memang diakui bahwa perwujudan semngat Hindu yang menyolok adalah semangat sintesis dan kompromis. Agama tersebut menyerap ide-ide, penalaran dan amalan kedewaan Siwa, dewi ibu, pemujaan patung, pertapaan, ajaran penjelmaan kembali dan sebagainya. Siwa dianggap sebagai dewa angin badai yang ada dalam kitab Weda, dan disini Siwa disebut sebagai Rudra. Dalam perkembangannya ia adalah salah satu dewa terpenting. Dari agama Weda agama Brahmana agama Hindu menyerap system korban dan dewa-dewa alam. Dari agama Brahmana agama Hindu menyerap kepercayaan akan kekalnya kitab-kitab Weda, sistem kasta, upacara-upacara yang rumit dan perayaan keagamaan. Dari agama Upanishad agama Hindu menyerap konsep tentang Realitas Tertinggi, juga tentang pengertian kesatuan dengan Tuhan. Agama Upanishad adalah penentang agama Brahmana. Dari ajaran-ajaran Sri Krisna agama Hindu menyerap ajaran tentang avatara Wisnu, dan dari kitab Bhagavadgita agama Hindu menyerap ajaran monoteisme dan ajaran etika. Terlepas dari dua arus utama tadi, di India masih ada kepercayaan suku asli yang juga tetap ada perwujudannya dalam agama Hindu. Suku-suku asli India ini menyembah arwah nenek moyang, hantu, sungai, gunung, pohon, dan binatang. Objek-objek ini juga diserap oleh agama Hindu. Di antara dewa yang berasal dari kepercayaan suku asli ialah dewi Kali yang mengerikan. Dalam mitologi Hindu, Kali ini adalah istri Siwa dan Dewa Ganesha.
Unsur penting yang merupakan ajaran yang dominan dalam agama Hindu adalah unsur teologi, filsafat, lembaga social dan etika atau moral.Agama Hindu mempercayai Realitas Tertinggi hanya satu, akan tetapi tidak membatasi “yang satu” sebagai realitas yang dimaksud sebagai Tuhan yang personal. Selain itu agama Hindu juga percaya dan menyembah dewa-dewa alam yang jumlahnya sangat banyak yang dianggap pengatur alam, dan penting kedudukannya dalam upacara korban. Dewa-dewa ini diharapakan memberikan kesenangan, kebahagiaan dan ketenangan, dan sebagai imbangannya, bila para dewa merasa senang, para dewa akan mengabulkan keninginan mereka.
Sehubungan dengan itu ada komentar tentang ketuhanan dalam agama Hindu : apakah agama Hindu termasuk politeisme, monoteisme, honoteisme, ataukah yang lain, yaitu katenoteisme. Para ahli filsafat sampai pada pemaduan dengan kepercayaan terhadap satu prinsip tertinggi yang kadang sebagai yang netral dan kadang sebagai yang mutlak yang impersonal.
B.   Gerakan Brahma Samay
Gerakan Brahma Samay (bearati masyarakat Brahman) tampil sebagai gerakan yang sangat teistik. Gerakan ini menolak politeisme, pemujaan patung-patung, korban
Binatang, menganjurkan dihapuskannya praktek sati (pembakaran janda), perkawinan anak-anak dan menolak praktek poligami. Gerakan ini didirikan di Bengala. Tokoh-tokonnya yang sangat terkenal adalah Ram Mohan Roy (1774-1833), Devendranath Tagore (1817-1905), dan Keshab Chandra Sen (1838-1884).
            Ram Mohan Roy adalah seorang cendekiawan ahli Arab dan Persi. Karya pertamanya berjudul Tuhfat al-muwahhidin yang ditulisnya dalam bahasa Arab. Selain belajar bahasa Arab dan Persia, ia juga mempelajari Bahasa Sanskerta terutama untuk mempelajari agama Hindu. Bahasa Inggris dipelajarinya karena kaitannya dengan East India Company. Bahasa Ibrani dan Bahasa Yunani dipelajarinya dari misi Serampone di dekat Kalkuta.[1]
            Ram Mohan Roy sering disebut sebagai bapak modernisasi India. Ia mendirikan Brahma Samay sekitar 1828, dan mengajarkan semacam deisme rasionalis. Agak terpengaruh oleh Kristen, setiap malam Minggu ia mengadakan Kebaktian. Tetapi ia menentang ajaran Trinitas. Ia melindungi agama Hindu menghadapi polemic para penulis Kristen yang tidak jujur. Ram Mohan Roy juga pernah menerjemahkan  Bibel ke dalam bahasa Bengali dan bahasa Sanskerta. Jasanya dianggap sangat besar dalam menghapuskan sati dan mengenalkan pendidikan Inggris. Tahun 1816, ia menerbitkan Vedanta Sara yang berusaha menemukan suatu monoteisme dalam pandangan Vedanta. Dengan usaha keras dicarinya ayat-ayat dalam Upanishad yang mendukung ajaran monoteisme ini. Dengan tegas ia mengemukakan bahwa tempat untuk memuja para dewa tidak terbatas pada kasta para pemujanya saja. Ia melarang penggunaan patung dan gambar-gambar yang dipasang ditempat ibadat. Hanya Khutbah-khutbah, Kidung-kidung dan doa-doa saja yang dibenarkan. Selain itu ia juga mengecam sikap meremehkan peribadatan berbagai macam agama.
C.   Ajaran Brahma Samay
Diantara ajaran Brahma Samay ya itu Weda adalah Satu-satunya dasar iman. Pengenalan akan Tuhan bersumber kepada alam dan intuisi. Tuhan adalah Zat yang berpribadi, Ia tak pernah menitis, Ia mendengarkan dan mengabulkan doa manusia. Penyembahan kepada Tuhan harus dilakukan secara rohani.jalan mendapatkan keselamatan ialah pertaubatan dan menghentikan perbuatan dosa.
Dalam gerakan Brahma Samay ini Weda dianggap sebagai sumber penting dalam kehidupan manusia. Karena itu ia juga mengirimkan empat orang yang dipandang mampu untuk hal ini ke Benares untuk mempelajari dan menyalin kitab-kitab Weda dan harus melaporkan hasil-hasilnya. Di antara hasil-hasilnya ialah bahwa gerakan Samay ini menganggap Weda sebagai kebenaran yang sangat dijunjung tinggi.
Keshap Chandra Sen aktif dalam gerakan Samay sejak tahun 1857. Ia berpendapat bahwa yang terpenting dari ajaran tentang “Brahma” adalah konsepsi tentang “Kebapaan Tuhan” dan “Keputraan Manusia” yang kemudian dikembangkannya sebagai “Persaudaraan Manusia”. Pemikirannya sering dinilai kurang teologis. Bahkan dalam perkembangan selanjutnya Keshab mengajarkan konsep keagamaan yang kurang bersifat Hindu lagi, tetapi sebaliknya lebih mengembangkan konsep keagamaan yang agak kekristenan. Pada masanyalah muncul suatu gerakan yang disebut Adi Brahma Samay. Juga pada masanya Gerakan Brahman Samay mencapai puncak tetapi sekaligus menurun. Pada 1879, ia mengajarkan semacam “takdir baru” yang dianggapnya melebihi apa yang pernah ada pada agama Yahudi dan Kristen. Akhirnya hal ini membawa kepada suatu perpecahan yang tidak dapat dihindari lagi.
D.   Gerakan Ramakrisna Mision
Svami Vivekananda (1843-1902), murid Ramakrisna, pernah menghadiri Parlemen Agama di Chicago. Ia mendirikan misi dengan nama gurunya yang sekarang ini memiliki jaringan yang sangat luas. Kalau pada waktu itu umumnya gerakan keagamaan di India menekankan pada bidang pendidikan dan social, maka Vivekananda dengan misi Ramakrisnanya merupakan pendukung dan pembela dari ajaran Advaita Vedanta yang dikemukakan oleh Sankara. Oleh karena itu para penganut gerakan ini juga para penganut paham tersebut dan memiliki pandangan yang luas dan moderen. Gerakan ini mengajarkan paham monisme absolut dan memandang dunia sebagai ilusi atau maya. Gerakan ini mengakui bahwa Brahma adalah nyata, dan merupakan Wujud Mutlak atau Tuhan yang impersonal. Pendirinya adalah Ramakrisna Prahamsa. dan penyebarnya adalah muridnya yang dinamis, Svami Vivekananda.
Ramakrisna Prahamsa (1834-1886) tidak berusaha keras dalam masalah penyingkiran patung-patung seperti lazimnya gerakan pemurnian keagamaan lainnya. Ia banyak bergaul dengan orang-orang yang berlainan agama, akan tetapi menganut kepercayaan terhadap “realitas yang tunggal”. Sekalipun ia adalah seorang yang otodidak, tidak menempuh pendidikan yang resmi, namun dia berusah mengikuti berbagai macam kepercayaan dan mengutamakan pada “penghayatan” dan pengalaman hidup sendiri. Ia, yang juga dikenal dengan nama Gadadhar Chatterji, tidak dapat membaca dan menulis, bukan sarjana, tetapi memiliki keahlian tertentu terutama dalam bidang filsafat dan agama Hindu. Ia cukup bicara dan mengemukakan pendapat-pendapatnya yang kemudian dicatat dan diterbitkan oleh para pengikutnya. Akan tetapi, sekalipun ia adalah tokoh dalam gerakan ini, namun ia bukan pemberi bentuk gerakan tersebut karena pemberi bentuk dan perumus idenya adalah murid dan penggantinya, yaitu Svami Vivekananda.
E.   Ajaran Ramakrisna Mision
Memahami pikiran Ramakrisna merupakan suatu usaha yang cukup sulit karena dapat keliru dalam menanggapi arah yang sebenarnya. Pemikirannya lebih bersifat intuitif daripada intelektual, sehingga kalau hanya menekankan pada segi intelektualnya saja, maka ibarat orang pergi ke kebun buah-buahan bukan untuk memakan buahnya tetapi hanya untuk berspekulasi menghitung-hitung cabang masing-masing pohon dan daun pada setiap cabang tersebut. Ia lahir dari suatu keluarga Brahmana di daerah Bengala, kemudian pergi ke Kalkutta dan hidup sebagai pendeta. Pada tahun 1855 ia ditunjuk untuk membawahi biara disebelah utara kotanya, kemudian menjadi seorang pemuja Kali. Agaknya ia juga seorang penganut ajaran Tantra dan mempraktekkan ajarn Bhakti yang mendekati Tuhan sebagai “orang tua”, “pengusaha”, “teman”, “anak”, juga sebagai “kekasih tercinta”. Dia mengabdi kepada Rama dengan mengambil sikap sebagai Hanuman. Ia juga mengutamakan advaita dan dalam waktu singkat mampu mencapai nirvikalpa-samadhi, suatu penghayatan advaita yang tinggi. Ajaran lain yang sangat mempengaruhi dirinya antara lain adalah ajaran Islam walaupun ia mempraktekkan ajaran ini tidak secara menyeluruh.Penghayatannya dan pengalaman-pengalaman keagamaannya memperteguh keyakinannya bahwa pada hakikatnya agama itu adalah satu dan tidak memiliki perbedaan yang hakiki. Baginya, agama dan kepercayaan yang bermacam-macam itu adalah ibarat sungai-sungai yang akhirnya mengalir ke samudera yang sama. Ramakrisna mengunakan kiasan-kiasan dan perumpamaan-perumpamaan dalam mengemukakan pendapat-pendapatnya dan tidak mempergunakan terminologi filosofis yang bersifat teknis. Dia tidak melihat perbedaan antara Brahman yang personal dan yang impersonal. Kalupun toh ada, menurut dia hanyalah seperti perbedaan antara permata dengan kilau sinarnya saja. Semua agam bertujuan sama, dan hanya jalannya saja yang berbeda-beda ; dan ibaratkan kue manis, maka rasa manis tersebut akan terasa di seluruh bagian kue tersebut, maka rasa manis tersebut akan terasa di bagian kue tersebut, baik di tengah-tengahnya, dipinggirnya, maupun di atas dan di bagian bawahnya. Pemikirannya ini dikembangkan oleh murid-muridnya.[2]
Svami Vivekananda, atau disebut pula Narendranath Datta, kemudian memproklamirkan ajaran Ramakrisna ini ke seluruh dunia. Ia juga menyusun suatu gerakan yang terutama ditujukan dalam segi sosial sehingga mampu mengisi dan berbuat banyak. Misi Ramakrisna kemudian banyak berfungsi dan berperan dalam masyarakat. Vivekananda banyak menyerap pendidikan Barat, terutama pandngan-pandangan dari John Stuart Mill, David Hume dan Herbert Spencer, sehingga ia sering merasakan krisis yang akut dalam setiap diskusi dengan Ramakrisna terutama dalam setiap persoalan skeptisisme. Pengaruh besar Ramakrisna dan krisisnya sendiri, ditambah dengan kemiskinan, kemelaratan serta kematian ayahnya, membawanya untuk harus menyelesaikan sendiri persoalan tersebut.
Setelah gurunya meninggal dunia, Vivekananda mengumpulkan murid-muridnya dalam suatu persaudaraan di Benares. Dengan menempuh hidup sebagai seorang sanyasin, ia mengembara ke segenap pelosok India. Dalam kesempatan menghadiri Parlemen Agama-agama Dunia di Chicago ia sempat menggugah pers Amerika dan India. Sekembalinya ke India, pada tahun 1897, ia diterima dengan baik di Ceylon dan kemudian menelusuri pantai timur India. Tahun itu pula ia mengorganisir “Ramakrisna Mision”. Gerakan ini banyak memberikan arti dalam kehidupan orang-orang India. Pusatnya terdapat di Belur, sebelah utara Kalkutta, dan mempunyai beberapa cabang di kota-kota lainnya. Publikasi gerakan ini adalah tentang agama dan kebudayaan India.Svami Vivekananda adalah seorang tokoh terbesar yang sangat berpengaruh dalam “mendinamiskan agama Hindu”. Ia menafsirkan ajaran advaita dengan tafsiran yang membawa kebangkitan agama Hindu dengan menekankan pada nasionalisme dan usaha-usaha kemasyarakatan.
Dia mengatakan bahwa India memerlukan otot dari baja, yang hanya dapat tercapai kalau cita-cita advaita, cita kesatuan, dapat dimengerti dan terwujud. Mengenai Brahman, Vivekananda memberikan pengertian yang kemudian merupakan suatu permulaan bagi suatu agama baru. Interpretasinya sangat berpengaruh di kalangan bangsa India. Tafsiran advaitanya itu selanjutnya mengatakan bahwa Tuhan dan tanah air India adalah satu; membebaskan tanah air adalah juga membebaskan Tuhan.[3]
            Konsep maya, menurut dia, bukannya memberikan pengertian ilusi semata, tetapi melalui maya justru dapat dimengerti “realitas” yang sesungguhnya sehingga menjadi jelas bahwa advaita bukan bersifat pasif tetapi sebaliknya, bersifat aktif. Brahma itu sendiri adalah nyata. Dengan demikian dapat dinilai bahwa gerakan ini sebenarnya bukan merupakan gerakan keagamaan saja, tetapi juga merupakan gerakan kebangsaan India.
F.    Penutup
Dalam perkembangan selanjutnya, selain pusat-pusat keagamaan di kraton, juga terdapat pusat-pusat keagamaan Hindu yang disebut Paguron atau mandala atau kasturi. Ditempat-tempat ini para pendeta memberikan pelajaran. Kitab-kitab yang ada pada waktu itu adalah kitab Tantu Panggelaran, juga kitab Nawaruci yang juga disebut dengan kitab Tattwajnana. Kitab terakhir ini penting karean mistik yang terdapat di dalamnya sampai sekarang masih berlaku di kalangan tertentu. Dasar fikiran dan mistik itu sendiri juga terdapat dalam kitab-kitab Suluk yang sudah mendapat pengaruh dari Islam.
Agama Hindu mempersonifikasikan kekuatan-kekuatan Sang Hyang Widi dalam bentuk beberapa dewa yang banyak jumlahnya, akan tetapi mempunyai fungsi-fungsi tertentu sesuai dengan kepentingan makhluk hidup ini. Sebagai Bhatara Brahma, ia memberikan pegangan dan tuntunan bagaimana manusia harus bertindak. Dalam hal ini Brahma bertindak sebagai Sang Hyang Saraswati yang memberikan ilham kepada para maharesi (salah literature menyebut seperti Nabidalam Islam). Ia adalah sumber ilham, sumber gerak dan sumber ciptaan manusia.
Gerakan-gerakan yang ada didalam Agama Hindu diantaranya adalah Brahma Samay dan Ramakrisna Mision merupakan suatu gerakan pembaharu didalam umat Hindu, yang mana kedua gerakan tersebut tetap bersumber dari weda, meskipun di tiap-tiap gerakan memiliki pemikiran atau pusat perhatiannya masing-masing.


G.  Daftar Pustaka

·         Ali. Mukti, Agama-agama Dunia, Yogyakarta : IAIN Sunan Kalijaga Press, 1988
·         Hadiwiyono. Harun, Agama Hindu dan Budha, PT. BPK Press, 1989
·         Punyatmadja. Oka, Panca Sradha, 1988
·         Pendit. Nyoman, Aspek-aspek Agama Hindu, Menik Geni, 1993
·         Zaehner, Seri Filsafat Driyarkara, PT. Gramedia, 1992



                [1] H.A. Mukti Ali, Agama-agama Dunia, hal. 87-88
                [2] H.A. Mukti Ali, Agama-agama Dunia, hal. 91-92
               [3] Arifin, Menguak misteri ajaran Agama-agama besar, hal. 68-69

Pemikiran Mahtma Gandhi dan Sumbangannya terhadap Agama Hindu



A.Pendahuluan
 Perjuangan Gandhi untuk meraih kemerdekaan tidak lepas dari ajaran-ajarannya(utamanya dari ajaran agama Hindu) yang dipraktikkan dalam hidupnya.Dalam menjalankan Aksi perlawanannya,ia selalu mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan sebagai basis dasar gerakannya.Untuk memahami lebih jauh ajaran atau prinsip-prinsip anti kekerasan gandhi.
Pada kesempatan ini, kami mencoba untuk mengulas pergulatan Gandhi dalam menggali pengalaman hidupnya yang banyak terinspirasi dari kitab-kitab suci, seperti al-Kitab, al-Quran, Bhagavad Gita dan lainnya. Yang pada gilirannya, dari pergulatan inilah Gandhi memperoleh spirit gagasan Ahimsa, Satyagraha, Swadesi, Hartal.
B. Pemikiran-pemikiran Gandhi
Ajaran dan sosok Gandhi telah menjadi milik dunia. Ia telah mendarmabaktikan pemikiran dan hidupnya untuk memajukan dunia, mewujudkan perdamaian abadi yang dilandasi kebenaran, keadilan, dan cinta kasih yang tulus. Gandhi terkenal sebagai seorang experimenter dalam pengembangan ‘perang’ tanpa kekerasan. Salah satunya adalah kemanjuran strategi kebenaran dan diplomasi dengan prinsip satyagraha dan ahimsa disamping swadesi ,dan  Hartal.
Aksi Sosial Gandhi Melawan Penindasan
Seperti telah disinggung di muka, Gandhi adalah seorang Jainis yang mana di dalam aliran ini (Jainisme) memiliki paham bahwa meneruskan hidup berarti selalu aktif secara fisik, kata-kata dan pikiran. Itu berarti bahwa manusia harus selalu aktif dalam melaksanakan tugas sehari-hari. Keaktifan ini harus juga berhadapan dengan pelbagai situasi kemanusiaan seperti suka dan duka, untung dan malang. Namun, yang paling penting ialah bagaimana kita dapat membangun diri kita dalam situasi-situasi itu. Sukses dan keberhasilan adalah sesuatu yang diusahakan dan dicari.[1]

Kemerdekaan India atas penjajahan Inggris tidak lepas dari peran perjuangan Gandhi. Bangsa India dapat mencapai kemerdekaannya pada tanggal 15 Agustus 1947 dengan cara damai dan pantang kekerasan. Perjuangan Gandhi untuk meraih kemerdekaan India tidak lepas dari ajaran-ajarannya yang ia praktekkan dalam hidupnya. Gandhi dalam menjalankan aksi perlawanannya selalu mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan sebagai basis dasar gerakannya. Beberapa gerakan tersebut antara lain sebagai berikut:
Ø Ahimsa
Secara harfiah ahimsa berarti “tidak menyakiti”, tetapi menurut ghandi pengertian seperti itu belum cukup, menurutnya ahimsa berarti menolak keinginan untuk membunuh  dan tidak membahayakan jiwa, tidak menyakiti hati,tidak membenci,tidak membuat marah,tidak mencari keuntungan diri sendiri dengan meperalat serta mengorbankan  orang lain.Ghandi memandang ahimsa dan kebenaran (satya) ibarat saudara kembar yang sangat erat, namun membedakannya dengan jelas bahwa ahimsa merupakan sarana mencapai kebenaran, sedangkan kebenaran (satya) sebagai tujuannya.[2]
Pengertian ahimsa sebagai sebagai suatu sarana berarti tidak mengenal kekerasan untuk mencapai kebenaran, baik dalam wujud pikiran,ucapan,maupun tindakan. Justru kebalikannya,ahimsa harus menciptakan suasana membangun ,cinta,dan berbuat bauk kepada orang lain meskipun orang lain itu telah menyakitinya,bahkan terhadap musuhnya sekalipun.
Ø Satyagraha
Secara harfiyah satyagraha berarti suatu pencarian kebenaran dengan tidak mengenal lelah. Berpegang teguh  pada kebenaran artinya satyagraha  merupakan jalan hidup seorang yang berpegang teguh terhadap tuhan yang maha esa dan mengabdikan seluruh hidupnya pada Tuhan Yang Maha Esa.Karena jalan satu-satunya untuk mencapai tujuan ini adalah dengan sarana ahimsa,maka satyagraha juga berarti”mengejar tujuan benar dengan sarana ahimsa.
Ø Swadesi
Pengertian swadesi adalah cinta tanah air sendiri,cara mengabdi kepada masyarakat yang sebaik-baiknya kepada lingkungannya sendiri lebih dahulu. Ghandi secara jelas memberikan urutan swadesi ini,yaitu pengabdian diri untuk keluarga,pengorbanan keluarga untuk desa,desa untuk keluarga dan negara untuk kemanusiaan.Maksud Ghandi agar swadesi ditaati untuk menciptakan ketentraman dunia,sedangkan pengingkaran terhadapnya mengakibatkan kekacauan.Pelaksanaan swadesi ini antara lain:Sebisa-bisanya agar membeli segala keperluan dari dalam negeri dan tidak membeli barang-barang import,bila barang-barang tersebut dapat dibuat dalam negri sendiri.Melihat situasi dan kondisi waktu itu kemungkinan untuk melaksanakan anti import barang-barang asing sebagai protes dan boikot terhadap kaum penjajah.
Ø Hartal
Hartal semacam pemogokan nasional,toko-toko ditutup sebagai protes politik dan para pekerja melakukan pemogokan massal.Untuk pertama kalinya Ghandi memutuskan untuk menentang pemerintah kolonial Inggris di india. Ia Memutuskan melaksanakan hartal.ia mengatakan bahwa suatu hari kegiatan dagang harus dihentikan,toko-toko tutup,dan pekerja –pekerja mogok.Hartal ini merupakan permulaan dari perjuangan selama 28 tahun, yang berakhir dengan penjajahan inggris menghentikan koloninya atas bangsa india. Hartal dilakukan oleh rakyat india sebagai sebuah protes politik,namun hari-hari mogok itu dihabiskan dengan berpuasa dan kegiatan keagamaan lainnya.[3]
C. Konsep Filosofis Tentang Masyarakat
Pandangan yang berbeda tentang konsep masyarakat banyak dikemukakan oleh para filosof,baik klasik maupun kontemporer. Perbedaan pandangan tersebut biasanya terjadi karena asumsi dasar yang mengonstruksi pemikirannya juga berbeda. Itulah sebabnya, konsepsi masyarakat menjadi banyak variannya tergantung dari sudut pendekatan yang digunakan. 
D. Masyarakat Tanpa Kekerasan Menurut Gandhi
Pada dasarnya gagasan Gandhi tentang masyarakat tidak bisa dilepaskan dari gagasan pokoknya tentang prinsip-prinsip pola reaksi antar manusia untuk hidup berdampingan secara damai, toleran, dan jauh dari perilaku kekerasan. Pola  relasi antarmanusia yang kemudian berada dalam suatu tempat adalah jaminan pertama dan utama yang membentuk masyarakat. Artinya, masyarakat adalah suatu komunitas yang terjadi dan terbentuk dari proses relasi antarmanusia yang menduduki suatu wilayah tertentu.
Gandhi berkeyakinan  bahwa manusia adalah makhluk yang kompleks dan unik yang slalu mengalami proses perkembangan dari Himsa menuju Ahimsa. Manusia sebagai makhluk otonom misalnya,selalu berusaha sekuat tenaga untuk membangun hubungan baik dengan sesama. Itulah yang memberikan suatu pendasaran tentang konsepsi masyarakat bagi Gandhi, Bahwa masyarakat terbentuk karena kehadiran manusia sebagai makhluk otonom dan berkorelasi. Faktor berkorelasi tersebut memberikan suatu ikhtiar bagi manusia untuk tidak memusnahkan manusia lainnya dan menghindarkan diri dari perilaku himsa atau kekerasan.
Menurut Gandhi , dalam setiap pengabdian dalam masyarakat, tidaklah mungkin saling melepaskan diri dari bagian-bagiannya. Kewajiban sesorang terhadap dirinya sendiri, kepada keluarganya,kepada bangsanya dan kepada seluruh  dunia, misalnya,kepada bangsanya dan kepada seluruh dunia,misalnya mutlak,mutlak saling berkaitan.Tidak mungkin seseorang berjasa kepada tanah airnya dengan merugikan diri sendiri atau keluarganya.Sehingga wujud dari pengabdian seseorang kepada masyarakat adalah membangun secara bersama-sama kepentingannya masing-masing dengan tetap mengedepankan kepentingan bersama.[4]
D. Gandhi dan Agama Hindu
Gandhi adalah seorang Hindu ortodok tapi juga seorang reformator Hindu sebab ia mempraktikan apa yang ia sampaikan.  Bagi Gandhi kebenaran juga adalah kesadaran akan kesatuan diri kita dengan seluruh universium atau meleburnya jiwa (merging) individual ke dalam jiwa universal. Sementara dalam agama Hindu terdapat beberapa ajaran tentang pengakuan adanya realitas tertinggi, ajaran tentang jiva (jiwa), ajaran tentang karma, dan ajaran tentang pelepasan atau pembebasan. 
 Ajaran-ajaran di atas memiliki hubungan yang erat dengan Mahatma Gandhi yang juga seorang Jainis. Berkat Gandhi, agama Hindu memiliki tempat yang berarti bagi kehidupan kemanusiaan. Karena, Gandhi adalah seorang sannyasin asketis yang meniadakan pembatas antara hidup doa dan tindakan atau perbuatan sehari-hari, antara agama dan politik. Namun, baginya masih memilki keterkaitan sebab yang terbatas dan tak terbatas tidak terpisah tapi saling berhubungan secara mendalam. Tidak ada konflik antara keadaan pembebasan dengan keadaan terbelenggu (bondage), antara dharma sebagai kewajiban moral dan mokhsa. Mokhsa bersifat individual sekaligus universal yang merupakan buah dari dharma setiap orang dan dharma komunitas.
E. Penghargaan untuk gandhi
Gandhi tidak pernah menerima Penghargaan perdamaian nobel, meski dia dinominasikan lima kali antara 1937 dan 1948. Beberapa dekade kemudian, hal ini disesali secara umum oleh pihak Komite Nobel. Ketika Dalai Lama dianugerahi Penghargaan Nobel pada 1989, ketua umum Komite mengatakan bahwa ini merupakan "sebuah bentuk mengenang Mahatma Gandhi".
Museum elektronik Nobel mempunyai artikel mengenai hal tersebut. [5]
Sepanjang hidupnya, aktivitas Gandhi telah menarik berbagai komentar dan opini. Misalnya, sebagai penduduk Kerajaan Britania, Winston Churchill pernah berkata "Menyedihkan...melihat Mr. Gandhi, seorang pengacara Kuil Tengah yang menghasut, sekarang tampil sebagai seorang fakir yang tipenya umum di Timur, menaiki tangga Istana Viceregal dengan badan setengah-telanjang." Begitu juga dengan Albert Einstein yang berkomentar berikut mengenai Gandhi: "(Mungkin) para generasi berikut akan sulit mempercayai bahwa ada orang seperti ini yang pernah hidup di dunia ini."
Karya Mahatma Gandhi tidak terlupakan oleh generasi berikutnya. Cucunya, Arun Gandhi dan Rajmohan Gandhi dan bahkan anak cucunya, Tushar Gandhi, adalah aktivis-aktivis sosio-politik yang terlibat dalam mempromosikan non-kekerasan di seluruh dunia.
Kata kebajikan yang dikenang Mahatma Gandhi:
Cinta tidak pernah meminta, ia sentiasa memberi, cinta membawa penderitaan, tetapi tidak pernah berdendam, tak pernah membalas dendam. Di mana ada cinta di situ ada kehidupan; manakala kebencian membawa kepada kemusnahan.

Jadilah kamu manusia yang pada kelahiranmu semua orang tertawa bahagia, tetapi hanya kamu sendiri yang menangis dan pada kematianmu semua orang menangis sedih, tetapi hanya kamu sendiri yang tersenyum.
  
DAFTAR PUSTAKA
v  Gandhi, M. K., Mahatma Gandhi; Sebuah Autobiografi, terj. Andi Tenri W, Yogyakarta: Narasi, 2009
v  Gandhi, Mahatma, Kehidupan Ashram dari Hari ke Hari, terj. Gedong Bagus Oka, Denpasar : Yayasan Bali
v http://id.wikipedia.org/wiki/Warisan_ajaran_Gandhi_di_Indonesia
v  I Ketut Wisarja, Gandhi dan masyarakat tanpa kekerasan,2007,Surabaya:PT.Paramita
v  http://en.wikipedia.org/wiki/Mohandas_Karamchand_Gandhi


[1] I ketut Wisarja, Gandhi dan Masyarakat tanpa kekerasan, h. 75
[2] I ketut Wisarja, Gandhi dan Masyarakat tanpa kekerasan, h.76
[3]  Ibid, h. 80
[4] I ketut wisarja, Gandhi , h.123

Popular Posts