Rabu, 19 Desember 2012

Astangha Yoga


Pendahuluan
Yoga merupakan salah satu jalan untuk memperoleh penyatuan dengan Tuhan melalui latihan yang sangat keras dan teratur, sehingga apa yang menjadi tujuan kita tercapai. Yoga bukan merupakan tradisi yang mati, yang kemudian stagnan tanpa perubahan, melainkan selalu berubah dan dieksplorasi oleh para pelakunya, sehingga senantiasa menghasilkan perubahan yang dianggap lebih efektif. Ada banyak aliran dalam yoga, karena yoga bukan merupakan satu kesatuan utuh. Melainkan pendapat dan latihan setiap alirannya berbeda dan tidak dapat didamaikan. Jadi, ketika kita berbicara tentang yoga, artinya kita membicarakan tentang banyak aliran dalam yoga. Satu aliran yang paling senior, terkenal dan berpengaruh adalah aliran Patanjali yang dikenal dengan Raja Yoga. Dan aliran ini yang akan kami bicarakan di sini, karena jika harus menguraikan perdebatan berbagai aliran, akan sangat menyita waktu.
Patanjali, dalam Kita Yoga Sutras, memuat penjelasan tentang delapan aspek yoga yang dikenal dengan ashtanga-yoga. Kedelapan ruas ini, seringkali digambarkan sebagai tangga yang membimbing kehiudpan biasa menuju realisasi Diri dan melampaui personalitas ego.

Delapan jalan menuju ‘penyatuan’ Asthanga-yoga dan Etika dalam ajaran Yoga
Tujuan Yoga ialah untuk mengembalikan Citta[1] itu dalam keadaannya yang semula, yang murni tanpa perubahan, sehingga dengan demikian purusa[2] itu dibebaskan dari kesengsaraannya.[3] Sementara menurut Matius Ali, Tujuan Yoga Patanjali adalah mencapai kebebasan melalui konsentrasi dan Samadhi. Istilah teknis untuk pencapaian ini adalah ‘pembebasan’ (kaivalya). [4] Menurut Sri Aurobindo, Raja-Yoga bertujuan untuk mencapai pembebasan dan penyempurnaan diri mental, yakni pengendalian seluruh perangkat pencerapan, emosi, pikiran dan kesadaran. [5]
Mahārși Patañjalidalam kitab Yoga Sutrasmenyusun ‘8 ruas yoga’ (Asthanga-yoga) sebagai sebuah metode spiritualitas praktis dalam Yoga Sutras (2.29).[6]
1.       Disiplin Moral (Yama)
2.       Disliplin Diri (Niyama)
3.       Postur Tubuh (asana)
4.       Pengendalian Napas (pranayama)
5.       Pengendalian Indera (Pratyahara)
6.       Konsentrasi (Dharana)
7.       Meditasi (Dhyana)
8.       Ekstasis (Samadhi)
Agar purusa itu bisa dilepaskan dari ikatan prakrti[7], orang harus dapat menindas wrtti[8] itu, yaitu dengan meniadakan klesa-klesa. Sebab klesa itu mewujudkan satu fungsi yang menjadi dasar pembentukan karma, yang menimbulkan awidya atau ketidak-tahuan. Di dalam kehidupan kejiwaan manusia, terdapat suatu perputaran yang tidak putus, yaitu perputaran wrtti, kecenderungan-kecenderungan, klesa-klesa, awidya dan seterusnya. Tujuan Yoga ialah untuk mematahkan perputaran yang tidak putus ini, dengan perlahan-lahan meniadakan klesa-klesa dan memberhentikan wrtti. Hal ini hanya dapat diwujudkan melalui usaha (abhyasa) yang terus-menerus dan keadaan tanpa nafsu (wairagya). Manusia dapat melepaskan diri dari nafsu melalui usaha dan latihan yang panjang sehingga dapat membedakan antara pribadi dengan yang bukan pribadi, melalui asthanga-yoga.[9]
Harun Hadiwijono menyusun asthanga-yoga dalam skema sistematis seperti berikut:

Delapan aspek asthanga-yoga ini dapat dibagi menjadi dua bagian yang besar, yaitu: pertama,mulai dari yama sampai pratyahara disebut pertolongan-pertolongan yang tak langsung atau yang dari luar (bahiranga); dan mulai dari dharana sampai Samadhi, yang disebut pertolongan-pertolongan yang langsung dari dalam (antaranga).[1]
Kedelapan aspek yoga tersebut dapat dilihat dari dua perspektif, yakni: pertama, sebagai unifikasi kesadaran yang tumbuh; kedua, sebagai pemurnian diri yang progresif. Kedua sudut pandang ini tercermin dalam Yoga-Sutras. [2]
1.       Disiplin Moral atau Pengekangan Diri (Yama)
Definisi Yama yang dijelaskan dalam Yoga Sutras (2.30): “Yama teridiri atas tanpa kekerasan, kebenaran, tidak mencuri, selibat dan ketidak-tamakan (ahimsa satyasteya bramacaryaparigraha yamah). Seperti juga semua spiritualitas otentik, fondasi yoga dibangun atas sebuah etika universal. Karenanya, ruas pertama yoga Patanjali bukanlah postur tubuh atau meditasi, melainkan disiplin moral (yama).[3] Kelima bagian Yama adalah:
a.       Tanpa kekerasan (ahimsa)
Dari semua kewajiban moral, ‘tidak menyakiti’ adalah yang paling utama. Kata ahimsa seringkali diterjemahkan sebagai tidak membunuh, namun ini tidak memberikan arti yang penuh dari kata ahimsa. Dalam Yoga Sutras (2.35), ahimsa didefinisikan sebagai:
“Jika ahimsa sudah dilaksanakan secara mantap, maka semua kebencian akan terhenti.”[4]
Sebenarnya ahimsa adalah ‘tanpa kekerasan’ baik di dalam pikiran maupun dalam tindakan.[5] Ia menjadi dasar dari disiplin yang lain. Keinginan untuk tidak menyakiti yang lain bersumber dari dorongan kea rah unifikasi dan tansendensi sang ego. [6]
b.      Kebenaran (satya)
‘Kebenaran’ (satya) seringkali ditinggalkan dalam literatur etika dan yoga. Karena bagi orang yang sudah menjalankan kebenaran, kejujuran, semua tindakan serta akibatnya akan tunduk padanya. Dalam Yoga Sutras dikatakan bahwa:
“Bagi orang yang sudah menjalankan kebenaran dan kejujuran, semua tindakan serta akibatnya ada di bawah kendali dirinya.”[7]
Satya yaitu jujur baik dalam perkataan maupun dalam pikiran. [8]       
c.       Tidak Mencuri (Asteya)
‘Tidak mencuri’ (asteya) terkait erat dengan ahimsa, karena pemilikan benda berharga secara tidak benar, melanggar hak orang yang ia curi. Menurut Yoga Sutras, asteya dapat didefinisikan:
        “Jika asteya sudah ditanamkan, maka semua kekayaan akan datang.” [9]
d.      Kesucian-Kemurnian atau mengendalikan nafsu jasmani dan nafsu asmara (brahmacarya)
‘Selibat’ (brahmacarya) secara harfiah berarti ‘tingkah laku Brahmana’ merupakan hal penting yang inti dalam kebanyakan tradisi spiritual dunia, walaaupun ditafsirkan secara berbeda. Dalam Yoga Sutras (2.38) Brahmacarya dijelaskan sebagai berikut:
        “Dengan menjalankan brahmacarya, orang mendapatkan kekuatan.” [10]
Dalam sistem Yoga, selibat didefinisikan dalam istilah asketisme yakni menahan diri dari aktivitas seksual, baik dalam perbuatan maupun dalam pikiran. Secara umum, rangsangan seksual dianggap menghambat dorongan ke arah pencerahan.
e.      Ketidaktamakan (Aparigraha)
‘Ketidaktamakan’ (aparigraha) didefinisikan sebagai ‘tidak menerima hadiah’, karena hadiah tersebut menimbulkan keterikatan serta rasa takut akan kehilangan. Jadi, para yogi dianjurkan untuk menumbuhkan kesederhanaan dengan sengaja. Terlalu banyak kepemilikan akan mengganggu pikiran. Penyangkalan diri (renunciation) merupakan sebuah aspek integral dari kehidupan seorang Yogi. Yoga Sutras (2.39) memberikan definisi aparigraha sebagai berikut:
        “jika aparigraha sudah tertanam, maka akan datang sebuah iluminasi menyeluruh tentang bagaimana dan mengapa seseorang dilahirkan.” [11]

Jika diikuasai sepenuhnya, maka masing-masing dari kelima keutamaan dapat membeirkan kekuatan paranormal (siddhi). Sebagai contoh, penguasaan ahimsa akan menciptakan aura kedamaian di sekitar diri sang yogi yang dapat menetralisir semua rasa permusuhan serta penguasaan kebencian.
Melalui kebenaran (satya) seorang praktisi yoga mendapatkan kekuatan dengan selalu mewujudkan kata-katanya. Penguasaan keutamaan ‘tidak mencuri’ (asteya) mendatangkan segala macam harta tanpa usaha yang keras, sedangkan ‘ketidaktamakan’ (aparigraha merupakan kunci untuk memahami kelahiran mereka sekarang, masa depan dan sebelumnya. [12]
2.       Disiplin Diri (Niyama)
Ruas kedua Raja-yoga Patanjali, yakni: ‘disliplin diri’ (niyama), bertujuan untuk mengendalikan energi psiko-fisis yang ditimbulkan dari pengendalian diri kehidupan batin para yogi. Jika kelima disiplin moral (yama) bertujuan mengatur latihan displin yang teratru sebagai unsur konstitutif keselarasan dengan dengan manusia lain, maka kelima aturan ‘disiplin diri’ (niyama) bertujuan menyelaraskan hubungan kelima disiplin diri dengan kehidupan secara menyeluruh dan dengan Realitas Transendental.[13]
Dalam Yoga-Sutras (2.32) Niyama dijelaskan sebagai:
“Niyama terdiri atas kemurnian diri, berpuas diri, askese, studi teks spiritual dan penyerahan diri pada Tuhan.”
Kelima latihan niyama adalah:
1.       Kesucian atau kemurnian (shauca)
‘Kemurnian diri’ (sauca) merupakan kata kunci dalam spiritualitas yoga. Karenanya, tidaklah mengherankan bahwa kemurnian diri termasuk dalam daftar pertama dari kelima disiplin diri. Dalam Yoga Sutras (2.40) dijelaskan:
“Melalui pemurnian diri timbul kemuakan terhadap tubuh sendiri dan terhadap sentuhan dari tubuh yang lain.”[14]
2.       Berpuas Diri (Samtosha)
Berpuas diri artinya tidak menginginkan lebih dari apa yang sudah dimiliki. Karena itu, berpuas diri merupakan keutamaan yang bertentangan dengan mentalitas konsumerisme modern yang didorong oleh kebutuhan untuk selalu mendapatkan lebih dari mengisi kekosongan batin. Berpuas diri adalah ungkapan dari penyangkalan diri,  yakni pengorbanan secara sukarela akan apa yang menurut takdir akan diambil dari kita pada saat kematian. Samtosha membuat para yogi mengalami keberhasilan atau kegagalan, susah atau senang dengan ketenangan hati. [15] Dalam Yoga Sutras (2.42) samtosha dijelaskan sebagai:
        “Dengan berpuas diri, kegembiraan tertinggi dicapai”[16]
Di sini, kita harus mengerti perbedaan antara ‘berpuas diri’ (contentment) dengan ‘kepuasan diri’ (satisfaction). Berpuas diri artinya menjadi diri kita seperti apa adanya, tanpa mencari kebahagiaan dari benda-benda di luar. Jika sesuatu datang, kita biarkan ia datang. Jika tidak, ya tidak masalah. Berpuas diri artinya bersikap apa adanya, yakni tidak menyukai dan juga tidak membenci.
3.       Askese (Tapas)
Askese merupakan unsur atau komponen ketiga dari niyama dan mencakup latihan, seperti: berdiri atau duduk diam dalam waktu lama; menahan kelaparan, kehausan serta panas dan dingin, berdiam diri, serta berpuasa. Kata tapas berarti ‘berkilau’, ‘panas’ dan merujuk pada energi psikosomatis yang dihasilkan dari latihan asketisme yang seringkali dialami sebagai rasa panas. Para yogi menggunakan energi ini utuk memanaskan kawah energi tubuh dan pikiran mereka, sampai menghasilkan kesadaran yang lebih luhur.
Dalam Yoga Sutras (3.46) tapas dijelaskan:
“Sebagai hasil latihan samyama akan datang, pencapaian anima serta kekuatan lain, seperti kesempurnaan tubuh, menjadi kebal terhadap umur tertentu” (Y.S. 3.46)
Askese tidak boleh dikacaukan dengan penyiksaan diri. Dalam Bhagavad-Gita (17.14-19), dibedakan tiga macam asketisme, tergantung pada kecenderungan dari ketiga kualitas alam (gunas):
“Penyembahan pada dewa-dewa, terhadap sulinggih, para guru dan orang bijaksan, kesucian, kejujuran, brahmachari, ahimsa, hal-hal ini disebut ujian (tapas) atas tubuh”. (Gita. 17.14)
“Ucapan kata-kata yang tidak menyakitkan hati, bebas dari hinaan, yang mengandung kebenaran, menyenangkan dan bermanfaat dan pengucapan Weda dengan teratur, inilah yang disebut ujian (tapas) dari ucapan” (Gita. 17.15)
“Ketenangan pikiran, kelemah-lembutan, baik hati, pendiam, penguasaan diri, kesucian hati, ini disebut pertapaan pikiran” (Gita. 17.16)
“Ketiga macam pertapaan yang dilakukan dengan kepercayaan yang teguh oleh mereka yang pikirannya kuat untuk tidak menghendaki buahnya, dikatakan sattwika, baik” (Gita. 17.17)
“Pertapaan yang dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan kehormatan, dan hanya sebagai pameran belaka, dikatakan Rajasika, dan adalah goyah dan tidak panjang umurnya” (Gita. 17.18)
“Pertapaan yang dilakukan dengan kebodohan, keras kepala dengan jalan penyiksaan diri dan untuk menyakiti orang lain adalah Tamasika, bodoh” (Gita. 17.19)
4.       Studi Teks Spiritual (Svadhyaya)
‘Studi teks spiritual’ merupakan komponen keempat dari niyama yang merupakan latihan yoga yang penting. Kata svadhyayayang dibangun dari kata sva yang berarti ‘sendiri’ dan adhyaya, artinya ‘masuk ke dalam’. Kata ‘studi’ merujuk pada pencarian makna tersembunyi dari teks kitab suci. Tujuan svadhyaya bukanlah sebuah pembelajaran intelektual, melainkan penerapan ke dalam kearifan kuno. Svadhyaya merupakan sebuah renungan meditatif mengenai kebenaran yang dibukakan oleh para Rishi dan arif bijaksana yang telah berjalan ke wilayah di mana pikiran tidak dapat mengikuti serta hanya hati yang menerima. Dalam Yoga Sutras (2.44) dikatakan bahwa:
        “Dengan mempelajari teks-teks spiritual, akan terjadi penyatuan dengan dewa-dewi yang disembah”. [17]
5.       Penyerahan diri pada Tuhan (Ishwara-pranidhana)
Unsur terakhir dari Niyama adalah Ishwara-pranidhana, artinya penyerahan diri secara menyeluruh kepada Tuhan (Ishwara).[18] Dalam Yoga Sutras dijlaskan bahwa:
        “ Melalui penyerahan diri secara menyeluruh, samadhi dicapai”
Ishwara adalah salah satu dari Diri transendental yang satu dan banyak (purusha). Menurut definisi yang diberikan Patanjali, status Ishwara yang luar basa diantara banyak diri disebabkan oleh fakta bahwa Ia tidak akan pernah tunduk pada ilusi yang menghilangkan kemahatahuan serta kemahahadiran-NYa. DIri bebas yang lain, pernah sekali waktu mengalami kehilangan kemahatahuan dan kemaha-hadiran-Nya ketika mereka menganggap diri mereka sebagai sebuah personalitas egois partikular atau tubuh-pikiran terbatas. Secara inheren, semua diri adalah bebas, namun hanya Ishwara yang sadar akan kebenaran ini.

3.       Postur Tubuh (asana)
Secara harfiah, kata asana berarti ‘dudukan’. Kedua komponen dari ‘delapan ruas yoga’ (ashtanga yoga) Patanjali, yakni yama dan niyama, berfungsi mengatur kehidupan sosial serta personal para praktisi yoga. Yama dan niyama adalah sebuah usaha untuk mengurangi terjadinya keinginan serta tindakan tidak baik, sehingga tidak menambah timbunan karma buruk yang baru dalam kehidupan ini.
Tujuan dari latihan yama dan niyama adalah untuk menghilangkan semua karma, yaitu semua penyebab subliminal yang tertanam di dalam jiwa (psyche). Untuk mewujudkan sebuah transformasi kesadaran, seorang yogi harus menciptakan kondisi lingkungan yang benar, baik di dalam maupun di luar diri. Yama-niyama merupakan langkah awal untuk untuk menciptakan kondisi lingkungan yang benar, sedangkan latihan berbagai postur tubuh (asanas) adalah sebuah usaha untuk mengangkat tubuh ke tahap berikutnya. Secara esensial, asanas adalah sebuah latihan untuk memurnikan dan mendiamkan tubuh fisik. Dalam Yoga Sutras (2.46), dikatakan bahwa:
                “Postur tubuh haruslah dalam kondisi stabil dan enak”.
Dengan melipat anggota tubuhnya, para yogi segera mencapai perubahan suasana dan ketenangan dalam batin. Ketenangan ini membantu untuk mempermudah proses konsentrasi pikiran.
Sekelompok asanas membentuk semacam ‘simbol’ (mudras) yang memiliki makna simbolis. Bentuk mudras ini memilki potensi kuat untuk mengubah kondisi sang yogi, karena mempengaruhi sistem kerja kelenjar endokrin tubuh. Namun melalui latihan yang teratur, praktisi yoga akan dapat menemukan perubahan yang terjadi sebagai akibat dari asana tertentu. Menurut Patanjali, latihan asanas yang teratur dan benarakan menghilangkan sensitifitas terhadap dualisme ganda, seperti: panas dan dingin, terang dan gelap, hening dan ribut.

4.       Pengendalian Napas (pranayama)
Kata prana berarti ‘daya hidup’ (life force), ‘vitalitas’. Kata prana seringkali diterjemahkan sebagai ‘napas’ (breath) dan ‘hidup’ (life), padahal sebenarnya napas merupakan sebuah manifestasi luar dari prana, yakni daya hidpu yang menembus serta menopang semua kehidupan. Pranayama merupakan komponen ke-empat dari ‘delapan ruas yoga’ Patanjali.
‘Seluruh petualangan yoga berpuasa pada pengolahan prana’. Ini menunjukkan pentingnya pranayama dalam proses yoga.
Teknik pranayama adalah sebuah cara sistematis yang dikembangkan oleh para yogi untuk untuk mempengaruhi medan bioenergi tubuh. Bahkan latihan disiplin moral (yama), pengendalian diri (niyama), pengendalian indera (pratyahara) dan konsentrasi mental (dharana), juga merupakan bentuk manipulasi daya prana. Dalam budaya lain, ide tentang bioenergi prana dikenal sebagai chi di Tiongkok dan mana di dalam tradisi Polinesia. Para peneliti modern menyebutnya sebagai energi bioplasma. Para praktisi yoga mengetahui bahwa ada hubungan antara prana, napas, emosi dan pikiran.
Dalam Yoga Sutras (2.49) dikatakan bahwa:
                “Setelah menguasai asanas, kita harus melatih keluar masuknya napas”. [19]

5.       Pengendalian Indera (Pratyahara)
Latihan asana dan pranayama menghasilkan sebuah dsensitifikasi yang akan menghentikan ransangan dari luar diri sang yogi. Kemudian secara berangsur sang yogi dapat hidup dalam lingkungan batin pikirannya sendiri. Jika kesadaran sudah bisa secara berangsur sang yogi dapat hidup dalam lingkungan batin pikirannya sendiri. Jika kesadaran sudah bisa secara efektif membebaskan diri dari pengaruh lingkungan luar, maka kondisi tersebut pratyahara. Dalam Mahabharata (12.194.58) dikatakan tentang pratyahara:
“Sang Diri (self) tidak dapat ditangkap dengan indera yang kacau, terpecah-belah dan terpencar dan sulit untuk dikenalikan bagi orang  yang belum siap” (Mahabharata 12.194.58)
Dan dalam Yoga Sutras (2.54), pengendalian indera-indera (pratyahara) dijelaskan sebagai:
“JIka indera-indera menarik diri dari objek (benda-benda) dan meniru seolah-olah memiliki kodrat materi pikiran, maka inilah yang disebut pratyahara”. [20]

6.       Konsentrasi (Dharana)
‘Konsentrasi’ merupakan proses lanjutan dari pratyahara. Konsentrasi adalah komponen keenam dari ashtanga-yoga Patanjali. Konsentrasi dapat didefinisikan sebagai ‘memfokuskan perhatian pada satu tempat tertentu’ (desha). Tempat (locus) tersebut dapat merupakan bagian tertentu dari tubuh, serpeti cakra atau objek eksternal yang diinternalisasikan seperti imaji seorang dewa-dewi. Istilah yang dipakai oleh Patanjali untuk ‘konsentrasi’ adalah dharana.
Dalam Yoga Sutras (2.53), dharana dijelaskan sebagai berikut:
                “Dan pikiran sudah siap untuk konsentrasi”.
                “Dharana adalah memfokuskan pikiran pada satu tempat, objek atau ide”. (Y.S. 3.1)
7.       Meditasi (Dhyana)
Konsentrasi yang diperpanjang serta mendalam, secara alami akan membimbing seseorang ke kondisi yang disebut ‘meditasi’ (dhyana). Dalam meditasi, objek atau locus yang diinternalisasikan mengisi seluruh ruang kesadaran. Jika dalam ‘konsentrasi’ mekanisme utama adalah ‘keterfokusan perhatian’, maka dalam ‘meditasi’ mekanisme yang mendasari proses ini adalah ‘kemengaliran yang tunggal’ (ekatanata). [21]
Kondisi meditasi tidak menghilangkan kejernihan pikiran, malah sebaliknya ia memperkuat ke-sadar-an, walaupun memang tidak ada atau terdapat sedikit sekali kesadaran akan lingkungan eksternal. Tujuan awal meditasi dalam yoga adalah untuk menahan, menekan, serta menghentikan modifikasi pikiran (cittas-vritti-nirodhah). Aktivitas mental tersebut meliputi lima kategori:
1.       Pramana      : pengetahuan yang diperoleh melalui persepsi, penyimpulan atau bukti yang bisa dipertanggungjawabkan, seperti teks kitab suci.
2.       Viparyaya    : Kesalahpahaman, pengertian yang keliru.
3.       Vikalpa         : pengetahuan konseptual, imajinasi.
4.       Nidra             : tidur
5.       Smriti            : Ingatan.
Dalam kondisi identifikasi dengan Diri (self), unsur pengaktif yang menyebabkan eksternalisasi kesadaran dicabut. Ingatan memiliki dua aspek, yakni aspek kasar dan aspek halus. Aspek kasar dari ingatan dapat dilumpuhkan melalui meditasi, sedangkan aspek halusnya dapat dinetralkan melalui samadhi suprasadar. Ada 3 tahap proses ‘penghentian’ (nirodha), yakni:
a.       Vritti-nidrodha          : penghentian kelima kategori aktivitas mental kasar dalam meditasi.
b.      Pratyaya-nirodha    : penghentian ide (pratyaya) yang muncul dalam berbagai jenis samadhi sadar (samprajnata-samadhi). Para yogi harus dapat mengatasi pikiran yang mucnul secara spontan dalam kondisi savitarka-samapatti[22]. Para yogi juga harus mampu melampaui rasa bahagia (ananda) dalam kondisi ananda-samapatti
c.       Samskara-nirodha  : penghentian unsur pengaktif batin dalam kondisi samadhi suprasadar (asamprajnata-samadhi). Dalam kondisi asmprajnata-samadhi, sang yogi melumpuhkan ingatan batin dengan potensi laten (vasana), yang selalu menghasilkan aktivita spsikomental baru.
Masalah penghancuran samskara dijelaskan dalam Yoga Sutras (1.50)
        “Kesan (impresi) yang dihasilkan melalui samadhi akan menghapuskan semua kesan-kesan lainnya.”[23]

8.       Ekstasis (Samadhi)
Pada bagian konsentrasi dan meditasi, sudah dijelaskan bahwa konsentrasi (dharana) mengarah pada meditasi (dhyana). Kemudian kita akan mleihat bahwa meditasi (dhyana) mengarah pada penyatuan (samadhi). Kondisi samadhi dapat tercapai jika semua modifikasi (vritti) dalam kesadaran bangun sudah dihentikan melalui latihan meditasi.  Karena itu, konsentrasi, meditasi dan penyatuan merupakan tiga fase dari satu proses yang berkesinambungan (samyama). Yoga Sutras memberikan (3.3) memberikan definisi samadhi sebagai:
“samadhi adalah kondisi meditasi yang sama, dimana hanya ada objek saja, seolah tidak ada bentuknya”.[24]
Samadhi adalah suatu kondisi puncak yang dicapai melalui sebuah proses disiplin mental yang panjang dan sulit.

Etika Yoga
Secara umum, konsep etika dalam Yoga termasuk dalam latihan yama dan niyama, yaitu disiplin moral dan disiplin diri. Aturan-aturan yang ada dalam yama dan niyama, juga berfungsi sebagai kontrol sosial dalam mengatur moral manusia. Akan tetapi, dalam bukunya Tattwa Darsana, I Gede Rudia menjelaskan bahwa etika dalam yoga adalah sebagai berikut.
Dalam samadhi, seorang Yogi memasuki ketenangan tertinggi yang tidak tersentuh oleh suara-suara yang tak henti-hentinya, yang berasal dari luar dan pikiran kehilangan fungsinya, di mana indera-indera terserap ke dalam pikiran. Apabila semua perubahan pikiran terkendalikan, si pengamat atau Purusa, terhenti dalam dirinya sendiri dan di dalam Yoga-Sutra Patanjali disebut sebagai Svarupa Avasthanam (kedudukan dalam diri seseorang yang sesungguhnya).[25]
Dalam filsafat Yoga, maka yoga berarti penghentian kegoncangan-kegoncangan pikiran. Ada lima keadaan pikiran itu. Keadaaan pikiran itu ditentukan oleh intensitas sattwa, rajas dan tamas. Kelima keadaaan pikiran itu adalah:
1.       Ksipta artinya tidak diam-diam
Dalam keadaan pikiran itu diombang-ambingkan oleh rajas dan tamas, dan ditarik-tarik oleh objek indriya dan sarana-sarana untuk mencapaInya, pikiran melompat-lompat dari satu objek ke objek yang lain tanpa terhenti pada satu objek. [26]
2.       Mudha artinya lamban dan malas
Ini idsebabkan oleh pengaruh tamas yang menguasai alam pikiran. Akibatnya orang yang alam  pikirannya demikian cenderung bodoh, senang tidur dan sebagainya.
3.       Wiksipta artinya bingung, kacau.
Hal ini disebabkan oleh pengaruh rajas. Karena pengaruh ini , pikiran mempu mewujudkan semua objek dan mengarahkannya pada kebajikan, pengetahuan, dan sebagainya. Ini merupakan tahap  pemusatan pikiran pada suatu objek, namun sifatnya sementara, sebab akan disusul lagi oleh kekuatan pikiran.
4.       Ekarga artinya terpusat.
Di sini, Citta terhapus dari cemarnya rajas sehingga sattva lah yang menguasai pikiran. Ini merupakan awal pemusatan pikiran pada suatu objek yang memungkinkan ia mengetahui alamnya yang sejati sebagai persiapan untuk menghentikan perubahan-perubahan pikiran.
5.       Niruddha artinya terkendali
Dalam tahap ini, berhentilah semua kegiatan pikiran, hanya ketenanganlah yang ada.
Ekagra dan Niruddha merupakan persiapan dan bantuan untuk mencapai tujuan akhir, yaitu kelepasan. Ekagra bila dapat berlangsung terus menerus, maka disebut samprajna-yoga atau meditasi yang dalam, yang padanya ada perenungan kesadaran akan suatu objek yang terang.
Tingkatan Niruddha juga disebut asaniprajnata-yoga, karena semua perubahan dan kegoncangan pikiran terhenti, tiada satu pun diketahui oleh pikiran lagi. Dalam keadaan demikian, tidak ada riak-riak gelombang kecil sekali pun dalam permukaan alam pikiran atau citta itu. Inilah yang dinamakan orang samadhi yoga. [27]
Ada empat macam samparjnana-yoga menurut jenis objek renungannya. Keempat jenis itu adalah:
1.       Sawitarka ialah apabila pikiran dipusatkan pada suatu objek benda kasar seperti arca dewa atau dewi.
2.       Sawicara ialah bila pikiran dipusatkan pada objek yang halus yang tidak nyata seperti tanmantra.
3.       Sananda, ialah bila pikiran dipusatkan pada suatu objek yang halus seperti rasa indriya.
4.       Sasmita, ialah bila pikiran dipusatkan pada asmita, yaitu anasir rasa aku yang biasanya roh menyamakan dirinya dengan ini. [28]

Tuhan dalam Ajaran Yoga
Patanjali menerima eksistensi Tuhan (Isvara) dimana Tuhan menurutnya adalah The Perfect Supreme Being, bersifat abadi, meliputi segalanya, Maha Kuasa, Maha Tahu, dan Maha ada. Tuhan adalah purusa yang khusus yang tidak dipengaruhi oleh kebodohan, egoisme, nafsu, kebencian dan takut akan kematian. Ia bebas dari Karma, Karmaphala dan impresi-impresi yang bersifat laten.
Patanjali beranggapan bahwa individu-individu memiliki esensi yang sama dengan Tuhan, akan tetapi oleh karena ia dibatasi oleh sesuatu yang dihasilkan oleh keterikatan dan karma, maka ia berpisah dengan kesadarannya tentang Tuhan dan menjadi korban dari dunia material ini.
Tujuan dan aspirasi manusia bukanlah bersatu dengan Tuhan, tetapi pemisahan yang tegas antara Purusan dan Prakrti (SR, hal371). Hanya satu Tuhan. Menurut Vijnanabhisu:
“dari semua jenis kesadaran meditasi, bermeditasi kepada kepribadian Tuhan adalah meditasi yang tertinggi. (SR, 372) Ada bebagai obyek yang dijadikan sebagai pemusatan meditasi yaitu bermeditasi pada sesuatu yang ada di luar diri kita, bermeditasi kepada suatu tempat yang ada pada tubuh kita sendiri dan yang tertinggi adalah bermeditasi yang di pusatkan kepada Tuhan.
Kebodohan menyatakan bahwa ada dualisme dari satu realitas yang disebut Tuhan. Ketika kebodohan dihilangkan oleh pengetahuan maka dualisme hilang dan kesatuan penuh akan dicapai. Ketika seseorang mengatasi kebodohan maka dualisme hilang maka ia menyatu dengan The Perfect Single Being tetapi kesempurnaan The Single Being itu selalu ada dan tetap tersisa sebagai sesuatu yang sempurna dan satu. Tak ada perubahan dalam lautan, seberapa banyakpun sungai-sungai yang mengalirkan airnya dan bermuara padanya. Ketidak berubahan adalah keadaan dasar dari kesempurnaan.

Kesimpulan
Filasafat yoga merupakan salah satu aliran filsafat dalam agama Hindu yang membahas tentang latihan, baik fisik maupun mental, yang keras dan serius, agar dapat memperoleh apa yang disebut dengan Transendensi Diri. Dalam yoga, dipercaya ada 8 tingkatan untuk mencapai tujuan tersebut, yaitu: Disiplin moral (yama), disiplin diri (niyama), Postur Tubuh (asana), Pengendalian Napas (pranayama),  Pengendalian Indera (Pratyahara), Konsentrasi (Dharana), Meditasi (Dhyana), Ekstasis (Samadhi)
Sistem etika yang  terdapat dalam agama Hindu, diatur dalam 2 tingkatan pertama, yaitu Disiplin moral dan Disiplin diri. Yang dibagi menjadi sepuluh aturan: lima aturan pertama merupakan aturan yama, dan lima yang lain merupakan aturan niyama. Disiplin Moral atau Pengekangan Diri (Yama) terdiri atas: Tanpa kekerasan (ahimsa), Kebenaran (satya), Tidak Mencuri (Asteya), Kesucian-Kemurnian atau mengendalikan nafsu jasmani dan nafsu asmara (brahmacarya), Ketidaktamakan (Aparigraha). Sementara Disiplin Diri (Niyama) terdiri dari: Kesucian atau kemurnian (shauca), Berpuas Diri (Samtosha), Askese (Tapas), Studi Teks Spiritual (Svadhyaya), Penyerahan diri pada Tuhan (Ishwara-pranidhana).
Konsep Tuhan dalam agama Hindu, Patanjali menerima eksistensi Tuhan (Isvara) dimana Tuhan menurutnya adalah The Perfect Supreme Being, bersifat abadi, meliputi segalanya, Maha Kuasa, Maha Tahu, dan Maha ada. Patanjali beranggapan bahwa individu-individu memiliki esensi yang sama dengan Tuhan, akan tetapi oleh karena ia dibatasi oleh sesuatu yang dihasilkan oleh keterikatan dan karma, maka ia berpisah dengan kesadarannya tentang Tuhan dan menjadi korban dari dunia material ini.


DAFTAR PUSTAKA

·         Adiputra, I Gede, Rudia, dkk. Tattwa Darsana. Jakarta : Yayasan Dharma Sharati, 1990.
·         Ali, Matius. Filsafat India: Sebuah Pengantar Hinduisme & Buddhisme. Tangerang : Sanggar Luxor, 2010.
·         Hadiwijono, Harun. Sari Filsafat India. Jakarta : Badan Penerbit Kristen, 1971.
·         Maswinara, I Wayan. Sistem Filsafat Hindu (Sarva Darsana Samgraha), Surabaya : Paramita, 2006.



[1] Hadiwijono, Harun. Sari Filsafat India, hal. 52
[2] Ali, Matius. Filsafat India: Sebuah Pengantar Hinduisme dan Buddhisme, hal. 64
[3] Ali, Matius. Ibid, hal. 65
[4] Ali, Matius. Ibid, hal.65; Satchidananda, S.Swami. The Yoga Sutras of Patanjali, hal. 130
[5] Maswinara, I Wayan. Sistem Filsafat Hindu, hal. 165
[6] Ali, Matius. Ibid, hal. 65; Feuerstein, G. The Yoga Tradition, hal. 325
[8]Adiputra, I GedeRudiadkk.TattwaDarsana. Hal. 62
[9]Ali, Matius. Ibid, hal. 66
[10]Ali, Matius. Ibid, hal. 66
[11]Ali, Matius. Ibid, hal. 67
[12]Ali, Matius. Ibid, hal 67
[13]Ali, Mukti. Filsafat India: SebuahPengantarHinduismedanBuddhisme, hal. 68
[14]Ali, Mukti. Ibid, hal. 69
[15]Ali, Mukti. Ibid, hal. 70; Feuerstein, G. The Yoga Tradition, hal. 327
[16]Satchidananda, S. Swami. The Yoga Sutras of Patanjali, hal. 146
[17]Ali, Mukti. Filsafat India: SebuahPengantarHinduismedanBuddhisme, hal. 72
[18]Ali, MUkti. Ibid, hal. 72
[19] Ali, Mukti. Filsafat India: Sebuah Pengantar HInduisme dan Buddhisme, hal.79
[20] Ali, Mukti. Ibid, hal.79
[21] Ali, Mukti. Ibid, hal.82
[22] Samapatti adalah pencapaian, kondisi manunggal dengan objek, saran dan subjek kesadaran dalam meditasi; savitarka berarti suatu jenis penyatuan (Samadhi) dimana pikiran terkonsentrasi pada objek dan menginganama serta kualitasnya.
[23] Ali, Mukti. Ibid, hal. 83-84
[24] Ali, Mukti. Ibid, hal. 84
[25]Maswinara, I Wayan.SistemFIlsafat Hindu, hal. 167
[26]Adiputra, I GedeRudia, TattwaDarsana, hal 60.
[27]Adiputra, I GedeRudia.Ibid, hal. 60-61
[28]Adiputra, I GedeRudia.TattwaDarsana, hal. 61; lihatjugaMaswinara, I Wayan.SistemFilsafat Hindu, hal. 167



[1] Citta adalah konsespsi yang paling penting dalam sistem yoga. Dianggap sebagai hasil pertama dari perkembangan Prakrti (Alam dunia), yang meliputi Ahamkara dan Manas. Sehingga yang dimaksud dengan ialah gabungan buddhi, ahamkara, dan manas. Di dalam citta ini, purusa (Jenis kebenaran tertinggi/ roh), lihat Hadiwijono, Harun. Sari Filsafat India, hal. 51: Adiputra, I Gede Rudia. Tattwa Darsana, hal.59
[2]Purusa adalah
[3] Hadiwijono, Harun. Sari Filsafat India, hal, 51
[4] Ali, Matius. Filsafat India: Sebuah Pengantar Hinduisme dan Buddhisme, hal. 59
[5] Ali, Matius. Ibid. lihat juga: Aurobindo, Sri. The Synthesis of Yoga, hal 30-31
[6] Ali, Matius. Filsafat India: Sebuah Pengantar Hinduisme dan Buddhisme, hal. 63, lihat juga Grimes, J. A Concise Dictionary of Indian Philosophy, hal. 64; Yogendra, J & Vaz, J. Clement (eds.), Yoga Today, tanpa hal., sesudah daftar isi.
[7]Prakrti adalah
[8]Wrrti adalah
[9] Hadiwijono, Harun. Sari Filsafat India, hal. 51

Gerakan Agama Hindu Yang Dipengaruhi Kristen

Gerakan Keagamaan dalam Agama Hindu yang dipengaruhi oleh Agama Kristen Makalah ini disusun untuk memenuhi Tugas pada Matakuliah Agama Hindu Oleh : M.ALI MANSUR 1111032100024 JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2012 Pendahuluan India adalah negeri yang serba ganda : ganda dalam suku bangsa, ganda dalam budaya, dan ganda dalam soal kepercayaan dan agama. Karena dalam keserbagandaan ini maka mempelajari agama Hindu terasa mengalami kesulitan.Subjeknya sangat luas dan mencakup suatu kesejarahan yang sangat luas dan mencakup suatu kesejarahan yang sangat panjang,apalagi agama tersebut memiliki ajaran yang tak terbatas. Akan tetapi dengan usaha penelusuran, dan mencoba memandangnya secara hati-hati, dalam kesempatan ini akan diusahakan melihatnya dalam suatu bentuk yang dirasa utuh. Kalau ada benarnya ungkapan yang mengatakan bahwa mempelajari Agama Hindu itu ibarat seorang buta yang mencoba menggambarkan gajah,maka usaha ini kiranya dapat digambarkan seperti seorang yang tidak buta dan memiliki keahlian tentang ular sehingga ketika mencoba membahas belalai gajah ia akan merasa lebih menghayatinya daripada ketika membahas bagian-bagian lainnya. Mendefinisikan agama Hindu pun juga sulit. Barangkali apa yang dikatakan oleh Thomas R. Trautman ada benarnya sekalipun juga dirasa ada kekurangannya. Dikemukannya bahwa Repubelik India sendiri membatasi pengertian seorang penganut Hindu dengan “ India” yang menurut dia mestinya harus ditambah dengan orang Pakistan, Nepal, Ceylon, yang bukan penganut agama Islam, Kristen, Persia, dan Yahudi. Adalah yang membatasi agama Hindu adalah agama yang para penganutnya menyembah dan memuja dewa-dewa Wisnu, Siwa, Sakti,avatara-avatara (penjelmaan)-nya,anak-anaknya dan sebagainya. Agama Hindu timbul dari dua arus utama yang membentuknya, yaitu agama (bangsa) Dravida dan agama (bangsa) Arya. dalam perkembangannya di India lalu ada usaha-usaha yang mempesonakan untuk memasukkan berbagai macam kepercayaan yang ada, filsafatnya, dan praktek-praktek keagamaannya dalam suatu sistem yang sekarang ini disebut dengan agama Hindu. Memang diakui bahwa perwujudan semngat Hindu yang menyolok adalah semangat sintesis dan kompromis. Agama tersebut menyerap ide-ide, penalaran dan amalan kedewaan Siwa, dewi ibu, pemujaan patung, pertapaan, ajaran penjelmaan kembali dan sebagainya. Siwa dianggap sebagai dewa angin badai yang ada dalam kitab Weda, dan disini Siwa disebut sebagai Rudra. Dalam perkembangannya ia adalah salah satu dewa terpenting. dari agama Weda agama Brahmana agama Hindu menyerap system korban dan dewa-dewa alam. Dari agama Brahmana agama Hindu menyerap kepercayaan akan kekalnya kitab-kitab Weda, sistem kasta, upacara-upacara yang rumit dan perayaan keagamaan. dari agama Upanishad agama Hindu menyerap konsep tentang Realitas Tertinggi, juga tentang pengertian kesatuan dengan Tuhan. Agama Upanishad adalah penentang agama Brahmana. dari ajaran-ajaran Sri Krisna agama Hindu menyerap ajaran tentang avatara Wisnu, dan dari kitab Bhagavadgita agama Hindu menyerap ajaran monoteisme dan ajaran etika. Terlepas dari dua arus utama tadi, di India masih ada kepercayaan suku asli yang juga tetap ada perwujudannya dalam agama Hindu. Suku-suku asli India ini menyembah arwah nenek moyang, hantu, sungai, gunung, pohon, dan binatang. Objek-objek ini juga diserap oleh agama Hindu. Di antara dewa yang berasal dari kepercayaan suku asli ialah dewi Kali yang mengerikan. Dalam mitologi Hindu, Kali ini adalah istri Siwa dan Dewa Ganesha. Unsur penting yang merupakan ajaran yang dominan dalam agama Hindu adalah unsur teologi, filsafat, lembaga sosial dan etika atau moral.Agama Hindu mempercayai Realitas Tertinggi hanya satu, akan tetapi tidak membatasi “yang satu” sebagai realitas yang dimaksud sebagai Tuhan yang personal. Selain itu agama Hindu juga percaya dan menyembah dewa-dewa alam yang jumlahnya sangat banyak yang dianggap pengatur alam, dan penting kedudukannya dalam upacara korban. Dewa-dewa ini diharapakan memberikan kesenangan, kebahagiaan dan ketenangan, dan sebagai imbangannya, bila para dewa merasa senang, para dewa akan mengabulkan keninginan mereka. Sehubungan dengan itu ada komentar tentang ketuhanan dalam agama Hindu : apakah agama Hindu termasuk politeisme, monoteisme, honoteisme, ataukah yang lain, yaitu katenoteisme. Para ahli filsafat sampai pada pemaduan dengan kepercayaan terhadap satu prinsip tertinggi yang kadang sebagai yang netral dan kadang sebagai yang mutlak yang impersonal. 1. Gerakan Brahma Samay Gerakan Brahma Samay (berarti masyarakat Brahman) tampil sebagai gerakan yang sangat teistik. Gerakan ini menolak politeisme, pemujaan patung-patung, korban Binatang, menganjurkan dihapuskannya praktek sati (pembakaran janda), perkawinan anak-anak dan menolak praktek poligami. Gerakan ini didirikan di Bengala. Tokoh-tokonnya yang sangat terkenal adalah Ram Mohan Roy (1774-1833), Devendranath Tagore (1817-1905), dan Keshab Chandra Sen (1838-1884). Ram Mohan Roy adalah seorang cendekiawan ahli Arab dan Persi. Karya pertamanya berjudul Tuhfat al-muwahhidin yang ditulisnya dalam bahasa Arab. Selain belajar bahasa Arab dan Persia, ia juga mempelajari Bahasa Sanskerta terutama untuk mempelajari agama Hindu. Bahasa Inggris dipelajarinya karena kaitannya dengan East India Company. Bahasa Ibrani dan Bahasa Yunani dipelajarinya dari misi Serampone di dekat Kalkuta. Ram Mohan Roy sering disebut sebagai bapak modernisasi India. Ia mendirikan Brahma Samay sekitar 1828, dan mengajarkan semacam deisme rasionalis. Agak terpengaruh oleh Kristen, setiap malam Minggu ia mengadakan Kebaktian. Tetapi ia menentang ajaran Trinitas. Ia melindungi agama Hindu menghadapi polemik para penulis Kristen yang tidak jujur. Ram Mohan Roy juga pernah menerjemahkan Bibel ke dalam bahasa Bengali dan bahasa Sanskerta. Jasanya dianggap sangat besar dalam menghapuskan sati dan mengenalkan pendidikan Inggris. Tahun 1816, ia menerbitkan Vedanta Sara yang berusaha menemukan suatu monoteisme dalam pandangan Vedanta. Dengan usaha keras dicarinya ayat-ayat dalam Upanishad yang mendukung ajaran monoteisme ini. Dengan tegas ia mengemukakan bahwa tempat untuk memuja para dewa tidak terbatas pada kasta para pemujanya saja. Ia melarang penggunaan patung dan gambar-gambar yang dipasang ditempat ibadat. Hanya Khutbah-khutbah, Kidung-kidung dan do’a-do’a saja yang dibenarkan. Selain itu ia juga mengecam sikap meremehkan peribadatan berbagai macam agama. a. Ajaran Brahma Samay Diantara ajaran Brahma Samay yaitu Weda adalah Satu-satunya dasar iman. Pengenalan akan Tuhan bersumber kepada alam dan intuisi. Tuhan adalah Zat yang berpribadi, Ia tak pernah menitis, Ia mendengarkan dan mengabulkan do’a manusia. Penyembahan kepada Tuhan harus dilakukan secara rohani jalan mendapatkan keselamatan ialah pertaubatan dan menghentikan perbuatan dosa. Dalam gerakan Brahma Samay ini Weda dianggap sebagai sumber penting dalam kehidupan manusia. Karena itu ia juga mengirimkan empat orang yang dipandang mampu untuk hal ini ke Benares untuk mempelajari dan menyalin kitab-kitab Weda dan harus melaporkan hasil-hasilnya. Di antara hasil-hasilnya ialah bahwa gerakan Samay ini menganggap Weda sebagai kebenaran yang sangat dijunjung tinggi. Keshap Chandra Sen aktif dalam gerakan Samay sejak tahun 1857. Ia berpendapat bahwa yang terpenting dari ajaran tentang “Brahma” adalah konsepsi tentang “Kebapaan Tuhan” dan “Keputraan Manusia” yang kemudian dikembangkannya sebagai “Persaudaraan Manusia”. Pemikirannya sering dinilai kurang teologis. Bahkan dalam perkembangan selanjutnya Keshab mengajarkan konsep keagamaan yang kurang bersifat Hindu lagi, tetapi sebaliknya lebih mengembangkan konsep keagamaan yang agak kekristenan. Pada masanyalah muncul suatu gerakan yang disebut Adi Brahma Samay. Juga pada masanya Gerakan Brahman Samay mencapai puncak tetapi sekaligus menurun. Pada 1879, ia mengajarkan semacam “takdir baru” yang dianggapnya melebihi apa yang pernah ada pada agama Yahudi dan Kristen. Akhirnya hal ini membawa kepada suatu perpecahan yang tidak dapat dihindari lagi. 2. Gerakan Ramakrisna Mision Svami Vivekananda (1843-1902), murid Ramakrisna, pernah menghadiri Parlemen Agama di Chicago. Ia mendirikan misi dengan nama gurunya yang sekarang ini memiliki jaringan yang sangat luas. Kalau pada waktu itu umumnya gerakan keagamaan di India menekankan pada bidang pendidikan dan social, maka Vivekananda dengan misi Ramakrisnanya merupakan pendukung dan pembela dari ajaran Advaita Vedanta yang dikemukakan oleh Sankara. Oleh karena itu para penganut gerakan ini juga para penganut paham tersebut dan memiliki pandangan yang luas dan moderen. Gerakan ini mengajarkan paham monisme absolut dan memandang dunia sebagai ilusi atau maya. Gerakan ini mengakui bahwa Brahma adalah nyata, dan merupakan Wujud Mutlak atau Tuhan yang impersonal. Pendirinya adalah Ramakrisna Prahamsa. dan penyebarnya adalah muridnya yang dinamis, Svami Vivekananda. Ramakrisna Prahamsa (1834-1886) tidak berusaha keras dalam masalah penyingkiran patung-patung seperti lazimnya gerakan pemurnian keagamaan lainnya. Ia banyak bergaul dengan orang-orang yang berlainan agama, akan tetapi menganut kepercayaan terhadap “realitas yang tunggal”. Sekalipun ia adalah seorang yang otodidak, tidak menempuh pendidikan yang resmi, namun dia berusah mengikuti berbagai macam kepercayaan dan mengutamakan pada “penghayatan” dan pengalaman hidup sendiri. Ia, yang juga dikenal dengan nama Gadadhar Chatterji, tidak dapat membaca dan menulis, bukan sarjana, tetapi memiliki keahlian tertentu terutama dalam bidang filsafat dan agama Hindu. Ia cukup bicara dan mengemukakan pendapat-pendapatnya yang kemudian dicatat dan diterbitkan oleh para pengikutnya. Akan tetapi, sekalipun ia adalah tokoh dalam gerakan ini, namun ia bukan pemberi bentuk gerakan tersebut karena pemberi bentuk dan perumus idenya adalah murid dan penggantinya, yaitu Svami Vivekananda. a. Ajaran Ramakrisna Mision Memahami pikiran Ramakrisna merupakan suatu usaha yang cukup sulit karena dapat keliru dalam menanggapi arah yang sebenarnya. Pemikirannya lebih bersifat intuitif daripada intelektual, sehingga kalau hanya menekankan pada segi intelektualnya saja, maka ibarat orang pergi ke kebun buah-buahan bukan untuk memakan buahnya tetapi hanya untuk berspekulasi menghitung-hitung cabang masing-masing pohon dan daun pada setiap cabang tersebut. Ia lahir dari suatu keluarga Brahmana di daerah Bengala, kemudian pergi ke Kalkutta dan hidup sebagai pendeta. Pada tahun 1855 ia ditunjuk untuk membawahi biara disebelah utara kotanya, kemudian menjadi seorang pemuja Kali. Agaknya ia juga seorang penganut ajaran Tantra dan mempraktekkan ajarn Bhakti yang mendekati Tuhan sebagai “orang tua”, “pengusaha”, “teman”, “anak”, juga sebagai “kekasih tercinta”. Dia mengabdi kepada Rama dengan mengambil sikap sebagai Hanuman. Ia juga mengutamakan advaita dan dalam waktu singkat mampu mencapai nirvikalpa-samadhi, suatu penghayatan advaita yang tinggi. Ajaran lain yang sangat mempengaruhi dirinya antara lain adalah ajaran Islam walaupun ia mempraktekkan ajaran ini tidak secara menyeluruh.Penghayatannya dan pengalaman-pengalaman keagamaannya memperteguh keyakinannya bahwa pada hakikatnya agama itu adalah satu dan tidak memiliki perbedaan yang hakiki. Baginya, agama dan kepercayaan yang bermacam-macam itu adalah ibarat sungai-sungai yang akhirnya mengalir ke samudera yang sama. Ramakrisna mengunakan kiasan-kiasan dan perumpamaan-perumpamaan dalam mengemukakan pendapat-pendapatnya dan tidak mempergunakan terminologi filosofis yang bersifat teknis. Dia tidak melihat perbedaan antara Brahman yang personal dan yang impersonal. Kalupun toh ada, menurut dia hanyalah seperti perbedaan antara permata dengan kilau sinarnya saja. Semua agam bertujuan sama, dan hanya jalannya saja yang berbeda-beda ; dan ibaratkan kue manis, maka rasa manis tersebut akan terasa di seluruh bagian kue tersebut, maka rasa manis tersebut akan terasa di bagian kue tersebut, baik di tengah-tengahnya, dipinggirnya, maupun di atas dan di bagian bawahnya. Pemikirannya ini dikembangkan oleh murid-muridnya. Svami Vivekananda, atau disebut pula Narendranath Datta, kemudian memproklamirkan ajaran Ramakrisna ini ke seluruh dunia. Ia juga menyusun suatu gerakan yang terutama ditujukan dalam segi sosial sehingga mampu mengisi dan berbuat banyak. Misi Ramakrisna kemudian banyak berfungsi dan berperan dalam masyarakat. Vivekananda banyak menyerap pendidikan Barat, terutama pandngan-pandangan dari John Stuart Mill, David Hume dan Herbert Spencer, sehingga ia sering merasakan krisis yang akut dalam setiap diskusi dengan Ramakrisna terutama dalam setiap persoalan skeptisisme. Pengaruh besar Ramakrisna dan krisisnya sendiri, ditambah dengan kemiskinan, kemelaratan serta kematian ayahnya, membawanya untuk harus menyelesaikan sendiri persoalan tersebut. Setelah gurunya meninggal dunia, Vivekananda mengumpulkan murid-muridnya dalam suatu persaudaraan di Benares. Dengan menempuh hidup sebagai seorang sanyasin, ia mengembara ke segenap pelosok India. Dalam kesempatan menghadiri Parlemen Agama-agama Dunia di Chicago ia sempat menggugah pers Amerika dan India. Sekembalinya ke India, pada tahun 1897, ia diterima dengan baik di Ceylon dan kemudian menelusuri pantai timur India. Tahun itu pula ia mengorganisir “Ramakrisna Mision”. Gerakan ini banyak memberikan arti dalam kehidupan orang-orang India. Pusatnya terdapat di Belur, sebelah utara Kalkutta, dan mempunyai beberapa cabang di kota-kota lainnya. Publikasi gerakan ini adalah tentang agama dan kebudayaan India.Svami Vivekananda adalah seorang tokoh terbesar yang sangat berpengaruh dalam “mendinamiskan agama Hindu”. Ia menafsirkan ajaran advaita dengan tafsiran yang membawa kebangkitan agama Hindu dengan menekankan pada nasionalisme dan usaha-usaha kemasyarakatan. Dia mengatakan bahwa India memerlukan otot dari baja, yang hanya dapat tercapai kalau cita-cita advaita, cita kesatuan, dapat dimengerti dan terwujud. Mengenai Brahman, Vivekananda memberikan pengertian yang kemudian merupakan suatu permulaan bagi suatu agama baru. Interpretasinya sangat berpengaruh di kalangan bangsa India. Tafsiran advaitanya itu selanjutnya mengatakan bahwa Tuhan dan tanah air India adalah satu; membebaskan tanah air adalah juga membebaskan Tuhan. Konsep maya, menurut dia, bukannya memberikan pengertian ilusi semata, tetapi melalui maya justru dapat dimengerti “realitas” yang sesungguhnya sehingga menjadi jelas bahwa advaita bukan bersifat pasif tetapi sebaliknya, bersifat aktif. Brahma itu sendiri adalah nyata. Dengan demikian dapat dinilai bahwa gerakan ini sebenarnya bukan merupakan gerakan keagamaan saja, tetapi juga merupakan gerakan kebangsaan India. Kata semboyan bagi semua makhluk,terutama dalam kasus peradaban manusia, bukanlah aku melainkan engkau.menurutnya, apakah ajaran ini dapat dipraktikkan kedalam masyarakat modern? Kebenaran tidak member hormat kepada masyarakat manapun, apakah modern atau masyarakat tua.tapi masyarakatlah yang harus menyatakan hormat kepada kebenaran,tapi kebenaran tidak perlu menyesuaikan diri pada masyarakat. 3. Penutup Dalam perkembangan selanjutnya, selain pusat-pusat keagamaan di kraton, juga terdapat pusat-pusat keagamaan Hindu yang disebut Paguron atau mandala atau kasturi. Ditempat-tempat ini para pendeta memberikan pelajaran. Kitab-kitab yang ada pada waktu itu adalah kitab Tantu Panggelaran, juga kitab Nawaruci yang juga disebut dengan kitab Tattwajnana. Kitab terakhir ini penting karean mistik yang terdapat di dalamnya sampai sekarang masih berlaku di kalangan tertentu. Dasar fikiran dan mistik itu sendiri juga terdapat dalam kitab-kitab Suluk yang sudah mendapat pengaruh dari Islam. Agama Hindu mempersonifikasikan kekuatan-kekuatan Sang Hyang Widi dalam bentuk beberapa dewa yang banyak jumlahnya, akan tetapi mempunyai fungsi-fungsi tertentu sesuai dengan kepentingan makhluk hidup ini. Sebagai Bhatara Brahma, ia memberikan pegangan dan tuntunan bagaimana manusia harus bertindak. Dalam hal ini Brahma bertindak sebagai Sang Hyang Saraswati yang memberikan ilham kepada para maharesi (salah literature menyebut seperti Nabidalam Islam). Ia adalah sumber ilham, sumber gerak dan sumber ciptaan manusia. Gerakan-gerakan yang ada didalam Agama Hindu diantaranya adalah Brahma Samay dan Ramakrisna Mision merupakan suatu gerakan pembaharu didalam umat Hindu, yang mana kedua gerakan tersebut tetap bersumber dari weda, meskipun di tiap-tiap gerakan memiliki pemikiran atau pusat perhatiannya masing-masing. Daftar Pustaka : • Ali.Mukti, Agama-agama Dunia, Yogyakarta : IAIN Sunan Kalijaga Press, 1998 • Ardhana.Suparta, Sejarah Perkembangan Agama Hindu, PT. Paramita, 2002 • Hadiwijono.Harun, Agama Hindu dan Budha, PT. BPK Gunung Mulia, 2003 • Pendit S. Nyoman, Percik Pemikiran Svami Vivekananda, PT. Penebar Swadaya, 1993

Selasa, 18 Desember 2012

Wedanta

1. Pengertian dan Pokok-Pokok Ajaran Wedanta pengertian Wedanta berasal dari kata weda – anta, artinya bagian terakhir dari weda. Kitab Upanisad juga disebut dengan Wedanta, karena kitab-kitab inimewujudkan bagian akhir dari Weda yang bersifat menyimpulkan. Disamping itu ada tiga faktor yang menyebabkan Upanisad disebut dengan Wedanta, yaitu: a. Upanisad adalah hasil karya terakhir dari zaman Weda. b. Pada zaman Weda program pelajarna yang disampaikan oleh para Rsi kepda sisyanya, Upanisad juga merupakan pelajaran yang terakhir. Para Brahmacari pada mulanya diberikan pelajaran shamhita yakni koleksi syair-syair dari zaman Weda. Kemudian dilanjutkan dengan pelajaran Brahmana yakni tata cara untuk melaksanakan upacara keagamaan, dan terakhir barulah sampai pada filsafat dari Upanisad. c. Upanisad merupakan kumpulan syair-syair yang terakhir daripada zaman Weda. Oleh karena itu upanisad adalah inti dari Weda atau Wedanta. Jadi pengertian Wedanta erat sekali hubungannya dengan upanisad hanya saja kitab-kitab Upanisad tidak memuat urainnan-uraian yang sistematis. Penyusun Upanisad pertama kali dilakukan oleh Badrayana, kira-kira 400 SM. Hasil karyanya disebut Wedanta – sutra. Pokok-Pokok Ajaran Filasafat Wedanta bersumber dari Upanisad, Brahma sutra/ Wedanta-sutra dan Bhagawadgita. Filsafat tentang dunia ini ada yang memberikan ulasan bahwa dunia ini maya (bayangan saja). Dilain pihak menyebutkan dunia ini betul-betul ada, bukan palsu sebab diciptakan oleh Tuhan dari diriNya sendiri. Karena perbedaan pendapat ini dengan sendirinya menimbulkan teka-teki , apakah dunia ini benar-vbenar ada ataukah dunia ini betul-betul maya? Hal ini menimbulkan penafsiran yang berbeda-beda. Akibat dari penafsiran tersebut menghasilkan aliran-aliran filsafat Wedanta. Adapun para tokoh filsafat Wedanta yang terkenal adalah Sankara, Ramanuja, dan Madhawa. Masing – masing tokoh mendirikan aliran yang corak ajarannya berbeda antara satu dengan yang lainnya, tetapi memiliki tujuan yang sama. (1) Sankara mendirikan aliran Adwaita; (2) Ramanuja mendirikan aliran Wisistadwaita; (3) Madhawa meandirikan aliran Dwaita. Secara garis besar semua aliran dari Wedanta tersebut terdiri dari aliran yang bersifat absolutistis dan theis. 2. Aliran Adwaita dan Pemikiran Tokohnya Sistem Wedanta yang terkenal dan terbesara adalah Adwaita. Adwaita artinya tidak dualisme. Maksudnya adwaita menangkal bahwa kenyataan ini lebih dari satu (Brahman). Disamping ada Brahman masih ada Atman yang merupakan sumber kekuatan. Penganjur terbesar dan terbanyak pegaruhnya dari aliran ini adalah Sankara (788-820 M). Sweta Swatara Upanisad (mempertemukan pendapat-pendapat yang bertentangan), menyatakan bahwa asal daripada dunia ini terletak pada kekuatan sulap (maya) daripada Brahman. Dengan demikian Brahman dengan kekuatan MayaNya dapat memperlihatkan segala yang kita lihat ini, sehingga menghalangi pengetahuan kita yang sebenarnya yaitu Brahman dengan keanekaragamannya. Kekuatan Maya dari Brahman dapat menipu diri manusia, antara lain: a. Membuat manusia tertipu mengenai dunia yang kita lihat. b. Tertipu tentang apa yang sebenarnya Tuhan itu. Sankara yang mengakui juga Maya itu kekuatan Tuhan, tetapi tidak permanen. Sankara berpendapat bahwa Tuhan tidak mengalami suatu perubahan dan segala yang kita lihat berubah, hanya kelihatannya saja demikian, sebenarnya tidak. Contoh: Perubahan Wiwarta yakni perubahan pandangan terhadap kenyataannya. Sesungguhnya tidak berubah, tapi kelihatannya saja berubah. Seperti merubah ular sebagai tali, melihat awana sebagai orang-orangan, dan lain sebagainya. Sankara menganggap bahwa perubahan itu hanya lah wiwarta. Tapi keduanya percaya sat – Karya – Wada – (Samkhya)yakni semuanya bersumber dari Brahman. Menurut Upanisad dunia beserta isinya adalah merupakan evolusi dari Brahman, evolusi paling dikenal adalah bahwa dari Brahman timbul panca Tan Matra – panca Maha Bhuta dari unsur ini timbul benda. Disamping sesuatu yang ada merupakan bagian dari dunia, tapi juga Tuhan sendiri menjadi dunia ini. Sankara tidak setuju bahwa Tuhan itu menciptakan dunia ini (parinama), tapi menyatakan diproyeksikan pada Tuhan (Wiwartawada). Sankara menyatakanyang ada secara nyata (Sat) adalah kekal. Hanya bRahmana lah yang disebut Sat, artinya hanya Brahmana lah yang kekal. Tapi dunia ini beraneka ragam. Jadi dunia bukanlah sat, dunia ini bukan Brahman. Oleh karena itu harus dikatakan bahwa dunia adalah betul-betul ada dan maya, karena tidak kekal. Demikian pula benda-benda duniawi, sekalipun tidak dapat dikatakan ada secara mutlak, namun kenyataannya memang ada. Tapi benda duniawi tidak kekal selalu berubah sesuai dengan kodratnya. Dunia ini tergantung pada Brahman. Seandainya Brahman tidak ada, dunia tidaka akan ada. Tapi bukan sebaliknya. Barhman tetap ada dan kekal abadi. Hubungan Brahman Dengan Atman Menurut Sankara hubungan antara jiwa dengan Brahman tidak sama dengan hubungan alam semesta atau dengan Brahman. Jadi jiwa tidak boleh dipandang sebgai kenyataan sifat Brahman, sebab jiwa terkena pengaruh rajas dan tamas, walaupun jiwa adalah Brhaman seutuhnya. Satu-satunya relitas yanga ada adalah Brahman. Tapi Brahmna tidak tampak sebagai dunia yang objektif, yakni penjelmaan Brahman sebagai jiwa, yang memberikan kekuatan hidup setiap makhluk. Brahman dikenal sebagai neti (Bukan ini, bukan itu). Sankara memberikan ulasan bahwa Brahman memiliki dua rupa, dua bentuk nya yakni: a. Para-rupa yakni rupa yang lebih tinggi b. Apara-rupa yakni rupa yang lebih rendah. Pendapat Sankara tentang Pengetahuan Menurut Sankara ada enam macam alat-alat pengetahuan (Pramana), yaitu; pengematan, penyimpulan, pembandingan, kesaksian, persangkaan, dan tiada pengetahuan. Sankara mengajarkan bahwa Tuhanlah yang menurunkan ajaran Weda. Weda bukan karya Tuhan, tapi Tuhan menurunkan wahyu yang diterima oleh para Rsi yang dihimpun menjadi Weda. Sankara menyatakan bahwa Weda akan muncul kembali pada zaman berikutnya. Menurut Sankara ada dua macam pengetahuan yaitu: a. pengetahuan yang lebih tinggi (Pra Widya) Pengetahuan yang lebih tinggi mengandung segala macam kebenaran, meliputi segala sesuatu yang mewujudkan kesatuan segala sesuatau yang mewujudkan kesatuan segala sesuatu yaitu Brahman. Pengetahuan yang lebih tinggi disebut Brahman Widya (Pengetahuan tentang Brahman) atau Ataman Widya (pengetahuan tentang Atman). b. pengtahuan yang lebih rendah (apara Widya). Pengetahuan ini mengenai pengetahuan dunia yang tampak ini, yang sebenarnya ialah Khayalan. Maka sebenarnya pengetahuan yang lebih rendah bukan pengetahuan, tapi bentuk Adiwya. Adiwya: Tujuan hidup manusia adalah untuk mengetahui dan merealisir kebenaran. Orang yang mencapai tujuan hidup itu akan berubah pikirannya. Perubahan pikiran ini menghasilkan kelepasan. Sarana untuk mencapai kelepasan yaitu:  Melakukan disiplin wairagya, yaitu sikap tidak tertarik pada duniawi.  Berusaha mendapatkan pengetahuan tentang kebenaran yang tertinggi (Jnana) dan mengubha pengetahuan itu menjadi pengalaman yang langsung, yaitu dengan belajar pada guru. 3. Aliran Wasistadwaita dan pemikiran tokohnya Wasistadwaita berasal dari kata Wasista dan Dwaita. Wasista berarti ‘yzng diterangkan’ yaitu oleh sifat-sifatnya. Jadi Brahman yang satu diberi keterangan oleh sifat-sifatNya. Tokohnya bernama Ramanuja (1050-1137). Ramanuja menjelaskan pandangannya dengan cara orang memakai bahasa pada umumnya. Misal: “Mawar adalah merah”. Mawar adalah substansi, merah adalah sifat. Keduanya tidak sama, tapi menguraikannya seolah sama. Hubungan keduanya merupakan hubungan substansi dengan sifat. Dalam Wasistadwaita ditekankan bahwa yang satu itu diterangkan atau ditentukan oleh sifat-sifatnya,Brahman yang tunggal itu menjelma dalam jiwa dan dunia serta menjiwai keduanya. Tuhan Menurut Ramanuja Tuhan adalah asas yang amanen yaitu berada di dalam jiwa (purusa)dan benda (prakerti). Tuhan, jiwa, dan benda mewujudkan suatau kesatuan yang organis. Hubungan antara ketiganya yaitu apathak siddhi atau tak dapat dipisahkan. Sekalipun demikian ia tidak dipengaruhi oleh jiwa dan benda. Jiwa Jiwa disebut dengan prakara Tuhan, artinya jiwa turut membantu Tuhan. Jiwa berbentuk atom.jikalau Tuhan berakekatkan akal, maka jiwa berakekatkan perasaan. Jiwa juga dapat menderita karena Karma yang dibuat oleh manusia. Ada tiga golongan, yaitu: 1. Jiwa yang tidak pernah dibelenggu oleh duniawi yang disebut Nitya. 2. Jiwa yang bebas dari belenggunya yang disebut mukti 3. jiwa yang masih terbelenggu oleh benda, sehingga masih mengalami kelahiran kembali. Prakerti Ramanuja mengajarkan bahwa: 1. Benda tidak bergantung dari roh atau jiwa dalam perkembangan 2. Sattwa, rajas, tamas mewujudkan sifat-sifat benda Hubungan jiwa dengan Tuhan, jiwa dengan badan dipengaruhi sifat masing-masing. Ramanuja menguraikan sepuluh sifat, yakni: a. Lima kwalitas indriani; sparsendria, granendria, jihwendria, srotendria, caksu indria. b. Triguna; sattwa, rajas, tamas. c. Budhi dan ahamkara. Kesepuluh unsur memberikan potensi atau daya yang menyebabkan gerak (sakti). Menurut Ramanuja ada tiga alat ilmu pengetahuan; pengamatan, penyimpulan, sabda (pratyaksa, anumana, sabda pramana). Pengetahuan adala semuanya benar. Ada tingkatan-tingkatan kebenaran: kurang benar, cukup benar, benar sekali. Tujuan hidup menurut Ramanuja adalah untuk mencapai alam Narayana, menikmati kebebasan dan kebahagiaan yang sempurna. Ada dua jalan untuk mencapainya: a. Dengan prapati atau penyerahan secara mutlak dan dengan bhakti atau sembahyang. Praparti adalah orang yang harus berkiblat pada Tuhan. Penyerahan diri harus dengan sikap menaruh kepercayaan yang sempurna. b. Dengan jalan Bhakti yaitu disamping berusaha mendekatkan diri terhadap Tuhan denagn memasrahkan jiwa raga demi Tuhan, juga berusaha mengharmonisasikan diri (mendekatkan diri) terhadap segala ciptaan Tuhan dengan jalan; berkarma, berpikir, dan melatihb diri dari segala godaan. Selanjutnya dikatakan tujuan yang terakhir akan tercapai jika tubuh luluh dengan asalnya. Di situ lah jiwa akan melihat Tuhan secara langsung dan akan nampak sebagai hakekat yang tertinggi dari kekuatan dirinya sendiri. 4. Aliran Dwaita dan Pemikiran Tokohnya Tokoh nya bernama Madhwa (1199-1278). Sisitemnya disebut Dwaita (dualis) sebab menurut Madhwa poko-poko ajaran filsafatnya adalah perbedaan (bheda). Sistem ini dinamakan realistis karena dunia ini adalah nyata, bukan maya.akhirnya sistem ini bersifat theistis karena menerima adanya Tuhan berdiri sendiri, dengan begitu Madhwa mengakui atau percaya dengan adanya manifestasi dari Tuhan yang beraneka ragam. Karena ajaran Madhwa adalah mengakui adanya kenyataan yang beraneka ragam di dunia ini, semuanya mempunyai ciri dan sifat tersendiri sehingga menimbulkan perbedaan-perbedaan. Perbedaan itu mempunyai wujud tersendiri. Menurut Madhwa di dunia ini ada lima macam perbedaan, yaitu: a. Perbedaan antara Tuhan dengan jiwa b. Perbedaan antara jiwa dengan jiwa lainnya c. Perbedaan antara Tuhan dengan benda d. Perbedaan antara jiwa dengan benda e. Perbedaan antara benda yang satu dengan yang lain. Mereka saling bergantungan. Misal: tubuh bergantung pada jiwa. Tuhan, jiwa dan benda itu kekal, namun hanya Tuhan yang merdeka dan bebas, yang tidak bergantung pada siapapun dan apapun. Menurut Madhwa di dunia ini banyak jiwa yang tidak terhingga jumlahnhya. Tiap jiwa berbeda dengan jiwa lain. Itulah sebab tiap orang memiliki pengelamannya sendiri-sendiri. Jiwa itu berbentuk atom, tapi karena dipengaruhi nafsu maka jiwa ini ikut mederita atau bahagia. Padah sebenarnya jiwa itu kekal dan abadi penuh dengan kebahagiaan. Secara umum jiwa yang ada di dunia mempunyai tingkatan-tingkatan, yaitu: a. Jiwa-jiwa yang bebas secara kekal (nitya), seperti Laksmi, istri, atau sakti Wisnu b. Jiwa-jiwa yang telah mencapai kelepasan dari sengsara (mukta) yaitu para Dewata, para Rsi, dan nenek moyang yang mendapat kelepasan c. Jiwa-jiwa yang terbelenggu (baddha), oleh segala papa dan dosa, jiwa yang terbelenggu ini ada dua kelompok, yaitu: 1. Jiwa-jiwa yang masih dapat dibebaskan (Mukti Yogya) 2. Jiwa-jiwa yang tidak dapat dilepaskan lagi, terdiri dari dua:  Jiwa yang untuk selamanya terikat hukum samsara  Jiwa yang terus diikat oleh hukum samsara yang lebih rendah. Ada juga jenis tingkatan yang lainnya yaitu: Jiwa Satwika (Jiwa yang dikuasai oleh sifat Sattwam), Jiwa Rajas (Jiwa yang dikuasai sifat Rajas), Jiwa tamas (Jiwa yang terikat oleh hukum Samsara yang lebih rendah karena sifatnya dikuasai tamas). Menurut Madhwa ada dua alat untuk memperoleh pengetahuan yang benar, yakni: Kewalapramana (alat yang primer)__ pengetahuan yang benar itu sendiri, yaitu menunjuk dengan langsung kepada suatu peristiwa__ dan anupramana (alat sekunder)__mendapatkan pengetahuan dengan perantara akal sehat. Perantara akal sehat itu ada tiga: Pratyaksa Pramana (pengamatan langsung), anumana Pramana (analisa), agama Pramana (Wahyu Tuhan). Pengamatan dilakukan menggunakan sapta indria yaitu, panca budhindria,manas, dan saksin (kesadaran). Pengetahuan yang benar yaitu pengetahuan yang sesuai dengan kenyataan yang ada di luar manusia. Hal ini dijelaskan dengan seutas tali dengen seekor ular. Dwaita berpendapat bahwa ular itu tidak ada, baik ditempat itu maupun di tempat lain. Kesalahan pengetahuan itu ialah apa yang tidak ada disangka ada. Orang-orang pada umumnya bingung, menyangka yang tidak ada dikatakan ada, hal ini disebabkan oleh awidya (kegelapan pikiran manusia). Untuk mencapai tujuan hidup yakni dengan meniadakan awidya. Samsara juga disebabkan karen awidya.

Samkhya

Sad Darsana Kata darsana berasal dari urat kata "drs" yang artinya melihat ataumemandang. Dalam hubungan ini kata darsana artinya adalah sesuatu pandanganyang benar terhadap apa yang harus dilakukan oleh seseorang baik moral maupun material untuk mencapai kebenaran dan kebahagiaan abadi dalam kehidupan tertentu. Nama atau istilah lain yang memiliki arti mendekati dengan darsana adalah: • Tattwa; kata ini berasal dari kata "tat" yang artinya itu. Dalam bahasa sehari-hari kata tattwa berarti uraian tentang Ke-Tuhanan: • Mananasastra: kata. ini berarti pemikiran, perencanaan:pertimbangan atau renungan. Yang dimaksud adalah pemikiran atau renungan filsafat • Wicarasastra; kata ini berarti pertimbangan, renungan. Penyelidikan dankeragu-raguan. yang dimaksud adalah penyelidikan tentang kebenaran • Tarka; kata ini berarti spikulasi yang dimaksud adalah penyelidikan tentang kebenaran Filsafat Samkhya Samkhya adalah salah satu sistem filsafat India, yang mengakui Veda sebagai otoritas tertinggi. Oleh sebab itu Samkhya dikelompokkan kedalam Astika (ortodok). Jika dilihat dari bentuk katanya, Samkhya berasal dari dua urat kata yaitu “sam” dan “Khya”. Sam diartikan sebagai bersama-sama dan Khya diartikan sebagai bilangan, jadi secara harfiah Samkhya berarti bilangan bersama-sama. Kata Samkhya digunakan dalam Sruti dan Smirti, dimana masing-masing digunakan dalam pengertian pengetahuan dan tindakan, sehingga kata Samkhya ini juga memiliki arti pengetahuan yang benar. Dalam Sarva Darsana Samgraha, yaitu suatu sistem filsafat Hindu mengatakan kata Samkhya (sankhya) itu artinya adalah jumlah. Dan sistem ini memberikan 25 prinsip terjadinya alam semesta setelah dua asas yaitu purusa dan prakerti sehingga berkembanglah sebagai penyusun alam semesta dan tubuh manusia itu sendiri. Meskipun Samkhya kadangkala dikatakan sebagai ajaran yang bersifat atheistic namun Samkhya menggunakan Veda sebagai otoritas tertingginya. Samkhya menggunakan Veda sebagai dasar pengembangan kebenaran Hindu. Selain Veda, Samkhya juga menggunakan Chandogya Upanisad, Prashna Upanisad, Katha Upanisad, dan Svetasvatara Upanisad. Dan yang tidak kalah penting dalam ajaran Samkhya adalah Mahabharata yang termuat dalam kitab Bhagawadgita. 1. Konsep Purusa dan Prakerti Purusa Purusa merupakan jenis kesadaran tertinggi. Samkhya menyebut purusa sama dengan roh atau jiwa. Purusa ini bersifat tak terikat yang meresapi segala yang abadi. Teori Samkhya menyatakan bahwa roh itu ada karena ia menjelma, ketidakadaan roh tidak dapat dinyatakan dengan apapun juga. Roh itu berbeda dengan indria, pikiran, dan akal.roh bersifat langgeng, tanpa sebab menyusupi segala namun bebas dari segala ikatan dan pengaruh dunia. Prakerti Samkhya dalam ajarannya menerima 2 ultimasi,yakni Purusa (spirit) dan Prakerti (Matter), sebagai 2 asas rohani dan kebendaan, dari 2 asas inilah terciptanya alam semesta. Prakerti adalah sebab terakhir dari alam semesta sebab prakerti merupakan awal dari semua yang ada dalam alam semesta ini, maka prakerti harus bersifat kekal dan abadi. Karena tidak mungkin yang tidak kekal menjadi sebab pertama dari semua yang ada pada alam semesta ini. Dalam bahasa sansekerta prakerti berasal dari urat kata “pra” yang berarti sebelum atau pertama dan akar kata “kr” yang artinya membuat atau menghasilkan. Jadi Prakerti diartikan sebagai yang ada sebelum segala sesuatunya dihasilkan atau disebabkan, sumber pertama dari semua benda, bahan asal darimana semua benda menyebar dan ke dalam mana semua benda pada akhirnya akan kembali. 2. Triguna Prakerti dibangun oleh triguna yaitu sattwa, rajas, tamas. Guna berarti unsur. Sattwa adalah suatu prakerti yang merupakan alam kesenangan yang ringan, yang terang, bercahaya. Wujudnya berupa kesadaran sifat ringan yang menimbulkan gerak ke atas, angin dan air di udara adan semua bentuk kesenangan seperti kepuasan,kegirangan dan sebagainya. Rajas adalah unsur erak pada benda-benda ini. Ia selalu bergerak dan menyebabkan benda-benda ini bergerak. Ialah menyebabkan api berkobar, angin berembus, pikiran berkeliaran kesana kemari. Ialah yang menggerakkan sattwa dan tamas untuk melaksanakan tugasnya. Tamas adalah unsur yang menyebabkan sesuatu menjadi pasti dan bersifat negatif. Ia bersifat keras, menentang aktifitas menahan gerak pikiran sehingga menimbulkan kegelapan, kebodohan sehingga mengantar orang pada kebingungan. Karena menentang aktifitas menyebabkan orang mnejadi malas, acuh tak acuh, tidur. Ketiga guna ini selalu bersama dan tidak pernah berpisah satu sama lainnya. Ada dua bentuk perubahan triguna ini. Pada waktu pralaya masing-masing guna berubah pada dirinya sendiri tanpa mengganggu yang lain. Perubahan seperti ini disebut swarupaparinama. Pada waktu demikian tak mungkin ada ciptaan, karena tak ada kerja sama antara guna-guna itu. Namun bila guna yang satu menguasaia yang lain, maka terjadilah suatu penciptaan. Perubahan ini disebut wirupaparinama. 3. Evolusi alam semesta Prakerti akan mengembang menjadi alam ini bila berhubungan dengan Purusa. Melalui hubungan ini prakerti dipengaruhi oleh purusa seperti halnya anggota badan kita dapat bergerak karena hadirnya pikiran. Evolusi alam semesta tidak mungkin terjadi hanya karena purusa, karena ia bersifat pasif. Tidak juga hal itu dapat terjadi karena prakerti, karena ia tanpa kesadaran. Hanya karena hubungan purusa prakerti sajalah dunia ini dapat terjadi. Hubungan antara Purusa dan Prakerti menyebaban terganggunya keseimbangan dalam triguna. Yang mula-mula tergantung adalah rajas yang menyebabkan guna yang lain ikut terguncang pula. Masing-masing guna itu berusaha mengatasi kekuatan guna lainnya. Maka terjadilah pemisah dan penyatuan triguna yang menyebabkan munculnya objek yang kedua ini. Yang pertama terjadi dari prakerti adalah mahat dan budhi. Mahat adalah benih besar alam semesta ini, sementara budhi adalah unsur intelek. Fungsi budhi ialah untuk memberikan pertimbangan dan memutuskan segala apa yang datang dari alat-alat yang lebih rendah dari padanya. Dalam keadaannya yang murni ia bersifat dharma, jnana, vairagya dan aiswarya yaitu kebajikan, pengetahuan, tidak bernafsu dan ketuhanan. Yang kedua yaitu Ahamkara atau rasa aku adalah hasil prakerti yang kedua. Ia langsung timbul dari mahat dan merupakan manifestasi pertama dari mahat. Fungsi ahamkara adalah merasakan rasa aku. Dengan ahamkara sang diri merasa dirinya yang bertindak, yang ingin, yang bermiliki. Ada tiga macam ahamkara sesuai dengan guna mana yang lebih unggul dalam keinginan itu. Ahmkara itu disebut sattwika bila unsur sattwa yang unggul, rajasa bila rajas yang unggul, dan tamasa bila tamma yang unggul. Dari sattwika timbullah panca jnanendriya, panca karmendriya dan manas. Dari tamasa lahirlah panca tanmatra. Tanmatra adalah sari-sari benih suara, sentuhan, warna, rasa, dan bau. Dari benih suara terjadilah akasa. Dari benih sentuhan dan suara terjadilah udara.dari benih warna, suara dan sentuhan terjadi cahaya dan api. Dari benih suara, sentuhan dan warna terjadi air. Dan dari benih bau dan empat tanmatra yang lain terjadilah bumi. Dari semua anasir kasar itu berkembanglah alam semesta ini dengan segala isinya. Evolusi prakerti menjadi dunia objek memungkinkan roh nikmat atau menderita sesuai dengan baik buruk perbuatannya. Namun tujuan akhir evolusi prakerti adalah kelepasan. 4. Ajaran tentang kelepasan Dalam ajaran samkhya kelepasan itu adalah penghentian yang sempurna dari semua penderitaan. Inilah tujuan terakhir dari hidup kita. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi memperringan hidup kita, namun tidak dapat melepaskan kita dari penderitaan sepenuhnya. Samkhya mengajarkan bahwa cara mencapi kelepasan itu ialah melalui pengetahuan yang benar atas kenyataan dunia ini. Tiadanya pengetabhuan itulah yang menyebabkan orang menderita. Dalam banyak hal orang-orang yang tidak punya pengetahuan tentang hukum alam dan hukum kehidupan terbentur pada masalah yang membawanya pada kesedihan. Kelepasan itu hanya akan dicapai bila penegtahuan orang akan kenyataan itu sudah sempurna. Sebab penderitaan itu adalah kebodohan, yaitu ketidakmampuan membedakan antara roh dengan yang bukan roh. Bila orang telah menyadari bahwa roh itu tidak hadir dan tidak mati, ia bebas dari penderitaan. Ada dua macam kelepasan, yaitu -jiwanmukti adalah kelepasan roh selama ia hidup dalam badan ini. -widehamukti adalah kelepasan roh dari badan kasar dan badan halus.

Nyaya dan Mimamsa

Popular Posts