Tampilkan postingan dengan label Darsana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Darsana. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Desember 2012

Wedanta

1. Pengertian dan Pokok-Pokok Ajaran Wedanta pengertian Wedanta berasal dari kata weda – anta, artinya bagian terakhir dari weda. Kitab Upanisad juga disebut dengan Wedanta, karena kitab-kitab inimewujudkan bagian akhir dari Weda yang bersifat menyimpulkan. Disamping itu ada tiga faktor yang menyebabkan Upanisad disebut dengan Wedanta, yaitu: a. Upanisad adalah hasil karya terakhir dari zaman Weda. b. Pada zaman Weda program pelajarna yang disampaikan oleh para Rsi kepda sisyanya, Upanisad juga merupakan pelajaran yang terakhir. Para Brahmacari pada mulanya diberikan pelajaran shamhita yakni koleksi syair-syair dari zaman Weda. Kemudian dilanjutkan dengan pelajaran Brahmana yakni tata cara untuk melaksanakan upacara keagamaan, dan terakhir barulah sampai pada filsafat dari Upanisad. c. Upanisad merupakan kumpulan syair-syair yang terakhir daripada zaman Weda. Oleh karena itu upanisad adalah inti dari Weda atau Wedanta. Jadi pengertian Wedanta erat sekali hubungannya dengan upanisad hanya saja kitab-kitab Upanisad tidak memuat urainnan-uraian yang sistematis. Penyusun Upanisad pertama kali dilakukan oleh Badrayana, kira-kira 400 SM. Hasil karyanya disebut Wedanta – sutra. Pokok-Pokok Ajaran Filasafat Wedanta bersumber dari Upanisad, Brahma sutra/ Wedanta-sutra dan Bhagawadgita. Filsafat tentang dunia ini ada yang memberikan ulasan bahwa dunia ini maya (bayangan saja). Dilain pihak menyebutkan dunia ini betul-betul ada, bukan palsu sebab diciptakan oleh Tuhan dari diriNya sendiri. Karena perbedaan pendapat ini dengan sendirinya menimbulkan teka-teki , apakah dunia ini benar-vbenar ada ataukah dunia ini betul-betul maya? Hal ini menimbulkan penafsiran yang berbeda-beda. Akibat dari penafsiran tersebut menghasilkan aliran-aliran filsafat Wedanta. Adapun para tokoh filsafat Wedanta yang terkenal adalah Sankara, Ramanuja, dan Madhawa. Masing – masing tokoh mendirikan aliran yang corak ajarannya berbeda antara satu dengan yang lainnya, tetapi memiliki tujuan yang sama. (1) Sankara mendirikan aliran Adwaita; (2) Ramanuja mendirikan aliran Wisistadwaita; (3) Madhawa meandirikan aliran Dwaita. Secara garis besar semua aliran dari Wedanta tersebut terdiri dari aliran yang bersifat absolutistis dan theis. 2. Aliran Adwaita dan Pemikiran Tokohnya Sistem Wedanta yang terkenal dan terbesara adalah Adwaita. Adwaita artinya tidak dualisme. Maksudnya adwaita menangkal bahwa kenyataan ini lebih dari satu (Brahman). Disamping ada Brahman masih ada Atman yang merupakan sumber kekuatan. Penganjur terbesar dan terbanyak pegaruhnya dari aliran ini adalah Sankara (788-820 M). Sweta Swatara Upanisad (mempertemukan pendapat-pendapat yang bertentangan), menyatakan bahwa asal daripada dunia ini terletak pada kekuatan sulap (maya) daripada Brahman. Dengan demikian Brahman dengan kekuatan MayaNya dapat memperlihatkan segala yang kita lihat ini, sehingga menghalangi pengetahuan kita yang sebenarnya yaitu Brahman dengan keanekaragamannya. Kekuatan Maya dari Brahman dapat menipu diri manusia, antara lain: a. Membuat manusia tertipu mengenai dunia yang kita lihat. b. Tertipu tentang apa yang sebenarnya Tuhan itu. Sankara yang mengakui juga Maya itu kekuatan Tuhan, tetapi tidak permanen. Sankara berpendapat bahwa Tuhan tidak mengalami suatu perubahan dan segala yang kita lihat berubah, hanya kelihatannya saja demikian, sebenarnya tidak. Contoh: Perubahan Wiwarta yakni perubahan pandangan terhadap kenyataannya. Sesungguhnya tidak berubah, tapi kelihatannya saja berubah. Seperti merubah ular sebagai tali, melihat awana sebagai orang-orangan, dan lain sebagainya. Sankara menganggap bahwa perubahan itu hanya lah wiwarta. Tapi keduanya percaya sat – Karya – Wada – (Samkhya)yakni semuanya bersumber dari Brahman. Menurut Upanisad dunia beserta isinya adalah merupakan evolusi dari Brahman, evolusi paling dikenal adalah bahwa dari Brahman timbul panca Tan Matra – panca Maha Bhuta dari unsur ini timbul benda. Disamping sesuatu yang ada merupakan bagian dari dunia, tapi juga Tuhan sendiri menjadi dunia ini. Sankara tidak setuju bahwa Tuhan itu menciptakan dunia ini (parinama), tapi menyatakan diproyeksikan pada Tuhan (Wiwartawada). Sankara menyatakanyang ada secara nyata (Sat) adalah kekal. Hanya bRahmana lah yang disebut Sat, artinya hanya Brahmana lah yang kekal. Tapi dunia ini beraneka ragam. Jadi dunia bukanlah sat, dunia ini bukan Brahman. Oleh karena itu harus dikatakan bahwa dunia adalah betul-betul ada dan maya, karena tidak kekal. Demikian pula benda-benda duniawi, sekalipun tidak dapat dikatakan ada secara mutlak, namun kenyataannya memang ada. Tapi benda duniawi tidak kekal selalu berubah sesuai dengan kodratnya. Dunia ini tergantung pada Brahman. Seandainya Brahman tidak ada, dunia tidaka akan ada. Tapi bukan sebaliknya. Barhman tetap ada dan kekal abadi. Hubungan Brahman Dengan Atman Menurut Sankara hubungan antara jiwa dengan Brahman tidak sama dengan hubungan alam semesta atau dengan Brahman. Jadi jiwa tidak boleh dipandang sebgai kenyataan sifat Brahman, sebab jiwa terkena pengaruh rajas dan tamas, walaupun jiwa adalah Brhaman seutuhnya. Satu-satunya relitas yanga ada adalah Brahman. Tapi Brahmna tidak tampak sebagai dunia yang objektif, yakni penjelmaan Brahman sebagai jiwa, yang memberikan kekuatan hidup setiap makhluk. Brahman dikenal sebagai neti (Bukan ini, bukan itu). Sankara memberikan ulasan bahwa Brahman memiliki dua rupa, dua bentuk nya yakni: a. Para-rupa yakni rupa yang lebih tinggi b. Apara-rupa yakni rupa yang lebih rendah. Pendapat Sankara tentang Pengetahuan Menurut Sankara ada enam macam alat-alat pengetahuan (Pramana), yaitu; pengematan, penyimpulan, pembandingan, kesaksian, persangkaan, dan tiada pengetahuan. Sankara mengajarkan bahwa Tuhanlah yang menurunkan ajaran Weda. Weda bukan karya Tuhan, tapi Tuhan menurunkan wahyu yang diterima oleh para Rsi yang dihimpun menjadi Weda. Sankara menyatakan bahwa Weda akan muncul kembali pada zaman berikutnya. Menurut Sankara ada dua macam pengetahuan yaitu: a. pengetahuan yang lebih tinggi (Pra Widya) Pengetahuan yang lebih tinggi mengandung segala macam kebenaran, meliputi segala sesuatu yang mewujudkan kesatuan segala sesuatau yang mewujudkan kesatuan segala sesuatu yaitu Brahman. Pengetahuan yang lebih tinggi disebut Brahman Widya (Pengetahuan tentang Brahman) atau Ataman Widya (pengetahuan tentang Atman). b. pengtahuan yang lebih rendah (apara Widya). Pengetahuan ini mengenai pengetahuan dunia yang tampak ini, yang sebenarnya ialah Khayalan. Maka sebenarnya pengetahuan yang lebih rendah bukan pengetahuan, tapi bentuk Adiwya. Adiwya: Tujuan hidup manusia adalah untuk mengetahui dan merealisir kebenaran. Orang yang mencapai tujuan hidup itu akan berubah pikirannya. Perubahan pikiran ini menghasilkan kelepasan. Sarana untuk mencapai kelepasan yaitu:  Melakukan disiplin wairagya, yaitu sikap tidak tertarik pada duniawi.  Berusaha mendapatkan pengetahuan tentang kebenaran yang tertinggi (Jnana) dan mengubha pengetahuan itu menjadi pengalaman yang langsung, yaitu dengan belajar pada guru. 3. Aliran Wasistadwaita dan pemikiran tokohnya Wasistadwaita berasal dari kata Wasista dan Dwaita. Wasista berarti ‘yzng diterangkan’ yaitu oleh sifat-sifatnya. Jadi Brahman yang satu diberi keterangan oleh sifat-sifatNya. Tokohnya bernama Ramanuja (1050-1137). Ramanuja menjelaskan pandangannya dengan cara orang memakai bahasa pada umumnya. Misal: “Mawar adalah merah”. Mawar adalah substansi, merah adalah sifat. Keduanya tidak sama, tapi menguraikannya seolah sama. Hubungan keduanya merupakan hubungan substansi dengan sifat. Dalam Wasistadwaita ditekankan bahwa yang satu itu diterangkan atau ditentukan oleh sifat-sifatnya,Brahman yang tunggal itu menjelma dalam jiwa dan dunia serta menjiwai keduanya. Tuhan Menurut Ramanuja Tuhan adalah asas yang amanen yaitu berada di dalam jiwa (purusa)dan benda (prakerti). Tuhan, jiwa, dan benda mewujudkan suatau kesatuan yang organis. Hubungan antara ketiganya yaitu apathak siddhi atau tak dapat dipisahkan. Sekalipun demikian ia tidak dipengaruhi oleh jiwa dan benda. Jiwa Jiwa disebut dengan prakara Tuhan, artinya jiwa turut membantu Tuhan. Jiwa berbentuk atom.jikalau Tuhan berakekatkan akal, maka jiwa berakekatkan perasaan. Jiwa juga dapat menderita karena Karma yang dibuat oleh manusia. Ada tiga golongan, yaitu: 1. Jiwa yang tidak pernah dibelenggu oleh duniawi yang disebut Nitya. 2. Jiwa yang bebas dari belenggunya yang disebut mukti 3. jiwa yang masih terbelenggu oleh benda, sehingga masih mengalami kelahiran kembali. Prakerti Ramanuja mengajarkan bahwa: 1. Benda tidak bergantung dari roh atau jiwa dalam perkembangan 2. Sattwa, rajas, tamas mewujudkan sifat-sifat benda Hubungan jiwa dengan Tuhan, jiwa dengan badan dipengaruhi sifat masing-masing. Ramanuja menguraikan sepuluh sifat, yakni: a. Lima kwalitas indriani; sparsendria, granendria, jihwendria, srotendria, caksu indria. b. Triguna; sattwa, rajas, tamas. c. Budhi dan ahamkara. Kesepuluh unsur memberikan potensi atau daya yang menyebabkan gerak (sakti). Menurut Ramanuja ada tiga alat ilmu pengetahuan; pengamatan, penyimpulan, sabda (pratyaksa, anumana, sabda pramana). Pengetahuan adala semuanya benar. Ada tingkatan-tingkatan kebenaran: kurang benar, cukup benar, benar sekali. Tujuan hidup menurut Ramanuja adalah untuk mencapai alam Narayana, menikmati kebebasan dan kebahagiaan yang sempurna. Ada dua jalan untuk mencapainya: a. Dengan prapati atau penyerahan secara mutlak dan dengan bhakti atau sembahyang. Praparti adalah orang yang harus berkiblat pada Tuhan. Penyerahan diri harus dengan sikap menaruh kepercayaan yang sempurna. b. Dengan jalan Bhakti yaitu disamping berusaha mendekatkan diri terhadap Tuhan denagn memasrahkan jiwa raga demi Tuhan, juga berusaha mengharmonisasikan diri (mendekatkan diri) terhadap segala ciptaan Tuhan dengan jalan; berkarma, berpikir, dan melatihb diri dari segala godaan. Selanjutnya dikatakan tujuan yang terakhir akan tercapai jika tubuh luluh dengan asalnya. Di situ lah jiwa akan melihat Tuhan secara langsung dan akan nampak sebagai hakekat yang tertinggi dari kekuatan dirinya sendiri. 4. Aliran Dwaita dan Pemikiran Tokohnya Tokoh nya bernama Madhwa (1199-1278). Sisitemnya disebut Dwaita (dualis) sebab menurut Madhwa poko-poko ajaran filsafatnya adalah perbedaan (bheda). Sistem ini dinamakan realistis karena dunia ini adalah nyata, bukan maya.akhirnya sistem ini bersifat theistis karena menerima adanya Tuhan berdiri sendiri, dengan begitu Madhwa mengakui atau percaya dengan adanya manifestasi dari Tuhan yang beraneka ragam. Karena ajaran Madhwa adalah mengakui adanya kenyataan yang beraneka ragam di dunia ini, semuanya mempunyai ciri dan sifat tersendiri sehingga menimbulkan perbedaan-perbedaan. Perbedaan itu mempunyai wujud tersendiri. Menurut Madhwa di dunia ini ada lima macam perbedaan, yaitu: a. Perbedaan antara Tuhan dengan jiwa b. Perbedaan antara jiwa dengan jiwa lainnya c. Perbedaan antara Tuhan dengan benda d. Perbedaan antara jiwa dengan benda e. Perbedaan antara benda yang satu dengan yang lain. Mereka saling bergantungan. Misal: tubuh bergantung pada jiwa. Tuhan, jiwa dan benda itu kekal, namun hanya Tuhan yang merdeka dan bebas, yang tidak bergantung pada siapapun dan apapun. Menurut Madhwa di dunia ini banyak jiwa yang tidak terhingga jumlahnhya. Tiap jiwa berbeda dengan jiwa lain. Itulah sebab tiap orang memiliki pengelamannya sendiri-sendiri. Jiwa itu berbentuk atom, tapi karena dipengaruhi nafsu maka jiwa ini ikut mederita atau bahagia. Padah sebenarnya jiwa itu kekal dan abadi penuh dengan kebahagiaan. Secara umum jiwa yang ada di dunia mempunyai tingkatan-tingkatan, yaitu: a. Jiwa-jiwa yang bebas secara kekal (nitya), seperti Laksmi, istri, atau sakti Wisnu b. Jiwa-jiwa yang telah mencapai kelepasan dari sengsara (mukta) yaitu para Dewata, para Rsi, dan nenek moyang yang mendapat kelepasan c. Jiwa-jiwa yang terbelenggu (baddha), oleh segala papa dan dosa, jiwa yang terbelenggu ini ada dua kelompok, yaitu: 1. Jiwa-jiwa yang masih dapat dibebaskan (Mukti Yogya) 2. Jiwa-jiwa yang tidak dapat dilepaskan lagi, terdiri dari dua:  Jiwa yang untuk selamanya terikat hukum samsara  Jiwa yang terus diikat oleh hukum samsara yang lebih rendah. Ada juga jenis tingkatan yang lainnya yaitu: Jiwa Satwika (Jiwa yang dikuasai oleh sifat Sattwam), Jiwa Rajas (Jiwa yang dikuasai sifat Rajas), Jiwa tamas (Jiwa yang terikat oleh hukum Samsara yang lebih rendah karena sifatnya dikuasai tamas). Menurut Madhwa ada dua alat untuk memperoleh pengetahuan yang benar, yakni: Kewalapramana (alat yang primer)__ pengetahuan yang benar itu sendiri, yaitu menunjuk dengan langsung kepada suatu peristiwa__ dan anupramana (alat sekunder)__mendapatkan pengetahuan dengan perantara akal sehat. Perantara akal sehat itu ada tiga: Pratyaksa Pramana (pengamatan langsung), anumana Pramana (analisa), agama Pramana (Wahyu Tuhan). Pengamatan dilakukan menggunakan sapta indria yaitu, panca budhindria,manas, dan saksin (kesadaran). Pengetahuan yang benar yaitu pengetahuan yang sesuai dengan kenyataan yang ada di luar manusia. Hal ini dijelaskan dengan seutas tali dengen seekor ular. Dwaita berpendapat bahwa ular itu tidak ada, baik ditempat itu maupun di tempat lain. Kesalahan pengetahuan itu ialah apa yang tidak ada disangka ada. Orang-orang pada umumnya bingung, menyangka yang tidak ada dikatakan ada, hal ini disebabkan oleh awidya (kegelapan pikiran manusia). Untuk mencapai tujuan hidup yakni dengan meniadakan awidya. Samsara juga disebabkan karen awidya.

Samkhya

Sad Darsana Kata darsana berasal dari urat kata "drs" yang artinya melihat ataumemandang. Dalam hubungan ini kata darsana artinya adalah sesuatu pandanganyang benar terhadap apa yang harus dilakukan oleh seseorang baik moral maupun material untuk mencapai kebenaran dan kebahagiaan abadi dalam kehidupan tertentu. Nama atau istilah lain yang memiliki arti mendekati dengan darsana adalah: • Tattwa; kata ini berasal dari kata "tat" yang artinya itu. Dalam bahasa sehari-hari kata tattwa berarti uraian tentang Ke-Tuhanan: • Mananasastra: kata. ini berarti pemikiran, perencanaan:pertimbangan atau renungan. Yang dimaksud adalah pemikiran atau renungan filsafat • Wicarasastra; kata ini berarti pertimbangan, renungan. Penyelidikan dankeragu-raguan. yang dimaksud adalah penyelidikan tentang kebenaran • Tarka; kata ini berarti spikulasi yang dimaksud adalah penyelidikan tentang kebenaran Filsafat Samkhya Samkhya adalah salah satu sistem filsafat India, yang mengakui Veda sebagai otoritas tertinggi. Oleh sebab itu Samkhya dikelompokkan kedalam Astika (ortodok). Jika dilihat dari bentuk katanya, Samkhya berasal dari dua urat kata yaitu “sam” dan “Khya”. Sam diartikan sebagai bersama-sama dan Khya diartikan sebagai bilangan, jadi secara harfiah Samkhya berarti bilangan bersama-sama. Kata Samkhya digunakan dalam Sruti dan Smirti, dimana masing-masing digunakan dalam pengertian pengetahuan dan tindakan, sehingga kata Samkhya ini juga memiliki arti pengetahuan yang benar. Dalam Sarva Darsana Samgraha, yaitu suatu sistem filsafat Hindu mengatakan kata Samkhya (sankhya) itu artinya adalah jumlah. Dan sistem ini memberikan 25 prinsip terjadinya alam semesta setelah dua asas yaitu purusa dan prakerti sehingga berkembanglah sebagai penyusun alam semesta dan tubuh manusia itu sendiri. Meskipun Samkhya kadangkala dikatakan sebagai ajaran yang bersifat atheistic namun Samkhya menggunakan Veda sebagai otoritas tertingginya. Samkhya menggunakan Veda sebagai dasar pengembangan kebenaran Hindu. Selain Veda, Samkhya juga menggunakan Chandogya Upanisad, Prashna Upanisad, Katha Upanisad, dan Svetasvatara Upanisad. Dan yang tidak kalah penting dalam ajaran Samkhya adalah Mahabharata yang termuat dalam kitab Bhagawadgita. 1. Konsep Purusa dan Prakerti Purusa Purusa merupakan jenis kesadaran tertinggi. Samkhya menyebut purusa sama dengan roh atau jiwa. Purusa ini bersifat tak terikat yang meresapi segala yang abadi. Teori Samkhya menyatakan bahwa roh itu ada karena ia menjelma, ketidakadaan roh tidak dapat dinyatakan dengan apapun juga. Roh itu berbeda dengan indria, pikiran, dan akal.roh bersifat langgeng, tanpa sebab menyusupi segala namun bebas dari segala ikatan dan pengaruh dunia. Prakerti Samkhya dalam ajarannya menerima 2 ultimasi,yakni Purusa (spirit) dan Prakerti (Matter), sebagai 2 asas rohani dan kebendaan, dari 2 asas inilah terciptanya alam semesta. Prakerti adalah sebab terakhir dari alam semesta sebab prakerti merupakan awal dari semua yang ada dalam alam semesta ini, maka prakerti harus bersifat kekal dan abadi. Karena tidak mungkin yang tidak kekal menjadi sebab pertama dari semua yang ada pada alam semesta ini. Dalam bahasa sansekerta prakerti berasal dari urat kata “pra” yang berarti sebelum atau pertama dan akar kata “kr” yang artinya membuat atau menghasilkan. Jadi Prakerti diartikan sebagai yang ada sebelum segala sesuatunya dihasilkan atau disebabkan, sumber pertama dari semua benda, bahan asal darimana semua benda menyebar dan ke dalam mana semua benda pada akhirnya akan kembali. 2. Triguna Prakerti dibangun oleh triguna yaitu sattwa, rajas, tamas. Guna berarti unsur. Sattwa adalah suatu prakerti yang merupakan alam kesenangan yang ringan, yang terang, bercahaya. Wujudnya berupa kesadaran sifat ringan yang menimbulkan gerak ke atas, angin dan air di udara adan semua bentuk kesenangan seperti kepuasan,kegirangan dan sebagainya. Rajas adalah unsur erak pada benda-benda ini. Ia selalu bergerak dan menyebabkan benda-benda ini bergerak. Ialah menyebabkan api berkobar, angin berembus, pikiran berkeliaran kesana kemari. Ialah yang menggerakkan sattwa dan tamas untuk melaksanakan tugasnya. Tamas adalah unsur yang menyebabkan sesuatu menjadi pasti dan bersifat negatif. Ia bersifat keras, menentang aktifitas menahan gerak pikiran sehingga menimbulkan kegelapan, kebodohan sehingga mengantar orang pada kebingungan. Karena menentang aktifitas menyebabkan orang mnejadi malas, acuh tak acuh, tidur. Ketiga guna ini selalu bersama dan tidak pernah berpisah satu sama lainnya. Ada dua bentuk perubahan triguna ini. Pada waktu pralaya masing-masing guna berubah pada dirinya sendiri tanpa mengganggu yang lain. Perubahan seperti ini disebut swarupaparinama. Pada waktu demikian tak mungkin ada ciptaan, karena tak ada kerja sama antara guna-guna itu. Namun bila guna yang satu menguasaia yang lain, maka terjadilah suatu penciptaan. Perubahan ini disebut wirupaparinama. 3. Evolusi alam semesta Prakerti akan mengembang menjadi alam ini bila berhubungan dengan Purusa. Melalui hubungan ini prakerti dipengaruhi oleh purusa seperti halnya anggota badan kita dapat bergerak karena hadirnya pikiran. Evolusi alam semesta tidak mungkin terjadi hanya karena purusa, karena ia bersifat pasif. Tidak juga hal itu dapat terjadi karena prakerti, karena ia tanpa kesadaran. Hanya karena hubungan purusa prakerti sajalah dunia ini dapat terjadi. Hubungan antara Purusa dan Prakerti menyebaban terganggunya keseimbangan dalam triguna. Yang mula-mula tergantung adalah rajas yang menyebabkan guna yang lain ikut terguncang pula. Masing-masing guna itu berusaha mengatasi kekuatan guna lainnya. Maka terjadilah pemisah dan penyatuan triguna yang menyebabkan munculnya objek yang kedua ini. Yang pertama terjadi dari prakerti adalah mahat dan budhi. Mahat adalah benih besar alam semesta ini, sementara budhi adalah unsur intelek. Fungsi budhi ialah untuk memberikan pertimbangan dan memutuskan segala apa yang datang dari alat-alat yang lebih rendah dari padanya. Dalam keadaannya yang murni ia bersifat dharma, jnana, vairagya dan aiswarya yaitu kebajikan, pengetahuan, tidak bernafsu dan ketuhanan. Yang kedua yaitu Ahamkara atau rasa aku adalah hasil prakerti yang kedua. Ia langsung timbul dari mahat dan merupakan manifestasi pertama dari mahat. Fungsi ahamkara adalah merasakan rasa aku. Dengan ahamkara sang diri merasa dirinya yang bertindak, yang ingin, yang bermiliki. Ada tiga macam ahamkara sesuai dengan guna mana yang lebih unggul dalam keinginan itu. Ahmkara itu disebut sattwika bila unsur sattwa yang unggul, rajasa bila rajas yang unggul, dan tamasa bila tamma yang unggul. Dari sattwika timbullah panca jnanendriya, panca karmendriya dan manas. Dari tamasa lahirlah panca tanmatra. Tanmatra adalah sari-sari benih suara, sentuhan, warna, rasa, dan bau. Dari benih suara terjadilah akasa. Dari benih sentuhan dan suara terjadilah udara.dari benih warna, suara dan sentuhan terjadi cahaya dan api. Dari benih suara, sentuhan dan warna terjadi air. Dan dari benih bau dan empat tanmatra yang lain terjadilah bumi. Dari semua anasir kasar itu berkembanglah alam semesta ini dengan segala isinya. Evolusi prakerti menjadi dunia objek memungkinkan roh nikmat atau menderita sesuai dengan baik buruk perbuatannya. Namun tujuan akhir evolusi prakerti adalah kelepasan. 4. Ajaran tentang kelepasan Dalam ajaran samkhya kelepasan itu adalah penghentian yang sempurna dari semua penderitaan. Inilah tujuan terakhir dari hidup kita. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi memperringan hidup kita, namun tidak dapat melepaskan kita dari penderitaan sepenuhnya. Samkhya mengajarkan bahwa cara mencapi kelepasan itu ialah melalui pengetahuan yang benar atas kenyataan dunia ini. Tiadanya pengetabhuan itulah yang menyebabkan orang menderita. Dalam banyak hal orang-orang yang tidak punya pengetahuan tentang hukum alam dan hukum kehidupan terbentur pada masalah yang membawanya pada kesedihan. Kelepasan itu hanya akan dicapai bila penegtahuan orang akan kenyataan itu sudah sempurna. Sebab penderitaan itu adalah kebodohan, yaitu ketidakmampuan membedakan antara roh dengan yang bukan roh. Bila orang telah menyadari bahwa roh itu tidak hadir dan tidak mati, ia bebas dari penderitaan. Ada dua macam kelepasan, yaitu -jiwanmukti adalah kelepasan roh selama ia hidup dalam badan ini. -widehamukti adalah kelepasan roh dari badan kasar dan badan halus.

Nyaya dan Mimamsa

Rabu, 28 November 2012

Filsafat yoga dan filsafat weisesika





[1] Kata ’yoga’, ‘yogi’ begitu popular di masyarakat. Apa sesungguhnya makna kata tersebut? Kata ‘yoga’ digunakan dengan berbagai pengertian. Istilah ‘yoga’ (bahasa Sansekerta) berasal dari akar kata ‘yuj’ berarti ‘menghubungkan’. Dalam konteks ini, ia dimaknai sebagai persatuan spirit individu (jivatman) dengan Spirit Universal (Paramatman).
            [2]Tujuan akhir beragama dalam ajaran hindu adalah mencapaai kelepasan dari samsara yaitu penjelmaan berkali-kali atau (reinkarnasi).penjelmaan berkali-kali dipandang sebagai sesuatu penderitaan yang sangat menyedihkan bagi hidup manusia.maka dari itu samsara harus segera di akhiri.dengan terlepasnya dari samsara berarti manusia telah mencapai omkhsa(tidak menjelma) yaitu telah mencapai nirwa atu kebahagiaan abadi.
            Oleh karnanya,ketenangan dalam menempuh kehusyu’an sangatlah penting sekali dan sebagai stimulasi pendekatan diri menuju jalan tuhan.Ketenangan tersebut dapat ditempuh dengan cara yoga,.[3]bhakti yoga ini dapat memindahkan cinta kasih sayang yang terletak dalam lubuk hati sanubari manusia ke arah tuhan atau dewa-dewa.
            [4]2.2       Konsep Astangga Yoga
Dalam menjalankan yoga ada tahap-tahap yang harus ditempuh yang disebut dengan Astangga Yoga. Astangga Yoga artinya delapan tahapan-tahapan yang ditempuh dalam melaksanakan yoga. Adapun bagian-bagian dari Astangga Yoga yaitu Yama (pengendalian), Nyama (peraturan-peraturan), Asana (sikap tubuh), Pranayama (latihan pernafasan), Pratyahara (menarik semua indrinya kedalam), Dharana (telah memutuskan untuk memusatkan diri dengan Tuhan), Dhyana (mulai meditasi dan merenungkan diri serta nama Tuhan), dan Samadhi (telah mendekatkan diri, menyatu atau kesendirian yang sempurna atau merialisasikan diri).
Untuk lebih jelasnya,kami akan berusaha memaparkan astangga yoga sebagai berikut:
[5]1) Yama, artinya pantangan yang mencakup pantang menyakiti makhluk lain baik dalam pikiran, kata-kata maupun perbuatan (ahimsa), pantang berbuat salah (satya), pantang mencuri (asteya), pantang mengumbar nafsu (brahmacharya), dan pantang memiliki hak orang lain (aprigraha).

2) Niyama, artinya pembudayaan diri dan termasuk penyucian (sauca) eksternal dan internal, kedamaian (santosa), bertapa (tapa), belajar (svadhyaya) dan pemujaan kehadapan Tuhan (Isvharapranidhana).

3) Asanas secara harfiah berarti “sikap tubuh yang nyaman”. Selama dalam gerakan yang nyaman ini tubuh tetap dalam keadaan yang sangat rileks dan pernafasan yang sangat dalam yang secara alamiah menyertai sikap tubuh ini, membawa sejumlah besar oksigen diserap ke dalam aliran darah. Selama asanas energi dikumpulkan tidak dikeluarkan. Asanas memberi efek pada setiap aspek dari fisik. Menyeimbangkan sekresi kelenjar, mengendurkan dan memperbaiki sistim syaraf dan otot, merangsang sirkulasi, meregangkan tendon, melenturkan persendian, memijat organ-organ dalam dan menenangkan serta mengkonsentrasikan pikiran. (Asanas akan mengontrol kelenjar, kelenjar akan mengontrol sekresi/produksi hormon dan sekresi hormon akan mengontrol kecendrungan pikiran). Kehidupan modern membuat kita selalu berpacu dengan waktu. Tekanan pekerjaan dan peningkatan emosional akan menyebabkan depresi yang meluas bahkan mungkin beberapa penyakit kejiwaan yang disebabkan oleh pikiran. Kita telah kehilangan kedamaian mental kita. Yoga adalah solusi yang jelas. Postur-postur dalam yoga akan menyeimbangkan kelenjar endokrin yang dapat menenangkan dan mengontrol emosi kita. Pernafasan yang dalam selama asanas akan menenangkan dan memberikan energi yang banyak pada pikiran.

4) Mengendalikan Energi vital (Pranayama). Hidup adalah suatu energi (prana) dalam tubuh. Energi atau kekuatan ini menjaga fungsi-fungsi tubuh dengan cara menggetarkan sel-sel, saraf, organ, dan lain-lain. Getaran ini didapatkan dari denyut prana (kekuatan hidup) yang berulang-ulang. Jika seseorang yogi mengarahkan pikirannya menuju lapisan intuisi terhalus, maka ia harus membuat tubuhnya dalam keadaan damai dengan cara mengendalikan denyut prana yakni dengan pranayama, artinya mengontrol nafas dan berkaitan dengan pengaturan-pengaturan nafas ke dalam, menahan nafas dan nafas ke luar. Ini sangat berguna bagi kesehatan dan sangat kondusif bagi konsentrasi pikiran.

5) Prathyahara, artinya mengontrol indra-indra dan terdiri atas penarikan indra-indra dari objek-objeknya. Indra-indra kita mempunyai kecendrungan yang besar bergerak ke luar untuk memenuhi keinginannya. Indra-indra tersebut harus selalu dicek dan diarahkan agar bergerak ke dalam, revolusi ke dalam. Ini merupakan proses introversi diri.

6) Dharana, artinya memusatkan pikiran pada satu objek meditasi seperti ujung hidung atau tengah-tengah jidat atau bayangan suatu deva, dan sebagainya. Pikiran harus ditegakkan, kuat dan terfokus, seperti nyala lilin. Ia tenang, tegak, tak tergoyahkan oleh fluktuasi-fluktuasinya.

7) Dhyana, artinya meditasi dan terdiri atas aliran yang tak terganggu pikiran di sekitar objek meditasi (prtyayaika-tanaka). Ini adalah kontemplasi teguh tanpa adanya istirahat.

8) Samadhi, artinya konsentrasi. Ini merupakan tahapan terakhir di dalam sistem yoga. Di sini pikiran benar-benar diserap di dalam objek meditasi. Di dalam dhyana tindakan meditasi dan objek meditasi tinggal terpisah. Tetapi di sini mereka menjadi satu. Ini merupakan alat bantu tertinggi untuk merealisasikan penghilangan modifikasi-modifikasi mental yang merupakan tujuannya.



[1] www.ayudara.com
[2] Belajar memahami ajaran agama-agama besar,Arifin , H.M hal 59
[3] Belajar memahami ajaran agama-agama besar,arifin ,hm hal 60
[4] www.justanotherwrdpress.com
[5] www.ayudara.com

Mimamsa



·         Istilah Mimamsa berasal dari kata dasar man berarti ’berfikir’, ‘memperhatikan’, ‘menimbang’, atau ‘menyelidiki’.[i]
·         Secara etimologi ingin berfikir . berarti  pemikiran, pemeriksaan atau penyelidikan, dari teks weda.
·         Purwa mimamsa secara khusus mengkaji bagian veda
·         Purvamimamsa juga disebut karma mimamsa, menafsirkan aksi terlarang dalam weda
·         Pembina sistem Mimamsa adalah Jamini, kitabnya Mimamsa sutra
·         Ada dua aliran dalam Mimamsa, yakni Prabhakara dan Kumarila Bhata
·         Prabhakara mengajarkan lima cara untuk memperoleh pengetahuan dan Kumarila Bhata mengajarkan enam
·         Mimamsa memandang bahwa cara kesaksian (Sabda) ialah yang paling penting dan utama, yakni kesaksian dalam Weda
·         Tujuan Mimamsa adalah untuk mencapai kebahagiaan surgawi, hal itu dapat dilakukan dengan pelaksanaan dharma, yakni upacara kurban
·         Mimamsa menerima semua perbuatan terlarang dalam pustaka Weda, serta membagi menjadi dua bagian, yaitu: Mantra dan Brahmana
·         Pangkal pikiran Mimamsa tercentum dalam sajak pembukaan Mimamsa sutra yang berbunyi; “kini adalah pemeriksaan kewajiban (dharma)”
·         Menurut Jamini, pengetahuan tentang dharma hanya dapat diperoleh melalui penyaksian kata-kata (sabda)
·         Pustaka Mimamsasutra terdiri atas dua belas bab (adhayana). Masing-masing dibagi menjadi empat bagian; sedangkan bab 3, 6, dan 10 berisikan delapan bagian
·         Hanya bab pertama yang mengandung nilai filsafat. Bagian-bagian selanjutnya manjelaskan tafsiran ritual dan upacara-upacara kebaktian
·         Menurut Mimamsa alam itu kekal, tidak dibuat oleh Tuhan, dan ada dengan sendirinya
·         Substansi yaitu: bumi, air, api, hawa, akasa, akal, pribadi, ruang, waktu, ditambah tamas dan suara
·         Substansi, kwalitas, dan sifat umum tidak dapat dipisahkan
·         weda diakui sebagai sumber pengetahuan yang maha sempurna, weda bukan pula ciptaan Tuhan, weda ada dengan sendirinya.


[i] Matius Ali, Filsafat India, Sanggar Luxor ,Karang Mulya: 2010, cet l, h. 89

Wedanta



      1.      Pengertian dan Pokok-Pokok Ajaran Wedanta
pengertian
Wedanta berasal dari kata weda – anta, artinya bagian terakhir dari weda. Kitab Upanisad juga disebut dengan Wedanta, karena kitab-kitab inimewujudkan bagian akhir dari Weda yang bersifat menyimpulkan. Disamping itu ada tiga faktor yang menyebabkan Upanisad disebut dengan Wedanta, yaitu:
a.       Upanisad adalah hasil karya terakhir dari zaman Weda.
b.      Pada zaman Weda program pelajarna yang disampaikan oleh para Rsi kepda sisyanya, Upanisad juga merupakan pelajaran yang terakhir. Para Brahmacari pada mulanya diberikan pelajaran shamhita yakni koleksi syair-syair dari zaman Weda. Kemudian dilanjutkan dengan pelajaran Brahmana yakni tata cara untuk melaksanakan upacara keagamaan, dan terakhir barulah sampai pada filsafat dari Upanisad.
c.       Upanisad merupakan kumpulan syair-syair yang terakhir daripada zaman Weda. Oleh karena itu upanisad adalah inti dari Weda atau Wedanta.
Jadi pengertian Wedanta erat sekali hubungannya dengan upanisad hanya saja kitab-kitab Upanisad tidak memuat urainnan-uraian yang sistematis. Penyusun Upanisad pertama kali dilakukan oleh Badrayana, kira-kira 400 SM. Hasil karyanya disebut Wedanta – sutra.
Pokok-Pokok Ajaran
Filasafat Wedanta bersumber dari  Upanisad, Brahma sutra/ Wedanta-sutra dan Bhagawadgita. Filsafat tentang dunia ini ada yang memberikan ulasan bahwa dunia ini maya (bayangan saja). Dilain pihak menyebutkan dunia ini betul-betul ada, bukan palsu sebab diciptakan oleh Tuhan dari diriNya sendiri. Karena perbedaan pendapat ini dengan sendirinya menimbulkan teka-teki , apakah dunia ini benar-vbenar ada ataukah dunia ini betul-betul maya?
Hal ini menimbulkan penafsiran yang berbeda-beda. Akibat dari penafsiran tersebut menghasilkan aliran-aliran filsafat Wedanta.[i]
Adapun para tokoh filsafat Wedanta yang terkenal adalah Sankara, Ramanuja, dan Madhawa. Masing – masing tokoh mendirikan aliran yang corak ajarannya berbeda antara satu dengan yang lainnya, tetapi memiliki tujuan yang sama. (1) Sankara mendirikan aliran Adwaita; (2) Ramanuja mendirikan aliran Wisistadwaita; (3) Madhawa meandirikan aliran Dwaita. Secara garis besar semua aliran dari Wedanta tersebut terdiri dari aliran yang bersifat absolutistis dan theis.[ii]
2.      Aliran Adwaita dan Pemikiran Tokohnya
Sistem Wedanta yang terkenal dan terbesara adalah Adwaita. Adwaita artinya tidak dualisme. Maksudnya adwaita menangkal bahwa kenyataan ini lebih dari satu (Brahman). Disamping ada Brahman masih ada Atman yang merupakan sumber kekuatan.
Penganjur terbesar dan terbanyak pegaruhnya dari aliran ini adalah Sankara (788-820 M). Sweta Swatara Upanisad (mempertemukan pendapat-pendapat yang bertentangan), menyatakan bahwa asal daripada dunia ini terletak pada kekuatan sulap (maya) daripada Brahman. Dengan demikian Brahman dengan kekuatan MayaNya dapat memperlihatkan segala yang kita lihat ini, sehingga menghalangi pengetahuan kita yang sebenarnya yaitu Brahman dengan keanekaragamannya. Kekuatan Maya dari Brahman dapat menipu diri manusia, antara lain:
a.       Membuat manusia tertipu mengenai dunia yang kita lihat.
b.      Tertipu tentang apa yang sebenarnya Tuhan itu.
Sankara yang mengakui juga Maya itu kekuatan Tuhan, tetapi tidak permanen. Sankara berpendapat bahwa Tuhan tidak mengalami suatu perubahan dan segala yang kita lihat berubah, hanya kelihatannya saja demikian, sebenarnya tidak. Contoh: Perubahan Wiwarta yakni perubahan pandangan terhadap kenyataannya. Sesungguhnya tidak berubah, tapi kelihatannya saja berubah. Seperti merubah ular sebagai tali, melihat awana sebagai orang-orangan, dan lain sebagainya.
Sankara menganggap bahwa perubahan itu hanya lah wiwarta. Tapi keduanya percaya sat – Karya – Wada – (Samkhya)yakni semuanya bersumber dari Brahman.
Menurut Upanisad dunia beserta isinya adalah merupakan evolusi dari Brahman, evolusi paling dikenal adalah bahwa dari Brahman timbul panca Tan Matra – panca Maha Bhuta dari unsur ini timbul benda. Disamping sesuatu yang ada merupakan bagian dari dunia, tapi juga Tuhan sendiri menjadi dunia ini. Sankara tidak setuju bahwa Tuhan itu menciptakan dunia ini (parinama), tapi menyatakan diproyeksikan pada Tuhan (Wiwartawada).
Sankara menyatakanyang ada secara nyata (Sat) adalah kekal. Hanya bRahmana lah yang disebut Sat, artinya hanya Brahmana lah yang kekal. Tapi dunia ini beraneka ragam. Jadi dunia bukanlah sat, dunia ini bukan Brahman. Oleh karena itu harus dikatakan bahwa dunia adalah betul-betul ada dan maya, karena tidak kekal. Demikian pula benda-benda duniawi, sekalipun tidak dapat dikatakan ada secara mutlak, namun kenyataannya memang ada. Tapi benda duniawi tidak kekal selalu berubah sesuai dengan kodratnya.
Dunia ini tergantung pada Brahman. Seandainya Brahman tidak ada, dunia tidaka akan ada. Tapi bukan sebaliknya. Barhman tetap ada dan kekal abadi.


[i] I Geda Rudia Adiputra, dkk, Tattwa Darsana, Jakarta: Yayasan Dharma Sarathi, 1990, h. 67-68
[ii] Bayu Arkeolog Jawa, Intisari Sad Darsana dan Hubungannya dengan ilmu Percandian Dalam Dunia Arkeologi, diakses pada 24 Okt. 12, dari http://bayuarkeologjawa.blogspot.com/2011/11/intisari-sad-darshana-dan-hubungannya.html

Selasa, 27 November 2012

Sad Darsana (Filsafat Nyaya dan Mimamsa)



PENDAHULUAN
Ilmu Filsafat adalah sebuah ilmu yang mempelajari bagaimana caranya mengungkapkan nilai-nilai kebenaran hakiki yang dijadikan landasan untuk hidup yang dicita-citakan. Demikian halnya ilmu filsafat yang ada di dalam ajaran Hindu yang juga disebut dengan Darsana, semuanya berusaha untuk mengungkapkan tentang nilai-nilai kebenaran dengan bersumber pada kitab suci Veda.
Sistem filsafat india terdiri dari dua golongan, yaitu: golongan astika (ortodoks) dan dolongan nastika (heterodoks). Yang termasuk golongan astika ialah golongan yang mengakui kedaulatan weda, sedangkan golongan nastika ialah golongan yang tidak mengakui kedaulatan weda. Adapun yang termasuk golongan astika diantaranya yaitu: nyaya, waisesika, sankhya, yoga, purwa mimamsa, dan uttara mimamsa atau wedanta. Golongan yang termasuk dalam Nastika yaitu: Carvakas, Buddhis, Jaina. Pada topik kali ini akan dibahas mengenai dua dari kelompok astika yaitu, Nyaya dan Mimamsa.

PEMBAHASAN
1.      Nyaya
Nyaya artinya suatu penelitian yang analitis dan kritis. Oleh karena itu sistem Nyaya membicarakan bagian umum filsafat dan metode untuk mengadakan penelitian yang kritis.[1]
Sistem Nyaya muncul akibat adanya perdebatan diantara para ahli pikir dalam usaha mereka mencari kebenaran dari ayat-ayat Weda untuk dijadikan landasan melaksanakan upacara-upacara korban. Dari hal itu timbullah kemudian patokan-patokan bagaimana mengadakan penelitian yang benar dan logis. Atas dasar ini maka Nyaya disebut juga Tarkawada yaitu ilmu berdebat.[2] Atau Vadavidya yaitu pengetahuan tentang diskusi.[3]
Pendiri ajaran ini adalah Mahersi Gautama (Gotami), hidup pada abad ke 4 SM yang mana hasil karya tersebut disebut dengan Nyayasutra yang terdiri atas lima Adhayana (bab) dan dibagi ke dalam lima “pada” atau bagian.[4] Dikatakan pula bahwa  ajaran filsafat Nyaya disebut realistis karena mengakui benda-benda sebagai suatu kenyataan. Ajaran yang realistik ini mendasarkannya pada ilmu logika, sistematis, kronologis dan analitis.[5]
Nyaya memiliki tipe filsafat yang analitis serta menjunjung tinggi akal sehat dan sains. Ciri khas sistem Nyaya adalah penggunaan metode sains, yakni pemeriksaan logis dan kritis. Dalam studi klasik tentang Hinduisme, terdapat lima subjek yakni: sastra (kavya), drama (namaka), retorika (alamkara), logika (tarka) dan tata bahasa (vyakarana). Studi apapun yang kemudian akan diambil oleh si pelajar, ia harus mengambil studi awal tentang logika yang merupakan dasar bagi semua studi lainnya. Setiap sistem filsafat Hindu menerima prinsip dasar logika Nyaya. Jadi sistem Nyaya berfungsi sebagai sebuah pengantar bagi semua filsafat sistematis.
Dalam arti sempit Nyaya berarti penalaran silogistis. Sedangkan dalam arti lebih luas, Nyaya berarti pemeriksaan objek melalui bukti-bukti. Karenanya Nyaya menjadi sebuah sains pembuktian atau pengetahuan yang benar (Pramanashastra). Semua pengetahuan mengimplikasikan empat kondisi: subjek pengenal (pramatr), objek (prameya), kondisi hasil dari pengenalan (pramiti), samrana pengetahuan (pramana). Hakikat pengetahuan, sah atau tidak sahnya tergantung pada unsur ke-empat yaitu pramana. Setiap tindakan kognitif (sah atau tidak sah) melibatkan tiga unsur, yakni: subjek pengenal, isi atau apa yang disadari oleh subjek, dan hubungan antara keduanya, yang dapat dibedakan walaupun tidak dapat dipisahkan. Mimamsa bukan hanya merupakan logika formal semata, tapi juga sebuah epistimologi penuh yang menggabunglkan diskusi tentang psikologi dan logika, metafisika dan teologi.[6]
Sistem Nyaya telah ada sebelum Masehi, tetapi susunan ajarannya yang sistematis terdapat kurang lebih tahun 150 SM. Dilihat dari sejarahnya ada dua mazhab, yaitu Nyaya kuno dan Nyaya baru. Nyaya kuno mengutarakan logika. Sedangkan Nyaya baru membicarakan teori ilmu pengetahuan. Kitab suci utamanya adalah Nyayasutra. ayat pembukaan dari Nyayasutra mengatakan bahwa kebahagiaan mutlak dapat diperoleh dengan pengetahuan mengenai kodrat sejati dari 16 kategori, yakni:
No.

No.

1.
Pramana (Pengetahuan yang benar)
9.
Nirnaya (Pengetahuan tentang kebenaran penentuan)
2.
Prameya (objek pengetahuan)
10.
Vada (Diskusi)
3.
Samsaya (bimbingan)
11.
Jalpa (Perdebatan atau perselisihan)
4.
Prayojana (Maksud)
12.
Vitanda (Pertengkaran tentang hal-hal yang kecil)
5.
Distanta (Contoh yang dikenali)
13.
Hetvabhasa (Buah pikiran yang tidak benar)
6.
Siddhanta (Prinsip ajaran yang tetap)
14.
Chala (Pemutaran Lidah)
7.
Avavava (Anggota-anggota imu logika)
15.
Jati (Tujuan yang sia-sia)
8.
Tatka (Pembantahan)
16.
Nigrasthana (Perselisihan tentang prinsip)


       Ke- 16 topik tersebut dapat digunakan untuk menggali kebenaran. Topik 1-9 berurusan dengan logika, topik 10-16 berfungsi mencegah atau menghapuskan perbuatan kesalahan.[7]
       Nyaya berpangkal pada keyakinan bahwa dunia di luar kita itu berdiri sendiri, lepas daripada pikiran kita. Kita dapat mempunyai pengetahuan tentang dunia  luar kita itu, yaitu dengan perantaraan pikiran kita. Dalam usahanya untuk mengetahui dunia di luarnya, pikiran dibantu (melalui perantara) oleh indera kita. Karena pendirian yang demikian ini maka sistim Nyaya dapat disebut sistim yang realistis. Apakah pengetahuan kita berlaku (benar) atau tidak, hal itu tergantung dari alat-alat yang dipakai untuk mendapatkan pengetahuan tadi. Alat-alat yang dipakai untuk mendapatkan pengetahuan disebut pramana, sedang pengetahuan yang berlaku atau yang benar prama.[8]
Dalam Nyaya ada empat alat atau cara untuk mencari atau mendapatkan pengetahuan yang benar, diantaranya ialah:
1.      Pratyaksa ialah pengamatan langsung melalui panca indera [9]
Alat yang dipakai untuk mengamati sesuatu dibedakan menjadi dua yaitu:
a.       Pengamatan melalui panca indera
b.      Pengamatan yang bersifat transenden atau yang luar biasa
Contoh: seorang Yogi dapat mengetahui sesuatu yang tidak dapat diamati oleh indera orang biasa. Ini disebabkan karena seorang Yogi dapat berhadapan dengan sasaran yang mengatasi indra manusia. Kekuatan seperti itu dimiliknya karena mempunyai menguasai dan menghubungkan prana pada dirinya dengan prana pada makrokosmos.
Disamping alat untuk mengamati, maka proses pengamatan itu dibedakan pula menjadi dua yaitu:
a.       Nirwikalpa yaitu pengamatan yang tidak ditentukan.
Contoh: kita dapat mengamati sesuatu tanpa mengetahui volume, berat, warna dan jenis dari obyek yang diamati.
b.      Sawikalpa yaitu pengamatan yang ditentukan atau dibeda-bedakan.
Contoh: kita mengamati suatu obyek yang menjadikan kita tahu dan mengerti secara betul tentang sasaran (obyek) yang diamati, baik ukurannya, sifatnya, maupun jenisnya. Dengan demikian melalui sawikalpa memungkinkan kita mendapatkan pengetahuan yang benar. Pengetahuan itu dikatakan benar bila keterangan atau sifat yang deinyatakan cocok dengan obyek yang diamati.
Disamping pengamatan terhadap obyek yang nyata maka Nyaya juga mengajarkan bahwa obyek yang tidak ada maupun yang tidak nyata juga dapat diamati.
Contoh: adanya daun yang tidak berwarna hijau, sedangkan umumnya daun berwarna hijau. Jika kita mengamati daun yang tidak berwarna hijau maka kita akan melihat tidak adanya warna hijau.
  Jadi ketidakadaan warna hijau dapat kita amati melalui daun tadi. Ini menunjukkan bahwa tidak ada pun dapat diamati pula.[10]
  Dalam buku Harsa Swabodhi manyatakan bahwa Pratyaksa Pramana itu mengadakan penglihatan atau pengamatan langsung untuk mendapatkan pengetahuan tentang sesuatu (benda/hal):
a. Pengamatan perasaan                      c. Kesadaran diri sendiri
b. Pengamatan jiwa                             d. Intuisi. [11]
2. Anumana ialah pengetahuan yang diperoleh dari suatu objek dengan menarik pengertian dari tanda-tanda yang diperoleh[12]
       Ini merupakan ajaran terpenting diantara empat cara yang diajarkan oleh Nyaya. Pengetahuan yang didapat secara silogisme merupakan sesuatu yang terdapat diantara pengamat dengan obyek yang diamati.
Contoh:
Ø  Di tempat yang jauh dari kita dapat melihat ada asap mengepul, maka dapat kita simpulkan bahwa sebelum asap itu tentu ada sesuatu yang terbakar oleh api. Atau dengan asap kita tahu bahwa di sana juga ada api, karena asap dan api memiliki hubungan yang tidak terpisahkan.
Ø  Secara nyata kita tidak dapat melihat udara maupun oksigen (O2) yang tak dapat dipisahkan dengan kehidupan. Bila kemudian kita melihat makhluk dapat hidup di dalam air seperti tumbuh-tumbuhan atau plankton, maka kita dapat simpulkan bahwa di dalam air itu tentu ada udara atau O2.
             Mendapatkan pengetahuan melalui silogisme tidak dapat dilakukan tanpa bantuan pengetahuan yang lain. Misalnya seperti contoh dia atas, “asap tidak terpisahkan dengan api; hidup tak terpisahkan dengan O². Karena penyimpulan tanpa bantuan pengetahuan lain akan menjadikan pengetahuan yang salah.
Dalam Anumana pramana paling sedikit harus ada tiga syarat, yaitu:
a.       Paksa: Suatu kesimpulan yang ditarik.
b.      Sadhya: objek yang ditarik kesimpulannya.
c.       Lingga: Tnda dan benda yang tidak dapat dipisahkan dengan kesimpulannya termasuk pengetahuan pembantu.[13]
Ada empat saran yang digunakan dalam Anumana, yaitu:
a.  Purvavat, yakni kesimpulan dari sebab kepada akibat, meliputi sebab-sebab materi, formil, dan instrumental.
b. Samanyata, yakni sebab dari alasan-alasan yang masuk akal pada prinsip-prinsip yang abstrak sifatnya.
c. Sevavat, yakni kesimpulan dari suatu sebab yang terdiri atas 5 bagian, yaitu:
1.    Prajijna (dalil), misalnya terdapat api di gunung,
2.    Hetu (sebab), sebab di gunung ada asap
3.    Upanaya, penggunaan atau aplikasi dari logika itu
4.    Nigamana, kesimpulan.[14]
3.      Upamana ialah ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui perbandingan[15]
               Contoh: seseorang yang tidak tahu dengan binatang singa. Dari seorang zoolog dia mendapatkan keterangan bahwa singa itu bentuknya menyerupai anjing, namun muka dan kepalanya kelihatan lebih garang. Pada suatu ketika orang yang mendapat keterangan tentang nama (sebutan) singa itu berjumpa dengan binatang serupa anjing di kebun binatang. Maka dia dapat membandingkan keterangna yang dia terima dengan membandingkan keterangan yang dia terima dengan binatang yang dilihatnya serta dapat meyakini bahwa binatang tersebut adalah singa.[16]
Contoh: Meja dan bangku dibuat oleh Tukang kayu, adanya meja dan bangku disebabkan adanya tukang kayu. Alam semesta ada, tentu ada yang mengadakannya, yaitu Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa.[17]
4.      Sabda ialah ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan mendengarkan atau melalui penjelasan dari sumber-sumber yang patut dipercaya (kesaksian)[18].
Sabda pramana dapat dibedakan atas dua hal yaitu:
a.       Kesaksian yang diberikan oleh orang yang dapat dipercaya karena keluhuran dan ketinggian budinya, yang dinyatakan di dalam kata-katanya yang disebut pula laukita.
b.      Kesaksian atau kebenaran weda (waidika). Nyaya memandang dan meyakini bahwa weda merupakan wahyu Tuhan, maka kesaksian kitab weda dipandang sebagai kesaksian yang sempurna serta tidak dapat dibantah kebenarannya (weda merupakan kebenaran yang mutlak)[19]
Dalam sumber lain, Penulis juga menemukan hierarki mengenai catur pramana, sebagai berikut:[20]



Catur Pramana
|
terdiri dari
|
———————————————————————————————
|

|

|

|


|

|

|

|
dengan persepsi berupa

Menggunakan

dapat berupa

dari sumber
|

|

|

|
——————–

————

————————

————–
|

|

|

|

|

|

|

|

Laukika


Alaukika
 


Silogisme



Analogi
 


Model
 


Simbol
 


Laukika



Wahyu
 
A.    Tuhan dalam filsafat Nyaya
     Karena Nyaya meyakini kebenaran weda, maka penganut Nyaya (Naiyayika) percaya akan adanya Tuhan dan Tuhan disamakan dengan siwa.[21]
     Menurut Nyaya Tuhan adalah penyebab tertinggi penciptaan, pemeliharaan, dan peleburan dunia. Ia tidak menciptakan dunia dari ketiadaan, tetapi dari atom-atom eternal; ruang, waktu, ether, pikiran, jiwa-jiwa. Penciptaan dunia berarti penataan entitas-entitas eternal yang koeksis dengan Tuhan menjadi dua motral, dimana roh-roh individu menikmati dan menderita menurut perbuatan baik dan perbuatan buruk, dan semua benda fisik melayani sebagai sarana tujuan moral dan spiritual kehidupan kita, Tuhan dengan demikian adalah pencipta dunia dan bukan penyebab materialnya. Ia juga sebagai pemelihara dunia sepanjang dunia dijaga dalam eksistensi oleh keinginan Tuhan. Ia juga sebagai pelebur yang mengijinkan kekuatan destruksi beroperasi ketika tatanan dunia moral menghendakinya kemudian Tuhan satu tak terbatas dan eternal karena dunia ruang dan waktu, pikiran dan jiwa-jiwa tidak membatasinya tetapi ia dihubungkan dengan Dia. Sebagai tubuh dan roh yang bersemayam didalamnya ia maha kuasa walaupun ia dipandu didalam aktifitas perbuatan buruk. Ia maha tahu sepanjang ia mempunyai pengetahuan benar tentang semua benda dan peristiwa. Ia mempunyai kesadaran eternal sebagai kekuatan kognisi langsung dan teguh semua objek. Kesadaran eternal hanyalah atribut Tuhan yang tidak dapat dipisahkan, bukan esensinya seperti dianut oleh Vedanta. Ia memiliki kesempurnaan (sadisvarya) dan magis, maha agung, megah, indah, tak terbatas, mempunyai pengetahuan tak terbatas dan kebebasan dan sempurna dari kemelekatan.
     Tuhan sebagai penyebab efisien dunia, demikian juga Tuhan merupakan penyebab direktif tindakan-tindakan semua makhluk hidup di dunia ini yang bebas dari kerja, ia secara relatif bebas, yaitu tindakan-tindakan yang dilakukan oleh dia dibawah direksi dan arahan Tuhan. Seperti halnya dengan seorang ayah yang arif dan pemurah mengarahkan anak-anaknya mengerjakan suatu aktifitas, menurut hadiah-hadiah, kapasitas, dan pencapaiannya sebelumnya. Jadi demikian juga Tuhan mengarahkan semua makhluk hidup melakukan tindakan-tindakan. Sementara manusia adalah penyebab instrumental efisien (prayojaga karta). Jadi Tuhan adalah pengatur moral dunia beserta semua makhluk hidup, sementara buah-buah perbuatan dan yang tertinggi dari kenikmatan dan penderitaan kita.[22]
     Untuk membuktikan adanya Tuhan Nyaya mengemukakan dua macam pembuktian tentang Tuhan yaitu:
Bukti Kosmologi
     Pembuktian ini menyatakan bahwa dunia ini adalah akibat dari suatu sebab. Oleh karena itu tentu ada sebab yang pertama dan utama. Sebab itulah Tuhan. Tidak ada sebab pertama kecuali Tuhan karena segala sesuatu yang diketahui oleh manusia memiliki kemampuan yang terbatas selain Tuhan. Tidak ada sesuatu  sebagai penciptanya sendiri kecuali Tuhan.
Pembuktian Teleologis
     Pembuktian ini menyatakan bahwa di dunia ini ada suatu tata tertib dan aturan tertentu sehingga dunia ini menampakkan suatu rencana yang berdasarkan pemikiran dan tujuan tertentu. Tentu ada yang mengadakan rencana dan tujuan tersebut. Yang mengadakan itulah Tuhan.
     Tuhan disebut juga Paratman karena Tuhan termasuk golongan jiwa tertinggi yang yang bersifat kekal abadi, berada di mana-mana, memenuhi alam dan merupakan kesadaran agung. Tuhan sebagai penggerak pertama dan utama dari atom-atom yang menjadikan benda-benda di alam ini. Tuhan menciptakan, merawat, melebur alam dan segala isinya dengan pengaruh karma dari alam dan isinya. Tuhan pula menjadi pengatur dan mengodratkan hukum pada alam semesta sehingga berlakunya hukum alam (rta) yang mengatur alam dengan segala isinya secara teratur dan harmonis. Dalam kekuasaan inilah makhluk hidup menikmati suka duka dalam usaha menuju kelepasan.
     Penciptaan alam ini adalah untuk kebahagiaan semua makhluk. Dunia yang diciptakan ini lengkap dengan derita dan kebahagiaan dalam bentuk yang beraneka ragam. Dapat atau tidaknya makhluk menikmati kebahagiaan di dunia ini sangat tergantung dari benar tidaknya pengetahuan yang dimiliki oleh makhluk itu untuk melandasi hidupnya.[23]
B.  Alam dalam filsafat Nyaya
     Dalam kitab Regweda terdapat nyanyian yang mengisahkan asal mula alam semesta. Nyanyian tersebut disebut Nasadiyasukta dan terdiri dari tujuh bait sebagai berikut:
Pada mulanya tidak ada sesuatu yang ada namun tidak ada sesuatu yang tidak ada. Tidak ada udara, tidak ada langit pula. Apakah yang menutupi itu, dan mana itu? Airkah di sana? Air yang tak terduga dalamnya?
Waktu itu tidak ada kematian, tidak pula ada kehidupan. Tidak ada yang menandakan siang dan malam. Yang Esa bernapas tanpa napas menurut kekuatannya sendiri. Di luar daripada Ia tidak ada apapun.
Pada mulanya kegelapan ditutupi oleh kegelapan itu sendiri. Semua yang ada ini adalah sesuatu yang tak terbatas dan tak dapat dibedakan, yang ada pada waktu itu adalah kekosongan dan yang tanpa bentuk. Dengan tenaga panas yang luar biasa lahirlah kesatuan yang kosong.
Pada mulanya kegelapan ditutupi oleh kegelapan itu sendiri. Semua yang ada ini adalah sesuatu yang tak terbatas dan tak dapat dibedakan, yang ada pada waktu itu adalah kekosongan dan yang tanpa bentuk. Dengan tenaga panas yang luar biasa lahirlah kesatuan yang kosong Sinarnya terentang keluar. Apakah ia melintang? Apakah ia di bawah atau di atas? Beberapa menjadi pencurah benih, yang lain amat hebat. Makanan adalah benih rendah, pemakan adalah benih unggul.
Siapakah yang sungguh-sungguh mengetahui? Siapakah di dunia ini yang dapat menerangkannya? Dari manakah kejadian itu, dan dari manakah timbulnya? Para Dewa ada setelah kejadian itu. Lalu, siapakah yang tahu, darimana ia muncul?
Dia, yang merupakan awal pertama dari kejadian itu, dari-Nya kejadian itu muncul atau mungkin tidak. Dia yang mengawasi dunia dari surga tertinggi, sangat mengetahuinya atau mungkin juga tidak.
     Kosmologi Hindu merupakan pengetahuan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan alam semesta menurut filsafat Hindu. Dalam ajaran kosmologi Hindu, alam semesta dibangun dari lima unsur, yakni: tanah (zat padat), air (zat cair), udara (zat gas), api (plasma), dan ether. Kelima unsur tersebut disebut Pancamahabhuta atau lima unsur materi.
     Menurut kepercayaan Hindu, alam semesta terbentuk secara bertahap dan berevolusi. Penciptaan alam semesta dalam kitab Upanisad diuraikan seperti laba-laba memintal benangnya tahap demi tahap, demikian pula Brahman menciptakan alam semesta tahap demi tahap. Brahman menciptakan alam semesta dengan tapa. Dengan tapa itu, Brahman memancarkan panas. Setelah menciptakan, Brahman menyatu ke dalam ciptaannya.
     Menurut kitab purana pada awal proses penciptaan, terbentuklah Brahmana. Pada awal proses penciptaan juga terbentuk purusa dan Prakerti. Kedua kekuatan ini bertemu sehingga terciptalah alam semesta. Tahap ini terjadi berangsur-angsur, tidak sekaligus. Mula-mula yang muncul adalah Citta (alam pikiran), yang sudah mulai dipengaruhi oleh Triguna, yaitu Sattwam, Rajas dan Tamas. Tahap selanjutnya adalah terbentuknya Triantahkarana, yang terdiri dari Buddhi (naluri); Manah (akal pikiran); Ahamkara (rasa keakuan). Selanjutnya, muncullah Pancabuddhindria dan Pancakarmendria, yang disebut pula Dasendria (sepuluh indria).
     Setelah timbulnya Pancabuddhindria dan Pancakarmendria, maka sepuluh indria tersebut berevolusi menjadi Pancatanmatra, yaitu lima benih unsur alam semesta yang sangat halus, tidak berukuran. Lima benih tersebut dijelaskan sebagai berikut:
1. Sabdatanmatra (benih suara)
2. Rupatanmatra (benih penglihatan)
3. Rasatanmatra (benih perasa)
4. Gandhatanmatra (benih penciuman)
5. parsatanmatra (benih peraba)
     Pancatanmatra merupakan benih saja. Pancatanmatra berevolusi menjadi unsur-unsur benda materi yang nyata. Unsur-unsur tersebut dinamai Pancamahabhuta, atau Lima Unsur Zat Alam. Kelima unsur tersebut yaitu:
.Akasa(ether), Bayu (zatgas, udara), Teja (plasma, api, kalor), Apah  (zat cair),  Pertiwi  (zat padat,tanah, logam)
     Pancamahabhuta berbentuk Paramānu, atau benih yang lebih halus daripada atom. Pada saat penciptaan, Pancamahabhuta bergerak dan mulai menyusun alam semesta dan mengisi kehampaan. Setiap planet dan benda langit tersusun dari kelima unsur tersebut, namun kadangkala ada salah satu unsur yang mendominasi. Unsur Teja mendominasi matahari, sedangkan bumi didominasi Pertiwi dan Apah.[24]
C.  Kelepasan dalam filsafat Nyaya
  Kelepasan akan dapat dicapai dengan melalui pengetahuan yang benar dan sempurna. Sebagai wujud dari kelepasan ialah terbebasnya jiwatma dari kelahiran kesenangan maupun penderitaan.
  Agar kelahiran dan derita terhenti maka hendaklah aktifitas (kerja) dihentikan sehingga terwujudlah kelepasan yaitu suatu keadaan yang tidak terikat akan karma ataupun phala karma. Untuk menghentikan aktifitas maka orang (makhluk) harus melandasi hidupnya dengan pengetahuan kebenaran sejati sehingga dengan pengetahuan itu orang akan bebas dari ketidaktahuan yang menyebabkan orang menjadi sadar dan bebas dari keinginan, kesalahan dan penyelewengan. Dengan demikian jiwatma akan bebas dari keterlibatan derita tercapailah kelepasan.[25]
2.      Mimamsa
      Sistem Mimamsa digolongkan dalam bagian ketiga dari filsafat Hindu. Istilah Mimamsa berasal dari kata dasar man berarti ’berfikir’, ‘memperhatikan’, ‘menimbang’, atau ‘menyelidiki’. Ditinjau dari segi etimologi ingin berfikir : disini menandakan suatu pemikiran, pemeriksaan atau penyelidikan, dari teks weda. Ia melengkapi pandangan pada weda (kebenaran abadi).[26] Dalam sumber lain yang ditulis oleh Matius Ali, secara etimologis kata Mimamsa berarti ‘bertanya’ atau ‘penyelidikan’.[27]
      Mimamsa dibagi menjadi dua sistem, yakni purwamimamsa dan uttaramimamsa. Kata purna berarti lebih dahulu, maka purwamimamsa artinya yang berurusan dengan bagian lebih dahulu dari pustaka weda. Demikian pula kata uttara berarti yang kemudian  jadi uttaramimamsa berurusan dengan bagian akhir dari pustaka weda. Kedua sistem tersebut mempergunakan metode logika yang sama untuk menghadapi persoalan; tetapi memakai lingkungan tafsiran masing-masing. Purvamimamsa juga disebut karma mimamsa, menafsirkan aksi terlarang dalam weda, memimpin ke jurusan kebebasan roh/soul.[28] Dengan kata lain Mimamsa disebut Karma Mimamsa karena dalam prakteknya sangat menekankan karma yaitu pelaksanaaan upacara agama untuk mencapai tujuan.[29] Uttara mimamsa, juga disebut Jnana mimamsa menafsirkan pengetahuan yang dikemukakan dalam pustaka weda, demi pembebasan roh/soul.[30]
      Purwa mimamsa secara khusus mengkaji bagian Weda, yakni kitab-kitab Brahmana dan kalpasutra, sedang bagian yang lain (aranyaka dan upanisad) dibahas oleh Uttara Mimamsa yang dikenal pula dengan nama Vedanta. Purwa mimamsa sering juga disebut Karma mimamsa, sedang Uttara Mimamsa disebut juga Jnana Mimamsa.[31]
      Dalam buku yang ditulis oleh Matius Ali disebutkan bahwa Mimamsa yang bagian pertama dari filsafat ini adalah Purva Mimamsa, sedangkan bagian kedua disebut Uttara Mimamsa. Untuk menghindarkan kebingungan, maka Purva Mimamsa disebut dengan Mimamsa, sedangkan Uttara Mimamsa disebut dengan Vedanta.[32]
      Pembina sistem Mimamsa adalah Jamini yang hidup antara abad 3-2 SM. Ajarannya tercantum dalam kitab Mimamsa sutra. Di suatu tempat antara tahun 200-450 M penemuan-penemuan yang rasional dan definitif itu didokumentasikan dalam Purvamimamsa sutra.[33] Pada zaman berikutnya ajaran Mimamsa dikomentari oleh pengikutnya, yakni Sabaraswamin pada abad ke 4 M, Prabhakara pada tahun 650, dan Kumarila Bhata tahun 700. Oleh karena itu terjadilah dua aliran dalam Mimamsa, yakni Prabhakara dan Kumarila Bhata.
      Prabhakara mengajarkan lima cara untuk memperoleh pengetahuan dan Kumarila Bhata mengajarkan enam cara yang mana lima diantaranya sama dengan ajaran Prabhakara. Cara-cara tersebut adalah:
a.      Pengamatan (Pratyaksa)
b.      Penyimpulan (Anumana)
c.      Kesaksian (Sabda)
d.     Pembandingan (Upamana)
e.      Persangkaan (Arthapatti)
Bila empat cara pertama tidak dapat dipakai maka dipakailah cara ini. Misalnya: bila terlihat seseorang dalam keadaan senyum dan mukanya berseri-seri maka dapat diduga bahwa orang tersebut sukses dalam usahanya.
f.       Ketiadaan (Anupalabdhi)
Ialah cara yang diajarkan oleh Kumarila Bhata. Dapat diterangkan dengan contoh.
Misalnya: bila seseorang masuk ke dalam kamar dan mengamat-amati sekeliling kamar dan mengatakan tidak ada jenis meja di dalam kamar. Dia tidak melihat meja karena memang tidak ada meja. Maka orang menjadi tahu keadaan kamar dan ketidakadaan meja karena tidak mengamati sesuatu.
      Mimamsa memandang bahwa cara kesaksian (Sabda) ialah yang paling penting dan utama, yakni kesaksian dalam Weda. Weda adalah kebenaran yang tertinggi dan sebagai sumber pengetahuan yang sempurna. [34]
      Mimamsa tidak mengenal Tuhan, yakni ada kosmis yang memberikan hukuman atau hadiah pada tindakan individual (karma) yang dilakukan jiwa individual. Filsafat mimamsa tidak banyak memberikan perhatian pada kosmologi. Namun, mimamsa menyebutkan ke enam kategori unsur, yakni: tanah, air, api, udara, eter, dan suara (sabda). Menurut Mimamsa setiap kategori unsur disebabkan oleh unsur sebelumnya. Air menyebabkan tanah; api mkenyebabkan air, dst. Karena itu suara adalah satu-satunya penyebab terjadinya penciptaan dan bersifat abadi. Semua kategori lain dengan komposisi atomisnya adalah bersifat sementara.
     Filsafat Mimamsa adalah sebuah disiplin esoteris. Tujuannya adalah untuk mencapai kebahagiaan surgawi dengan merealisasikan suara kosmis (Sabda Brahman). Upacara kurban dianggap sebagai sarana untuk mencapai tujuan tersebut. Di sini, tafsir esoteris kata yajna adalah ‘mengendalikan indera dan pikiran’. Pengendalian ini dicapai dengan pengendalian energi hidup’ (prana) melalui pengendalian napas (pranayama). Syarat penting lainnya dalam praktek upacara kurban adalah melepaskan milik pribadi serta ‘disiplin diri’ (yama) melalui sumpah yang keras.[35]
     Namun disebutkan dalam buku Tattwa Darsana bahwa tujuan pokok dari Mimamsa adalah menyusun aturan dan tehnik untuk menerangkan ajaran Weda terutama tentang pelaksanaan dharma.[36] –istilah dharma berasal dari kata dhar artinya memegang, menunjang, memelihara atau mengawetkan. Berarti sesuatu untuk dipegang, dipeliihara, atau diawetkan. Apabila dipakai dalam arti metafisika berarti hukum.[37]— yang dimaksud dharma (hukum) disini adalah upacara-upacara keagamaan yang bersumber pada Weda. Mimamsa sangat mengutamakan kesusilaan. Kebersihan dalam kesusilaan merupakan syarat mutlak dalam pelaksanaan upacara karena kebersihan itu dapat menyebabkan berhasilnya upacara korban dan dapat memberikan phala yang diharapkan.[38] –phala dapat diartikan dengan buah atau hasil[39]--
     Dharma yang dilakukan sekarang dengan hasilnya diterangkan dalam ajaran apurwa (tenaga yang tidak tampak). Dalam ajaran ini dinyatakan bahwa dharma atau korban dapat melahirkan tenaga (daya/kekuatan) dalam jiwa. Tenaga berhubungan dengan buahnya sampai buahnya masak. Jadi tenaga menjadi jembatan antara dhaema dengan buahnya sehingga buah dapat dipetik.[40]
     Dasar utama dharma adalah perbuatan (aksi) yang merupakan wujud kehidupan manusia. Maka perbuatan berfungsi sebagai kendaraan untuk menanamkan benih kehidupan pada masa yang akan datang. Berdasarkan pendapat tersebut sebagai pangkal pembicaraan itu, Mimamsa menerima semua perbuatan terlarang dalam pustaka Weda, serta membagi menjadi dua bagian, yaitu: Mantra dan Brahmana.[41] Yang mana dibagi menjadi berikut:
1. Mantra atau Samhita. Ini adalah sebagian Weda yang mengandung perintah, merupakan koleksi dari nyanyian yang menerangkan dan membina seseorang yang benar. Ini dibagi pula menjadi:
Ø Rigveda: koleksi dari bagian yang mengandung perintah Weda, merupakan koleksi sajak-sajak suci yang bersusunan metris untuk menyampaikan ajaranya
Ø Sama Weda: suatu koleksi dar sajak-sajak yang dinyanyikan pada akhir upacara korban
Ø Yajur Weda: dalam bentuk prosa tanpa irama. Sajak ini terdiri dua jenis: nigada (yang harus dilafalkan dengan keras), dan Upamsu (yang harus dilafalkan dengan suara rendah atau diam-diam).
2.       Brahmana
No.

No.

1
Hetu-akal budi
6
Vidhi-Perintah
2
Nirvacanam-Penjelsan
7
Parakirya-Perbuatan suatu individu
3
Ninda-Gugatan; Kritik
8
Purakalpa-perbuatan para individu atau suatu negara atau para individu yang ditandakan dengan partikel ‘iti’, ‘aha’, atau ‘ha’
4
Prasansa-Pujian
9
Vyavadharanakalpana-interpretasi suatu kalimat menurut konteksnya
5
Samsaya-Kesangsian
10
Upamana-perbandinga




prinsip-prinsip yang di ikhtisarkan di atas dipakai dalam Mimamsasutra, terutama dalam upacara korban yang diperintahkan untuk kebaikan umat manusia.[42]
Pangkal pikiran Mimamsa tercentum dalam sajak pembukaan Mimamsa sutra yang berbunyi; “kini adalah pemeriksaan kewajiban (dharma)”. Inilah dasar untuk ingterpretasi seluruh Weda. [43]
Menurut Jamini, pengetahuan tentang dharma hanya dapat diperoleh melalui penyaksian kata-kata (sabda). Ke-enam sarana pengetahuan yang dipakai sistim-sistim lain, menurut Jamini kurang sempurna apabila berurutan dengan pengaruh/ efek rituil yang tidak kelihatan. Maka ia hanya menerima sabda atau perkataan. Untuk mempertahankan kedudukannya (argumentasinya), ia menggariskan lima pernyataan:
1.    Setiap perkataan (sabda) mempunyai daya yang kekal abadi
2.    Pengetahuan yang diturunkan dari perkataan (sabda) disebut upadeca (ajaran)
3.    Dalam alam yang tak kelihatan, perkataan (sabda) merupakan penuntun mutlak
4.    Pada hemat Badarayana, perbuatan bersifat penguasa memerintah.
5.    Perkataan mencukupi keperluan pribadi, tidak tergantung pada pengertian yang lain, jika tidak demikian ia akan menjadi buah pikiran yang tak benar.
  Metode tafsiran teks Weda yang dipakai Jamini merupakan ikhtisar istilah-istilah yang digunakan serampangan dalam teksnya. Untuk keperluan tersebut, isi Weda dibaginya menjadi lima bagian:
1.    Amanat/ perintah (Vidhi)
2.    Nyanyian/Puji-pujian (mantra)
3.    Nama khusus (Namadheya)
4.    Larangan (Nasedha)
5.    Ayat-ayat penjelasan (Arthavada).[44]
     Pustaka Mimamsa sutra terdiri atas dua belas bab (adhayana). Masing-masing dibagi menjadi empat bagian; sedangkan bab 3, 6, dan 10 berisikan delapan bagian. Jadi seluruhnya berjumlah enampuluh bagian. Tiap bagian dibagi pula menjadi seksi-seksi (adhikarana) dan tiap seksi dibentuk dalam bentuk seloka (bentuk kalimat ringkas). Tiap seksi (adhikarana) mempunyai lima bagian:
1.    Tesis/ Sasterakanta (Visaya)
2.    Kesangsian (samsaya)
3.    Antitese/pertentangan (purvapaksa)
4.    Konklusi benar/sintesis (siddhanta)
5.    Persetujuan/ketetapan hati (sampati)
Hanya bab pertama yang mengandung nilai filsafat. Bagian-bagian selanjutnya manjelaskan tafsiran ritual dan upacara-upacara kebaktian.
Dapat disimpulkan, menurut sistim Mimamsa segala yang ada di dunia ini merupakan komposisi dari benda-benda yang sesuai dengan karmanya atau kerjanya; karma ialah suatu moral atau tata susila yang menentukan kebebasan jiwa setiap umat daripada kelahiran kembali, maka harus melakukan ritual atau kebaktian dengan saran yang benar guna mendapatkan hasilnya.[45]
A.    Alam dalam filsafat Mimamsa
  Mimasa mengatakan bahwa alam ini riil dan kekal serta terjadi dari atom-atom yang kekal pula. Alam ini tidak dibuat oleh Tuhan karena alam ini ada dengan sendirinya. Kedua aliran mimasa baik phrabakara maupun kumarila bhata sama-sama mengajarkan adanya empat unsur di alam ini yaitu: substansi, kualitas, aktifitas dan sifat umum.
Substansi menurut Prabhakara terdiri dari sembilan (9), yaitu: bumi, air, api, hawa, akasa, akal, pribadi, ruang, waktu. Sedang substansi menurut Kumarita Bhata mengajarkan ada sebelas (11) yaitu sembilan sama dengan Prabhakara dan ditambah dua yaitu kegelapan (tamasa) dan suara.
Substansi itu adalah sesuatu yang dapat diamati karena terdiri dari atom-atom yang dapat diamati seperti debu halus yang tampak dalam sinar matahari. Substansi, kwalitas dan sifat umum sesungguhnya tidak dapat dipisahkan dan dibedakan secara mutlak walaupun ketiganya itu sebenarnya berbeda karena ketiga-tiganya mewujudkan satu kesatuan yang bulat.
Contoh: daun itu hijau dan berfungsi sebagai alat fotosintesis. Daun dengan warna hijaunya dan sifat umumnya tidak dapat dipisahkan secara mutlak dan ketiganya itu mewujudkan satu kesatuan yang bulat sehingga menampakkan suatu benda.[46]
B.Weda dalam filsafat Mimamsa
  Mimamsa mendasarkan ajarannya pada kitab suci weda dan weda diakui sebagai sumber pengetahuan yang maha sempurna. Weda itu bukan hasil karya manusia karena weda itu amat sempurna sedangkan manusia tidak sempurna adanya. Walaupun demikan weda bukan pula ciptaan Tuhan karena weda telah ada tanpa ada yang mengadakan dan weda ada dengan sendirinya serta bersifat kekal abadi. Kebenaran weda mencakup kebenaran di dunia yang nyata ini dan di dunia yang tidak tampak oleh manusia.[47]
       Dalam filsafat Mimamsa, liturgi Weda dijelaskan melalui sejumlah besar data yang disampaikan dalam 900 judul terpisah, yang disebut adhikarama. Setiap judul mengandung argumen lengkap mengenai subjek tertentu. Judul terdiri atas lima bagian, yakni: topik masalah (vaisyaya), keraguan (samasya), argumen awal mengankat keraguan (purva-paksha), argumen berlawanan yang mencoba membantah argument awal (uttarapaksha), dan kesimpulan (nirnaya). Dengan cara ini, Mimamsa merumuskan secara canggih pola-pola liturgy ortodoks kitab Weda.[48]

PENUTUP
Kesimpulan
A.    Nyaya
·         Nyaya membicarakan bagian umum filsafat dan metode untuk mengadakan penelitian yang kritis
·         Pendiri ajaran ini adalah Mahersi Gautama (Gotami), kitabnya yaitu Nyayasutra
·         Nyaya memiliki tipe filsafat yang analitis serta menjunjung tinggi akal sehat dan sains. Ciri khas sistem Nyaya adalah penggunaan metode sebagai sains, yakni pemeriksaan logis dan kritis
·         Dalam arti sempit Nyaya berarti penalaran silogostis. Sedangkan dalam arti lebih luas, Nyaya berarti pemeriksaan objek melalui bukti-bukti. Karenanya Nyaya menjadi sebuah sains pembuktian atau pengetahuan nyang benar (Pramanashastra).
·         Untuk mengetahui dunia di luar manusia, pikiran dibantu (melalui perantara) oleh indera
·         pengetahuan kita berlaku (benar) atau tidak, hal itu tergantung dari alat-alat yang dipakai.
·         Alat-alat yang dipakai untuk mendapatkan pengetahuan disebut pramana
·         empat alat atau cara untuk mencari atau mendapatkan pengetahuan yang benar, diantaranya: Pratyaksa, Anumana, Upamana, Sabda.
·         Tuhan disamakan dengan siwa.
·         Menurut Nyaya Tuhan adalah penyebab tertinggi penciptaan, pemeliharaan, dan peleburan dunia
·         Ada dua macam pembuktian tentang Tuhan: Komologi, yaitu Pembuktian ini menyatakan bahwa dunia ini adalah akibat dari suatu sebab. Sebab itulah Tuhan; dan teleologis, yaitu di dunia ini ada suatu tata tertib dan aturan tertentu sehingga dunia ini menampakkan suatu rencana yaitu Tuhan
·         Tuhan sebagai penggerak pertama dan utama dari atom-atom yang menjadikan benda-benda di alam ini. Tuhan menciptakan, merawat, melebur alam dan segala isinya dengan pengaruh karma dari alam dan isinya.
·         Dunia yang diciptakan ini lengkap dengan derita dan kebahagiaan dalam bentuk yang beraneka ragam, dapat atau tidaknya makhluk menikmati kebahagiaan di dunia ini sangat tergantung dari benar tidaknya pengetahuan yang dimiliki oleh makhluk
·         Dalam ajaran kosmologi Hindu, alam semesta dibangun dari lima unsur, yakni: tanah (zat padat), air (zat cair), udara (zat gas), api (plasma), dan ether. Kelima unsur tersebut disebut Pancamahabhuta atau lima unsur materi.
·         alam semesta terbentuk secara bertahap dan berevolusi
·         Pada awal proses penciptaan juga terbentuk purusa dan Prakerti
·         Kedua kekuatan ini bertemu sehingga terciptalah alam semesta
·         Mula-mula yang muncul adalah Citta (alam pikiran), yang sudah mulai dipengaruhi oleh Triguna, yaitu Sattwam, Rajas dan Tamas. Tahap selanjutnya adalah terbentuknya Triantahkarana, yang terdiri dari Buddhi (naluri); Manah (akal pikiran); Ahamkara (rasa keakuan). Selanjutnya, muncullah Pancabuddhindria dan Pancakarmendria, yang disebut pula Dasendria (sepuluh indria).
·         Setelah timbulnya Pancabuddhindria dan Pancakarmendria, maka sepuluh indria tersebut berevolusi menjadi Pancatanmatra, yaitu lima benih unsur alam semesta
·         Pancatanmatra berevolusi menjadi unsur-unsur benda materi yang nyata. Unsur-unsur tersebut dinamai Pancamahabhuta, atau Lima Unsur Zat Alam
·         Pada saat penciptaan, Pancamahabhuta bergerak dan mulai menyusun alam semesta dan mengisi kehampaan
·         Kelepasan akan dapat dicapai dengan melalui pengetahuan yang benar dan sempurna
·         Agar kelahiran dan derita terhenti maka hendaklah aktifitas (kerja) dihentikan, Untuk menghentikan aktifitas maka orang (makhluk) harus melandasi hidupnya dengan pengetahuan kebenaran sejati sehingga dengan pengetahuan itu orang akan bebas dari ketidaktahuan dan bebas dari keinginan, kesalahan dan penyelewengan
·         Dengan demikian jiwatma akan bebas dari keterlibatan derita tercapailah kelepasan
B.     Mimamsa
·         Istilah Mimamsa berasal dari kata dasar man berarti ’berfikir’, ‘memperhatikan’, ‘menimbang’, atau ‘menyelidiki’.
·         Secara etimologi ingin berfikir . berarti  pemikiran, pemeriksaan atau penyelidikan, dari teks weda
·         Purwa mimamsa secara khusus mengkaji bagian veda
·         Purvamimamsa juga disebut karma mimamsa, menafsirkan aksi terlarang dalam weda
·         Pembina sistem Mimamsa adalah Jamini, kitabnya Mimamsa sutra
·         Ada dua aliran dalam Mimamsa, yakni Prabhakara dan Kumarila Bhata
·         rabhakara mengajarkan lima cara untuk memperoleh pengetahuan dan Kumarila Bhata mengajarkan enam
·         Mimamsa memandang bahwa cara kesaksian (Sabda) ialah yang paling penting dan utama, yakni kesaksian dalam Weda
·         Tujuan Mimamsa adalah untuk mencapai kebahagiaan surgawi, hal itu dapat dilakukan dengan pelaksanaan dharma, yakni upacara kurban
·         Mimamsa menerima semua perbuatan terlarang dalam pustaka Weda, serta membagi menjadi dua bagian, yaitu: Mantra dan Brahmana
·         Pangkal pikiran Mimamsa tercentum dalam sajak pembukaan Mimamsa sutra yang berbunyi; “kini adalah pemeriksaan kewajiban (dharma)”
·         Menurut Jamini, pengetahuan tentang dharma hanya dapat diperoleh melalui penyaksian kata-kata (sabda)
·         Pustaka Mimamsasutra terdiri atas dua belas bab (adhayana). Masing-masing dibagi menjadi empat bagian; sedangkan bab 3, 6, dan 10 berisikan delapan bagian
·         Hanya bab pertama yang mengandung nilai filsafat. Bagian-bagian selanjutnya manjelaskan tafsiran ritual dan upacara-upacara kebaktian
·         Menurut Mimamsa alam itu kekal, tidak dibuat ileh Yuhan, dan ada dengan sendirinya
·         Substansi yaitu: bumi, air, api, hawa, akasa, akal, pribadi, ruang, waktu, ditambah tamas dan suara
·         Substansi, kwalitas, dan sifat umum tidak dapat dipisahkan
·         weda diakui sebagai sumber pengetahuan yang maha sempurna, weda bukan pula ciptaan Tuhan, weda ada dengan sendirinya.

DAFTAR PUSTAKA
·         Admin, Pratyaksa, diakses pada 13 November 2012, dari  http://informatika.undiksha.ac.id/sklb/?p=188
·         Djam’annuri,Agama Kita perspektif Sejarah Agama-Agama, Penerbit Kurnia Kalam Semesta, Jakarta:2009
·         Harsa Swabodhi, opamana-pramana Budha Dharna dan Hindu Dharma, Medan:Yayasan Perguruan Budaya & Budaya, 1980
·         Harun Hadiwijono, Sari Filsafat India, PT. BPK Gunung Mulia, Jakarta:1989
·         Heinrich Zimmer, Sejarah Filsafat India, Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, cet. I, 2003
·         I Gede Rudia Adiputra dkk, Tattwa Darsana, Yayasan Dharma Sarathi, Jakarta:1990
·         I Made Titib, Pengantar Weda, Hanuman Sakti, Jakarta: 1996
·         Matius Ali, Filsafat India, Sanggar Luxor, Karang Mulya: 2010, cet l
·         Teja Surya, filsafat Nyaya diakses pada 12 September 2012,  http://www.tejasurya.com/artikel-spiritual/filsafat/87.html
·         Wikipedia, kosmologi Hindu, diakses pada 19 September 2012, dari http://id.wikipedia.org/wiki/Kosmologi_Hindu
·         Wikipedia, Agama Hindu, diakses pada 15 November 2012, dari http://id.wikipedia.org/wiki/Agama_Hindu



[1] Harun Hadiwijono, Sari Filsafat India, Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia, 1989, h. 53
[2] I Gede Rudia Adiputra dkk, Tattwa Darsana, Jakarta: Yayasan Dharma Sarathi, 1990, h. 21
[3] Harsa Swabodhi, opamana-pramana Budha Dharna dan Hindu Dharma, Medan:Yayasan Perguruan Budaya & Budaya, 1980, h. 12
[4] I Made Titib, Pengantar Weda, Jakarta: Hanuman Sakti, 1996, h. 155
[5] I Made Titib, Pengantar Weda, Jakarta: Hanuman Sakti, 1996, h. 155
[6] Matius Ali, Filsafat India, Karang Mulya: Sanggar Luxor , cet l, 2010, h. 33-35
[7] Harsa Swabodhi, opamana-pramana Budha Dharna dan Hindu Dharma, h. 12
[8] Harun Hadiwijono, Sari Filsafat India, h. 53
[9] Djam’annuri,Agama Kita perspektif Sejarah Agama-Agama, Jakarta: Penerbit Kurnia Kalam Semesta, 2009, h. 57-58
[10] I Gede Rudia Adiputra dkk, Tattwa Darsana, h. 24-25
[11] Harsa Swabodhi, opamana-pramana Budha Dharna dan Hindu Dharma, h. 13
[12] Djam’annuri,Agama Kita perspektif Sejarah Agama-Agama, h. 58
[13] I Gede Rudia Adiputra dkk, Tattwa Darsana, h. 23-24
[14] Harsa Swabodhi, opamana-pramana Budha Dharna dan Hindu Dharma, h. 13
[15] Djam’annuri,Agama Kita perspektif Sejarah Agama-Agama, h. 58
[16] I Gede Rudia Adiputra dkk, Tattwa Darsana, h. 22
[17] Harsa Swabodhi, opamana-pramana Budha Dharna dan Hindu Dharma, h. 13
[18] Djam’annuri,Agama Kita perspektif Sejarah Agama-Agama, h. 58
[19] I Gede Rudia Adiputra dkk, Tattwa Darsana, h. 22
[20] Admin, Pratyaksa, diakses pada 13 november 2012, dari http://informatika.undiksha.ac.id/sklb/?p=188
[21] I Gede Rudia Adiputra dkk, Tattwa Darsana, h. 26
[22] Teja Surya,  filsafat Nyaya Diakses pada 12 september 2012,, http://www.tejasurya.com/artikel-spiritual/filsafat/87.html
[23] I Gede Rudia Adiputra dkk, Tattwa Darsana, h. 25-26
[24] Wikipedia, kosmologi Hindu, diakses pada 19 sept 2012, dari http://id.wikipedia.org/wiki/Kosmologi_Hindu
[25] I Gede Rudia Adiputra dkk, Tattwa Darsana, h. 27-28
[26] Harsa Swabodhi, opamana-pramana Budha Dharna dan Hindu Dharma, h. 27
[27] Matius Ali, Filsafat India, Sanggar Luxor ,Karang Mulya: 2010, cet l, h. 89
[28] Harsa Swabodhi, opamana-pramana Budha Dharna dan Hindu Dharma, h. 83
[29] I Gede Rudia Adiputra dkk, Tattwa Darsana, h. 37
[30] Harsa Swabodhi, opamana-pramana Budha Dharna dan Hindu Dharma, h. 83
[31] I Made Titib,Pengantar Weda, h. 154
[32] Matius Ali, Filsafat India, h. 89
[33] Heinrich Zimmer, Sejarah Filsafat India, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Cet l, 2003, h. 584
[34] I Gede Rudia Adiputra dkk, Tattwa Darsana, h. 37-39
[35] Matius Ali, Filsafat India, h. 90-92
[36] I Gede Rudia Adiputra dkk, Tattwa Darsana, h. 39
[37] Harsa Swabodhi, opamana-pramana Budha Dharna dan Hindu Dharma, h. 29
[38] I Gede Rudia Adiputra dkk, Tattwa Darsana, h. 39
[39] Wikipedia, Agama Hindu, diakses pada 15 november 2012, dari http://id.wikipedia.org/wiki/Agama_Hindu
[40] I Gede Rudia Adiputra dkk, Tattwa Darsana, h. 40
[41] Harsa Swabodhi, opamana-pramana Budha Dharna dan Hindu Dharma, h. 28
[42] Harsa Swabodhi, opamana-pramana Budha Dharna dan Hindu Dharma, h. 31
[43] Harsa Swabodhi, opamana-pramana Budha Dharna dan Hindu Dharma, h. 29
[44] Harsa Swabodhi, opamana-pramana Budha Dharna dan Hindu Dharma, h. 30

[45] Harsa Swabodhi, opamana-pramana Budha Dharna dan Hindu Dharma, h. 30-31
[46] I Gede Rudia Adiputra dkk, Tattwa Darsana, h. 40
[47] I Gede Rudia Adiputra dkk, Tattwa Darsana, h. 41
[48] Matius Ali, Filsafat India, h. 90

Popular Posts