Rabu, 19 Desember 2012

Sistem Pemerintahan Kerajaan Hindu-Budha

a. Kerajaan Maurya Pendiri kerajaan Maurya adalah Chandragupta. Kerajaan ini didirikan 322-298 SM. Dalam pemerintahannya, India mencapai kemajuan dan mempunyai kebudayaan tinggi, pemerintahan, keuangan, kehakiman, perekonomian, serta cara pertahannan yang teratur. Pusat kekuasaan adalah raja, dibawahnya terdapat raja-raja muda yang menguasai daerah-daerah atau provinsi-provinsi. Pertahanan dalam negeri sangat kuat. Kaum Brahma mendapat perlindungan yang sangat besar. Chandragupta suatu ketika menarik diri dari pemerintahan dan pengikut Jaina setelah terjadi kelaparan selama sepuluh tahun. Ia digantikan oleh puteranya Bindusara (298-272 SM). Pada pemerintahan Bindusara ini tidak begitu terlihat ada kemajuan-kemajuan. Bindusara digantikan oleh Asoka Vardhana (272-232 SM). Asoka meninggalkan agama Brahma dan memeluk agama Budha, sehinggapada saat itu agama Budha dijadikan sebagai agama kerajaan. Asoka beramanat supaya diantara agama-agama dan mazhab-mazhab harus ada ikatan persaudaraan dan perdamaian, setiap agama merdeka mandapat kebaktian dan perlindungan yang sama dari raja. Dalam agama Budha percaya bahwa manusia dalam hidupnya melalui beberapa tingkat dalam menjelma menjadi suatu jenis makhluk. Penjelmaan itu ditentukan oleh karma. Oleh karena itu manusia dan penjelmaannya tidak boleh dibunuh. Setelah Asoka meninggal ia digantikan oleh puteranya yaitu Dasaratha. Namun Dasaratha waktu itu diserang oleh kaum Brahma yang kedudukannya dibelakangkan, dan akhirnya kerajaan ini mengalami kemunduran. b. Kerajaan Gupta (320-656 SM) Pendirinya ialah Chandragupta 1, ia memerintah pada tahun 320-330. Raja ini berasal dari derah yang kecil dekat Pataliputra menikah dengan putri Kumara Devi dari bangsa Lichchavi. Dari pernikahannya ia mewarisi seluruh lembah Gangga. Ia digantikan oleh puteranya Samudra Gupta. Samudra Gupta memerintah pada tahun 330-375. Samudra Gupta adalah Brahmin yang setia dengan Hindu. Ia memerintah daerah Hindustan, sebagian dari India Utara dan India Tengah. Samudra Gupta adalah salah satu raja yang termasyhur dari beberapa raja di India. Samudra Gupta digantikan oleh Chandra Gupta ll Vikramaditya. Ia memerintah dari tahun 375-415. Dibawah pemerintahannya kerajaan India mencapai kemajuan. Keadaan kerajaan amat makmur dan sentosa, pemerintahan dijalankan dengan bijaksanaselama 30 tahun. Namun setelah ia wafat kerajaan ini mengalami kemunduran, terutama karena desakan bangsa Huna (Huns) dari utara dan sikap raja-raja penggantinya yang tidak cakap. Kira-kira 70 tahun setelah ChandraGupta ll wafat, Kerajaan Gupta terpecah belah. c. Kerajaan Harsha Rajanya bernama Suhasta Mama Maharaja Diraja Sri Harsha Wardana, memerintah tahun 606 hingga 647, yaitu raja terakhir dari raja India yang masyhur harsha berasal dari keturunan raja kecil, namun ibunya termasuk keturunan raja Gupta. Harsha berusaha memperkuat tentaranya. Setelah cukup kuat, ia memperluas kakuasaan dari India Utara sampai ke Teluk Benggala. Hanya saja saat ia melawan kerajaan Chalukya di India Tengah ia bdikalahkan oleh raja Pulakhesin ll (raja terkenal kerajaan Chalukya). Harsha memerintah selama 46 tahun. Pada akhir pemerintahannya ia menjadi seorang santri (Sangha) Budha. Pada tahun 647 raja Harsha wafat setelah memerintah 46 tahun. Ia adalah raja yang membawa keamanan dan kemakmuran dan membangkitkan India kembali dari penindasan bangsa Huna. Tapi setelah kemakmuran kembali, terjadilah permusuhan antara raja-raja yang berkuasa dibawah Harsha. Persatuan India lenyap sampai zaman Islam, dalam lima abad mendatang mengalami perpecahan dan kekacauan.

PENDAHULUAN 
Ilmu Filsafat adalah sebuah ilmu yang mempelajari bagaimana caranya mengungkapkan nilai-nilai kebenaran hakiki yang dijadikan landasan untuk hidup yang dicita-citakan. Demikian halnya ilmu filsafat yang ada di dalam ajaran Hindu yang juga disebut dengan Darsana, semuanya berusaha untuk mengungkapkan tentang nilai-nilai kebenaran dengan bersumber pada kitab suci Veda. Sistem filsafat india terdiri dari dua golongan, yaitu: golongan astika (ortodoks) dan dolongan nastika (heterodoks). Yang termasuk golongan astika ialah golongan yang mengakui kedaulatan weda, sedangkan golongan nastika ialah golongan yang tidak mengakui kedaulatan weda. Adapun yang termasuk golongan astika diantaranya yaitu: nyaya, waisesika, sankhya, yoga, purwa mimamsa, dan uttara mimamsa atau wedanta. Golongan yang termasuk dalam Nastika yaitu: Carvakas, Buddhis, Jaina. Pada topik kali ini akan dibahas mengenai dua dari kelompok astika yaitu, Nyaya dan Mimamsa. 

PEMBAHASAN 
1. Nyaya 
Nyaya artinya suatu penelitian yang analitis dan kritis. Oleh karena itu sistem Nyaya membicarakan bagian umum filsafat dan metode untuk mengadakan penelitian yang kritis. Sistem Nyaya muncul akibat adanya perdebatan diantara para ahli pikir dalam usaha mereka mencari kebenaran dari ayat-ayat Weda untuk dijadikan landasan melaksanakan upacara-upacara korban. 

Dari hal itu timbullah kemudian patokan-patokan bagaimana mengadakan penelitian yang benar dan logis. Atas dasar ini maka Nyaya disebut juga Tarkawada yaitu ilmu berdebat. Atau Vadavidya yaitu pengetahuan tentang diskusi. Pendiri ajaran ini adalah Mahersi Gautama (Gotami), hidup pada abad ke 4 SM yang mana hasil karya tersebut disebut dengan Nyayasutra yang terdiri atas lima Adhayana (bab) dan dibagi ke dalam lima “pada” atau bagian. Dikatakan pula bahwa ajaran filsafat Nyaya disebut realistis karena mengakui benda-benda sebagai suatu kenyataan. Ajaran yang realistik ini mendasarkannya pada ilmu logika, sistematis, kronologis dan analitis. 

 Nyaya memiliki tipe filsafat yang analitis serta menjunjung tinggi akal sehat dan sains. Ciri khas sistem Nyaya adalah penggunaan metode sains, yakni pemeriksaan logis dan kritis. Dalam studi klasik tentang Hinduisme, terdapat lima subjek yakni: sastra (kavya), drama (namaka), retorika (alamkara), logika (tarka) dan tata bahasa (vyakarana). Studi apapun yang kemudian akan diambil oleh si pelajar, ia harus mengambil studi awal tentang logika yang merupakan dasar bagi semua studi lainnya. Setiap sistem filsafat Hindu menerima prinsip dasar logika Nyaya. Jadi sistem Nyaya berfungsi sebagai sebuah pengantar bagi semua filsafat sistematis. Dalam arti sempit Nyaya berarti penalaran silogistis. Sedangkan dalam arti lebih luas, Nyaya berarti pemeriksaan objek melalui bukti-bukti. Karenanya Nyaya menjadi sebuah sains pembuktian atau pengetahuan yang benar (Pramanashastra). Semua pengetahuan mengimplikasikan empat kondisi: subjek pengenal (pramatr), objek (prameya), kondisi hasil dari pengenalan (pramiti), sarana pengetahuan (pramana). Hakikat pengetahuan, sah atau tidak sahnya tergantung pada unsur ke-empat yaitu pramana. Setiap tindakan kognitif (sah atau tidak sah) melibatkan tiga unsur, yakni: subjek pengenal, isi atau apa yang disadari oleh subjek, dan hubungan antara keduanya, yang dapat dibedakan walaupun tidak dapat dipisahkan. Nyaya bukan hanya merupakan logika formal semata, tapi juga sebuah epistimologi penuh yang menggabungkan diskusi tentang psikologi dan logika, metafisika dan teologi. 

Sistem Nyaya telah ada sebelum Masehi, tetapi susunan ajarannya yang sistematis terdapat kurang lebih tahun 150 SM. Dilihat dari sejarahnya ada dua mazhab, yaitu Nyaya kuno dan Nyaya baru. Nyaya kuno mengutarakan logika. Sedangkan Nyaya baru membicarakan teori ilmu pengetahuan. Kitab suci utamanya adalah Nyayasutra. ayat pembukaan dari Nyayasutra mengatakan bahwa kebahagiaan mutlak dapat diperoleh dengan pengetahuan mengenai kodrat sejati dari 16 kategori, yakni:.


 Ke- 16 topik tersebut dapat digunakan untuk menggali kebenaran. Topik 1-9 berurusan dengan logika, topik 10-16 berfungsi mencegah atau menghapuskan perbuatan kesalahan. Objek-objek yang diamati Prameya, ada 12 (dua belas), diantaranya: 



Nyaya berpangkal pada keyakinan bahwa dunia di luar kita itu berdiri sendiri, lepas daripada pikiran kita. Kita dapat mempunyai pengetahuan tentang dunia luar kita itu, yaitu dengan perantaraan pikiran kita. Dalam usahanya untuk mengetahui dunia di luarnya, pikiran dibantu (melalui perantara) oleh indera kita. Karena pendirian yang demikian ini maka sistim Nyaya dapat disebut sistim yang realistis. Apakah pengetahuan kita berlaku (benar) atau tidak, hal itu tergantung dari alat-alat yang dipakai untuk mendapatkan pengetahuan tadi. Alat-alat yang dipakai untuk mendapatkan pengetahuan disebut pramana, sedang pengetahuan yang berlaku atau yang benar prama. 

Dalam Nyaya ada empat alat atau cara untuk mencari atau mendapatkan pengetahuan yang benar, diantaranya ialah: 
1. Pratyaksa
Ialah pengamatan langsung melalui panca indera Alat yang dipakai untuk mengamati sesuatu dibedakan menjadi dua yaitu: 
a. Pengamatan melalui panca indera 
b. Pengamatan yang bersifat transenden atau yang luar biasa Contoh: seorang Yogi dapat mengetahui sesuatu yang tidak dapat diamati oleh indera orang biasa.  Ini disebabkan karena seorang Yogi dapat berhadapan dengan sasaran yang mengatasi indra manusia. Kekuatan seperti itu dimiliknya karena mempunyai menguasai dan menghubungkan prana pada dirinya dengan prana pada makrokosmos. 

Disamping alat untuk mengamati, maka proses pengamatan itu dibedakan pula menjadi dua yaitu: 
a. Nirwikalpa yaitu pengamatan yang tidak ditentukan. Contoh: kita dapat mengamati sesuatu tanpa mengetahui volume, berat, warna dan jenis dari obyek yang diamati. 
b. Sawikalpa yaitu pengamatan yang ditentukan atau dibeda-bedakan. Contoh: kita mengamati suatu obyek yang menjadikan kita tahu dan mengerti secara betul tentang sasaran (obyek) yang diamati, baik ukurannya, sifatnya, maupun jenisnya. 

Dengan demikian melalui sawikalpa memungkinkan kita mendapatkan pengetahuan yang benar. Pengetahuan itu dikatakan benar bila keterangan atau sifat yang dinyatakan cocok dengan obyek yang diamati. Disamping pengamatan terhadap obyek yang nyata maka Nyaya juga mengajarkan bahwa obyek yang tidak ada maupun yang tidak nyata juga dapat diamati. Contoh: adanya daun yang tidak berwarna hijau, sedangkan umumnya daun berwarna hijau. Jika kita mengamati daun yang tidak berwarna hijau maka kita akan melihat tidak adanya warna hijau. Jadi ketidakadaan warna hijau dapat kita amati melalui daun tadi. Ini menunjukkan bahwa tidak ada pun dapat diamati pula. 

Dalam buku Harsa Swabodhi manyatakan bahwa Pratyaksa Pramana itu mengadakan penglihatan atau pengamatan langsung untuk mendapatkan pengetahuan tentang sesuatu (benda/hal): 
a. Pengamatan perasaan 
b. Pengamatan jiwa
c. Kesadaran diri sendiri    
d. Intuisi. 

2. Anumana
Ialah pengetahuan yang diperoleh dari suatu objek dengan menarik pengertian dari tanda-tanda yang diperoleh Ini merupakan ajaran terpenting diantara empat cara yang diajarkan oleh Nyaya. Pengetahuan yang didapat secara silogisme merupakan sesuatu yang terdapat diantara pengamat dengan obyek yang diamati. Contoh:  Di tempat yang jauh dari kita dapat melihat ada asap mengepul, maka dapat kita simpulkan bahwa sebelum asap itu tentu ada sesuatu yang terbakar oleh api. Atau dengan asap kita tahu bahwa di sana juga ada api, karena asap dan api memiliki hubungan yang tidak terpisahkan.  Secara nyata kita tidak dapat melihat udara maupun oksigen (O2) yang tak dapat dipisahkan dengan kehidupan. Bila kemudian kita melihat makhluk dapat hidup di dalam air seperti tumbuh-tumbuhan atau plankton, maka kita dapat simpulkan bahwa di dalam air itu tentu ada udara atau O2. Mendapatkan pengetahuan melalui silogisme tidak dapat dilakukan tanpa bantuan pengetahuan yang lain. Misalnya seperti contoh dia atas, “asap tidak terpisahkan dengan api; hidup tak terpisahkan dengan O². Karena penyimpulan tanpa bantuan pengetahuan lain akan menjadikan pengetahuan yang salah. Dalam Anumana pramana paling sedikit harus ada tiga syarat, yaitu: a. Paksa: Suatu kesimpulan yang ditarik. b. Sadhya: objek yang ditarik kesimpulannya. c. Lingga: Tanda dan benda yang tidak dapat dipisahkan dengan kesimpulannya termasuk pengetahuan pembantu. Ada empat sarana yang digunakan dalam Anumana, yaitu: a. Purvavat, yakni kesimpulan dari sebab kepada akibat, meliputi sebab-sebab materi, formil, dan instrumental. Contoh: adanya awan gelap, itu menandakan akan terjadinya turun hujan. b. Samanyata darsta, yakni sebab dari alasan-alasan yang masuk akal pada prinsip-prinsip yang abstrak sifatnya. Yaitu tidak terlihat namun terasa efeknya. Contoh: terjadinya siang dan malam, itu karena proses matahari yang mengelilingi bumi pada porosnya. c. Sevavat, yakni kesimpulan dari suatu sebab yang terdiri atas 5 bagian, yaitu: 1. Prajijna (dalil), misalnya terdapat api di gunung, 2. Hetu (sebab), sebab di gunung ada asap 3. Drstanda, jadi dimana ada asap disana ada api 4. Upanaya, penggunaan atau aplikasi dari logika itu 5. Nigamana, kesimpulan. Contoh: adanya banjir itu merupakan akibat dari turunnnya hujan. Maka dapat dikatakan bahwa banjir merupakan akibat, dan hujan merupakan sebab dari kejadian. 3. Upamana ialah ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui perbandingan Contoh: seseorang yang tidak tahu dengan binatang singa. Dari seorang zoolog dia mendapatkan keterangan bahwa singa itu bentuknya menyerupai anjing, namun muka dan kepalanya kelihatan lebih garang. Pada suatu ketika orang yang mendapat keterangan tentang nama (sebutan) singa itu berjumpa dengan binatang serupa anjing di kebun binatang. Maka dia dapat membandingkan keterangna yang dia terima dengan membandingkan keterangan yang dia terima dengan binatang yang dilihatnya serta dapat meyakini bahwa binatang tersebut adalah singa. Contoh: Meja dan bangku dibuat oleh Tukang kayu, adanya meja dan bangku disebabkan adanya tukang kayu. Alam semesta ada, tentu ada yang mengadakannya, yaitu Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa. 4. Sabda ialah ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan mendengarkan atau melalui penjelasan dari sumber-sumber yang patut dipercaya (kesaksian) . Sabda pramana dapat dibedakan atas dua hal yaitu: a. Kesaksian yang diberikan oleh orang yang dapat dipercaya karena keluhuran dan ketinggian budinya, yang dinyatakan di dalam kata-katanya yang disebut pula laukita. b. Kesaksian atau kebenaran weda (waidika). Nyaya memandang dan meyakini bahwa weda merupakan wahyu Tuhan, maka kesaksian kitab weda dipandang sebagai kesaksian yang sempurna serta tidak dapat dibantah kebenarannya (weda merupakan kebenaran yang mutlak) Supaya mudah dipahami, penulis juga menyajikan pembagian catur Pramana dalam bentuk bagan: Dalam sumber lain, Penulis juga menemukan hierarki mengenai catur pramana, sebagai berikut: Catur Pramana | terdiri dari | ——————————————————————————————— | | | | Pratyaksa Anumana Upamana Sabda | | | | dengan persepsi berupa Menggunakan dapat berupa dari sumber | | | | ——————– ———— ———————— ————– | | | | | | | | Laukika Alaukika Silogisme Analogi Model Simbol Laukika Wahyu Sebagai bahan studi, Sad Darsana dikelompokkan menjadi tiga, yaitu Nyaya-Vaisesika, Samkhya-Yoga, dan Mimamsa-Vedanta. Namun disini penulis akan membahas hanya pada Nyaya-Vaisesika saja. Nyaya-Vaisesika dikelompokkan karena keduanya meletakkan dasar metodik pengetahuan (sains) serta mengahsilkan konsepsi fisika dan kimia untuk menunjkkan manifestasi gejala/perwujudan atau fenomena menjadi tewujud. Nyaya-Vaisesika mewakili tipe filsafat analitis serta menjunjung tinggi akal sehat dan sains. Mereka mencob untuk mengembalikan substansi-substansi tradisional, jiwa di dalam diri dan alam (nature) diluar diri, tanpa semata-mata berdasarkan pada otoritas. Sistem Nyaya-Vaisesika mengambil pengertian dasar filsafat tradisional tentang ruang, waktu, sebab, materi, pikiran, jiwa, dan pengetahuan, mengeksplorasi arti bagi pengalaman dan menyusun hasilnya menjadi sebuah teori tentang alam semesta. Bagian yang logis dan fisik menjadi ciri utama dalam tradisi Nyaya- Vaisesika. Sistem Nyaya menjelaskan mekanisme pengetahuan secara mendetail serta berargumen melawan skeptisisme yang menyatakan bahwa tidak ada yang pasti, sedangkan sistem Vaisesika memiliki tujuan utama untuk menganalisis pengalaman. Kedua sistem ini sudah sejak lama diperlakukan sebagai bagian dari satu keseluruhan. Sistem Vaisesika dip;akai untuk melengkapi sistem Nyaya, dan banyak sutras dalam sistem Nyaya mengandaikan ajaran Vaisesika. Menurut Jacobi, penyatuan kedua sistem ini sudah dimulai sejak awal dan mencapai puncaknya pada saat Nyayavartika ditulis. Bahkan dalam Nyaya Bhasya kary6a Vatsayana, kedua sistem ini tidak dipisahkan. Baik Nyaya maupun Vaisesika sama-sama mempercayaia pluralitas jiwa, Tuhan personal, semesta yang atomistik dan banyak menggunakan argumen yang sama. Jika Nyaya menjelaskan tentang proses serta metode tentang pengetahuan objek yang rasional, maka Vaisesika mengembangkan konstitusi atomis bendda-benda yang diterima oleh Nyaya tanpa argumen. A. Tuhan dalam filsafat Nyaya Karena Nyaya meyakini kebenaran weda, maka penganut Nyaya (Naiyayika) percaya akan adanya Tuhan dan Tuhan disamakan dengan siwa. Menurut Nyaya Tuhan adalah penyebab tertinggi penciptaan, pemeliharaan, dan peleburan dunia. Ia tidak menciptakan dunia dari ketiadaan, tetapi dari atom-atom eternal; ruang, waktu, ether, pikiran, jiwa-jiwa. Penciptaan dunia berarti penataan entitas-entitas eternal yang koeksis dengan Tuhan menjadi dua motral, dimana roh-roh individu menikmati dan menderita menurut perbuatan baik dan perbuatan buruk, dan semua benda fisik melayani sebagai sarana tujuan moral dan spiritual kehidupan kita, Tuhan dengan demikian adalah pencipta dunia dan bukan penyebab materialnya. Ia juga sebagai pemelihara dunia sepanjang dunia dijaga dalam eksistensi oleh keinginan Tuhan. Ia juga sebagai pelebur yang mengijinkan kekuatan destruksi beroperasi ketika tatanan dunia moral menghendakinya kemudian Tuhan satu tak terbatas dan eternal karena dunia ruang dan waktu, pikiran dan jiwa-jiwa tidak membatasinya tetapi ia dihubungkan dengan Dia. Sebagai tubuh dan roh yang bersemayam didalamnya ia maha kuasa walaupun ia dipandu didalam aktifitas perbuatan buruk. Ia maha tahu sepanjang ia mempunyai pengetahuan benar tentang semua benda dan peristiwa. Ia mempunyai kesadaran eternal sebagai kekuatan kognisi langsung dan teguh semua objek. Kesadaran eternal hanyalah atribut Tuhan yang tidak dapat dipisahkan, bukan esensinya seperti dianut oleh Vedanta. Ia memiliki kesempurnaan (sadisvarya) dan magis, maha agung, megah, indah, tak terbatas, mempunyai pengetahuan tak terbatas dan kebebasan dan sempurna dari kemelekatan. Tuhan sebagai penyebab efisien dunia, demikian juga Tuhan merupakan penyebab direktif tindakan-tindakan semua makhluk hidup di dunia ini yang bebas dari kerja, ia secara relatif bebas, yaitu tindakan-tindakan yang dilakukan oleh dia dibawah direksi dan arahan Tuhan. Seperti halnya dengan seorang ayah yang arif dan pemurah mengarahkan anak-anaknya mengerjakan suatu aktifitas, menurut hadiah-hadiah, kapasitas, dan pencapaiannya sebelumnya. Jadi demikian juga Tuhan mengarahkan semua makhluk hidup melakukan tindakan-tindakan. Sementara manusia adalah penyebab instrumental efisien (prayojaga karta). Jadi Tuhan adalah pengatur moral dunia beserta semua makhluk hidup, sementara buah-buah perbuatan dan yang tertinggi dari kenikmatan dan penderitaan kita. Untuk membuktikan adanya Tuhan Nyaya mengemukakan dua macam pembuktian tentang Tuhan yaitu: Bukti Kosmologi Pembuktian ini menyatakan bahwa dunia ini adalah akibat dari suatu sebab. Oleh karena itu tentu ada sebab yang pertama dan utama. Sebab itulah Tuhan. Tidak ada sebab pertama kecuali Tuhan karena segala sesuatu yang diketahui oleh manusia memiliki kemampuan yang terbatas selain Tuhan. Tidak ada sesuatu sebagai penciptanya sendiri kecuali Tuhan. Pembuktian Teleologis Pembuktian ini menyatakan bahwa di dunia ini ada suatu tata tertib dan aturan tertentu sehingga dunia ini menampakkan suatu rencana yang berdasarkan pemikiran dan tujuan tertentu. Tentu ada yang mengadakan rencana dan tujuan tersebut. Yang mengadakan itulah Tuhan. Tuhan disebut juga Paratman karena Tuhan termasuk golongan jiwa tertinggi yang yang bersifat kekal abadi, berada di mana-mana, memenuhi alam dan merupakan kesadaran agung. Tuhan sebagai penggerak pertama dan utama dari atom-atom yang menjadikan benda-benda di alam ini. Tuhan menciptakan, merawat, melebur alam dan segala isinya dengan pengaruh karma dari alam dan isinya. Tuhan pula menjadi pengatur dan mengodratkan hukum pada alam semesta sehingga berlakunya hukum alam (rta) yang mengatur alam dengan segala isinya secara teratur dan harmonis. Dalam kekuasaan inilah makhluk hidup menikmati suka duka dalam usaha menuju kelepasan. Penciptaan alam ini adalah untuk kebahagiaan semua makhluk. Dunia yang diciptakan ini lengkap dengan derita dan kebahagiaan dalam bentuk yang beraneka ragam. Dapat atau tidaknya makhluk menikmati kebahagiaan di dunia ini sangat tergantung dari benar tidaknya pengetahuan yang dimiliki oleh makhluk itu untuk melandasi hidupnya. B. Alam dalam filsafat Nyaya Dalam kitab Regweda terdapat nyanyian yang mengisahkan asal mula alam semesta. Nyanyian tersebut disebut Nasadiyasukta dan terdiri dari tujuh bait sebagai berikut: Pada mulanya tidak ada sesuatu yang ada namun tidak ada sesuatu yang tidak ada. Tidak ada udara, tidak ada langit pula. Apakah yang menutupi itu, dan mana itu? Airkah di sana? Air yang tak terduga dalamnya? Waktu itu tidak ada kematian, tidak pula ada kehidupan. Tidak ada yang menandakan siang dan malam. Yang Esa bernapas tanpa napas menurut kekuatannya sendiri. Di luar daripada Ia tidak ada apapun. Pada mulanya kegelapan ditutupi oleh kegelapan itu sendiri. Semua yang ada ini adalah sesuatu yang tak terbatas dan tak dapat dibedakan, yang ada pada waktu itu adalah kekosongan dan yang tanpa bentuk. Dengan tenaga panas yang luar biasa lahirlah kesatuan yang kosong. Pada mulanya kegelapan ditutupi oleh kegelapan itu sendiri. Semua yang ada ini adalah sesuatu yang tak terbatas dan tak dapat dibedakan, yang ada pada waktu itu adalah kekosongan dan yang tanpa bentuk. Dengan tenaga panas yang luar biasa lahirlah kesatuan yang kosong Sinarnya terentang keluar. Apakah ia melintang? Apakah ia di bawah atau di atas? Beberapa menjadi pencurah benih, yang lain amat hebat. Makanan adalah benih rendah, pemakan adalah benih unggul. Siapakah yang sungguh-sungguh mengetahui? Siapakah di dunia ini yang dapat menerangkannya? Dari manakah kejadian itu, dan dari manakah timbulnya? Para Dewa ada setelah kejadian itu. Lalu, siapakah yang tahu, darimana ia muncul? Dia, yang merupakan awal pertama dari kejadian itu, dari-Nya kejadian itu muncul atau mungkin tidak. Dia yang mengawasi dunia dari surga tertinggi, sangat mengetahuinya atau mungkin juga tidak. Kosmologi Hindu merupakan pengetahuan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan alam semesta menurut filsafat Hindu. Dalam ajaran kosmologi Hindu, alam semesta dibangun dari lima unsur, yakni: tanah (zat padat), air (zat cair), udara (zat gas), api (plasma), dan ether. Kelima unsur tersebut disebut Pancamahabhuta atau lima unsur materi. Menurut kepercayaan Hindu, alam semesta terbentuk secara bertahap dan berevolusi. Penciptaan alam semesta dalam kitab Upanisad diuraikan seperti laba-laba memintal benangnya tahap demi tahap, demikian pula Brahman menciptakan alam semesta tahap demi tahap. Brahman menciptakan alam semesta dengan tapa. Dengan tapa itu, Brahman memancarkan panas. Setelah menciptakan, Brahman menyatu ke dalam ciptaannya. Menurut kitab purana pada awal proses penciptaan, terbentuklah Brahmana. Pada awal proses penciptaan juga terbentuk purusa dan Prakerti. Kedua kekuatan ini bertemu sehingga terciptalah alam semesta. Tahap ini terjadi berangsur-angsur, tidak sekaligus. Mula-mula yang muncul adalah Citta (alam pikiran), yang sudah mulai dipengaruhi oleh Triguna, yaitu Sattwam, Rajas dan Tamas. Tahap selanjutnya adalah terbentuknya Triantahkarana, yang terdiri dari Buddhi (naluri); Manah (akal pikiran); Ahamkara (rasa keakuan). Selanjutnya, muncullah Pancabuddhindria dan Pancakarmendria, yang disebut pula Dasendria (sepuluh indria). Setelah timbulnya Pancabuddhindria dan Pancakarmendria, maka sepuluh indria tersebut berevolusi menjadi Pancatanmatra, yaitu lima benih unsur alam semesta yang sangat halus, tidak berukuran. Lima benih tersebut dijelaskan sebagai berikut: 1. Sabdatanmatra (benih suara) 2. Rupatanmatra (benih penglihatan) 3. Rasatanmatra (benih perasa) 4. Gandhatanmatra (benih penciuman) 5. parsatanmatra (benih peraba) Pancatanmatra merupakan benih saja. Pancatanmatra berevolusi menjadi unsur-unsur benda materi yang nyata. Unsur-unsur tersebut dinamai Pancamahabhuta, atau Lima Unsur Zat Alam. Kelima unsur tersebut yaitu: .Akasa(ether), Bayu (zatgas, udara), Teja (plasma, api, kalor), Apah (zat cair), Pertiwi (zat padat,tanah, logam) Pancamahabhuta berbentuk Paramānu, atau benih yang lebih halus daripada atom. Pada saat penciptaan, Pancamahabhuta bergerak dan mulai menyusun alam semesta dan mengisi kehampaan. Setiap planet dan benda langit tersusun dari kelima unsur tersebut, namun kadangkala ada salah satu unsur yang mendominasi. Unsur Teja mendominasi matahari, sedangkan bumi didominasi Pertiwi dan Apah. Supaya mudah dipahami, penulis juga menyajikan bagan: C. Kelepasan dalam filsafat Nyaya Kelepasan akan dapat dicapai dengan melalui pengetahuan yang benar dan sempurna. Sebagai wujud dari kelepasan ialah terbebasnya jiwatma dari kelahiran kesenangan maupun penderitaan. Agar kelahiran dan derita terhenti maka hendaklah aktifitas (kerja) dihentikan sehingga terwujudlah kelepasan yaitu suatu keadaan yang tidak terikat akan karma ataupun phala karma. Untuk menghentikan aktifitas maka orang (makhluk) harus melandasi hidupnya dengan pengetahuan kebenaran sejati sehingga dengan pengetahuan itu orang akan bebas dari ketidaktahuan yang menyebabkan orang menjadi sadar dan bebas dari keinginan, kesalahan dan penyelewengan. Dengan demikian jiwatma akan bebas dari keterlibatan derita tercapailah kelepasan. Bila dijelaskan dengan bagan: 2. Mimamsa Sistem Mimamsa digolongkan dalam bagian ketiga dari filsafat Hindu. Istilah Mimamsa berasal dari kata dasar man berarti ’berfikir’, ‘memperhatikan’, ‘menimbang’, atau ‘menyelidiki’. Ditinjau dari segi etimologi ingin berfikir : disini menandakan suatu pemikiran, pemeriksaan atau penyelidikan, dari teks weda. Ia melengkapi pandangan pada weda (kebenaran abadi). Dalam sumber lain yang ditulis oleh Matius Ali, secara etimologis kata Mimamsa berarti ‘bertanya’ atau ‘penyelidikan’. Mimamsa dibagi menjadi dua sistem, yakni purwamimamsa dan uttaramimamsa. Kata purna berarti lebih dahulu, maka purwamimamsa artinya yang berurusan dengan bagian lebih dahulu dari pustaka weda. Demikian pula kata uttara berarti yang kemudian jadi uttaramimamsa berurusan dengan bagian akhir dari pustaka weda. Kedua sistem tersebut mempergunakan metode logika yang sama untuk menghadapi persoalan; tetapi memakai lingkungan tafsiran masing-masing. Purvamimamsa juga disebut karma mimamsa, menafsirkan aksi terlarang dalam weda, memimpin ke jurusan kebebasan roh/soul. Dengan kata lain Mimamsa disebut Karma Mimamsa karena dalam prakteknya sangat menekankan karma yaitu pelaksanaaan upacara agama untuk mencapai tujuan. Uttara mimamsa, juga disebut Jnana mimamsa menafsirkan pengetahuan yang dikemukakan dalam pustaka weda, demi pembebasan roh/soul. Purwa mimamsa secara khusus mengkaji bagian Weda, yakni kitab-kitab Brahmana dan kalpasutra, sedang bagian yang lain (aranyaka dan upanisad) dibahas oleh Uttara Mimamsa yang dikenal pula dengan nama Vedanta. Purwa mimamsa sering juga disebut Karma mimamsa, sedang Uttara Mimamsa disebut juga Jnana Mimamsa. Dalam buku yang ditulis oleh Matius Ali disebutkan bahwa Mimamsa yang bagian pertama dari filsafat ini adalah Purva Mimamsa, sedangkan bagian kedua disebut Uttara Mimamsa. Untuk menghindarkan kebingungan, maka Purva Mimamsa disebut dengan Mimamsa, sedangkan Uttara Mimamsa disebut dengan Vedanta. Pembina sistem Mimamsa adalah Jamini yang hidup antara abad 3-2 SM. Ajarannya tercantum dalam kitab Mimamsa sutra. Di suatu tempat antara tahun 200-450 M penemuan-penemuan yang rasional dan definitif itu didokumentasikan dalam Purvamimamsa sutra. Pada zaman berikutnya ajaran Mimamsa dikomentari oleh pengikutnya, yakni Sabaraswamin pada abad ke 4 M, Prabhakara pada tahun 650, dan Kumarila Bhata tahun 700. Oleh karena itu terjadilah dua aliran dalam Mimamsa, yakni Prabhakara dan Kumarila Bhata. Prabhakara mengajarkan lima cara untuk memperoleh pengetahuan dan Kumarila Bhata mengajarkan enam cara yang mana lima diantaranya sama dengan ajaran Prabhakara. Cara-cara tersebut adalah: a. Pengamatan (Pratyaksa) b. Penyimpulan (Anumana) c. Kesaksian (Sabda) d. Pembandingan (Upamana) e. Persangkaan (Arthapatti) Bila empat cara pertama tidak dapat dipakai maka dipakailah cara ini. Misalnya: bila terlihat seseorang dalam keadaan senyum dan mukanya berseri-seri maka dapat diduga bahwa orang tersebut sukses dalam usahanya. f. Ketiadaan (Anupalabdhi) Ialah cara yang diajarkan oleh Kumarila Bhata. Dapat diterangkan dengan contoh. Misalnya: bila seseorang masuk ke dalam kamar dan mengamat-amati sekeliling kamar dan mengatakan tidak ada jenis meja di dalam kamar. Dia tidak melihat meja karena memang tidak ada meja. Maka orang menjadi tahu keadaan kamar dan ketidakadaan meja karena tidak mengamati sesuatu. Mimamsa memandang bahwa cara kesaksian (Sabda) ialah yang paling penting dan utama, yakni kesaksian dalam Weda. Weda adalah kebenaran yang tertinggi dan sebagai sumber pengetahuan yang sempurna. Mimamsa tidak mengenal Tuhan, yakni ada kosmis yang memberikan hukuman atau hadiah pada tindakan individual (karma) yang dilakukan jiwa individual. Filsafat mimamsa tidak banyak memberikan perhatian pada kosmologi. Namun, mimamsa menyebutkan ke enam kategori unsur, yakni: tanah, air, api, udara, eter, dan suara (sabda). Menurut Mimamsa setiap kategori unsur disebabkan oleh unsur sebelumnya. Air menyebabkan tanah; api mkenyebabkan air, dst. Karena itu suara adalah satu-satunya penyebab terjadinya penciptaan dan bersifat abadi. Semua kategori lain dengan komposisi atomisnya adalah bersifat sementara. Filsafat Mimamsa adalah sebuah disiplin esoteris. Tujuannya adalah untuk mencapai kebahagiaan surgawi dengan merealisasikan suara kosmis (Sabda Brahman). Upacara kurban dianggap sebagai sarana untuk mencapai tujuan tersebut. Di sini, tafsir esoteris kata yajna adalah ‘mengendalikan indera dan pikiran’. Pengendalian ini dicapai dengan pengendalian energi hidup’ (prana) melalui pengendalian napas (pranayama). Syarat penting lainnya dalam praktek upacara kurban adalah melepaskan milik pribadi serta ‘disiplin diri’ (yama) melalui sumpah yang keras. Namun disebutkan dalam buku Tattwa Darsana bahwa tujuan pokok dari Mimamsa adalah menyusun aturan dan tehnik untuk menerangkan ajaran Weda terutama tentang pelaksanaan dharma. –istilah dharma berasal dari kata dhar artinya memegang, menunjang, memelihara atau mengawetkan. Berarti sesuatu untuk dipegang, dipeliihara, atau diawetkan. Apabila dipakai dalam arti metafisika berarti hukum. — yang dimaksud dharma (hukum) disini adalah upacara-upacara keagamaan yang bersumber pada Weda. Mimamsa sangat mengutamakan kesusilaan. Kebersihan dalam kesusilaan merupakan syarat mutlak dalam pelaksanaan upacara karena kebersihan itu dapat menyebabkan berhasilnya upacara korban dan dapat memberikan phala yang diharapkan. –phala dapat diartikan dengan buah atau hasil -- Dharma yang dilakukan sekarang dengan hasilnya diterangkan dalam ajaran apurwa (tenaga yang tidak tampak). Dalam ajaran ini dinyatakan bahwa dharma atau korban dapat melahirkan tenaga (daya/kekuatan) dalam jiwa. Tenaga berhubungan dengan buahnya sampai buahnya masak. Jadi tenaga menjadi jembatan antara dharma dengan buahnya sehingga buah dapat dipetik. Dasar utama dharma adalah perbuatan (aksi) yang merupakan wujud kehidupan manusia. Maka perbuatan berfungsi sebagai kendaraan untuk menanamkan benih kehidupan pada masa yang akan datang. Berdasarkan pendapat tersebut sebagai pangkal pembicaraan itu, Mimamsa menerima semua perbuatan terlarang dalam pustaka Weda, serta membagi menjadi dua bagian, yaitu: Mantra dan Brahmana. Yang mana dibagi menjadi berikut: 1. Mantra atau Samhita. Ini adalah sebagian Weda yang mengandung perintah, merupakan koleksi dari nyanyian yang menerangkan dan membina seseorang yang benar. Ini dibagi pula menjadi:  Rigveda: koleksi dari bagian yang mengandung perintah Weda, merupakan koleksi sajak-sajak suci yang bersusunan metris untuk menyampaikan ajaranya  Sama Weda: suatu koleksi dar sajak-sajak yang dinyanyikan pada akhir upacara korban  Yajur Weda: dalam bentuk prosa tanpa irama. Sajak ini terdiri dua jenis: nigada (yang harus dilafalkan dengan keras), dan Upamsu (yang harus dilafalkan dengan suara rendah atau diam-diam). 2. Brahmana No. No. 1 Hetu-akal budi 6 Vidhi-Perintah 2 Nirvacanam-Penjelsan 7 Parakirya-Perbuatan suatu individu 3 Ninda-Gugatan; Kritik 8 Purakalpa-perbuatan para individu atau suatu negara atau para individu yang ditandakan dengan partikel ‘iti’, ‘aha’, atau ‘ha’ 4 Prasansa-Pujian 9 Vyavadharanakalpana-interpretasi suatu kalimat menurut konteksnya 5 Samsaya-Kesangsian 10 Upamana-perbandinga prinsip-prinsip yang di ikhtisarkan di atas dipakai dalam Mimamsasutra, terutama dalam upacara korban yang diperintahkan untuk kebaikan umat manusia. Pangkal pikiran Mimamsa tercentum dalam sajak pembukaan Mimamsa sutra yang berbunyi; “kini adalah pemeriksaan kewajiban (dharma)”. Inilah dasar untuk ingterpretasi seluruh Weda. Menurut Jamini, pengetahuan tentang dharma hanya dapat diperoleh melalui penyaksian kata-kata (sabda). Ke-enam sarana pengetahuan yang dipakai sistim-sistim lain, menurut Jamini kurang sempurna apabila berurutan dengan pengaruh/ efek rituil yang tidak kelihatan. Maka ia hanya menerima sabda atau perkataan. Untuk mempertahankan kedudukannya (argumentasinya), ia menggariskan lima pernyataan: 1. Setiap perkataan (sabda) mempunyai daya yang kekal abadi 2. Pengetahuan yang diturunkan dari perkataan (sabda) disebut upadeca (ajaran) 3. Dalam alam yang tak kelihatan, perkataan (sabda) merupakan penuntun mutlak 4. Pada hemat Badarayana, perbuatan bersifat penguasa memerintah. 5. Perkataan mencukupi keperluan pribadi, tidak tergantung pada pengertian yang lain, jika tidak demikian ia akan menjadi buah pikiran yang tak benar. Metode tafsiran teks Weda yang dipakai Jamini merupakan ikhtisar istilah-istilah yang digunakan serampangan dalam teksnya. Untuk keperluan tersebut, isi Weda dibaginya menjadi lima bagian: 1. Amanat/ perintah (Vidhi) 2. Nyanyian/Puji-pujian (mantra) 3. Nama khusus (Namadheya) 4. Larangan (Nasedha) 5. Ayat-ayat penjelasan (Arthavada). Pustaka Mimamsa sutra terdiri atas dua belas bab (adhayana). Masing-masing dibagi menjadi empat bagian; sedangkan bab 3, 6, dan 10 berisikan delapan bagian. Jadi seluruhnya berjumlah enampuluh bagian. Tiap bagian dibagi pula menjadi seksi-seksi (adhikarana) dan tiap seksi dibentuk dalam bentuk seloka (bentuk kalimat ringkas). Tiap seksi (adhikarana) mempunyai lima bagian: 1. Tesis/ Sasterakanta (Visaya) 2. Kesangsian (samsaya) 3. Antitese/pertentangan (purvapaksa) 4. Konklusi benar/sintesis (siddhanta) 5. Persetujuan/ketetapan hati (sampati) Hanya bab pertama yang mengandung nilai filsafat. Bagian-bagian selanjutnya manjelaskan tafsiran ritual dan upacara-upacara kebaktian. Dapat disimpulkan, menurut sistim Mimamsa segala yang ada di dunia ini merupakan komposisi dari benda-benda yang sesuai dengan karmanya atau kerjanya; karma ialah suatu moral atau tata susila yang menentukan kebebasan jiwa setiap umat daripada kelahiran kembali, maka harus melakukan ritual atau kebaktian dengan saran yang benar guna mendapatkan hasilnya. Seperti penjelasan diatas bahwa dalam Sad Darsana terbagi dalam tiga kelompok, salah satu diantaranya yaitu Mimamsa-Vedanta. Sistem Mimamsa-Vedanta adalah dua bagian dari satu filsafat yang mewakili unsur paling ortodoks dari tradisi Weda. Kedua sistem ini menjelaskan perkembangan, tujuan, serta ruang lingkup teks Weda. Mereka merupakan renungan mendalam dari pencarian yang panjang akan kesatuan mendasar yang melandasi pembentukan dunia luar dan daya-daya tersembunyi kehidupan batin. Filsafat Mimamsa menjelaskan ritual weda (karmakanda). Vdedanta menjelaskan bagian pengetahuan weda (jnanakanda). Karena kedua sistem ini berhubungan dengan aspek-aspek eksklusif weda, maka tidak terdapat banyak kesamaan diantara kedua filsafat ini. Mumamsa berhubungan dengan suara kosmis (sabda Brahman) yang dibekali dengan nama-nama serta bentuk yang diproyeksikan dalam pewahyuan weda, dan bertindak sebagai esensi semua kidung, mantra, dan doa. Yang terkandung didalam Weda, sedangkan filsafat vedanta berhubungan dengan realitas terakhir (Ultimate Reality) atau peran Param - Brahman, yang transenden serta tidak memiliki nama dan bentuk.hanya setelah menguasai bagian sabda-Brahman, kita dapat merealisasikan Param - Brahman. A. Alam dalam filsafat Mimamsa Mimasa mengatakan bahwa alam ini riil dan kekal serta terjadi dari atom-atom yang kekal pula. Alam ini tidak dibuat oleh Tuhan karena alam ini ada dengan sendirinya. Kedua aliran mimasa baik phrabakara maupun kumarila bhata sama-sama mengajarkan adanya empat unsur di alam ini yaitu: substansi, kualitas, aktifitas dan sifat umum. Substansi menurut Prabhakara terdiri dari sembilan (9), yaitu: bumi, air, api, hawa, akasa, akal, pribadi, ruang, waktu. Sedang substansi menurut Kumarita Bhata mengajarkan ada sebelas (11) yaitu sembilan sama dengan Prabhakara dan ditambah dua yaitu kegelapan (tamasa) dan suara. Substansi itu adalah sesuatu yang dapat diamati karena terdiri dari atom-atom yang dapat diamati seperti debu halus yang tampak dalam sinar matahari. Substansi, kwalitas dan sifat umum sesungguhnya tidak dapat dipisahkan dan dibedakan secara mutlak walaupun ketiganya itu sebenarnya berbeda karena ketiga-tiganya mewujudkan satu kesatuan yang bulat. Contoh: daun itu hijau dan berfungsi sebagai alat fotosintesis. Daun dengan warna hijaunya dan sifat umumnya tidak dapat dipisahkan secara mutlak dan ketiganya itu mewujudkan satu kesatuan yang bulat sehingga menampakkan suatu benda. B.Weda dalam filsafat Mimamsa Mimamsa mendasarkan ajarannya pada kitab suci weda dan weda diakui sebagai sumber pengetahuan yang maha sempurna. Weda itu bukan hasil karya manusia karena weda itu amat sempurna sedangkan manusia tidak sempurna adanya. Walaupun demikan weda bukan pula ciptaan Tuhan karena weda telah ada tanpa ada yang mengadakan dan weda ada dengan sendirinya serta bersifat kekal abadi. Kebenaran weda mencakup kebenaran di dunia yang nyata ini dan di dunia yang tidak tampak oleh manusia. Dalam filsafat Mimamsa, liturgi Weda dijelaskan melalui sejumlah besar data yang disampaikan dalam 900 judul terpisah, yang disebut adhikarama. Setiap judul mengandung argumen lengkap mengenai subjek tertentu. Judul terdiri atas lima bagian, yakni: topik masalah (vaisyaya), keraguan (samasya), argumen awal mengankat keraguan (purva-paksha), argumen berlawanan yang mencoba membantah argument awal (uttarapaksha), dan kesimpulan (nirnaya). Dengan cara ini, Mimamsa merumuskan secara canggih pola-pola liturgy ortodoks kitab Weda. PENUTUP Kesimpulan A. Nyaya • Nyaya membicarakan bagian umum filsafat dan metode untuk mengadakan penelitian yang kritis • Pendiri ajaran ini adalah Mahersi Gautama (Gotami), kitabnya yaitu Nyayasutra • Nyaya memiliki tipe filsafat yang analitis serta menjunjung tinggi akal sehat dan sains. Ciri khas sistem Nyaya adalah penggunaan metode sebagai sains, yakni pemeriksaan logis dan kritis • Dalam arti sempit Nyaya berarti penalaran silogostis. Sedangkan dalam arti lebih luas, Nyaya berarti pemeriksaan objek melalui bukti-bukti. Karenanya Nyaya menjadi sebuah sains pembuktian atau pengetahuan nyang benar (Pramanashastra). • Untuk mengetahui dunia di luar manusia, pikiran dibantu (melalui perantara) oleh indera • pengetahuan kita berlaku (benar) atau tidak, hal itu tergantung dari alat-alat yang dipakai. • Alat-alat yang dipakai untuk mendapatkan pengetahuan disebut pramana • empat alat atau cara untuk mencari atau mendapatkan pengetahuan yang benar, diantaranya: Pratyaksa, Anumana, Upamana, Sabda. • Tuhan disamakan dengan siwa. • Menurut Nyaya Tuhan adalah penyebab tertinggi penciptaan, pemeliharaan, dan peleburan dunia • Ada dua macam pembuktian tentang Tuhan: Komologi, yaitu Pembuktian ini menyatakan bahwa dunia ini adalah akibat dari suatu sebab. Sebab itulah Tuhan; dan teleologis, yaitu di dunia ini ada suatu tata tertib dan aturan tertentu sehingga dunia ini menampakkan suatu rencana yaitu Tuhan • Tuhan sebagai penggerak pertama dan utama dari atom-atom yang menjadikan benda-benda di alam ini. Tuhan menciptakan, merawat, melebur alam dan segala isinya dengan pengaruh karma dari alam dan isinya. • Dunia yang diciptakan ini lengkap dengan derita dan kebahagiaan dalam bentuk yang beraneka ragam, dapat atau tidaknya makhluk menikmati kebahagiaan di dunia ini sangat tergantung dari benar tidaknya pengetahuan yang dimiliki oleh makhluk • Dalam ajaran kosmologi Hindu, alam semesta dibangun dari lima unsur, yakni: tanah (zat padat), air (zat cair), udara (zat gas), api (plasma), dan ether. Kelima unsur tersebut disebut Pancamahabhuta atau lima unsur materi. • alam semesta terbentuk secara bertahap dan berevolusi • Pada awal proses penciptaan juga terbentuk purusa dan Prakerti • Kedua kekuatan ini bertemu sehingga terciptalah alam semesta • Mula-mula yang muncul adalah Citta (alam pikiran), yang sudah mulai dipengaruhi oleh Triguna, yaitu Sattwam, Rajas dan Tamas. Tahap selanjutnya adalah terbentuknya Triantahkarana, yang terdiri dari Buddhi (naluri); Manah (akal pikiran); Ahamkara (rasa keakuan). Selanjutnya, muncullah Pancabuddhindria dan Pancakarmendria, yang disebut pula Dasendria (sepuluh indria). • Setelah timbulnya Pancabuddhindria dan Pancakarmendria, maka sepuluh indria tersebut berevolusi menjadi Pancatanmatra, yaitu lima benih unsur alam semesta • Pancatanmatra berevolusi menjadi unsur-unsur benda materi yang nyata. Unsur-unsur tersebut dinamai Pancamahabhuta, atau Lima Unsur Zat Alam • Pada saat penciptaan, Pancamahabhuta bergerak dan mulai menyusun alam semesta dan mengisi kehampaan • Kelepasan akan dapat dicapai dengan melalui pengetahuan yang benar dan sempurna • Agar kelahiran dan derita terhenti maka hendaklah aktifitas (kerja) dihentikan, Untuk menghentikan aktifitas maka orang (makhluk) harus melandasi hidupnya dengan pengetahuan kebenaran sejati sehingga dengan pengetahuan itu orang akan bebas dari ketidaktahuan dan bebas dari keinginan, kesalahan dan penyelewengan • Dengan demikian jiwatma akan bebas dari keterlibatan derita tercapailah kelepasan B. Mimamsa • Istilah Mimamsa berasal dari kata dasar man berarti ’berfikir’, ‘memperhatikan’, ‘menimbang’, atau ‘menyelidiki’. • Secara etimologi ingin berfikir . berarti pemikiran, pemeriksaan atau penyelidikan, dari teks weda • Purwa mimamsa secara khusus mengkaji bagian veda • Purvamimamsa juga disebut karma mimamsa, menafsirkan aksi terlarang dalam weda • Pembina sistem Mimamsa adalah Jamini, kitabnya Mimamsa sutra • Ada dua aliran dalam Mimamsa, yakni Prabhakara dan Kumarila Bhata • rabhakara mengajarkan lima cara untuk memperoleh pengetahuan dan Kumarila Bhata mengajarkan enam • Mimamsa memandang bahwa cara kesaksian (Sabda) ialah yang paling penting dan utama, yakni kesaksian dalam Weda • Tujuan Mimamsa adalah untuk mencapai kebahagiaan surgawi, hal itu dapat dilakukan dengan pelaksanaan dharma, yakni upacara kurban • Mimamsa menerima semua perbuatan terlarang dalam pustaka Weda, serta membagi menjadi dua bagian, yaitu: Mantra dan Brahmana • Pangkal pikiran Mimamsa tercentum dalam sajak pembukaan Mimamsa sutra yang berbunyi; “kini adalah pemeriksaan kewajiban (dharma)” • Menurut Jamini, pengetahuan tentang dharma hanya dapat diperoleh melalui penyaksian kata-kata (sabda) • Pustaka Mimamsasutra terdiri atas dua belas bab (adhayana). Masing-masing dibagi menjadi empat bagian; sedangkan bab 3, 6, dan 10 berisikan delapan bagian • Hanya bab pertama yang mengandung nilai filsafat. Bagian-bagian selanjutnya manjelaskan tafsiran ritual dan upacara-upacara kebaktian • Menurut Mimamsa alam itu kekal, tidak dibuat ileh Yuhan, dan ada dengan sendirinya • Substansi yaitu: bumi, air, api, hawa, akasa, akal, pribadi, ruang, waktu, ditambah tamas dan suara • Substansi, kwalitas, dan sifat umum tidak dapat dipisahkan • weda diakui sebagai sumber pengetahuan yang maha sempurna, weda bukan pula ciptaan Tuhan, weda ada dengan sendirinya. DAFTAR PUSTAKA • Admin, Pratyaksa, diakses pada 13 November 2012, dari http://informatika.undiksha.ac.id/sklb/?p=188 • Djam’annuri,Agama Kita perspektif Sejarah Agama-Agama, Penerbit Kurnia Kalam Semesta, Jakarta:2009 • Harsa Swabodhi, opamana-pramana Budha Dharna dan Hindu Dharma, Medan:Yayasan Perguruan Budaya & Budaya, 1980 • Harun Hadiwijono, Sari Filsafat India, PT. BPK Gunung Mulia, Jakarta:1989 • Heinrich Zimmer, Sejarah Filsafat India, Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, cet. I, 2003 • I Gede Rudia Adiputra dkk, Tattwa Darsana, Yayasan Dharma Sarathi, Jakarta:1990 • I Made Titib, Pengantar Weda, Hanuman Sakti, Jakarta: 1996 • Matius Ali, Filsafat India, Sanggar Luxor, Karang Mulya: 2010, cet l • Teja Surya, filsafat Nyaya diakses pada 12 September 2012, http://www.tejasurya.com/artikel-spiritual/filsafat/87.html • Wikipedia, kosmologi Hindu, diakses pada 19 September 2012, dari http://id.wikipedia.org/wiki/Kosmologi_Hindu • Wikipedia, Agama Hindu, diakses pada 15 November 2012, dari http://id.wikipedia.org/wiki/Agama_Hindu

Zaman Sesudah Agama Budha

Gerakan Keagamaan dalam Agama Hindu yang dipengaruhi oleh Agama Kristen

Pendahuluan 
India adalah negeri yang serba ganda : ganda dalam suku bangsa, ganda dalam budaya, dan ganda dalam soal kepercayaan dan agama. Karena dalam keserbagandaan ini maka mempelajari agama Hindu terasa mengalami kesulitan.Subjeknya sangat luas dan mencakup suatu kesejarahan yang sangat luas dan mencakup suatu kesejarahan yang sangat panjang,apalagi agama tersebut memiliki ajaran yang tak terbatas. Akan tetapi dengan usaha penelusuran, dan mencoba memandangnya secara hati-hati, dalam kesempatan ini akan diusahakan melihatnya dalam suatu bentuk yang dirasa utuh. Kalau ada benarnya ungkapan yang mengatakan bahwa mempelajari Agama Hindu itu ibarat seorang buta yang mencoba menggambarkan gajah,maka usaha ini kiranya dapat digambarkan seperti seorang yang tidak buta dan memiliki keahlian tentang ular sehingga ketika mencoba membahas belalai gajah ia akan merasa lebih menghayatinya daripada ketika membahas bagian-bagian lainnya. 

Mendefinisikan agama Hindu pun juga sulit. Barangkali apa yang dikatakan oleh Thomas R. Trautman ada benarnya sekalipun juga dirasa ada kekurangannya. Dikemukannya bahwa Repubelik India sendiri membatasi pengertian seorang penganut Hindu dengan “ India” yang menurut dia mestinya harus ditambah dengan orang Pakistan, Nepal, Ceylon, yang bukan penganut agama Islam, Kristen, Persia, dan Yahudi. Adalah yang membatasi agama Hindu adalah agama yang para penganutnya menyembah dan memuja dewa-dewa Wisnu, Siwa, Sakti,avatara-avatara (penjelmaan)-nya,anak-anaknya dan sebagainya. Agama Hindu timbul dari dua arus utama yang membentuknya, yaitu agama (bangsa) Dravida dan agama (bangsa) Arya. dalam perkembangannya di India lalu ada usaha-usaha yang mempesonakan untuk memasukkan berbagai macam kepercayaan yang ada, filsafatnya, dan praktek-praktek keagamaannya dalam suatu sistem yang sekarang ini disebut dengan agama Hindu. Memang diakui bahwa perwujudan semngat Hindu yang menyolok adalah semangat sintesis dan kompromis. Agama tersebut menyerap ide-ide, penalaran dan amalan kedewaan Siwa, dewi ibu, pemujaan patung, pertapaan, ajaran penjelmaan kembali dan sebagainya. Siwa dianggap sebagai dewa angin badai yang ada dalam kitab Weda, dan disini Siwa disebut sebagai Rudra. 

Dalam perkembangannya ia adalah salah satu dewa terpenting. dari agama Weda agama Brahmana agama Hindu menyerap system korban dan dewa-dewa alam. Dari agama Brahmana agama Hindu menyerap kepercayaan akan kekalnya kitab-kitab Weda, sistem kasta, upacara-upacara yang rumit dan perayaan keagamaan. dari agama Upanishad agama Hindu menyerap konsep tentang Realitas Tertinggi, juga tentang pengertian kesatuan dengan Tuhan. Agama Upanishad adalah penentang agama Brahmana. dari ajaran-ajaran Sri Krisna agama Hindu menyerap ajaran tentang avatara Wisnu, dan dari kitab Bhagavadgita agama Hindu menyerap ajaran monoteisme dan ajaran etika. Terlepas dari dua arus utama tadi, di India masih ada kepercayaan suku asli yang juga tetap ada perwujudannya dalam agama Hindu. Suku-suku asli India ini menyembah arwah nenek moyang, hantu, sungai, gunung, pohon, dan binatang. Objek-objek ini juga diserap oleh agama Hindu. Di antara dewa yang berasal dari kepercayaan suku asli ialah dewi Kali yang mengerikan. 

Dalam mitologi Hindu, Kali ini adalah istri Siwa dan Dewa Ganesha. Unsur penting yang merupakan ajaran yang dominan dalam agama Hindu adalah unsur teologi, filsafat, lembaga sosial dan etika atau moral.Agama Hindu mempercayai Realitas Tertinggi hanya satu, akan tetapi tidak membatasi “yang satu” sebagai realitas yang dimaksud sebagai Tuhan yang personal. Selain itu agama Hindu juga percaya dan menyembah dewa-dewa alam yang jumlahnya sangat banyak yang dianggap pengatur alam, dan penting kedudukannya dalam upacara korban. Dewa-dewa ini diharapakan memberikan kesenangan, kebahagiaan dan ketenangan, dan sebagai imbangannya, bila para dewa merasa senang, para dewa akan mengabulkan keninginan mereka. Sehubungan dengan itu ada komentar tentang ketuhanan dalam agama Hindu : apakah agama Hindu termasuk politeisme, monoteisme, honoteisme, ataukah yang lain, yaitu katenoteisme. Para ahli filsafat sampai pada pemaduan dengan kepercayaan terhadap satu prinsip tertinggi yang kadang sebagai yang netral dan kadang sebagai yang mutlak yang impersonal. 

1. Gerakan Brahma Samay 
Gerakan Brahma Samay (berarti masyarakat Brahman) tampil sebagai gerakan yang sangat teistik. Gerakan ini menolak politeisme, pemujaan patung-patung, korban Binatang, menganjurkan dihapuskannya praktek sati (pembakaran janda), perkawinan anak-anak dan menolak praktek poligami. Gerakan ini didirikan di Bengala. Tokoh-tokonnya yang sangat terkenal adalah Ram Mohan Roy (1774-1833), Devendranath Tagore (1817-1905), dan Keshab Chandra Sen (1838-1884). Ram Mohan Roy adalah seorang cendekiawan ahli Arab dan Persi. Karya pertamanya berjudul Tuhfat al-muwahhidin yang ditulisnya dalam bahasa Arab. Selain belajar bahasa Arab dan Persia, ia juga mempelajari Bahasa Sanskerta terutama untuk mempelajari agama Hindu. Bahasa Inggris dipelajarinya karena kaitannya dengan East India Company. Bahasa Ibrani dan Bahasa Yunani dipelajarinya dari misi Serampone di dekat Kalkuta. Ram Mohan Roy sering disebut sebagai bapak modernisasi India. Ia mendirikan Brahma Samay sekitar 1828, dan mengajarkan semacam deisme rasionalis. Agak terpengaruh oleh Kristen, setiap malam Minggu ia mengadakan Kebaktian. Tetapi ia menentang ajaran Trinitas. Ia melindungi agama Hindu menghadapi polemik para penulis Kristen yang tidak jujur. Ram Mohan Roy juga pernah menerjemahkan Bibel ke dalam bahasa Bengali dan bahasa Sanskerta. Jasanya dianggap sangat besar dalam menghapuskan sati dan mengenalkan pendidikan Inggris. Tahun 1816, ia menerbitkan Vedanta Sara yang berusaha menemukan suatu monoteisme dalam pandangan Vedanta. Dengan usaha keras dicarinya ayat-ayat dalam Upanishad yang mendukung ajaran monoteisme ini. Dengan tegas ia mengemukakan bahwa tempat untuk memuja para dewa tidak terbatas pada kasta para pemujanya saja. Ia melarang penggunaan patung dan gambar-gambar yang dipasang ditempat ibadat. Hanya Khutbah-khutbah, Kidung-kidung dan do’a-do’a saja yang dibenarkan. Selain itu ia juga mengecam sikap meremehkan peribadatan berbagai macam agama. 

a. Ajaran Brahma Samay 
Diantara ajaran Brahma Samay yaitu Weda adalah Satu-satunya dasar iman. Pengenalan akan Tuhan bersumber kepada alam dan intuisi. Tuhan adalah Zat yang berpribadi, Ia tak pernah menitis, Ia mendengarkan dan mengabulkan do’a manusia. Penyembahan kepada Tuhan harus dilakukan secara rohani jalan mendapatkan keselamatan ialah pertaubatan dan menghentikan perbuatan dosa. Dalam gerakan Brahma Samay ini Weda dianggap sebagai sumber penting dalam kehidupan manusia. Karena itu ia juga mengirimkan empat orang yang dipandang mampu untuk hal ini ke Benares untuk mempelajari dan menyalin kitab-kitab Weda dan harus melaporkan hasil-hasilnya. Di antara hasil-hasilnya ialah bahwa gerakan Samay ini menganggap Weda sebagai kebenaran yang sangat dijunjung tinggi. Keshap Chandra Sen aktif dalam gerakan Samay sejak tahun 1857. Ia berpendapat bahwa yang terpenting dari ajaran tentang “Brahma” adalah konsepsi tentang “Kebapaan Tuhan” dan “Keputraan Manusia” yang kemudian dikembangkannya sebagai “Persaudaraan Manusia”. Pemikirannya sering dinilai kurang teologis. Bahkan dalam perkembangan selanjutnya Keshab mengajarkan konsep keagamaan yang kurang bersifat Hindu lagi, tetapi sebaliknya lebih mengembangkan konsep keagamaan yang agak kekristenan. Pada masanyalah muncul suatu gerakan yang disebut Adi Brahma Samay. Juga pada masanya Gerakan Brahman Samay mencapai puncak tetapi sekaligus menurun. Pada 1879, ia mengajarkan semacam “takdir baru” yang dianggapnya melebihi apa yang pernah ada pada agama Yahudi dan Kristen. Akhirnya hal ini membawa kepada suatu perpecahan yang tidak dapat dihindari lagi. 

2. Gerakan Ramakrisna Mision 
Svami Vivekananda (1843-1902), murid Ramakrisna, pernah menghadiri Parlemen Agama di Chicago. Ia mendirikan misi dengan nama gurunya yang sekarang ini memiliki jaringan yang sangat luas. Kalau pada waktu itu umumnya gerakan keagamaan di India menekankan pada bidang pendidikan dan social, maka Vivekananda dengan misi Ramakrisnanya merupakan pendukung dan pembela dari ajaran Advaita Vedanta yang dikemukakan oleh Sankara. Oleh karena itu para penganut gerakan ini juga para penganut paham tersebut dan memiliki pandangan yang luas dan moderen. Gerakan ini mengajarkan paham monisme absolut dan memandang dunia sebagai ilusi atau maya. Gerakan ini mengakui bahwa Brahma adalah nyata, dan merupakan Wujud Mutlak atau Tuhan yang impersonal. Pendirinya adalah Ramakrisna Prahamsa. dan penyebarnya adalah muridnya yang dinamis, Svami Vivekananda. Ramakrisna Prahamsa (1834-1886) tidak berusaha keras dalam masalah penyingkiran patung-patung seperti lazimnya gerakan pemurnian keagamaan lainnya. Ia banyak bergaul dengan orang-orang yang berlainan agama, akan tetapi menganut kepercayaan terhadap “realitas yang tunggal”. Sekalipun ia adalah seorang yang otodidak, tidak menempuh pendidikan yang resmi, namun dia berusah mengikuti berbagai macam kepercayaan dan mengutamakan pada “penghayatan” dan pengalaman hidup sendiri. Ia, yang juga dikenal dengan nama Gadadhar Chatterji, tidak dapat membaca dan menulis, bukan sarjana, tetapi memiliki keahlian tertentu terutama dalam bidang filsafat dan agama Hindu. Ia cukup bicara dan mengemukakan pendapat-pendapatnya yang kemudian dicatat dan diterbitkan oleh para pengikutnya. Akan tetapi, sekalipun ia adalah tokoh dalam gerakan ini, namun ia bukan pemberi bentuk gerakan tersebut karena pemberi bentuk dan perumus idenya adalah murid dan penggantinya, yaitu Svami Vivekananda. 

a. Ajaran Ramakrisna Mision Memahami pikiran Ramakrisna merupakan suatu usaha yang cukup sulit karena dapat keliru dalam menanggapi arah yang sebenarnya. Pemikirannya lebih bersifat intuitif daripada intelektual, sehingga kalau hanya menekankan pada segi intelektualnya saja, maka ibarat orang pergi ke kebun buah-buahan bukan untuk memakan buahnya tetapi hanya untuk berspekulasi menghitung-hitung cabang masing-masing pohon dan daun pada setiap cabang tersebut. Ia lahir dari suatu keluarga Brahmana di daerah Bengala, kemudian pergi ke Kalkutta dan hidup sebagai pendeta. Pada tahun 1855 ia ditunjuk untuk membawahi biara disebelah utara kotanya, kemudian menjadi seorang pemuja Kali. Agaknya ia juga seorang penganut ajaran Tantra dan mempraktekkan ajarn Bhakti yang mendekati Tuhan sebagai “orang tua”, “pengusaha”, “teman”, “anak”, juga sebagai “kekasih tercinta”. 

Dia mengabdi kepada Rama dengan mengambil sikap sebagai Hanuman. Ia juga mengutamakan advaita dan dalam waktu singkat mampu mencapai nirvikalpa-samadhi, suatu penghayatan advaita yang tinggi. Ajaran lain yang sangat mempengaruhi dirinya antara lain adalah ajaran Islam walaupun ia mempraktekkan ajaran ini tidak secara menyeluruh.Penghayatannya dan pengalaman-pengalaman keagamaannya memperteguh keyakinannya bahwa pada hakikatnya agama itu adalah satu dan tidak memiliki perbedaan yang hakiki. Baginya, agama dan kepercayaan yang bermacam-macam itu adalah ibarat sungai-sungai yang akhirnya mengalir ke samudera yang sama. Ramakrisna mengunakan kiasan-kiasan dan perumpamaan-perumpamaan dalam mengemukakan pendapat-pendapatnya dan tidak mempergunakan terminologi filosofis yang bersifat teknis. Dia tidak melihat perbedaan antara Brahman yang personal dan yang impersonal. Kalupun toh ada, menurut dia hanyalah seperti perbedaan antara permata dengan kilau sinarnya saja. Semua agam bertujuan sama, dan hanya jalannya saja yang berbeda-beda ; dan ibaratkan kue manis, maka rasa manis tersebut akan terasa di seluruh bagian kue tersebut, maka rasa manis tersebut akan terasa di bagian kue tersebut, baik di tengah-tengahnya, dipinggirnya, maupun di atas dan di bagian bawahnya. 

Pemikirannya ini dikembangkan oleh murid-muridnya. Svami Vivekananda, atau disebut pula Narendranath Datta, kemudian memproklamirkan ajaran Ramakrisna ini ke seluruh dunia. Ia juga menyusun suatu gerakan yang terutama ditujukan dalam segi sosial sehingga mampu mengisi dan berbuat banyak. Misi Ramakrisna kemudian banyak berfungsi dan berperan dalam masyarakat. Vivekananda banyak menyerap pendidikan Barat, terutama pandngan-pandangan dari John Stuart Mill, David Hume dan Herbert Spencer, sehingga ia sering merasakan krisis yang akut dalam setiap diskusi dengan Ramakrisna terutama dalam setiap persoalan skeptisisme. Pengaruh besar Ramakrisna dan krisisnya sendiri, ditambah dengan kemiskinan, kemelaratan serta kematian ayahnya, membawanya untuk harus menyelesaikan sendiri persoalan tersebut. Setelah gurunya meninggal dunia, Vivekananda mengumpulkan murid-muridnya dalam suatu persaudaraan di Benares. Dengan menempuh hidup sebagai seorang sanyasin, ia mengembara ke segenap pelosok India. Dalam kesempatan menghadiri Parlemen Agama-agama Dunia di Chicago ia sempat menggugah pers Amerika dan India. Sekembalinya ke India, pada tahun 1897, ia diterima dengan baik di Ceylon dan kemudian menelusuri pantai timur India. Tahun itu pula ia mengorganisir “Ramakrisna Mision”. 

Gerakan ini banyak memberikan arti dalam kehidupan orang-orang India. Pusatnya terdapat di Belur, sebelah utara Kalkutta, dan mempunyai beberapa cabang di kota-kota lainnya. Publikasi gerakan ini adalah tentang agama dan kebudayaan India.Svami Vivekananda adalah seorang tokoh terbesar yang sangat berpengaruh dalam “mendinamiskan agama Hindu”. Ia menafsirkan ajaran advaita dengan tafsiran yang membawa kebangkitan agama Hindu dengan menekankan pada nasionalisme dan usaha-usaha kemasyarakatan. Dia mengatakan bahwa India memerlukan otot dari baja, yang hanya dapat tercapai kalau cita-cita advaita, cita kesatuan, dapat dimengerti dan terwujud. Mengenai Brahman, Vivekananda memberikan pengertian yang kemudian merupakan suatu permulaan bagi suatu agama baru. Interpretasinya sangat berpengaruh di kalangan bangsa India. Tafsiran advaitanya itu selanjutnya mengatakan bahwa Tuhan dan tanah air India adalah satu; membebaskan tanah air adalah juga membebaskan Tuhan. Konsep maya, menurut dia, bukannya memberikan pengertian ilusi semata, tetapi melalui maya justru dapat dimengerti “realitas” yang sesungguhnya sehingga menjadi jelas bahwa advaita bukan bersifat pasif tetapi sebaliknya, bersifat aktif. Brahma itu sendiri adalah nyata. Dengan demikian dapat dinilai bahwa gerakan ini sebenarnya bukan merupakan gerakan keagamaan saja, tetapi juga merupakan gerakan kebangsaan India. Kata semboyan bagi semua makhluk,terutama dalam kasus peradaban manusia, bukanlah aku melainkan engkau.menurutnya, apakah ajaran ini dapat dipraktikkan kedalam masyarakat modern? Kebenaran tidak member hormat kepada masyarakat manapun, apakah modern atau masyarakat tua.tapi masyarakatlah yang harus menyatakan hormat kepada kebenaran,tapi kebenaran tidak perlu menyesuaikan diri pada masyarakat.

3. Penutup 
Dalam perkembangan selanjutnya, selain pusat-pusat keagamaan di kraton, juga terdapat pusat-pusat keagamaan Hindu yang disebut Paguron atau mandala atau kasturi. Ditempat-tempat ini para pendeta memberikan pelajaran. Kitab-kitab yang ada pada waktu itu adalah kitab Tantu Panggelaran, juga kitab Nawaruci yang juga disebut dengan kitab Tattwajnana. Kitab terakhir ini penting karean mistik yang terdapat di dalamnya sampai sekarang masih berlaku di kalangan tertentu. Dasar fikiran dan mistik itu sendiri juga terdapat dalam kitab-kitab Suluk yang sudah mendapat pengaruh dari Islam. Agama Hindu mempersonifikasikan kekuatan-kekuatan Sang Hyang Widi dalam bentuk beberapa dewa yang banyak jumlahnya, akan tetapi mempunyai fungsi-fungsi tertentu sesuai dengan kepentingan makhluk hidup ini. Sebagai Bhatara Brahma, ia memberikan pegangan dan tuntunan bagaimana manusia harus bertindak. Dalam hal ini Brahma bertindak sebagai Sang Hyang Saraswati yang memberikan ilham kepada para maharesi (salah literature menyebut seperti Nabidalam Islam). Ia adalah sumber ilham, sumber gerak dan sumber ciptaan manusia. Gerakan-gerakan yang ada didalam Agama Hindu diantaranya adalah Brahma Samay dan Ramakrisna Mision merupakan suatu gerakan pembaharu didalam umat Hindu, yang mana kedua gerakan tersebut tetap bersumber dari weda, meskipun di tiap-tiap gerakan memiliki pemikiran atau pusat perhatiannya masing-masing. 

Daftar Pustaka : 
• Ali.Mukti, Agama-agama Dunia, Yogyakarta : IAIN Sunan Kalijaga Press, 1998 
• Ardhana.Suparta, Sejarah Perkembangan Agama Hindu, PT. Paramita, 2002 
• Hadiwijono.Harun, Agama Hindu dan Budha, PT. BPK Gunung Mulia, 2003 
• Pendit S. Nyoman, Percik Pemikiran Svami Vivekananda, PT. Penebar Swadaya, 1993

Popular Posts